Jadi kalo nurut sampeyan taqdir itu ada 2 macam; yaitu taqdir utk orang awam
dan taqdir utk ilmuwan.

Iya deh tuhan alkhori yg sukanya main klasifikasi2an. Lha trus kalo
taqdirnya orang awam yg ilmuwan dan ilmuwan yg awam masuk yang mana tuh ?

Ini semakin tambah seri kog jadi tambah mbulet yah. Mirip penanganan kasus
korupsi aja, tambah berjalan waktu malah tambah blurrrr.

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Alkhori M
Sent: Saturday, April 03, 2010 10:58 AM
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 4

 

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 4

 

Kelompok I, mempercayai, segala sesuatu yang diperbuat adalah sudah di
TAQIR-kan, apapun yang dilakukan oleh manusia semua Tuhan yang PUTUS-kan.
Kelompok-I ini juga berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an. Umumnya kelompok-I ini
terdiri dari orang-orang AWAM. Dengan kehidupan yang sederhana, cara
berpikir yang sederhana, maka menyelesaikan masalah juga dengan cara yang
sangat sederhana, yaitu sudah TAQDIR. Kalau kita sudah menjatuhkan pilihan
terhadap kelompok-I ini, maka yang lain harus menghormati pilihan kita ini.
Jangan memaksa kehendak agar orang lain harus mempercayai apa yang kita
yakini. Memang kelompok-I karena daya nalar yang sederhana, maka hidup lebih
tenteram dan damai dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit tentang
romantika kehidupan di dunia ini yang serba kompleks.

 

Kelompok-II, mempercayai, segala yang dilakukan akan sesuai dengan
sunnatullah yang akhirnya bermuara pada Taqdir. Kalau yang dilakukan Amal
Makruf tentu Tuhan akan memberikan Recognition atau Reward, sebaliknya kalau
yang dilakukan Kullu Munkar, maka atas kepercayaan Tuhan maha adil, maka
bersiaplah untuk menerima punishment dari Tuhan. Janji dari Tuhan itu pasti
dan azab-NYA sangat pedih. Kelompok-II ini mempercayai hal demikian karena
mereka juga mempunyai rujukan-rujukan pada ayat-ayat al-Qur'an. Kelompok ini
umumnya terdiri dari para ilmuwan dan intelektual. Karena luasnya nalar yang
telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka, maka mereka-mereka ini mempunyai
pemikiran yang lebih dari orang AWAM. Setiap masalah tidak serta merta
dikatakan sudah TAQDIR, tapi akan dicari dan dicari terus bottleneck dari
akar permasalahan. Seandainya kita sudah memilih seperti kelompok-II
janganlah memaksakan kehendak pada kelompok-I agar memilih untuk mempercayai
kelompok-II. Itu semua tergantung kesiapan individu masing-masing melihat
phenomena kehidupan di Dunia ini yang sangat super kompleks. Kalamullah itu
sebagian saja yang tertulis di Al-Qur'an dan yang telah diwahyukan pada
Muhammad SAW, juga didalam al-Qur'an tertulis, seandainya kering lautan itu
untuk menuliskan kalamullah, dan didatangkan lagi dalam jumlah yang sama,
namun kalamullah itu tak akan bakalan habis.

 

Jadi dimana kita berada terserah kita masing-masing, apakah di kelompok-I
atau dikelompok-II atau gabungan antara kelompok-I/II, kalau di ilmu
probabilitas terdapat, UNION, SUBSET, COMBINATION itu semua terserah pada
daya nalar yang dimiliki.

 

Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

=======================================================

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 3

Disini KISAH NYATA yang dinarativekan, kisah ini penulis alami sendiri,
bagaimana pembaca menyimpulkan tentu terserah pada tingkat penalaran dan
pengalaman masing-masing. Kalau orang AWAM tentu berbeda dengan INTELEKTUAL,
makin tinggi tempat kita berdiri, maka makin jauh yang bisa dilihat, apalagi
anda berada dalam sebuah copter view, maka akan mudah terlihat pandangan
dari atas untuk melihat dareah yang dibawah.

Kisah Nyata:

Sewaktu akan haji, untuk menghilangkan keraguan, maka KB spiral pada isteri
saya minta dilepas, maka pergilah kami menunaikan ibadah haji. Setelah
pulang dari haji, KB spiral juga belum dipasang kembali, oleh sebab itu
isteripun hamil. Karena kami sudah sepakat bahwa tidak akan menambah anak
lagi, maka kami pergi kerumah sakit. Dirumah sakit dinyatakan positif hami
baru sekitar 2 ~ 3 minggu. Kepada kai diberikan surat pengantar untuk
konsultasi pada dokter ahli kandungan. Di dokter ahli kandungan dikatakan
ini masih dibawah sebulan, kalau mau digugurkan hanya perlu waktu 5 menit,
tidak lama, tapi sebelum dilakukan, pikir-pikir dahulu, maka kamipun pulang
kerumah. Dirumah pada sore harinya lagi duduk santai nonton tv, saya
teringat pada suatu peristiwa sbb:

"Ada seorang rekan, anaknya kecelakaan, segala usaha dilakukan untuk
menolong sikorban, tapi panggilan tuhan lebih mulia, innaa lillaahi wa innaa
ilaihi roo ji'uun" Dengan perasaan sedih semua itu harus diterima sebagai
taqdir"

Mengingat hal itu saya berpikir, mengapa saya menjadi manusia sangat
sombong, ketika saya boleh memilih mengapa harus yang tidak baik. Sedangkan
kawan yang tidak bisa memilih beliau harus menerima TAQDIR dan harus
menerima kenyataan bahwa panggilan Tuhan lebih mulia. Saya bangun dan saya
hampiri isteri saya, saya katakan "Kita tidak kembali lagi ke dokter ahli
kandungan, jika sudah ditaqdirkan memang demikian, terimalah sesuai dengan
rukun iman yang ke-6.

Sejak saat itu anak saya yang paling kecil biasanya saya panggil ADIK, tapi
sejak saat itu saya panggil KAKAK, karena saya pikir beliau akan punya adik.
Anak yang kecil tersebut yang biasa saya panggil ADIK karena berubah saya
panggil KAKAK beliau jadi sangat senang. Tapi tidak lama mungkin sebulan
berlalu, suatu hari entah kenapa, mungkin juga kecapekan, isteri saya
keguguran. Insya Allah bersambung. 

 

Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

=======================================================

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2

 

Untuk sekedar pencerahan, disini di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah
contoh fiktif jangan dipraktekan).

Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam lalu kita gorok leher kita sendiri,
maka matilah kita, sekarang timbul pertanyaan apakah kematian kita itu
sebuah TAQDIR? Terserah masing-masing apakah itu mau dianggap taqdir boleh
dan mau dianggap bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang
oleh Tuhan.

 

Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih mendekati FAKTA, janganlah bunuh
diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam,
lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga
timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau
dianggap Taqdir juga boleh dan mau dianggap TIDAK Taqdir juga boleh. Tapi
yang jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan
dalam agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan
selayaknya mengapa ayam tersebut harus disembelih.

 

Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang lebih AGAK PERLU DAYA NALAR, ketika
kita mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG ADA BANYAK AYAM, tapi
mengapa hanya yang seekor tersebut yang terpilih dan kita jadikan percobaan
seperti yang telah diuraikan diatas. Lagi jawabanya mau dianggap TAQDIR juga
boleh dan mau dianggap BUKAN taqdir juga boleh.

 

Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

============================================

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah

 

Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR, tapi bagi mereka yang sudah
diberikan AQAL yang lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua
usaha sudah dilakukan tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu
Sudah Taqdir. Memang cara termudah dan tidak menanggung resiko adalah dengan
mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi dikala
setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai maka
disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual
diperlukan, maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu
MEMILIH dan MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN SUNNAHTULLAH. Salam cool
selalu dari Qatar. Insya Allah bersambung.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke