Hihi…. ini pertanda sedang ada kebingungan orientasi Mas. Semua orang normal 
kalo ditanya tentu ngakunya ya ber-Tuhan, bahkan atheis pun hati kecilnya tetap 
mengakui keberadaan sang supra existence tsb. Tetapi kalau ber-Ketuhanan …. 
eitss blom tentu, emangnya gampang ngikuti sifat-sifat Tuhan, dan sejak kapan 
Tuhan punya sifat suka maling? Jadi mendingan dibuang aja sila pertama itu, 
daripada bohong mlulu.. hehe. Biarin aja deh orang-orang pada ngrampok dan 
bagi2 kekayaan sampai bosan, lama-lama juga akan terkena batunya akibat ulah 
sendiri… J

 

Sebal aja Mas, kog dari dulu gaji PNS mlulu yg dipikirin, padahal masih banyak 
yg jobless dan susah makan.

 

 

From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Agus Safudi
Sent: Monday, April 05, 2010 10:21 PM
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] Bls: Kok Menkeu Tak Remunerasi Gaji TNI, Polri, Guru

 

hehehehe,..sampeyan ini ada-ada gajah Mas Gede,..opo sudah tidak ada 
nilai-nilai yang diyakini lagi?...peace lah...hehehe...

  _____  

Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 5 April, 2010 04:39:31
Judul: [Is-lam] Kok Menkeu Tak Remunerasi Gaji TNI, Polri, Guru

TIDAK TERBUKTI bahwa kenaikan besaran gaji akan diikuti dengan peningkatan 
kualitas AKHLAK.

Gaji rendah ataupun gaji tinggi tetap akan berpeluang besar dlm memproduksi 
maling-maling yg terlindungi oleh payung etika korps PNS.

 

Sila Ketuhanan YME berkorelasi tinggi dengan penciptaan kualitas akhlak manusia 
tak perduli warna ketuhanan macam mana yg diyakini seseorang.

Dengan demikian saya usulkan sila pertama dari pancasila itu dihapus saja 
karena sudah tdk sesuai dengan ideologi permalingan di Indonesia.

 

J

Wassalam

 

http://inilah.com/news/read/politik/2010/04/04/436922/kok-menkeu-tak-remunerasi-gaji-tni-polri-guru/

 

 

'Kok Menkeu Tak Remunerasi Gaji TNI, Polri, Guru'

kawiyan

http://inilah.com/data/berita/foto/436922.jpg

Indria Samega
(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta - Kebijakan remunerasi gaji para pegawai pajak, berpotensi 
menimbulkan kecemburuan di kalangan aparat negara. Terutama bagi prajurit TNI, 
Polri dan guru. 

"Gaji mereka untuk hidup sehar-hari saja tidak cukup, apalagi untuk membeli 
rumah atau menyekolahkan anak-anak," ujar pengamat militer, Indria Samego, 
kepada INILAH.COM, Minggu (4/4).

Sebagai contoh, seorang anggota TNI dengan pangkat Prajurit Dua memperoleh gaji 
pokok Rp 1.100.000/bulan. Ditambah tunjangan, beras dan lauk-pauk sebesar Rp 
229.490/bulan.

Sedangkan anggota dengan pangkat Kapten dan sudah mengabdi 24 tahun di Kodam 
Jaya, mendapat gaji total Rp 4.020.000/bulan. Gaji tersebut sudah termasuk 
tunjangan dan lauk-pauk. 

"Kami berharap agar rencana pemerintah menaikkan gaji PNS, anggota Polri dan 
TNI segera terwujud," ujar seorang anggota TNI berpangkat Kapten. 

Para anggota TNI ini bekerja selama 24 jam dan tinggal di asrama. "Tapi kami 
happy mas, nikmati saja apa adanya," tambah anggota yang lain.

Indria menambahkan, sejak fungsi sosial-politik TNI dihilangkan praktis 
aktivitas prajurit TNI hanya menyangkut pertahanan dan keamanan. Jadi, peluang 
mereka melakukan aktivitas yang berdampak ekonomi sudah tertutup. 

Indira mengakui gaji pegawai negeri sipil (PNS) pada umumnya masih rendah. 
Hanya PNS di lingkungan kantor pajak yang tinggi menyusul diberlakukannya 
remunerasi. Dengan diberlakukannya sistem remunerasi oleh Menteri Keuangan, 
gaji PNS di lingkungan Ditjen Pajak jadi berlipat-lipat.[ims]

 

 

  _____  

Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!  
<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/pingbox/mailtagline/*http:/id.messenger.yahoo.com/pingbox/>
 
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

<<image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke