Ada beberapa pernyataan yang kurang objective menurut saya.. (yang saya 
terangkan dengan warna)

Bukankah banyak ummat Islam yang menutup jalan untk sholat, karena membludaknya 
jama'ah..

Bukankah ada ummat islam yang membunyikan bedug keliling kampung untuk 
membangunkan sahur...

Bukankah banyak ummat islam yang bertakbir keliling kampung.. membawa obor dan 
membunyikan bedug..

Jadi siapa yang arogan siapa yang tertindas ini???


Dan yang saya tandai dengan warna... Menunjukkan kalimat/kata-kata provokatif.. 
karena dipandang dari satu sisi saja.. ummat islam

Siapa yang menyesatkaan siapa yang tersesatkan....


Be Objective!!

Tetapi tetap ingat:

INI PERANG SAUDARA!!! Mereka jual Kita BELI!!!

Siapkan Dirimu!! Gentarkan Musuhmu!!!

________________________________

regards,
Risang Dipta Permana
+6281393127309




________________________________
From: musliminsuffer <[email protected]>
To: sabili <[email protected]>; is-lam <[email protected]>


bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem

Sebelum kita terburu-buru menghujat dan mencaci maki saudara kita sendiri ttg 
kasus hkbp di Bekasi, ada baiknya simak dulu klarifikasi dari FPI Bekasi 
berikut 
ini:

Eramuslim: Klarifikasi FPI Soal Insiden HKBP
Kamis, 16/09/2010 17:20 WIB


Setelah lima hari pasca insiden yang disebut sebagian besar media  massa  
sebagai tindak kekerasan ormas Islam tertentu terhadap pendeta  dan  jamaat 
HKBP, akhirnya Front Pembela Islam Bekasi Raya mengeluarkan   sejumlah 
klarifikasi.

Di antara isi klarifikasi insiden yang akhirnya menyudutkan FPI sebagai 
tertuduh 
adalah sebagai berikut:

1. Selama dua puluh tahun, umat Islam Bekasi telah menunjukkan   KETINGGIAN 
SIKAP TOLERANSI dan KEBESARAN JIWA terhadap Huria Kristen   Batak Protestan 
(HKBP) dengan membiarkan jemaatnya melakukan kebaktian   setiap Ahad di rumah 
tinggal seorang warga perumahan Mustika Jaya –   Ciketing – Bekasi.

Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tidak pernah keberatan, apalagi usil dan 
mengganggu ibadah Jemaat HKBP di tempat tersebut.

Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tetap tidak protes dengan adanya   Jemaat 
HKBP yang datang dari luar perumahan, bahkan luar Bekasi, ke   tempat tersebut.

Namun, setelah dua puluh tahun, seiring dengan makin banyaknya Jemaat   HKBP 
yang datang ke tempat tersebut dari berbagai daerah, maka Jemaat   HKBP  mulai 
tidak terkendali. Bahkan Jemaat HKBP mulai arogan, tidak   ramah lingkungan, 
tidak menghargai warga sekitar yang mayoritas muslim, seenaknya menutup jalan 
perumahan untuk setiap kegiatan mereka,   bertingkah bak penguasa, merusak 
tatanan kehidupan bertetangga,   menciptakan berbagai problem sosial dan hukum. 
Puncaknya, HKBP ingin   menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai GEREJA LIAR.

Setelah dua puluh tahun, umat Islam Bekasi, khususnya warga perumahan   Mustika 
Jaya – Ciketing, mulai gerah dan merasa terganggu dengan pola   tingkah Jemaat 
HKBP yang semakin hari semakin arogan, bahkan nekat   memanipulasi perizinan 
warga sekitar untuk GEREJA LIAR mereka.
Sekali pun kesal, kecewa dan marah, umat Islam Bekasi tetap patuh   hukum dan 
taat undang-undang. GEREJA LIAR HKBP di Ciketing diprotes dan   digugat melalui 
koridor hukum yang sah, sehingga akhirnya GEREJA LIAR   tersebut disegel oleh 
Pemkot Bekasi. Tapi HKBP tetap ngotot dengan   GEREJA LIAR nya, bahkan solusi 
yang diberikan Pemkot Bekasi untuk   dipindahkan ke tempat lain secara sah dan 
legal pun ditolak.

2. HKBP menebar FITNAH bahwa umat Islam Bekasi melarang mereka   beribadah dan 
mengganggu rumah ibadah mereka. Lalu secara demonstratif   jemaat HKBP setiap 
Ahad keliling melakukan KONVOI RITUAL LIAR dengan   berjalan kaki, dari GEREJA 
LIAR yang telah disegel ke lapangan terbuka   dalam perumahan di depan batang 
hidung warga muslim Ciketing, dengan   menyanyikan lagu-lagu gereja, tanpa 
mempedulikan perasaan dan kehormatan   warga muslim disana.

Akhirnya, terjadi insiden bentrokan antara HKBP dengan warga muslim   Ciketing 
pada Ahad 8 Agustus 2010, tiga hari sebelum Ramadhan 1431 H.   Dalam insiden 
tersebut, dua pendeta HKBP sempat mengeluarkan PISTOL dan   menembakkannya.

3. Di saat umat Islam Bekasi masih dalam suasana Idul Fithri, pada   Ahad 3 
Syawwal 1431 H / 12 September 2010 M, Pendeta dan ratusan Jemaat   HKBP kembali 
melakukan provokasi dengan menggelar KONVOI RITUAL LIAR   sebagaimana yang dulu 
sering mereka lakukan. Sehingga,  terjadilah   insiden bentrokan antara 200 
orang HKBP dengan 9 IKHWAN WARGA BEKASI   yang berpapasan saat konvoi. 
Peristiwa 
tersebut DIDRAMATISIR oleh HKBP   sebagai penghadangan dan penusukan pendeta.

Media pun memelintir berita peristiwa tersebut, sehingga terjadi PENYESATAN 
OPINI. Akhirnya, banyak anggota masyarakat menjadi KORBAN   MEDIA, termasuk 
Presiden sekali pun.

4. Peristiwa Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 Sept 2010 M, BUKAN   perencanaan tapi 
insiden, BUKAN penghadangan tapi perkelahian, BUKAN   penusukan tapi tertusuk, 
karena 9 warga Bekasi yang dituduh sebagai   pelaku adalah IKHWAN yang sedang 
lewat berpapasan dengan KONVOI RITUAL   LIAR yang dilakukan 200 HKBP bersama 
beberapa pendetanya di lingkungan   perkampungan warga muslim Ciketing. Lalu 
terjadi perkelahian, saling   pukul, saling serang, saling tusuk dan saling 
terluka.
Pendeta dan jemaat HKBP yang dirawat di Rumah Sakit dibesuk pejabat   tinggi, 
mendapat perhatian khusus Presiden dan Menteri, namun siapa   peduli dengan 
warga Bekasi yang juga terluka dan dirawat di Rumah Sakit?   Bahkan salah 
seorang dari 9 warga Bekasi tersebut, justru ditangkap   saat sedang dirawat di 
sebuah Rumah Sakit akibat luka sabetan senjata   tajam HKBP.

Karena itu, mari gunakan LOGIKA SEHAT : Jika peristiwa tersebut   PERENCANAAN, 
mana mungkin 9 ikhwan melakukannya secara terang-terangan   dengan busana 
muslim 
dan identitas terbuka! Jika peristiwa tersebut   PENGHADANGAN, mana mungkin 9 
orang menghadang 200 orang, apa tidak   sebaliknya?! Jika peristiwa tersebut 
PENUSUKAN, mana mungkin 9 ikhwan   lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada 
yang tertusuk juga !

5. Soal PENON-AKTIFAN Ketua FPI Bekasi Raya oleh DPP-FPI bukan karena   salah, 
tapi untuk melancarkan roda organisasi FPI Bekasi Raya yang   teramat BERAT 
tantangannya, sekaligus meringankan beban tugas sang Ketua   yang sedang 
menghadapi UJIAN BERAT dalam menghadapi tuduhan dan proses   hukum. Jadi, 
putusan tersebut sudah tepat.

6. Ketua FPI Bekasi Raya, baru disebut-sebut namanya saja oleh pihak   
kepolisian, sudah dengan gagah langsung menyerahkan diri ke Polda Metro   Jaya 
secara sukarela didampingi DPP-FPI untuk diperiksa. Dan siap   menjalani proses 
hukum bila dinilai bertanggung-jawab dalam insiden   Bekasi, walau pun beliau 
tidak ada di lokasi kejadian. Bandingkan dengan   SIKAP PENGECUT Pemred Palyboy 
Erwin Arnada yang melarikan diri dari   VONIS DUA TAHUN PENJARA yang sudah 
ditetapkan Mahkamah Agung sejak 29   Juli 2009.

7. Bagi segenap pengurus, anggota, aktivis, laskar dan simpatisan FPI   dari 
Pusat hingga ke Daerah, bahwa Ketua FPI Bekasi Raya adalah  PEJUANG  bukan 
pecundang. Beliau TIDAK ADA DI LOKASI kejadian saat  peristiwa.  Beliau hanya 
kirim SMS AJAKAN kepada umat Islam untuk  membela warga  Ciketing beberapa hari 
sebelum peristiwa, tapi dituduh  sebagai  provokator, sedang Para Pendeta HKBP 
yang mengajak, membawa dan  memimpin  massa Kristen serta memprovokasi warga 
muslim dengan KONVOI  RITUAL  LIAR, tak satu pun diperiksa.

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke