Rokok Baik Untuk Ekonomi Adalah Propaganda

 

Kamis, 28 Oktober 2010 05:33 WIB 

Jakarta (ANTARA News)  - Wakil Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan,
pemahaman bahwa industri tembakau baik untuk ekonomi merupakan propaganda
yang dibuat oleh perusahaan rokok.

 

"Pengertian industri tembakau, meski buruk untuk kesehatan, tetapi baik
untuk ekonomi negara merupakan propaganda yang dibuat oleh perusahaan
rokok," kata Direktur Tobacco Free Initiative WHO, Dr. Douglas Bettcher,
saat diskusi dengan media mengenai bahaya rokok di kantor perwakilan WHO di
Jakarta, Rabu.

 

Dalam Forum Ekonomi Dunia di Jenewa, menurut dia, disepakati ada delapan
penyakit tidak menular yang bisa menambah beban negara dan lebih beresiko
daripada penyakit menular.

 

Menurutnya, enam dari delapan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab
kematian di dunia diakibatkan oleh konsumsi tembakau.

 

Ia juga menjelaskan kerugian yang diakibatkan oleh rokok mencapai 1,2 miliar
dolar AS, sekitar 5-7 kali keuntungan pemerintah dari cukai produk tembakau
tersebut, sehingga jelas lebih merugikan.

 

Menurut warga negara Kanada itu, ada beberapa bukti bahwa kebijakan
menaikkan pajak telah menurunkan angka perokok.

 

"Thailand memberlakukan cukai sampai 75 persen dari harga rokok dan sukses
mengurangi angka perokok serta menaikkan pendapatan negara," kata Bettcher.

 

Mesir, lanjutnya, menaikkan cukai rokok sampai 40 persen dan menggunakan
penerimaan dari pajak itu untuk mendanai layanan kesehatan bebas biaya.

 

"Di Indonesia, masyarakatnya permisif dan tidak ada batasan pada iklan di
media dan sponsor pada acara atau kegiatan anak muda, seperti musik dan
acara olah raga," katanya

 

WHO mengakui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dilakukan
kalangan swasta, tetapi tidak mengakui kegiatan yang dilakukan oleh
perusahaan tembakau, kata Bettcher.

 

"Perusahaan tersebut pada dasarnya membunuh setengah dari konsumennya, jadi
tidak bisa dibilang sebagai bertanggung jawab secara sosial," kata Bettcher
yang akan berada di Jakarta hingga Jumat.

 

Ia menyarankan pemerintah Indonesia menerapkan larangan merokok di tempat
umum, ada gambar peringatan pada bungkus rokok, pelarangan iklan dan sponsor
perusahaan rokok untuk pagelarlan musik dan olah raga sepenuhnya, serta
membuka jalur telepon untuk perokok yang ingin berhenti.

 

"Kami bukan ingin mematikan industri tembakau, tetapi hanya ingin aturan
ketat supaya masyarakat dapat hidup dalam lingkungan sehat dengan membuat
keputusan benar," imbuhnya.

 

Ia menjelaskan sekitar 10-15 persen kematian di Indonesia berkaitan dengan
rokok.

(KR-IFB/A027) 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke