Siapakah Sultan yang tidak tinggal di istana megah serta bersifat pemaaf 
disamping menyemarakkan sambutan Maulid Nabi serta telah membebaskan Palestin 
atau Al Aqsa atau Jerusalem atau Baitul Maqdis? 
 
Sultan Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din ( 1138 – 4 Maret 1193 
m) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara 
Irak saat ini) saat ayahnya menjadi penguasa Seljuk. 
 
Di Yerussalem, Salahudin kembali menampilkan kebijakan dan sikap yang adil 
sebagai pemimpin yang shalih. Mesjid Al-Aqsa dan Mesjid Umar bin Khattab 
dibersihkan tetapi untuk Gereja Makam Suci tetap dibuka serta umat Kristiani 
diberikan kebebasan untuk beribadah didalamnya. 
 
Salahudin berkata :” Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama 
lain”. Sangat kontras dengan yang dilakukan para pasukan Salib di awal 
penaklukan kota Yerussalem (awal perang salib), sejarah mencatat kota 
Yerussalem digenangi darah dan mayat dari penduduk muslimin yang dibantai. 
 
Sikap Salahudin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan adalah contoh 
kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam.
 
Salahudin Al-Ayubi tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di mesjid 
kecil bernama Al-Khanagah di Dolorossa. Ruangan yang dimilikinya luasnya hanya 
bisa menampung kurang dari 6 orang. Walaupun  sebagai raja besar dan pemenang 
perang, Salahudin sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan 
serta korupsi.
 
Salahudin berhasil mempertahankan Yerussalem dari serangan musuh besarnya 
Richard The Lion Heart, Raja Inggris. Richard menyerang dan mengepung 
Yerussalem Desember 1191 dan Juli 1192. Namun penyerangan-penyerangannya dapat 
digagalkan oleh Salahudin. Kepada musuhnya pun Salahudin berlaku penuh murah 
hati. Saat Richard sakit dan terluka, Salahudin menghentikan pertempuran serta 
mengirimkan hadiah serta tim pengobatan kepada Richard. Richard pun kembali ke 
Inggris tanpa berhasil mengalahkan Salahudin.
 
Semasa hidupnya Salahudin lebih banyak tinggal di barak militer bersama para 
prajuritnya dibandingkan hidup dalam lingkungan istana. Salahudin wafat 4 Maret 
1193 di Damaskus. Para pengurus jenazah sempat terkaget-kaget karena ternyata 
Salahudin  tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki selembar kain kafan yang 
selalu di bawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham nasirian 
(mata uang Suriah waktu itu).
 
Sampai sekarang Salahudin Al-Ayubi tetap dikenang sebagai pahlawan besar yang 
penuh sikap murah hati.
 
Sumber : 
http://publiceye-magz.com/content/what-you-like/2011/09/sultan-salahuddin-ayyubi/
 

Kirim email ke