SCREENDOCS! PEMILU 2004: BEHIND THE SCENE

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73, Cikini-Jakarta Pusat

Sabtu/ 18 September 2004
13.00 - 16.30 Wib

Film : Saat Menebar Mimpi (Syaiful Halim, Syamsul Fajri, Ferry Kaendo); Politik Tengku 
(Nur Raihan, Dendy F. Montgomery, Muchtaruddin Yakob); Acang, Obeth dan Pemilu (Tantyo 
Bangun, Budi Satriawan, Herman); dan Sing Penting Nyoblos (Masrur Jamaludin, Muchtar 
Mukimin, Iswahyudi).

Diskusi// 14.45 Wib
Pembicara: Dave Lumenta, Tantyo Bangun, Masrur Jamaludin dan wakil dari Internews.

Moderator: Ignatius Haryanto 


[ Film dilengkapi dengan teks bahasa Inggris dan tidak dipungut bayaran/ gratis ]





Sinopsis Acara:

Sing Penting Nyoblos
Indonesia 2004 � Filmmakers Masrur Jamaludin, Muchtar Mukimin, Iswahyudi � Durasi 24 
min 

Tiga perempuan yang bekerja di pasar Bringharjo, Yogyakarta, membawa kita pada 
pandangan unik mereka mengenai pemilu. Wanita tidak berpendidikan, bekerja sebagai 
buruh, mengungkapkan makna pemilu bagi mereka, dan menggambarkan secara dekat 
bagaimana mereka membuat pilihan. Partai-partai politik bersaing untuk meraih 
dukungan, menawarkan uang, kaus dan janji-janji. Ketika hari pemilu semua harus 
memberikan pilihannya. Tiga anggota dari sektor masyarakat paling terpinggir di 
Indonesia ini mungkin bingung mengenai proses-proses politik, namun suara mereka 
sejajar posisinya dengan suara-suara orang lain. Apakah makna pemilu demokratis bagi 
mereka yang merasakan bahwa hidupnya semakin hari semakin sulit, dan bagi mereka yang 
berusaha melihat perubahan yang telah dibuat oleh pilihan mereka sebelumnya? Pembuat 
film mengikuti ketiga wanita tersebut dalam usaha mereka untuk memahami proses pemilu 
yang rumit. 

Three women working in Bringharjo Market, Yogyakarta, bring us their unique views of 
the elections.  Uneducated women, working as laborers, reveal what the elections mean 
to them, and offer an insight into how they make their decisions.
Political parties compete to win their support, offering cash, t-shirts and promises. 
By election day all have made their decisions.  Three members of Indonesia�s most 
marginalized sector of society may be confused about the political process, but their 
votes are worth the same as anyone else�s, whether they choose to use them or not.
What does a democratic election mean to those who feel their lives are getting harder 
with each passing year, and who struggle to see what difference their past votes have 
made?  The filmmakers follow the three women as they struggle to make sense of a 
complicated election process. 


Politik Teungku
Indonesia 2004 � Filmmakers Nur Raihan, Dendy F. Montgomery, Muchtaruddin Yakob � 
Durasi 24 min 

Harapan atas pemilihan yang bebas dan jujur di Aceh meredup oleh prospek untuk 
memberlakukan hukum militer. Ada beberapa wilayah yang dianggap aman pada saat 
pemilihan akan berlangsung, beberapa wilayah tidak. Film ini menyorot usaha seorang 
ulama � Tengku Baihaqi � yang ingin memenangkan kursi di DPRD. Berkampanye sangatlah 
sulit. Banyak kandidat yang takut untuk berkampanye secara terbuka, takut menjadi 
sasaran dari pihak-pihak yang ingin mengganggu proses pemilihan. Pembuat film 
mengikuti sang ulama ketika sedang berkampanye.

Hopes for free and fair elections in Aceh were dimmed by the prospect of holding them 
under martial law.  While some areas were considered safe by the time the elections 
came around, many others were not.  The film follows the efforts of an ulama � Tengku 
Baihaqi - to win a seat in the DPRD. Campaigning is difficult.  Many candidates are 
frightened of campaigning openly, afraid of becoming a target for those who want to 
disrupt the election process.  The filmmakers journey with the ulama as he tries to 
spread his campaign message, and appeals to the voters to go to the polls.


Acang, Obeth dan Pemilu
Indonesia 2004 � Filmmakers Tantyo Bangun, Budi Satriawan, Herman � Durasi 24 min 

Setelah beberapa tahun mengalami konflik etnis dan religius, Ambon memasuki tahun 2004 
dengan damai. Konflik telah berkurang dan kedua komunitas mulai membangun kembali 
hidup mereka. Tetapi bersamaan dengan mulainya kampanye, timbul kekhawatiran jika 
Pemilu mungkin mendatangkan ketegangan kembali dan membuka luka lama.
Pembuat film mengikuti satu kandidat yang berharap dapat memainkan peran dalam 
menyatukan kembali komunitas-komunitas di Ambon yang terpecah belah. Junaedi, seorang 
Muslim, adalah seorang kandidat untuk PDI-P, partai yang mayoritas anggotanya di Ambon 
adalah orang-orang Kristen. Film ini melihat usahanya untuk menarik pemilih dari 
penganut agama yang lain.
Pembuat film kembali ke Ambon tidak berapa lama setelah pemilu, ketika pertikaian 
muncul di propinsi yang bermasalah. Apakah kekerasan itu ada kaitannya dengan pemilu, 
atau hanya peringatan unhappy bahwa masih banyak pekerjaan membangun damai yang harus 
diselesaikan?

After several years of ethnic and religious conflict, Ambon entered 2004 at peace.  
The conflict had subsided, and the two communities were rebuilding their lives.  But 
as campaigning started, there was concern that the elections might revive tensions, 
and reopen old wounds. 
The filmmakers follow one candidate who hopes to play a part in reconciling Ambon�s 
divided communities.  Junaedi, a Muslim, is standing as a candidate for PDI-P, seen in 
Ambon as a predominantly Christian party.  The film examines his attempts to appeal to 
voters from across the religious divide.
The filmmakers return to Ambon shortly after the election as fighting flares once more 
in the troubled province.  Was the violence related to the elections, or just an 
unhappy reminder that there is still much peacebuilding work to be done?


Saat Menebar Mimpi
Indonesia 2004 � Filmmakers Syaiful Halim, Syamsul Fajri, Ferry Kaendo � Durasi 24 min 

Bambang Warih Koesoema adalah kandidat untuk DPD di Jakarta. Mantan anggota Golkar ini 
adalah politikus berpengalaman, karena pernah menjadi anggota DPR sampai tahun 1995 
ketika ia di-recall. Tapi kali ini ia akan berkampanye dengan usaha sendiri: merekrut 
volunteer dan merencanakan strategi kampanye.
Pembuat film mengikuti Bambang selama kampanye. Mereka menangkap nilai-nilai tingginya 
� bercakap-cakap dengan rakyat biasa di daerah kumuh dan kampung-kampung � dan juga 
nilai rendahnya � keletihan dan frustasinya ketika kampanye berlangsung.
Film ini juga mengangkat isu DPD itu sendiri. Bagaimana institusi baru ini bekerja? 
Dapatkah institusi ini benar-benar berpengaruh terhadap bagaimana politik dijalankan 
di Indonesia? Beberapa kritikus yang diwawancara dalam film ini berkata bahwa walaupun 
ide awal di belakang pembentukan DPD adalah bagus, dalam kenyataannya akan terbukti 
mengecewakan. Apakah mimpi Bambang Warih Koesoema berjalan ke arah yang sama? 

Bambang Warih Koesoema is a candidate for the DPD in Jakarta.  The former Golkar man 
is already an experienced politician, having been a member of the DPR until his recall 
in 1995.  But this time he will be campaigning on his own, recruiting volunteers and 
devising his campaign strategy.  
The filmmakers follow Bambang throughout the campaign. They capture his high points - 
talking to ordinary people in slums and kampungs - and the low points � his exhaustion 
and frustration as the campaign proceeds.  
The film also tackles the issue of the DPD itself.  How will this new institution 
work?  And can it really have an impact on how politics is conducted in Indonesia?  
Critics interviewed in the film suggest that while the initial idea behind the DPD was 
good, the reality will prove to be disappointing. Will Bambang Warih Koesoema�s dream 
go the same way?



Diskusi 

Pada Pemilu 2004 ini pada kalangan media (radio, televisi, koran, majalah, dan 
lain-lain) muncul berbagai diskursus seputar Pemilu, mulai dari evaluasi terhadap 
teknis Pemilu, pelaksanaan Pemilu di daerah konflik, politik uang, dan sebagainya. 
Diskursus tersebut mewarnai hampir seluruh halaman dan jam siaran di media massa. 
Sesungguhnya, terdapat pula diskursus lain seputar Pemilu yang layak pula untuk kita 
perhatikan, karena hal tersebut merupakan realitas dari masyarakat Indonesia. 
Diskursus yang dimaksud adalah pembicaraan mengenai topik realitas Pemilu pada 
kelompok-kelompok di masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari diskursus di media.

Pemutaran film-film dokumenter Pemilu 2004 ini berfungsi sebagai pengantar dan 
pembanding terhadap isu yang akan dibicarakan dalam diskusi screenDocs!. Dari diskusi 
ini, diharapkan bisa diperoleh jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 
Bagaimana realitas pemilih dalam berbagai kelompok di masyarakat dalam Pemilu 2004? 
Apa harapan masyarakat Indonesia terhadap Pemilu 2004? Presiden seperti apa yang 
diharapkan terpilih nantinya berdasarkan �pembacaan� pembicara terhadap 
kelompok-kelompok tersebut?

Pembicara: Dave Lumenta (Antropolog, pernah membuat film dokumenter tentang Dayak Iban 
di perbatasan Indonesia dan Malaysia di pulau Kalimantan), Tantyo Bangun (sutradara 
film �Acang, Obeth dan Pemilu), Masrur Jamaludin (sutradara film �Sing Penting 
Nyoblos�) dan Internews.

Moderator: Ignatius Haryanto (penulis dan pemerhati perkembangan media)

Kirim email ke