Catatan A. Umar
Said
(tulisan
ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak/ )
Renungan tentang
Hari Kemerdekaan 17 Agustus
Tidak
lama lagi bangsa kita akan merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agutus. Pada hari itu,
genaplah umur Republik Indonesia 60 tahun. Sebagai orang Indonesia, yang sejak
40 tahun sudah meninggalkan Indonesia dan hidup di negeri asing, wajarlah
kiranya kalau saya mempunyai
macam-macam perasaan dan banyak fikiran atau renungan, ketika mengingat
hari yang bersejarah ini.
Sebabnya,
umur saya sekarang sudah 76 tahun dan menginjak 77 tahun. Lebih dari separo umur
saya, saya lewatkan di negeri orang lain, mula-mula di Tiongkok selama 7 tahun,
kemudian di Prancis sejak 1974 sampai sekarang. Perjalanan hidup saya sangatlah berliku-liku. Banyak sekali
yang bisa diceritakan, dan, tentu saja,
banyak juga yang tidak bisa diutarakan, karena berbagai
sebab.
Dalam
merenungkan lahirnya Republik Indonesia saya merasa bangga bahwa telah mempunyai
andil atau bisa memberi sumbangan, seperti juga banyak orang lainnya.
Ketika masih muda remaja, saya pernah ikut dalam pertempuran
10 November di Surabaya, bersama-sama dengan banyak pemuda lainnya, termasuk
teman saya sejak kecil, Tjuk Alex Suryosunaryo (eks-tapol pulau Buru, teman
wartawan, sekarang tinggal di Jakarta). Kemudian, dalam kehidupan saya sebagai
wartawan di Indonesia dan sebagai political refugee di luarnegeri, saya telah
melakukan macam-macam kegiatan yang berhubungan dengan berbagai masalah di
Indonesia.
Sekarang,
dalam menyongsong ulangtahun ke 60 Hari Kemerdekaan RI, terbayang kembali banyak
sekali peristiwa-peristiwa itu. Tetapi, juga muncul dalam fikiran berbagai soal
besar yang telah dan sedang dihadapi rakyat dan negara kita.
HASIL
PERJUANGAN PARA PERINTIS
KEMERDEKAAN
Kemerdekaan
Indonesia adalah hasil perjuangan jangka panjang yang telah dilakukan para
perintis kemerdekaan, yang sekaligus juga merupakan perpaduan antara berbagai
faktor nasional dan internasional waktu itu (akibat Perang Dunia ke-II).
Kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan jangka lama melawan
kolonialisme Belanda, yang antara lain telah dipelopori oleh Perang di
Palembang, Perang Padri, Perang Diponegoro, Pemberontakan Patimura, Perang
Banjarmasin, Pemberontakan Orang Cina di Kalimantan Barat, Perang Bone,
Peperangan di Lombok, Perang dan Puputan di Bali, dan Perang Aceh.
Perlawanan
ini diteruskan
oleh banyak orang dalam gerakan-gerakan Budi Utomo, Sarekat Islam, Sarekat
Rakyat, Partai Nasional Indonesia, Partai
Komunis Indonesia, Partindo, Gerindo dan lain-lainnya. Dalam perjuangan
ini nama-nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantoro, Dr Sam
Ratulangi, Mr. Latuharhari, Haji Agus Salim, Dr Wahidin Sudirohusodo sangat
meononjol. Deretan nama-nama ini
kemudian diperkaya dengan munculnya nama Bung Karno. sebagai pemimpin besar
rakyat Indonesia.
Kita
melihat dengan jelas dari sejarah perjuangan bangsa melawan Belanda menuju
kemerdekaan bahwa banyak tokoh-tokoh utama dari berbagai agama, suku dan
keyakinan politik telah ikut menyumbangkan tenaga dan fikiran mereka. Di antara
perjuangan melawan kolonialisme Belanda itu adalah sangat menonjol pembrontakan
PKI dalam tahun 1926 di berbagai tempat di Jawa dan juga pembrontakan Silungkang
di Sumatra Barat. Gemanya atau pengaruhnya besar sekali bagi orang-orang yang
ikut dalam perjuangan melawan kolonialisme waktu itu. Karena, banyak orang tahu
bahwa ribuan orang telah dipenjarakan dan dibuang ke tanah pengasingan di Boven
Digul oleh pemerintah kolonial Belanda.
Perjuangan
para perintis kemerdekaan dan gerakan-gerakan berbagai golongan melawan
kolonialisme ini (Belanda dan Jepang) kemudian mencapai puncaknya pada tanggal
17 Agustus 1945, dan mulai berkobarnya revolusi besar-besaran yang dilakukan
oleh rakyat Indonesia. Jadi, jelaslah bahwa Republik Indonesia adalah milik kita
semua. Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia.
MEREKA
MENYEROBOT HASIL-HASIL REVOLUSI
Kalau
datang tanggal 17 Agustus, saya merasa sedih dan prihatin -- campur marah -- mengingat banyaknya orang yang telah
ikut berjuang demi tegaknya Republik Indonesia, tetapi sekarang disingkirkan,
atau dibuang, atau digencet, atau didiskriminasi. Contohnya, kasus saya. Selama
masa revolusi saya telah ikut dalam pertempuran
Surabaya dan melakukan perang gerilya bersama TRIP (Jawa Timur) melawan
Belanda. Kemudian, setelah menjadi wartawan Sukarno-is, saya menjadikan lapangan
hidup dalam jurnalistik untuk berjuang membela Republik Indonesia di bawah
pimpinan Bung Karno.
Saya
merasa beruntung bahwa bisa selamat waktu terjadi pemberontakan PRRI di Sumatra
Barat dalam tahun 1957-1958, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Masyumi dan PSI
dengan mendapat bantuan dari Amerika Serikat. Waktu itu, saya bekerja sebagai
Pemimpin Redaksi Harian Penerangan (Padang) dan ikut gerakan di bawah-tanah
melawan PRRI-Dewan Banteng. Kemudian, setelah pindah ke Jakarta dan menjabat
sebagai pimpinan redaksi Harian Ekonomi Nasional (merangkap sebagai Bendahara
PWI Pusat dan Bendahara Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan kemudian juga
Bendahara Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing) kegiatan saya
mendukung berbagai politik Bung Karno makin meningkat. Karena terjadinya
peristiwa G30S; maka saya terpaksa bermukim di Tiongkok selama 7 tahun, dan
mulai tahun 1974 hidup di Prancis sebagai political refugee, sampai
sekarang.
Mengingat
itu semua, maka saya merasa adanya kejanggalan atau keanehan. Saya, yang sejak
muda ikut membela Republik melalui berbagai cara dan jalan, dan dalam jangka
lama pula, terpaksa mencari hidup dengan susah payah dan minta perlindungan di
negeri orang. Sedangkan, orang-orang yang telah mengkhianati para perintis
kemerdekaan dan Bung Karno yaitu para tokoh militer pembangun Orde Baru,
bersama konco-konconya di Golkar telah menyerobot hasil-hasil revolusi. Mereka
inilah yang tidak segan-segan
mempertontonkan kerusakan akhlak atau kebejatan moral, dengan melakukan korupsi
serta berbagai penyelewengan lainnya. Mereka inilah yang menjadi penjajah bangsa
sendiri atau penindas rakyat sendiri.
Perasaan
semacam ini pastilah juga dipunyai oleh banyak sekali orang yang pernah ikut
revolusi 45 atau yang mendukung politik Bung Karno sebelum peristiwa 65. Tidak
sedikit di antara mereka ini yang tersisih dan terbuang begitu saja, dan
menderita selama puluhan
tahun, dengan naiknya ke
panggung kekuasaan Jenderal Suharto beserta
konco-konconya.
MASYARAKAT
ADIL DAN MAKMUR MAKIN JAUH
Merenungkan
arti 17 Agustus dan arti ulangtahun ke 60 negara kita mendorong kita semua untuk
menelusuri perjalanan bangsa kita selama ini dan mencoba memandang hari
depannya. Kita sudah menyaksikan bahwa dari umur RI yang 60 tahun ini yang 20
tahun (antara 45-65) negara kita ada di bawah pimpinan pejuang besar untuk
kemerdekaan, yaitu Bung Karno. Selebihnya, selama 32 tahun, negara kita
dikangkangi oleh Suharto dan konco-konconya.
Sekarang
kita bisa katakan -- dengan tegas
dan lantang -- bahwa apa yang
dibangun dengan susah payah oleh Bung Karno selama 20 tahun (bahkan selama lebih
dari 40 tahun kalau dihitung sejak masa mudanya) sudah dirusak sama sekali oleh
Orde Barunya Suharto dkk. Nation building and character building yang merupakan
usaha utama Bung
Karno sebelum dan sesudah kemerdekaan telah dibikin hancur berantakan akibat
berkuasanya rezim militer Orde Baru selama 32 tahun. Karena itu, sekarang bisa
kita lihat dengan jelas, -- dari bukti-bukti yang menyedihkan serta akibat-akibat serba negatif yang
dapat kita saksikan bersama dewasa ini --,
bahwa rezim militer Suharto (beserta para simpatisan atau pendukungnya)
adalah perusak besar cita-cita para perintis kemerdekaan dan Bung Karno.
Masyarakat
adil dan makmur, yang di zaman Bung Karno sering disebut-sebut, sekarang
kelihatan makin jauh. Presiden SBY sendiri mengakui baru-baru ini bahwa paling
sedikitnya ada 35 juta orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Kemiskinan
melanda rakyat di 199 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal (Media
Indonesia, 15 Juli 2005) Banyaknya
pejabat tinggi, tokoh politik,
tokoh agama dan pentolan dunia usaha yang sudah (dan sedang) diperiksa oleh
aparat-aparat negara karena diduga melakukan korupsi besar-besaran adalah bukti
bahwa maling-maling kelas kakap terdapat di banyak kalangan. Kerusakan moral
yang dipertontonkan oleh keluarga Jalan Cendana dan kalangan atas pada umumnya
merupakan contoh gamblang tentang kebusukan dan kebobrokan akhlak
yang sedang melanda negeri kita.
KEBESARAN
JIWA DAN PERJUANGAN BUNG KARNO
Dalam
mengamati perjalanan bangsa, kita
melihat bahwa selama 60 tahun ini negara kita sudah pernah dipimpin 6 presiden,
yaitu Bung Karno, Suharto, Habibi, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan sekarang
SBY. Dari deretan nama-nama tersebut di atas, nampak jelas sekali dari berbagai
segi (segi politik, segi moral, segi intelektual, segi kepemimpinan, segi
perjuangan) bahwa Bung Karno jauh mengungguli mereka semuanya.
Walaupun
sudah dicoba dikerdilkan, difitnah, dan dijelek-jelekkan oleh Orde Baru beserta
para simpatisannya (selama puluhan tahun, sampai sekarang !) , toh akhirnya
sejarah bangsa Indonesia akan mencatat bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar
rakyat, yang jarang tandingannya di Indonesia. Bung Karno adalah juga tokoh
internasional, yang setara dengan (kalau tidak melebihi) Nehru dari India, Gamal
Abdul Nasser dari Mesir, Kwame Nkrumah dari Gana, Josip Broz Tito dari
Yugoslavia, Ho Chi Minh dari Vietnam, Chou En-lai dari
Tiongkok.
Kebesaran
jiwa dan ketinggian martabat perjuangan Bung Karno tidak bisa disejajarkan
dengan jiwa dan martabat Suharto, yang waktu mudanya adalah serdadu kolonial
KNIL dan yang kemudian mengkhianati Bung Karno. Sebagai diktator puluhan tahun
ia telah menindas demokrasi dan HAM, sangat getol menjalankan KKN , dan tidak
segan-segan menumpuk kekayaan
keluarga dengan cara-cara selingkuh.
SISA-SISA
KEKUATAN ORDE BARU MASIH BESAR
Sesudah memasuki ulang tahun yang ke 60,
bagaimanakah perspektif negara dan bangsa kita selanjutnya di kemudian hari ?
Kelihatannya, banyak orang menaruh harapan besar bahwa Presiden SBY bisa memulai
pekerjaan besar untuk memerangi korupsi dan pembenahan bidang-bidang lainnya.
Mudah-mudahan !
Tetapi,
berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah (sejak 1998 sampai sekarang), bisalah
kiranya kita simpulkan : selama sisa-sisa rezim militer Orde Baru masih kuat
bercokol di berbagai aparat dan lembaga negara kita (termasuk dalam fikiran banyak orang)
maka hari kemudian bangsa dan negara akan tetap busuk dan
bobrok.
Seperti
kita saksikan sendiri selama ini, reformasi tidak mungkin dilakukan oleh
orang-orang yang masih bermental Orde Baru atau simpatisan Suharto dkk.. (Sebab,
pada hakekatnya, reformasi berarti merombak atau merobah apa yang telah dibikin
oleh Orde
Baru-nya Suharto dkk). Mereka inilah yang merupakan penghalang atau pensabot
atau perusak reformasi. Mereka ini masih banyak terdapat di kalangan atas ,
baik di antara para pejabat (sipil maupun militer), tokoh-tokoh partai politik
dan tokoh agama. Segala macam persoalan-persoalan besar yang dihadapi negara dan
bangsa akhir-akhir ini sudah membuktikannya. Pembaruan bangsa dan negara kita tidak bisa dilakukan oleh
anasir-anasir busuk atau unsur-unsur bobrok, baik yang terdapat di kalangan
TNI-AD, kalangan Golkar, maupun kalangan-kalangan lainnya.
Oleh
karena itu, perjuangan rakyat untuk perbaikan kehidupan sehari-hari, dan
perjuangan bangsa untuk membangun hari depan yang lebih baik bagi semua, tidak
bisa dilepaskan dari perjuangan untuk terus-menerus (!!!) melawan dan menghantam
sisa-sisa simpatisan Orde Baru. Kita tidak bisa -- dan tidak boleh
menggantungkan harapan (atau
ilusi) kepada lembaga-lembaga yang ada (DPR, DPRD, DPD dll), yang masih banyak
ditongkrongi oleh oknum-oknum yang anti Bung Karno atau anti-komunis, dan yang
simpatisan Orde Baru. Banyak di antara mereka ini yang moralnya rendah. Contohnya : DPR
usul supaya gaji ketua dan anggota-anggotanya dinaikkan, sehingga
setiap hari upah ketua DPR Rp 2,17 juta, wakil ketua Rp 1,71 juta, dan anggota
Rp 1,26 juta (Indo Pos, 9 Juli 2005). Ini keterlaluan, kalau mengingat bahwa di
berbagai daerah terjadi busung lapar karena banyak orang dan bayi kurang makan !
Sebagian besar rakyat kita tetap hidup sengsara, dan berkeringatkan darah dan
air mata.
Kerusakan
moral bangsa dewasa ini juga kelihatan dari acuh tak acuhnya para petinggi
negara dan para tokoh masyarakat (termasuk tokoh-tokoh partai politik dan agama,
dan kalangan intelektual) terhadap kasus puluhan juta orang korban peristiwa 65.
Di antara mereka ini banyak yang sudah menderita dan hidup sengsara selama
hampir 40 tahun, akibat banyaknya perlakuan yang tidak berperikemanusiaan dari
rezim militer Orde Baru. Kasus para korban peristiwa 65 adalah aib besar dan
dosa parah yang telah dibikin oleh rezim militer Orde Baru kepada bangsa. Sejarah bangsa perlu mencatat hal yang menyedihkan ini,
untuk diketahui oleh generasi yang akan datang.
KERUSAKAN
TERLALU LUAS DAN TERLALU PARAH
Kerusakan
berbagai bidang yang telah dibikin Orde Baru, selama 32 tahun lebih, adalah
terlalu luas, terlalu besar ( dan terlalu parah !), sehingga memerlukan
waktu panjang sekali untuk memperbaikinya. Dan, seperti kitsa saksikan selama
ini, kerusakan yang paling besar dan serius adalah kerusakan moral, terutama di
kalangan « atas » .
Mengingat itu
semuanya, dalam menghadapi 17 Agustus yang akan datang dan perspektif hari
kemudian bangsa, saya sama sekali tidak mempunyai ilusi bahwa perobahan besar
atau perbaikan fondamental bisa terjadi dalam waktu dekat. Tetapi, saya yakin
bahwa akan datanglah saatnya, entah kapan atau entah berapa lama lagi, bahwa
bangsa kita akhirnya akan bisa merealisasikan cita-cita para perintis
kemerdekaan kita, yaitu masyarakat adil dan makmur.
Untuk itu,
saya masih terus ada harapan bahwa kekuatan rakyat, yang tercakup dalam berbagai ornop, lsm,
perkumpulan, serikat buruh, serikat tani, organisasi pemuda, mahasiswa, wanita,
dapat dibangun terus dengan bermacam jalan, bentuk dan cara. Pekerjaan ini memang tidak
gampang, dan membutuhkan keuletan, kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan yang
tidak sedikit. Namun, itulah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk
menyelamatkan negara dan bangsa, termasuk keturunan kita.
Paris,
17 Juli 2005
***
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

