|
MAYORITAS KORBAN KA-907 TERLUKA RINGAN
Metrotvnews.com, Jakarta: Para korban
runtuhnya atap Kereta Api 907 jurusan Rangkasbitung-Jakarta mayoritas mengalami
luka ringan. Korban kebanyakan terluka karena terinjak-injak penumpang lainnya
saat kejadian. Saat ini para korban dirawat di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan, dan Rumah Sakit Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta
Barat.
Kepala Hubungan Masyarakat Daops I PT Kereta Api Wilayah Jakarta, Achmad
Sujadi mengatakan, PT KAI akan menanggung seluruh biaya perawatan dan pengobatan
bagi para penumpang yang memiliki karcis. Sementara bagi para penumpang yang
tidak memiliki karcis, pihak PT KAI masih mempertimbangkan untuk memberikan
biaya perawatan.
Di lain pihak, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai runtuhnya
atap gerbong KA-907 menjelang Stasiun Kebayoran Lama, itu akibat buruknya
perawatan kereta api oleh PT KAI. Sudaryatmo, anggota harian YLKI Bidang
Perkeretaapian, mengatakan, dari sisi organisasi angkutan yang baik, PT KAI
seharusnya memiliki sistem perawatan yang dianggarkan secara khusus dan terlepas
dari organisasi PT KAI. Dengan begitu perawatan kereta api bisa lebih optimal.
Sudaryatmo juga mengatakan bahwa kondisi fisik kereta api, khususnya trayek
antarkota di Jakarta dan sekitarnya, memang membutuhkan perawatan intensif
karena mobilitas dan daya angkutnya sangat tinggi.(Mg/DEN)
Kecelakaan KA Ekonomi Jurusan Rangkasbitung-Kota Karena
Kelebihan Muatan
Jaka Lelana - Jakarta, Kecelakaan kereta api ekonomi jurusan
Rangkasbitung-Kota yang terjadi pagi ini, Jumat (3/3) dikarenakan
kelebihan muatan. Untuk itu pihak kereta api Indonesia berjanji akan menanggung
semua biaya pengobatan.
Sumino Eko Saputro, Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan saat
meninjau langsung ke Stasiun KA Kabayoran Lama Jakarta Selatan menjelaskan,
kecelakaan disebabkan karena kelebihan penumpang di gerbong empat dan juga
dipicu karena banyaknya penumpang yang naik di atap-atap kereta itu.
Ia membantah, musibah tersebut lebih disebabkan karena kereta api yang usang
dan tidak layak pakai. Namun Sumino menyatakan, pihaknya akan merehabilitasi
kereta api yang dianggap sudah usang, diantaranya kereta api BB 30 418 jurusan
Rangkasbitung-Kota yang baru saja terkena musibah.
Sumino menambahkan, sebelumnya kereta api tersebut gerbongnya berjumlah enam,
namun karena adanya sesuatu hal maka dikurangi dua gerbong dan pada hari ini
mengalami musibah yang tidak diinginkan. Menurutnya, sejauh ini belum diperoleh
informasi adanya korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut, namun
dipastikan sekitar 20 orang mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan
intensif di Rumah Sakit Pusat Pertamina. (der)
Atasi flu burung, Depok perlu Rp600
juta 1.000 Ayam mati, 250.000 ekor akan di-sweeping
|
|
GEDUNG DEWAN, MONDE : Dinas
Pertanian mulai Selasa (7/3) akan menyisir (sweeping) 250.000 unggas di
wilayah Kota Depok. Sweeping itu berupa pemeriksaan, penyemprotan
desinfektan sekaligus pemberian vaksinasi flu burung.
Selasa depan kami akan memulai
men-sweeping unggas, kata Kepala Distan, Khamid Wijaya, kepada Monde.
Ia berbicara seusai pertemuannya dengan komisi D DPRD Depok dalam
rapat koordinasi penanganan flu burung, di Gedung Dewan,
kemarin.
Khamid mengatakan, sweeping itu dilakukan bergiliran
selama 63 hari di 63 kelurahan. Untuk hari pertama, atau selasa mendatang,
sweeping dilakukan di Kelurahan Pangkalan Jati, Limo, lokasi sekitar
kediaman Jasinto, korban tewas akibat flu burung.
Ditanya Jumlah
unggas terkena sweeping, Khamid memperkirakan sebanyak 250.000 ekor.
Populasi unggas di Depok jumlahnya ratusan ribu unggas. Namun,
dalam sweeping ini kami memprioritaskan unggas dipeternakan rakyat kecil
unggas, kata Khamid seraya mengatakan selama ini biosecurity di
peternakan besar cukup baik.
1.400 Ekor dimusnahkan
Terkait dengan pemusnahan, Khamid memperkirakan sebanyak 1. 400
ekor unggas akan dimusnahkan. Itu baru asumsi, kemungkinan bisa lebih
banyak,katanya.
Sebenarnya, kata Khamid, asumsi jumlah unggas yang
dimusnahkan tentu lebih besar, namun hal tersebut tentunya terkait dengan
jumlah anggaran.
Untuk itu, Distan mengajukan anggaran sebesar
Rp600 juta untuk khusus menangani masalah flu burung. Dana itu meliputi
pemeriksaan unggas, vaksinasi, penyemprotan desinfektan.
Termasuk
dana kompensasi terhadap unggas yang positif terkena flu burung, ujar
Khamid.
Dia mengatakan permohonan dana itu sudah dibicarakan
kepada DPRD. Selanjutnya DPRD yang mengupayakannya kepada Pemkot Depok.
Pemkot Depok pada tahun 2006 sebenarnya telah mengalokasikan dana
Rp 85 juta untuk vaksinasi flu burung. Dalam perkembangannya, kematian
unggas mulai marak dan permintaan vaksninasi oleh warga terus meningkat.
Alhasil, Walikota Depok Nur Mahmudi mengeluarkan dana sebesar Rp 34 juta.
Butuh relawan
Lebih lanjut, Khamid mengatakan pihaknya akan
menurunkan satu tim sweeping yang beranggotakan 20 orang. Sebenarnya
jumlah itu sangat sedikit. Makanya kami menargetkan 63 hari atau 2 bulan,
katanya.
Meski demikian, Khamid mengatakan akan meminta bantuan
berupa tenaga relawan, seperti dari mahasiswa peternakan Institut
Pertanian Bogor (IPB) untuk membantu kegiatan sweeping.
Kalau ada
bantuan dari relawan, maka akan mempercepat kegiatan [sweeping] tersebut,
untuk itu kami sangat membutuhkan relawan untuk kegiatan ini, kata
Khamid.
Meski demikian, dia meminta agar masyarakat tetap tenang
dan tidak khawatir secara berlebihan
Kasie Kesehatan Masyarakat dan
Veteriner Distan, Dedi Sudjadi mengatakan menjelang kegiatan sweeping, tim
Distan itu akan dikumpulkan pada Jumat (4/3) mendatang.
Pada
pelaksanaan nanti kita akan sejauhmana kemampuan tim kami yang berjumlah
20 orang untuk menangani unggas di satu kelurahan setiap hari, kata
Dedi
1.000 Unggas mati
Sementara itu, sekitar seribu dari
10.000 ekor ayam di peternakan unggas di Curug, Sawangan, dalam satu
periode (sebulan) ini mati mendadak. Meski belum diketahui penyebab
kematiannya namun pemilik peternakan di lingkungan RT 02/ RW 03 Kel.
Curug, Sawangan mengalami kerugian jutaan rupiah dalam setiap
periodenya.
Menurut Hj Satijah istri dari H. Isa, seorang peternak
ayam potong di RT 02 RW 03 Curug Sawangan, mengatakan kematian ternak
ayamnya belum diketahui penyakitnya Yang jelas sesuai hasil pemeriksaan
yang dilakukan tim medis dari pemasok bibit ayam, bahwa bibit yang
dipasoknya kurang baik, sehingga ayam ternaknya mengalami kematian,
tuturnya.
Namun demikian, lanjut dia, untuk mengantisipasi hal yang
tidak diinginkan, kandang ayam ternaknya selalu dibersihkan a.l dengan
kapur dan obat lainnya. Sementara, ternak ayamnya selalu diberikan vaksin
berupa vitamin.
Mengenai jumlah kerugian yang diderita, Hj Satijah
yang didampingi pekerja peternakan Suhendar mengakui, usaha yang digeluti
sejak 1978, kini mengalami kerugian sekitar Rp 7 juta, per satu periode
(sebulan) dengan perhitungan Rp7.000/kilogram dikalikan 1.000 ekor ayam.
Anggota Forum Penyelamat Kota Depok (FPKD) wilayah Sawangan Eeng
Suherman, saat berada di lokasi ternak ayam milik H. Isa mengemukakan,
Distan harus segera tanggap terhadap kematian ayam ternak sebanyak 1.000
dalam sebulan, sehingga masyarakat tidak khawatir. Terlebih saat ini
merebak isu flu burung yang sudah merenggut banyak korban.
Kami
minta kepada Distan untuk melakukan pengecekan terhadap kematian ternak
ayam di Curug, khawatir ayam-ayam tersebut mengidap penyakit flu burung,
ujar Eeng di lokasi ternak milik H Isa, di wilayah Curug,
kemarin.(apk/sud) |
Kecelakaan Kereta
Atap KA Rangkasbitung-Jakarta
Runtuh
Liputan6.com,
Tangerang: Atap kereta api jurusan Rangkasbitung-Jakarta ambruk dan
melukai puluhan penumpang saat tiba di Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta Selatan,
Jumat (3/3). Kereta dengan nomor gerbong KA 907 ini tak kuat menahan beban
penumpang di atap kereta.
Beberapa penumpang menuturkan, ambruknya atap
kereta yang sudah tua ini sudah diketahui sejak akan berangkat. Bahkan sejumlah
penumpang sudah mengingatkan penumpang lain agar tidak naik atap. Namun
penumpang yang biasa naik di atap kereta ini mengacuhkan peringatan tersebut
karena tak memiliki tiket.
Kebandelan penumpang yang seenaknya naik di
atap kereta ini sebenarnya sudah menjadi pemandangan yang dianggap lumrah.
Terlebih untuk jurusan sibuk seperti kereta api jurusan Bogor-Jakarta. Padahal
korban tersengat listrik sudah terhitung puluhan. Mereka tetap memilih duduk di
atas untuk menghindari kondektur.
Agum Gumelar saat menjadi Menteri
Perhubungan pernah menginstruksikan agar kereta tak berangkat sebelum para
penumpang turun dari atap. Tapi penumpang lebih galak dari petugas dan mengancam
akan membakar kereta.(YAN/Fedly)
Gerbong Kereta
Jurusan rangkasbitung-Kota Patah, 20 orang Luka Jum'at, 03 Maret 2006 |
09:11 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gerbong Kereta Api jurusan Rangkas Bitung
patah tepat ketika mau memasuki stasiun Kebayoran Lama. Gerbong patah berada
pada gerbong ke-4 dengan nomor K 381102 dari empat rangkaian. Akibatnya,
sebanyak 20 orang mengalami luka-luka. Sebagian korban langsung dilarikan ke
Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta Selatan. Kereta api jurusan
Rangkasbitung-Kota dengan nomor lokomotif DD 30418. Musibah ini tepat pada pukul
06.30 WIB.
Menurut Iptu Sainan, Kepala Sentral Pelayanan Polsek Kebayoran
Lama, dari informasi yang didapatkannya kereta sudah mengalami ada goncangan
sejak keluar dari stasiun Pondok Ranji. Namun Kereta tetap berjalan dengan
kecepatan tinggi.
Kereta ini dimasinisi oleh Sumardiono dengan asisten
Trimo.
Iwan, salah satu korban luka, 37 tahun, berangkat dari Pondok
Ranji menuju Stasiun Kota. Sekitar 200 meter setelah berangkat dia merasa kereta
berjalan tidak seperti biasanya. Sekitar 300 meter dari pintu lalu lintas
kebayoran baru kereta sudah oleng dengan cepat dan tiba-tiba kereta patah dan
lantas Iwan terbanting keluar kereta pada saat sisi kanan menabrak peralatan
sinyal kereta. Iwan sendiri luka di bagian tangan dan kaki. M Nafi
Daerah Padat
Penduduk Prioritas Razia Unggas Senin, 27 Pebruari 2006 |
22:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan
Indonesia, I Wayan Teguh Wibawan, mengatakan pemberantasan unggas yang
ditengarai mengidap flu burung dari daerah padat penduduk dan ternak, sudah
tepat.
Artinya, kata dia, pemberantasan unggas oleh Pemerintah DKI
Jakarta selama tiga hari pada pekan lalu memang seharusnya begitu. "Sebaiknya
daerah padat penduduk seperti Jakarta warganya tidak perlu memelihara unggas,"
katanya kepada Tempo, malam ini.
Menurunya, bagi warga di pinggir
kota sebaiknya mengandangkan hewan ternaknya. Sebaliknya, kawasan pedesaan tidak
terlalu menjadi prioritas, karena penduduknya sedikit.
Adapun pemeriksaan
unggas, dia menambahkan, perlunya menggunakan pemetaan. Berdasarkan pemetaan
tersebut terlihat daerah yang terkontaminasi virus H5N1 akan cepat diketahui.
"Kalau mau melakukan pemberantasan dimulai dari Jawa yang padat penduduk,"
jelasnya.
Pengujian terhadap unggas juga perlu dilakukan di daerah
endemis flu burung. Alat pengujian harus tepat dan akurat. "Dilihat dari jenis
unggas yang menularkan adalah unggas air seperti itik, entok, dan angsa," ujar
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ini.
Nieke Indrietta
|