Menjaga Amanah 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 


Hidup manusia dibangun di atas tiga komponen utama: jasad, akal dan ruhiyah. 
Islam mengajarkan ummatnya untuk hidup secara seimbang, memenuhi setiap 
kebutuhan diri secara pantas dan memadai. 

Kenyataan yang ada, sebagian orang cenderung hanya memenuhi kebutuhan fisik. 
Mereka makan makanan bergizi, makan vitamin, ikut fitness, senam, beladiri dan 
lain-lain, tapi acuh dengan keadaan jiwa dan hatinya. Orang seperti ini sehat 
fisik tapi lemah ruhiyah.

Tidak jarang orang memiliki badan bagus, namun justru hina akibat keindahan 
fisiknya. Wanita bertubuh bagus tidak identik sebagai wanita yang mulia, malah 
tidak sedikit wanita bertubuh bagus menjadi turun derajatnya karena dia gemar 
memamerkan tubuhnya. Di sisi lain, ada juga orang yang gara-gara badannya bagus 
menjadi stres karena takut jadi tidak bagus. Setiap hari waktunya habis untuk 
memikirkan badannya. Ikut senam, diet, dan membeli bermacam-macam obat supaya 
tubuhnya tetap bagus. Secara tidak langsung, orang seperti ini justru tersiksa 
dengan keindahan tubuhnya.

Sebenarnya, jika kita mampu mengelola fisik dengan baik, kita akan menjadi 
manusia yang kuat dan produktif. Islam sangat menganjurkan agar kita memiliki 
fisik yang sehat. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh 
Allah daripada mukmin yang lemah. 

Dalam catatan sejarah, sampai usia 63 tahun Nabi Muhammad SAW masih memiliki 
tubuh yang kuat. Beliau memulai peperangan pada usia 53 tahun. Dan tentu saja, 
perang zaman dulu bukan seperti perang zaman sekarang. Ketika itu Rasulullah 
SAW memakai baju besi hingga 2 lapis dan mengarungi padang pasir sejauh ratusan 
kilometer. 

Selain fisik, Allah memberi kita karunia akal. Akal inilah yang membedakan kita 
dengan makhluk Allah yang lain. Dengan akal, kita dapat memikirkan ayat-ayat 
Allah di alam ini sehingga kita dapat mengelola serta mengolahnya menjadi 
sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Kendati demikian, potensi akal juga bukanlah potensi yang dapat menentukan 
mulia atau tidaknya seorang manusia. Di Indonesia ini begitu banyak orang yang 
pintar, tapi mengapa Indonesia masih juga terpuruk? Setiap tahun puluhan ribu 
sarjana dikeluarkan oleh kampus-kampus ternama. Tapi mengapa korupsi masih juga 
merajalela. 

Rasanya kecil kemungkinan kalau korupsi itu dilakukan oleh orang yang bodoh. 
Bagaimana tidak? Uang negara, uang rakyat yang dikuras jumlahnya bukan hanya 
dalam bilangan jutaan atau miliaran, tapi juga triliunan rupiah. Kalau orang 
bodoh rasanya dia tidak akan kuat berpikir jauh-jauh seperti itu. Artinya 
pintar tidak identik dengan kemuliaan. Jika tidak hati-hati, mempunyai anak 
pintar juga tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada yang anaknya pintar 
sementara orang tuanya cuma lulusan SD atau SMP, malah jadi menghina orang 
tuanya. 

Dan potensi terakhir adalah ruhiyah atau juga hati. Hati inilah potensi yang 
bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Dengan hati yang 
hidup inilah orang yang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu 
cerdas pun dapat menjadi mulia. 

Andaikata hati kita bening tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini. Hati 
yang bersih, maka pikiran kita pun akan cerdas. Bahkan fisik kita jadi tangguh, 
tidak lemah dan mudah surut. Maka benar sabda Rasul SAW bahwa hati adalah poros 
kehidupan setiap manusia. Baik atau buruknya kehidupan manusia tergantung hati 
yang ada di balik dadanya. 

Menjaga kebersihan lingkungan dari pencemaran adalah bagian dari menjaga amanah 
Allah. Mulailah sekuat tenaga tahan dari membuang sampah sembarangan. Membuang 
sampah sembarangan adalah termasuk perilaku egois dan tidak bertanggungjawab, 
karena dirinya bersih tapi orang lain jadi terkotori. Akibat lainnya lingkungan 
jadi kotor, menimbulkan bau yang tidak sedap.

Makin hidup kita bersih, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! 
Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Tapi kalau cermin kotor, 
penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah. Makin 
bersih hati kita, akan lebih peka melihat aib dan kekurangan sendiri. Bahkan 
kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan juga ilmu. Sebaliknya, bagi yang 
kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang lain, melihat kekurangan 
diri saja tidak mampu.

Nabi Muhammad SAW adalah figur pribadi yang bersih tubuh, bersih pikiran, 
bersih ucapan, dan bersih hati. Tutur kata beliau penuh makna, jauh dari 
sia-sia. Tapi sikap dan penampilan beliau senantiasa baik dan bersahaja. Setiap 
berwudhu beliau selalu bersiwak (menggosok gigi). Sesudah makan beliau juga 
bersiwak dan menjelang tidur pun beliau bersiwak. 

Dalam urusan-urusan kecil pun Rasulullah senantiasa memberikan keteladanan. 
Beliau menganjurkan kita agar menggunting kuku serta membersihkan bulu-bulu 
tubuh. Paling tidak hal itu dilakukan sekali setiap minggu, yaitu pada hari 
Jumat. 

Mari kita budayakan kebersihan dalam rumah kita.Meskipun mungkin rumah kita 
sederhana, namun yang penting bersih. Jangan biasakan sampah kita berserakan, 
sebab boleh jadi Allah akan mendatangkan lalat sebagai peringatan bahwa rumah 
kita kotor. Atau nanti Allah menggerakkan tikus-tikus untuk mengerubungi rumah 
kita? 

Pastikan rumah kita juga harus bersih dari barang-barang haram. Jangan pernah 
ada hak orang lain yang ada pada diri kita yang terambil secara yang tidak 
halal. Hindari perilaku mark up, suap-menyuap, korupsi, mengambil kembalian 
tanpa permisi, melalaikan utang dan perilaku-perilaku curang lain. 
Berhati-hatilah saudaraku. Pastikan tidak ada harta haram pada diri kita. 
Dengan demikian insya Allah, kita akan sangat bahagia, hidup terhormat dan akan 
dicukupi rezekinya oleh Allah SWT. Wallahu a'lam. 

sumber : Republika

Kirim email ke