Rabu, 13 Desember 2006

Usia Empat Puluh 

Oleh : Agus Sutanto 


Akar dan orientasi kultur masyarakat Barat adalah materialisme. Mereka menilai 
dan membuat indikator hidup dari sisi materialistis. Atas dasar ini tidak 
mengherankan jika mereka mempunyai ungkapan bahwa 'hidup' dimulai pada umur 40 
tahun. Life begin at 40.

Asumsinya adalah pada umur ini, karier telah cukup mapan, pendapatan, serta 
kekayaan telah mencukupi. Karena itu, sering pula pada usia 40 ini dikaitkan 
dengan puber kedua, yang membawa pada perselingkuhan. Kemapanan materi membawa 
godaan, sehingga umur 40 tahun merupakan saat kritis terjadi perceraian dalam 
rumah tangga.

Islam memberi perhatian kepada umur 40 berbeda secara diametrikal dengan budaya 
Barat. Umur 40 tahun mendapat perhatian khusus dari Alquran. Dalam Surat Al 
Ahqaf [46] ayat 15 Allah berfirman: ''Kami perintahkan manusia supaya berbuat 
baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, 
dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya 
adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 
empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri 
nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku 
dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan 
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan 
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.''

Dalam surat tersebut setidaknya terdapat empat indikator kemuliaan manusia yang 
seharusnya menjadi identitas orang yang mencapai umur 40 tahun yaitu bersyukur, 
beramal shalih, bertaubat, dan berserah diri. Bersyukur kepada Allah atas 
karunia umur yang mengantarkannya mencapai angka 40. 

Bersyukur atas kenikmatan hidup yang telah dianugerahkan Allah baik berupa 
kenikmatan material maupun nikmat anak keturunan (dzuriyat).

Bersyukur sesuai hakikat bahwa semuanya karena kehendak yang mengikuti 
nilai-nilai kebaikan yang dikehendaki Allah dan dicontohkan dalam kehidupan 
Rasul dan para sahabat. Bertobat disertai kesadaran bahwa manusia mempunyai 
kalbu yang berbolak-balik antara tarikan kebaikan dan keburukan. Bertobat 
disertai perenungan dan perhitungan apakah di usia 40 tahun lebih berat 
kebaikannya atau keburukannya.

Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadisnya, ''Sesiapa yang mencapai umur 40 tahun 
dan dosanya lebih berat dari amal baiknya maka bersiaplah memasuki neraka.''

Berserah diri, merupakan permulaan yang pas untuk menapaki usia 40 tahun. 
Dengan demikian umur 40 tahun dipandang sebagai pencerahan kejiwaan, gerbang 
cahaya menuju kehidupan yang lebih mulia. Wallaahu a'lam.

sumber ; Republika



Kirim email ke