Apakah benar Doa bisa merubah takdir? Termasuk yang berkaitan dengan jodoh?
-----Original Message----- From: agus rasidi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 22 Juni 2007 12:52 To: $^^ ArRoyyan Milis ^^$ Subject: [Ar-Royyan-6332] Fw: [Milis_Iqra] Hey.....Kapan Kawin ???!!!!! ----- Original Message ----- From: "eko sunaryo" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, June 22, 2007 11:10 AM Subject: [Milis_Iqra] Hey.....Kapan Kawin ???!!!!! Hey...Kapan Kawin ?! Oleh : atik "Hey...Kapan Kawin ?!" pertanyaan itu sering aku lontarkan akhir-akhir ini. Terutama pada bujang-bujang 'kaya' di kantor ini. Dengan nada seperti iklan sebuah merk rokok, jadinya pertanyaan itu dianggap guyonan saja. Dan memang..jawabannya adalah tertawa bersama-sama. Efektif untuk membangun kedekatan dengan adik-adik di kantorku, walaupun maksudku sebenarnya serius juga. Ada memang rasa gregetan dengan ikhwan-ikhwan itu. Sepertinya ada rasa enggan untuk mengambil alih sebuah tanggungjawab perwalian seorang gadis dari ayahnya. Ketika iseng ngobrol-obrol pun..yang kujumpai adalah alasan yang itu-itu saja. Sama..dari dulu hingga kini. Ada yang beralasan, ingin berprestasi dulu (mungkin dalam benaknya pernikahan adalah faktor penghambat prestasi ikhwan). Ada yang menunggu Mbak yang belum ketemu jodoh. Ada yang ingin membantu ortu membiayai adik dan saudara-saudaranya dulu. Dan banyak lagi alasan yang dikemukakan..yang akhirnya berujung pada jawaban. "Kapan-Kapan.." Di luar masalah jodoh adalah ketentuanNya..tidak inginkah engkau menyegerakan urusan yang satu ini? Kalau urusan harta yang mejadi persoalan...yakinlah, sampai kapan pun tak akan cukup. Istilahnya..nilai tukar rupiah terhadap dollar akan terus naik. Inget nasyid SP tentang ungkapan malunya mereka (para bujangan kota) dengan pemuda-pemuda desa..yang maisyahnya hanya dengan mencari rumput untuk kambingnya (yang hanya beberapa biji) tapi berani menerima tantangan besar itu. Kalau alasan keinginan berprestasi dahulu sebelum nikah. Ingin seperti Mushab bin Umair, pemuda hebat duta pertama di Madinah, atau Pemuda Ali bin Abi Thalib yang menjadi pendamping Rosulullah atau Usamah bin Zaid yang menjadi panglima hebat di usianya yang kedelapan belas ? Hmm..kalau torehan seperti itu yang ingin dituliskan. Ada yang patut kita cermati. Ketiganya telah menikah terlebih dahulu sebelum menorehkan prestasi yang hebat itu. Mus'ab bin Umair menikah dengan Hamnah binti Jahsy sebelum menjadi duta hebat. Usamah bin Zaid sudah menikah dengan Fatimah Binti Qais di usia 16 th. Dan Ali pun telah menjadi menantu Rosullullah sebelum mengambil peran besar disisi Rosullullah. Bagaimana akan terbukti 'sense' kepemimpinan kita kalau hanya untuk memimpin lingkung terkecil (keluarga) saja masih gamang ? belum terbukti kemampuan kepemimpinan kita kalau belum nikah . Begitu kata ustadz-ustadz kita tuh.. Aku pernah kirim sms kepada Mbak MRku tentang masalah keenganan Ikhwan menikah. Kemana tadzhiyah (pengorbanan) ikhwan kepada saudari seiman mereka ? Bukankah keengganan Ikhwan untuk menikah pasti akan menghambat para akhwat menggenapkan separuh diennya. Dari seringnya dijadikan tempat curhat adik-adik binaan akhwat ataupun adik-adik yang masih lajang..akhirnya kepalaku penuh dengan kekesalan dengan ketidaksigapnya Ikhwan memenuhi panggilan sunah yang satu ini. Sikap masyarakat yang negative terhadap saudari kita yang belum menikah walaupun usia telah matang. Tak jarang bahkan berujung pada disalahkan sikap akhwat yang terlalu menjaga diri dari pergaulan dan ketatnya hijab. Tak jarang bahkan yang menyudutkan adalah kedua orang tua mereka. Tak jarang juga..kutemukan beberapa akhwat yang berjuang keras untuk memikul beban keluarga. Baik tanggungjawab keqawaman maupun ekonomi. Sungguh amat ditunggu seorang rijal yang dapat meringankan sedikit beban di punggungnya. Syukur-syukur mengambil alih semua bebannya. Sebenarnya..pernah juga sih aku protes ke suami, kenapa sih ikhwan-ikhwan itu enggan untuk menikah? Tapi, jawaban suami membuatku memakluminya. Katanya, "Ikhwan-ikhwan itu bukannya tidak mau menikah. Malah sangat ingin mereka menggenapkan setengah diennya. Tapi pernikahan itu perlu persiapan matang, terutama maisyah. Itu yang sedang dipersiapkan mereka Jeng !" Maisyah adalah factor pertama. Aku terdiam..walaupun sebenarnya pingin juga membantah. ..bahwa perintah menikah didalam Al qur'an..itu bukan harta yang diutamakan tetapi ketika dia sudah mampu untuk jima' (berhubungan badan) maka menikahlah ! Itu kalau ikhwan- ikhwan di sekitar suamiku..yang mereka memang kuliah di universitas umum. Lah ini ? Para bujang kaya kantor kita ? Untuk hidup layak..sangat mencukupi kukira. Trus apa dong kendalanya ? Di luar factor jodoh adalah ketentuanNya..kenapa sih tidak ingin menyegerakannya ? Jangan-jangan antum semua belum mampu menafkahi kebutuhan batin istri ? Diragukan kemampuannya nih ! (Ups...hehehehe..mo marah ma aku ya ? sorry man ! Qeqeqe..) Yang membuat miris kita..tidak inginnya menyegerakan nikah tetapi amat menikmati kedekatan dengan lawan jenis. HTS -Hubungan Tanpa Status- ataupun pacaran malah begitu umum dilakukan. Rasanya tidak sedikit tulisan yang menjelaskan tentang keutamaan pernikahan. Barakahnya menikah, tercelanya membujang, diwajibkannya menjaga hijab, Tidak adanya pacaran dalam kamus islam dll. Segepok kalau kita kumpulkan malah. Dan aku cukup yakin..mereka tahu tapi tak mau tahu. Jodoh memang takdir Allah. Tapi takdir bisa diubah dengan doa kita. Tidak inginkah para bujang kaya itu berdoa supaya Allah menyegerakan jodohnya ? Memudahkan urusannya ? Memohon kepadaNya diturunkan bidadari yang sholihah untuk menyertai perjuangannya ? Jargon lama tetap berlaku (seberapa pun sebagai wanita, aku amat tidak menyukainya) bahwa Ikhwan punya hak untuk memilih-milih. Tapi terlalu pemilih dan mengharapkan yang sempurna bukannya malah akan menyengsarakanmu sendiri ? Orang Jawa bilang..pilih-pilih tebu..kelamaan milihnya malah dapet bongkolnya. Inginnya yang manis, mulus dan indah. Tak tahunya yang seperti itu sudah diambil orang..sehingga hanya kebagian bonggolnya yang sari gulanya tidak banyak, kulitnya penuh akar, kasar dan tidak enak di pandang. So, kuatkan azzammu..ringankan beban saudarimu seiman, tadahkan tanganmu untuk memohon kepadaNya untuk memudahkan urusanmu...nantikan senyum bidadari menyambut di pintu rumahmu...dan kutunggu undanganmu..(hehehe) Wallahuallam bishowab ! ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469) ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469)

