----- Original Message -----
From: "eko sunaryo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 22, 2007 11:10 AM
Subject: [Milis_Iqra] Hey.....Kapan Kawin ???!!!!!
Hey...Kapan Kawin ?!
Oleh : atik
"Hey...Kapan Kawin ?!" pertanyaan itu sering aku lontarkan akhir-akhir
ini. Terutama pada bujang-bujang 'kaya' di kantor ini. Dengan nada
seperti iklan sebuah merk rokok, jadinya pertanyaan itu dianggap
guyonan saja. Dan memang..jawabannya adalah tertawa bersama-sama.
Efektif untuk membangun kedekatan dengan adik-adik di kantorku,
walaupun maksudku sebenarnya serius juga.
Ada memang rasa gregetan dengan ikhwan-ikhwan itu. Sepertinya ada rasa
enggan untuk mengambil alih sebuah tanggungjawab perwalian seorang
gadis dari ayahnya. Ketika iseng ngobrol-obrol pun..yang kujumpai
adalah alasan yang itu-itu saja. Sama..dari dulu hingga kini.
Ada yang beralasan, ingin berprestasi dulu (mungkin dalam benaknya
pernikahan adalah faktor penghambat prestasi ikhwan). Ada yang
menunggu Mbak yang belum ketemu jodoh. Ada yang ingin membantu ortu
membiayai adik dan saudara-saudaranya dulu. Dan banyak lagi alasan
yang dikemukakan..yang akhirnya berujung pada jawaban. "Kapan-Kapan.."
Di luar masalah jodoh adalah ketentuanNya..tidak inginkah engkau
menyegerakan urusan yang satu ini? Kalau urusan harta yang mejadi
persoalan...yakinlah, sampai kapan pun tak akan cukup. Istilahnya..nilai
tukar rupiah terhadap dollar akan terus naik.
Inget nasyid SP tentang ungkapan malunya mereka (para bujangan kota)
dengan pemuda-pemuda desa..yang maisyahnya hanya dengan mencari rumput
untuk kambingnya (yang hanya beberapa biji) tapi berani menerima
tantangan besar itu.
Kalau alasan keinginan berprestasi dahulu sebelum nikah. Ingin seperti
Mushab bin Umair, pemuda hebat duta pertama di Madinah, atau Pemuda
Ali bin Abi Thalib yang menjadi pendamping Rosulullah atau Usamah bin
Zaid yang menjadi panglima hebat di usianya yang kedelapan belas ?
Hmm..kalau torehan seperti itu yang ingin dituliskan. Ada yang patut
kita cermati. Ketiganya telah menikah terlebih dahulu sebelum
menorehkan prestasi yang hebat itu. Mus'ab bin Umair menikah dengan
Hamnah binti Jahsy sebelum menjadi duta hebat. Usamah bin Zaid sudah
menikah dengan Fatimah Binti Qais di usia 16 th. Dan Ali pun telah
menjadi menantu Rosullullah sebelum mengambil peran besar disisi
Rosullullah.
Bagaimana akan terbukti 'sense' kepemimpinan kita kalau hanya untuk
memimpin lingkung terkecil (keluarga) saja masih gamang ? belum
terbukti kemampuan kepemimpinan kita kalau belum nikah . Begitu kata
ustadz-ustadz kita tuh..
Aku pernah kirim sms kepada Mbak MRku tentang masalah keenganan Ikhwan
menikah. Kemana tadzhiyah (pengorbanan) ikhwan kepada saudari seiman
mereka ? Bukankah keengganan Ikhwan untuk menikah pasti akan
menghambat para akhwat menggenapkan separuh diennya.
Dari seringnya dijadikan tempat curhat adik-adik binaan akhwat ataupun
adik-adik yang masih lajang..akhirnya kepalaku penuh dengan kekesalan
dengan ketidaksigapnya Ikhwan memenuhi panggilan sunah yang satu ini.
Sikap masyarakat yang negative terhadap saudari kita yang belum
menikah walaupun usia telah matang. Tak jarang bahkan berujung pada
disalahkan sikap akhwat yang terlalu menjaga diri dari pergaulan dan
ketatnya hijab. Tak jarang bahkan yang menyudutkan adalah kedua orang
tua mereka.
Tak jarang juga..kutemukan beberapa akhwat yang berjuang keras untuk
memikul beban keluarga. Baik tanggungjawab keqawaman maupun ekonomi.
Sungguh amat ditunggu seorang rijal yang dapat meringankan sedikit
beban di punggungnya. Syukur-syukur mengambil alih semua bebannya.
Sebenarnya..pernah juga sih aku protes ke suami, kenapa sih
ikhwan-ikhwan itu enggan untuk menikah? Tapi, jawaban suami membuatku
memakluminya. Katanya, "Ikhwan-ikhwan itu bukannya tidak mau menikah.
Malah sangat ingin mereka menggenapkan setengah diennya. Tapi
pernikahan itu perlu persiapan matang, terutama maisyah. Itu yang
sedang dipersiapkan mereka Jeng !"
Maisyah adalah factor pertama. Aku terdiam..walaupun sebenarnya pingin
juga membantah. ..bahwa perintah menikah didalam Al qur'an..itu bukan
harta yang diutamakan tetapi ketika dia sudah mampu untuk jima'
(berhubungan badan) maka menikahlah !
Itu kalau ikhwan- ikhwan di sekitar suamiku..yang mereka memang kuliah
di universitas umum. Lah ini ? Para bujang kaya kantor kita ? Untuk
hidup layak..sangat mencukupi kukira. Trus apa dong kendalanya ?
Di luar factor jodoh adalah ketentuanNya..kenapa sih tidak ingin
menyegerakannya ? Jangan-jangan antum semua belum mampu menafkahi
kebutuhan batin istri ? Diragukan kemampuannya nih ! (Ups...hehehehe..mo
marah ma aku ya ? sorry man ! Qeqeqe..)
Yang membuat miris kita..tidak inginnya menyegerakan nikah tetapi amat
menikmati kedekatan dengan lawan jenis. HTS -Hubungan Tanpa Status-
ataupun pacaran malah begitu umum dilakukan.
Rasanya tidak sedikit tulisan yang menjelaskan tentang keutamaan
pernikahan. Barakahnya menikah, tercelanya membujang, diwajibkannya
menjaga hijab, Tidak adanya pacaran dalam kamus islam dll. Segepok
kalau kita kumpulkan malah. Dan aku cukup yakin..mereka tahu tapi tak
mau tahu.
Jodoh memang takdir Allah. Tapi takdir bisa diubah dengan doa kita.
Tidak inginkah para bujang kaya itu berdoa supaya Allah menyegerakan
jodohnya ? Memudahkan urusannya ? Memohon kepadaNya diturunkan
bidadari yang sholihah untuk menyertai perjuangannya ?
Jargon lama tetap berlaku (seberapa pun sebagai wanita, aku amat tidak
menyukainya) bahwa Ikhwan punya hak untuk memilih-milih. Tapi terlalu
pemilih dan mengharapkan yang sempurna bukannya malah akan
menyengsarakanmu sendiri ?
Orang Jawa bilang..pilih-pilih tebu..kelamaan milihnya malah dapet
bongkolnya. Inginnya yang manis, mulus dan indah. Tak tahunya yang
seperti itu sudah diambil orang..sehingga hanya kebagian bonggolnya
yang sari gulanya tidak banyak, kulitnya penuh akar, kasar dan tidak
enak di pandang.
So, kuatkan azzammu..ringankan beban saudarimu seiman, tadahkan
tanganmu untuk memohon kepadaNya untuk memudahkan urusanmu...nantikan
senyum bidadari menyambut di pintu rumahmu...dan kutunggu
undanganmu..(hehehe)
Wallahuallam bishowab !
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469)