Asslmkm.Wr.Wb.

Dalam suatu perjalanan dinas ke Surabaya di atas Kereta Gumarang beberapa waktu 
lalu saya ketemu seorang Bapak dengan seorang anak lelakinya yang hendak 
"ngadem" ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Dengan pemahaman kesufiannya beliau 
banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya serta banyak hal soal 
hakikat-hakikat kehidupan. Rasanya ikut adem sekereta dengan Bapak yang satu 
ini dan sesekali ada rasa rindu untuk menemuinya. Salah satu yang 
disampaikannya adalah seperti judul di atas.

Anda tidak disarankan untuk sepaham dengan artikel ini karena jika disodorkan 
kepada ahli tarekat debat kusirnya tidak akan habis-habisnya.

Wassalam / Jaerony.-

****************************************



13 Juni 2007
'Uzlah dan Beberapa Dampak Positifnya

Yang saya maksudkan dengan 'uzlah (pengasingan diri) di sini adalah ber-'uzlah 
dari segala bentuk kejahatan, dan kemubahan yang berlebihan. Ber-'uzlah seperti 
ini akan membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan. 

Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Ada keharusan bagi hamba untuk melakukan 'uzlah 
agar dapat beribadah kepada Allah, berdzikir kepadaNya, membaca ayat-ayat-Nya, 
melakukan muhasabah terhadap dirinya, berdoa kepada-Nya, meminta ampunan-Nya, 
menjauhi tindakan-tindakan yang jelek, dan lain sebagainya. 

Dalam Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauzi telah menuliskan tiga pasal, yang 
ringkasannya demikian: "Saya tidak melihat dan mendengar manfaat yang lebih 
besar daripada 'uzlah. Karena 'uzlah adalah sebuah ketenangan, sebuah 
keagungan, sebuah kemuliaan, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dan 
keburukan dan kejahatan, sebuah kiat untuk menjaga kehormatan dan waktu, sebuah 
cara untuk menjaga usia, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dan orang-orang 
yang mendengki, sebuah perenungan tentang akhirat, sebuah persiapan untuk 
bertemu Allah, sebuah pemusatan jiwa raga untuk melakukan ketaatan, sebuah 
pemberdayaan nalar terhadap hal-hal yang bermanfaat, dan sebuah eksplorasi 
terhadap nilai dari hukum dan nash-nash yang ada." 

Arah pembicaraannya seperti yang dimaksudkan dalam kutipan di atas. Karena yang 
tertulis di sini adalah arti yang melalui penyuntingan. 
Pada bahasan sebelumnya telah saya katakan bahwa dalam 'uzlah itu terdapat 
sebuah kemuliaan yang hanya diketahui oleh Allah saja. Dalam ber-'uzlah terjadi 
pengembangan daya berpikir, pencapaian pada sebuah hasil pemikiran, penenangan 
kalbu, dan penyelamatan kehormatan. Di samping itu, dalam ber-'uzlah ada banyak 
pahala yang didapatkan, ada usaha untuk menjauhkan diri dari kemungkaran, ada 
pemberdayaan jiwa untuk selalu melakukan ketaatan, ada waktu untuk mengingat 
Sang Maha Pengasih, ada usaha untuk menjauhi hal-hal yang melenakan dan menyita 
waktu, ada upaya untuk lari menjauh dari fitnah, ada usaha untuk menjauh dari 
kepungan musuh, ada kesempatan untuk tidak mencela orang lain, ada pemenuhan 
hak-hak, ada kesempatan untuk sembunyi dari orang yang sombong, dan ada 
kesempatan untuk bersabar terhadap onang yang bodoh. 

Dalam 'uzlah juga terdapat tabir untuk menutupi aurat: yakni aurat berupa aurat 
lisan, kesalahan melangkah, penyimpangan pikiran, dan kecenderungan jiwa yang 
jahat. 

'Uzlah merupakan hijab untuk menutupi wajah-wajah kebaikan, cangkang untuk 
menyembunyikan mutiara-mutiara keutamaan, dan lengan baju untuk membungkus 
tangan-tangan kebaikan. Alangkah indahnya ber'uzlah karena orang akan dapat 
meraih kenikmatan dalam kesendirian, dapat mengembara menuju ketaatan, dan 
dapat berjalan-jalan dalam perenungan. 

Dalam 'uzlah akan Anda dapatkan perenungan, penghayatan, tafakkur, dan 
tadabbur. 
Pada saat ber-'uzlah Anda akan dapat menyelami makna-makna, menangkap 
butiran-butiran nilai, merenungkan tujuan-tujuan hidup, dan membangun menara 
ide serta pemikiran. 


Pada saat ber-'uzlah ruh berada dalam kegembiraan, hati berada dalam 
kebahagiaan terbesar, dan nurani berada dalam penburuan nilai-nilai. 
Jangan riya' pada waktu ber-'uzlah, sebab hanya Allah yang melihat Anda. Dan, 
jangan perdengarkan pembicaraan Anda kepada sesama, sebab hanya Yang Maha 
Mendengar lagi Maha Melihat yang mendengar. 

Semua orang besar menyirami 'tanaman' kemuliaan mereka dengan 'air' 'uzlah 
sampai mereka bisa tegak berdiri. Selanjutnya, tumbuhlah pohon keagungan mereka 
dan menghasilkan buahnya yang bisa dipetik setiap saat dengan izin Rabb-nya. 

Ali ibn Abdul Aziz al-Jurjani berkata, 

"Mereka bilang padaku bahwa dalam dirimu ada kemurungan. 
Sebenarnya mereka melihat seorang yang menjauhi sikap yang rendah. Jika 
dikatakan, ada mata air, saya katakan saya telah melihatnya, namun jiwa merdeka 
tahan terhadap rasa haus.Saya tidak menunaikan hak ilmu jika setiap kali aku 
melihat sesuatu yang menggiurkan kujadikan dia tangga bagi diriku Apakah aku 
akan melakukan itu kemudian aku memetik kehinaan? Itu sama dengan mengikuti 
kebodohan yang demikian pasti. Andaikata orang berilmu menjaganya dia pasti 
menjaga mereka. Andaikata mengagungkannya di dalam jiwa pasti mereka 
diagungkan. Namun mereka meremehkannya, maka hinalah mereka, mereka 
menggotorinya dengan ketamakan hingga dia bermuka masam." 

Siapa saja yang mencintai 'uzlah maka itu adalah kemuliaan baginya.



*********************************

Kirim email ke