Wa 'alaikum Salam Wr.Wb.

Pak Yahya,
Dari browsing, saya tidak mendapat informasi rinci mengenai Ruzbihan Hamazani. 
Yang jelas dia kontradiktif dengan Adian Huzaini yang kritis dalam menyoroti 
masalah pemurtadan dan penyimpangan akidah. Terlampir di bawah (dari milis 
Syiar-Islam) juga merupakan pendapat terhadap tulisan Ruzbihan ini yang mungkin 
bisa diambil kesimpulannya sendiri.

Terlepas dari "masalah" yang dikritisi olehnya, pendapat saya, motivasi dan 
itikad yang ditulisnya tidak tulus, dan oleh karenanya, kepada Para Jama'ah 
Al-Ikhlas dan Ar-Royyan saya mohon maaf.

Jika pertanyaan Bapak bermaksud mengingatkan, saya sangat berterima kasih dan 
bentuk kearifan seperti inilah yang mesti dikembangkan di sekitar kita.

Wassalam / Jaerony.-
ps. Artikel dari Pak Diran dengan judul "Ada yang Salah di UIN" menjadi salah 
satu indikator lahirnya orang semacam Ruzbihan ini. Wallahu a'lam.



*****************************************

hmm..tulisan ruzbihan hamazani mencerminkan sosok orang yg sombong dan yakin 
sekali pencampuradukan akidah yg dilakukannya selama ini tidak akan 
menggerogoti keimanan dan akidahnya sebagai seorang muslim.

hmm..aku teringat dengan marahnya Rasulullah saat melihat sahabat Umar ra, 
sedang membaca taurat. Jika Umar ra. yg selalu dalam didikan Rasulullah 
dilarang untuk membaca Taurat dan Rasulullah dengan marahnya meminta Umar untuk 
melemparkannya, karena Rasulullah tahu sekali bahwa isinya sudah banyak yg 
menyimpang dari ajaran Tauhid. lha..kita ini siapa??apakah keimanan kita sudah 
spt Umar ra yg PD sekali mengikuti  ritual agama lain dan yakin tidak akan 
terpengaruh?? 

yg menarik perhatianku adalah, mengapa Rasulullah marah sekali dan mengapa 
Rasulullah harus hati2 sekali menjaga akidah sahabatnya?? bukankah seharusnya 
Rasulullah yakin akan keimanan sahabatnya karena sudah mendapat jaminan syurga 
dari Allah??karena mustahil orang masuk syurga jika masih meninggalkan dosa 
syirik. lha..sedangkan kita ini siapa??yg dengan sombong dan yakinnya bahwa 
orang kafir dan musyrik tidak akan mampu mempengaruhi akidah kita dengan 
berbagai upaya pendekatan yg secara nyata maupun tersamar??

hmm..andai benar pencampuran seremoni keyakinan tidak mampu mempengaruhi 
akidah, rasanya orang pertama kali yg akan melegalkannya adalah Rasulullah, 
saat pertama kali mendapat tawaran dari orang kafir quraish untuk mengikuti 
seremoni mereka, kemudian mereka mengikuti seremoni Rasulullah. namun dengan 
tegas Rasul menolak dan mengatakan bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Toleransi 
yg diajarkan oleh Rasul adalah cukup dengan tidak mengganggu saat mereka 
melakukan seremoni keyakinannya, dan pada saat mereka meminta agar kita 
mengikuti ritual keyakinan mereka, maka itu sudah keluar dari batas toleransi.

kalau anda yg kualitas imannya jauh dibawah imam syafei saja sudah terlalu 
yakin nda terpengaruh dengan propaganda pendekatan yg mereka lakukan selama 
ini, itu sudah mencerminkan kesombongan. karena mustahil Allah mewanti2 kita 
dalam firman2nya untuk tidak menjadikan orang2 kafir sebagai pemimpin2 kita, or 
sabda Rasul yg meminta kita untuk memilih teman bergaul dan lingkungan bergaul, 
maupun lingkungan tempat tinggal yg notabene tidak didominasi oleh orang2 kafir 
dan musyrik.

hmm..bagiku hukum pergaulan adalah saling mempengaruhi or dipengaruhi, dimana 
yg lebih kuat dan telaten akan mudah mempengaruhi teman bergaulnya, namun dari 
itu semua, kadang ada rasa solideritas antar teman, dimana kadang kita yg harus 
mengikuti keinginannya dan  kadang dia yg harus ikuti keinginan kita. Namun 
kadang kita lupa dan kebablasan tanpa filter, bahwa ada point2 dimana kita 
tetap dengan keyakinan kita dan saling menghormati untuk tidak saling 
mempengaruhi
or memaksakan yg sudah menjadi prinsip masing2.

dan seharusnya sebagai teman yg baik, sudah selayaknya mengetahui prinsip 
temannya yg tidak mungkin disatukan dengan apa yg menjadi prinsip kita, hingga 
kita tidak perlu mencari2 celah untk selalu disamakan, hingga membuat perasaan 
teman kita menjadi tidak nyaman dan merasa bersalah bila tidak memenuhi 
keinginan kita. spt yg selama ini dilakukan oleh kaum nasrani yg selalu mencari 
celah dan mengiba dengan pendekatan secara nyata maupun tersamar, agar kita 
melakukan bias keyakinan dan mengatasnamakan toleransi dan solideritas antar 
teman, dan tidak perduli apakah keinginannya itu akan membuat perasaan kita 
tidak nyaman or sulit memutuskan permintaanya dengan argumentasi2nya yg seolah2 
benar dimata awam kita.

hmm..aku setuju dengan argumentasi Imam Al Ghazali pada Plato mengenai 
ketegasan prinsip kebenaran yg harus didahulukan ketimbang pertemanan yg 
disampaikan pada diskusi sabtuan insist oleh pak Adnin Armas, hmm..yg kira2 
perkataan imam ghazali adalah sbb 

"Plato adalah temanku dan kebenaranpun adalah temanku, jika aku diminta untuk 
memilih antara plato dan kebenaran, maka aku akan memilih kebenaran ketimbang 
plato." 

tapi saat ini, sudah banyak sekali orang yg mengaku muslim namun beramai2 
gadaikan kebenaran demi 'temannya' itu.

wallahu a'lam bisowab

salam
hana

*****************************

  ----- Original Message ----- 
  From: IND, Kurniawan, Yahya 
  To: jaerony ; AL Ikhlash ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, February 13, 2008 5:11 PM
  Subject: [Ar-Royyan-7360] RE: Menyoal tentang Akhlak


  Assalamu'alaikum,
  Pak bisa ngasih informasi tentang latar belakang penulis, jazakallah
  Wassalam,
  Yahya
    -----Original Message-----
    From: jaerony [mailto:[EMAIL PROTECTED]
    Sent: Wednesday, January 30, 2008 10:21 AM
    To: 'AL Ikhlash'; [email protected]
    Subject: Menyoal tentang Akhlak

    ----------  delete  --------------

Kirim email ke