Ass. WW
Segala sesuatau yang tidak bersesuaian dengan kebenaran Al Qur'an adalah
kesalahan. Kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, makan riba dan berperilaku
yang tidak sesuai dengan jalan Allah SWT sebagaimana tercantum adalam Al
Qur'an adalah kesalahan kesalahan besar yang berakibat manusia akan
dilemparkan ke dalam neraka jahanam kekal selama-lamanya. Tidak semua yang
nampak baik itu benar. Jadi akhlak umat Islam adalah sebagaimana yang
dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebaik apapun orang, tetapi kafir ia
tetap dipandang jelek oleh Allah SWT penguasa alam semesta ini dan tetap
akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam kekal selama-lamanya. Anda ingin
menyaksikan  kebinasaan orang-orang kafir di atas tanah Jawa, tunggu saja
tanggal mainnya.
Wassalam
Djarot D

alamat email: [EMAIL PROTECTED]


                                                                           
             "IND, Kurniawan,                                              
             Yahya"                                                        
             <Yahya.Kurniawan@                                          To 
             id.pvmgrp.com>            "jaerony"                           
                                       <[EMAIL PROTECTED]>, "AL      
             02/13/2008 05:11          Ikhlash" <[EMAIL PROTECTED]>,    
             PM                        <[email protected]>               
                                                                        cc 
                                                                           
             Please respond to                                     Subject 
             [EMAIL PROTECTED]         [Ar-Royyan-7360] RE: Menyoal        
                    om                 tentang Akhlak                      
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           





Assalamu'alaikum,

Pak  bisa ngasih informasi tentang latar belakang penulis,  jazakallah

Wassalam,

Yahya
-----Original Message-----
From: jaerony  [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, January 30, 2008  10:21 AM
To: 'AL Ikhlash'; [email protected]
Subject:  Menyoal tentang Akhlak



January 29,  2008...3:09 pm

Di Manakah Akhlak Kalian, Wahai Umat Islam?

Ruzbihan Hamazani

1.

Nabi Muhammad datang kepada masyarakat Arab dengan suatu misi penting,
yaitu menyempurnakan akhlak, menegakkan kembali kehidupan yang diatur
dengan  norma dan etika. Itulah pengertian yang kita tangkap dari ucapan
Nabi, “bu’ithtu li utammima makarim al-akhlaq“.  Arti hadis itu adalah, aku
(Nabi Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak.  Menegakkan kehidupan
yang etis, dengan demikian, merupakan fondasi agama  Islam.

Dan inilah yang tergambar dalam sejumlah hadis Nabi yang terkenal. Nabi,
misalnya, pernah berujar, bahwa barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka ia harus menghormati tetangganya. Dalam hadis lain dikatakan,
harus menghormati tamu. Nabi juga pernah mengatakan bahwa barangsiapa
beriman,  maka hendaklah ia berkata yang baik, atau, kalau tak bisa, diam
saja (fal yaqul khairan aw li-yashmut). Dalam  hadis yang lain disebutkan
bahwa barangsiapa kenyang sementara tetangganya  menderita kelaparan, maka
ia tak bisa disebut sebagai seorang beriman. Nabi  juga pernah berkata
dalam sebuah hadis terkenal: al-muslimu man salima akhuhu min yadihi aw min
lisanihi(aw kama qal). Artinya: seorang disebut Muslim jika saudaranya
terhindarkan dari hal-hal yang menyakitkan yang datang dari mulut dan
tangannya. Dengan kata lain, seseorang tak dapat disebut Muslim jika
menyakiti  saudaranya, entah dengan kata-kata atau dengan tindakan.

Sebuah hadis lain yang menerangkan tentang cabang-cabang iman (shu’ab
al-iman) menarik pula untuk kita  simak di sini. Dalam hadis itu dikatakan
bahwa iman memiliki tujuh puluh  sekian cabang. Cabang paling tinggi adalah
pengakuan tentang katauhidan dan  kerasulan yang dicerminkan dalam kredo
dua shahadat. Cabang yang paling rendah  adalah menyingkirkan “gangguan”
(al-adza) dari tengah jalan. Dengan kata  lain, jika kita melihat sebuah
paku tergeletak di tengah jalan lalu, tergerak  oleh rasa khawatir bahwa
paku itu bisa mencelakakan seorang pelintas jalan,  kita menyingkirkannya,
maka tindakan itu adalah salah satu cabang dari iman.  Dengan kata lain
pula, iman bukan sekedar deklarasi verbal dalam mulut, tetapi  juga
tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang benar akan membawa
manfaat bagi kehidupan sosial. Iman yang benar akan mengubah cara hidup
seseorang, dari kehidupan yang brengsek, amoral, dan mencelakakan orang
lain,  menjadi kehidupan yang bermartabat, etis, dan membawa rasa aman bagi
orang  lain. Dalam Qur’an digambarkan bahwa iman yang baik, bermutu, dan
kuat adalah  seperti pepohonan yang memiliki mutu biji yang baik sehingga
berkembang  menjadi pohon besar, tinggi menjulang ke langit, rindang, dan
membawa buah  yang bermanfaat bagi orang banyak (QS 14:24-25). Iman yang
benar akan terlihat  dari buahnya. Jika buah itu membawa manfaat bagi
masyarakat luas, maka iman  itu dapat kita pastikan sebagai iman yang
benar. Tak heran jika Islam  mengumandangkan kerasulan Muhammad sebagai
suatu misi yang membawa rahmat bagi  seluruh manusia, bukan saja bagi
manusia Muslim, tetapi juga non-Muslim (QS  21:107).

Puncak dari sebuah orde etis atau tatanan bermoral yang diajarkan oleh Nabi
adalah sebuah hadis yang terkenal: man yu’min  bi al-Lahi wa al-yaum
al-akhiri fal-yuhibba li akhihi ma yuhibbu  linafsihi. Arti hadis itu:
barangsiapa beriman kepada Allah dan hari  akhir, maka hendaknya dia
berbuat kepada temannya sesuatu yang ia suka  temannya itu perbuat pada
dia. Etika ini, sebagaimana kita tahu, terdapat  dalam Injil, juga dalam
kata-kata bijak yang sudah ribuan tahun lalu pernah  dikatakan oleh seorang
bijak dari Cina, Confucius. Ajaran etis yang dikenalkan  Islam adalah
meneruskan hal serupa yang sudah pernah diajarkan oleh  agama-agama besar
sebelumnya. Inti ajaran itu adalah sederhana: kalau anda tak  mau disakiti,
jangan menyakiti orang lain. Atau, jika mau dikatakan dalam  bentuk yang
positif: jika anda suka teman anda berbuat sesuatu kepada anda,  maka
perbuatlah hal yang sama kepada teman anda itu.

Kehidupan yang etis sebagaimana diajarkan oleh Islam dan ajaran agama-agama
besar yang lain berdiri atas suatu fondasi yang sangat sederhana tetapi
sangat  penting, yakni prinsip resiprokalitas atau tindakan saling
memberikan respon  yang positif. Para filsuf Muslim seperti Al-Farabi, Ibn
Sina, dan lain-lain  dikenal dengan pernyataan mereka bahwa manusia adalah
“madaniyyun bi al-thab‘”, manusia secara  natural adalah bersifat “madani”.
Apa yang dimaksud dengan “madani” di sana?  Pengertian madani di sini
adalah kehidupan “kota” yang dicirikan dengan  etos-etos seperti saling
menolong, kerjasama, gotong-royong, dan tunduk kepada  aturan atau otoritas
hukum yang disepakati atau ditunduki bersama. Kebalikan  dari “madani”
adalah kehidupan “barbar” atau liar yang sama sekali tak diatur  oleh
hukum, sehingga masing-masing orang atau kelompok dapat menyakiti,
mencelakai, dan menyerang orang atau kelompok lain. Dengan kata lain,
kehidupan yang tanpa otoritas, tanpa aturan, tanpa “sunnah“, tanpa norma
etis, tanpa etos saling  tolong-menolong, sebagaimana digambarkan oleh
kata-kata terkenal dari Thomas  Hobbes dalam risalahnya yang masyhur,
Leviathan, yakni: bellum omnium contra omnes. Kalimat dalam  bahasa Latin
itu artinya adalah, perang semua lawan semua. Itulah kehidupan  barbar yang
merupakan lawan dari kehidupan “etis” yang mencirikan suatu  tatanan yang
disebut dengan “madani” sebagaimana dimengerti oleh para filsuf  Muslim.

Dengan kata lain, ciri khas kehidupan etis dalam masyarakat madani adalah
resiprokalitas, bukan permusuhan semua lawan semua. Suatu kehidupan yang
ditandai oleh resipkrokalitas mengandaikan bahwa masing-masing pihak saling
menghargai yang lain, tidak merasa benar sendiri. Seseorang sudah tentu
tidak  suka terlibat dalam sebuah percakapan di mana pihak yang lain merasa
paling  benar sendiri, sehingga tak menerima pendapat pihak yang satunya.
Begitu pula,  jika seorang Muslim, Kristen, Hindu, Budha atau pemeluk
agama-agama lain  terlibat dalam sebuah kehidupan sosial di mana
masing-masing pihak merasa  paling benar, maka sudah pasti akan muncul
suasana pergaulan yang kurang  menyenangkan. Alasannya sangat jelas: dalam
kehidupan semacam itu, etos  resiprokalitas hilang sama sekali. Jika satu
pihak merasa menang sendiri,  benar sendiri, lurus sendiri, maka pihak lain
akan merasa “minder” dan  “inferior”, atau sekurang-kurangnya orang
bersangkutan akan menganggap pihak  yang lain demikian. Inferioritas
membuat timbangan kehidupan sosial menjadi  “njomplang”, tak seimbang,
kehilangan equilibrium.

Hadis Nabi di atas dengan baik menggambarkan bahwa kehidupan sosial yang
ideal adalah kehidupan yang bersifat resiprokal, di mana masing-masing
pihak  memperlakukan pihak yang lain dengan cara yang terhormat. Itulah
dasar dari  kehidupan “madani”, kehidupan yang berlandaskan pada etos
saling menghargai.  Dalam semangat ini pula, kita bisa membaca sebuah ayat
dalam Qur’an, “wa la talmizu anfusakum wa la tanabazu bi  al-alqab” (QS
49:11). Artinya: janganlah kalian saling mengejek dan  bertukar sebutan
jelek.

2.

Apa yang saya sebutkan di atas adalah ajaran-ajaran ideal yang dibawa oleh
Islam. Sebagaimana yang terjadi pada agama-agama lain, memenuhi standar
kehidupan etis tidak lah mudah dilaksanakan oleh umat Islam. Dalam
contoh-contoh kehidupan empiris, cita ideal Islam itu seringkali dicederai.
Umat Islam, dalam banyak kasus, gagal memenuhi tuntutan Qur’ani untuk hidup
secara etis itu. Yang lebih celaka adalah bahwa tuntutan untuk hidup secara
etis ini dianggap tak penting karena ada satu dua ayat dalam Qur’an yang
(dalam pemahaman mereka) menuntut untuk berbuat lain.

Salah satu contoh sederhana yang sering kita lihat dalam praktek umat Islam
akhir-akhir ini adalah mudahnya sekelompok umat Islam untuk memaki,
mengejek,  menyebut dengan sebutan jelek, meng-insinuasi kelompok lain yang
dianggap  memiliki pendapat sesat. Saya seringkali membaca artikel atau
mendengar  ceramah/khutbah di mana teman-teman Muslim yang memperjuangkan
ide pluralisme,  misalnya, diejek sebagai kaum “SEPILIS”. Kata itu adalah
singkatan yang dengan  sengaja dibuat oleh sebagian kelompok Islam untuk
mengejek dan menyindir para  pejuang ide-ide pluralisme. SEPILIS adalah
singkatan dari sekularisme,  pluralisme, dan liberalisme. Sekelompok umat
itu juga gemar memlintir  singkatan organisasi Islam lain yang mereka tak
sukai dengan cara-cara yang  sama sekali berlawanan dengan adab dan
tata-krama dalam Islam. Mereka juga  gemar menyebut kelompok Islam lain
sebagai “antek Yahudi”, “agen CIA”, dan  seterusnya. Ini semua dilakukan,
anehnya, dengan pretensi untuk membela dan  memperjuangkan Islam.

Jika anda masuk ke milis-milis yang biasa mendiskusikan isu-isu Islam,
janganlah kaget jika anda bertemu dengan komentar yang berisi insinuasi
vulgar, ejekan, sindiran, bahkan makian terhadap kelompok lain yang berbeda
pendapat. Larangan Qur’an untuk bertukar sebutan jelek (wa la tanabazu bi
al-alqab) seperti mereka  abaikan sama sekali. Dengan gampang sekali
sejumlah kelompok dalam Islam  mengejek kelompok lain karena dianggap
pandangannya sesat.

Ini semua membuat kita bertanya-tanya dalam hati: apakah ajaran Islam,
sebagaimana tertuang entah dalam Qur’an atau hadis, tentang hidup etis,
saling  menghormati teman dan tetangga, saling tak menyakiti dan
mencelakai, hanya  relevan bagi sesama Muslim yang sependapat? Apakah
ajaran itu boleh dilanggar  jika kita berhadapan dengan “Muslim” lain yang
dianggap sesat? Dengan kata  lain, apakah ajaran etis Islam hanya berlaku
bagi sesama Muslim? Apakah dengan  demikian Islam membolehkan kita memaki
dan menyakiti umat Kristen karena  mereka memeluk ajaran yang menurut umat
Islam sesat? Apakah dengan demikian  kita boleh menyerang, merusak, dan
memukul mereka yang kita anggap sesat,  seolah-olah mereka bukanlah
“manusia yang bermartabat”?

Jika benar ini adalah pemahaman mereka yang gemar memakai kata-kata buruk
terhadap lawan-lawan diskusi, padahal mereka adalah sesama Muslim, maka
kita  menjadi tahu, betapa merosotnya umat Islam saat ini dalam memahami
ajaran etis  Islam.

Saya, sebagai Muslim, percaya bahwa ajaran etis Islam berlaku universal.
Etika tentang larangan saling menyakiti dan anjuran untuk saling
menghormati  berlaku bagi siapapun, tak peduli agama dan kepercayaan dia.
Jika kita  menganggap bahwa yang dilayak diperlakukan dengan terhormat
hanyalah sesama  Muslim yang sependapat dengan kita, maka Islam, dengan
pemahaman seperti itu,  akan menjadi olok-olok dunia. Sebab Islam dalam
“versi” semacam itu tak layak  menjadi agama universal yang membawa
perdamaian dunia.

Tantangan umat Islam saat ini adalah menegaskan kembali komitmen yang
konsisten pada ajaran etis Islam seperti disebut di atas. Kegagalan
melakukan  tugas ini akan berarti kegagalan umat Islam memperlihatkan
kepada dunia luar  tentang universalitas etika Islam, sekaligus kegagalan
kleim Qur’an bahwa  Islam membawa rahmat bagi seluruh dunia. Alih-alih
membawa rahmat, Islam dan  umat Islam akan diejek sebagai agama dan umat
yang membawa musibah bagi  dunia.

Inikah nasib Islam yang dikehendaki oleh umat Islam saat ini?

Jika umat Islam tak mampu mengubah sikap-sikap mereka sendiri dan hidup
sesuai dengan cita-cita etis Islam, maka janganlah melolong, marah, protes
kiri-kanan karena bangsa lain menuduh umat Islam sebagai umat yang
menggemari  kekerasan, intoleran, eksklusif, dan sama sekali tak bisa
menhormati pihak  lain. Tuduhan dari bangsa lain di luar Islam hanyalah
cerminan dari keadaan  dalam tubuh umat Islam sendiri. Peribahasa Melayu
mengatakan, janganlah karena  buruk muka, cermin ditepuk. Qur’an sendiri
menegaskan, “inna ‘l-Laha la yughayyiru ma bi qawmin hatta  yughayyiru ma
bi anfusihim.” (QS 13:11) Artinya: Allah tak akan  mengubah nasib suatu
bangsa jika mereka tak mengubah keadaan mereka  sendiri.

Kalau wajah umat Islam jelek, tentu mereka tak boleh merusak cermin. Kalau
mau tampak ganteng dan baik, perbaikilah dulu “muka” sendiri. Dengan kata
lain, umat Islam haruslah otokritik, ketimbang menuduh pihak lain sebagai
biang masalah.

Wa ‘l-Lahu a’lam bi al-shawab.



sumber :

http://ruzbihanhamazani.wordpress.com/2008/01/29/di-manakah-akhlak-kalian-wahai-umat-islam/

Kirim email ke