tambahan lagi ( bila ingin mengetahui latar belakang si penulis dari segi 
pandangannya ), dimana blog nya sendiri diberikan tema Minhaj Al -Aqilin ( 
metode akal ).


--------------------------------------------------------------------------------

MINHAJ AL-AQILIN
Jalan bagi mereka yang mencintai Islam seraya tetap memakai akal sehat

Marhaban!
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang di blog saya. "Minhaj al-aqilin", nama blog ini, berarti "jalan 
bagi mereka yang memiliki akal". Blog ini memang ingin mengajak sesiapa saja, 
terutama umat Islam, untuk memakai akal sehat dalam memahami ajaran Islam. 
Dalam Qur'an, terdapat banyak sekali ayat yang menekankan pentingnya kegiatan 
berpikir dan menelaah. Dalam banyak ayat ditegaskan sejumlah himbauan seperti 
"afala ta'qilun", "afala yatadabbarun", "afala tatafakkarun", yang berarti, 
apakah kalian tak memakai akal, apakah kalian tak menelaah, apakah kalian tak 
berpikir.

Ini semua memperlihatkan bahwa berpikir dan menelaah dengan kritis sangat 
penting kedudukannya dalam Islam. Dalam Qur'an juga terdapat beberapa ayat yang 
mencela "taqlid buta". Qur'an mencela, misalnya, orang-orang Arab pada masa 
Nabi yang hanya mengikuti pendapat dan tradisi yang mereka warisi turun-temurun 
dari nenek-moyang. Kritik Qur'an ini sudah seharusnya diarahkan kepada umat 
Islam yang tampaknya saat ini juga terjebak pada penyakit yang dulu menimpa 
orang-orang Arab, yakni mewarisi pemahaman tentang Islam secara turun-temurun 
dari nenek-moyang, kiai, ulama, habib, atau ustaz.

Saya sama sekali tak menentang taqlid, sebab hal itu tak terhindarkan. 
Keberatan saya adalah pada taqlid buta, tanpa dibarengi dengan sikap menelaah 
yang kritis. Saat ini, umat Islam sedang terjangkiti penyakit taqlidisme ini. 
Contoh yang baik adalah bahwa mereka cepat marah jika pendapat ulama, kiai, 
atau ustaz yang mereka ikuti dikritik oleh orang lain. Mereka yang percaya pada 
fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, akan marah dan naik pitam jika 
ada kalangan yang mengkritik fatwa atau pandangan lembaga itu, seolah-olah 
pandangan MUI adalah sama dengan Islam itu sendiri. Ada sejumlah orang yang 
bahkan siap berjihad untuk membela pandangan MUI, seolah-olah menentang 
pendapat lembaga itu sama dengan menentang Islam. Ini adalah contoh dari sikap 
taqlidisme itu.

Salah satu semangat positif yang diwariskan oleh para pendiri mazhab fikih 
dalam Islam adalah ungkapan berikut ini, "al-nasu yu'khadzu minhu wa yuraddu 
'alaihi," bahwa pendapat manusia dapat diikuti, tetapi juga dapat ditolak atau 
dikritik. Umat Islam seharusnya bisa membedakan antara agama dengan pendapat 
yang dikemukakan oleh ulama atau kiai mengenai agama. Jika seseorang 
berpendapat tentang suatu isu, maka pendapat itu tidaklah identik dengan agama. 
Paling jauh, pendapat itu adalah sebuah penafsiran atau suatu sudut pandang 
yang sifatnya relatif. Jika MUI mengeluarkan sebuah fatwa, maka fatwa itu 
hanyalah pendapat, bukan Islam itu sendiri.

Dalam Islam, sebagaimana dalam setiap agama apapun, akan selalu ada keragaman 
pendapat. Dengan kian beragamnya corak pendidikan dan bidang keilmuan yang 
dimasuki oleh para sarjana Islam saat ini, sangat alamiah jika kemudian lahir 
keragaman pendapat. Dalam konteks keragaman seperti ini, semangat yang layak 
dikembangkan adalah sikap terbuka, open-mindedness, kelapangan dada, toleransi, 
serta dialog yang sehat. Bukan semangat tertutup serta sesat-menyesatkan 
seperti dikembangkan oleh MUI saat ini. Semangat ukhuwwah Islamiyyah yang 
sering didengung-dengungkan oleh para dai dan ustaz itu mendapat tantangan saat 
ini. Bagaimana umat Islam benar-benar memiliki komitmen pada ukhuwwah jika 
berbeda sedikit langsung naik pitam dan menyesatkan atau mengkafirkan orang 
lain. Retorika ukhuwwah memang gampang diserukan di podium, tetapi tes paling 
utama adalah dalam sikap sehari-hari.

Blog ini mengajak umat Islam untuk mengembangkan ukhuwwah yang sehat dalam 
bentuk kesediaan dialog dan tak mudah menyesatkan kelompok lain.

Pesan yang ingin disampaikan blog ini relevan bukan saja untuk pembaca Muslim, 
tetapi juga kalangan pembaca di luar Islam. Blog ini sekaligus memberikan 
informasi yang kurang lebih akurat mengenai Islam. Selama ini Islam, karena 
sepak-terjang umatnya yang salah kaprah, selalu dengan gampang diidentikkan 
dengan agama kekerasan. Blog ini tidak ingin hipokrit dan munafik menolak 
adanya unsur kekerasan dalam ajaran Islam. Hal itu jelas ada. Tetapi, blog ini 
juga mengajak umat Islam untuk berani menghadapi fakta "pahit" seperti itu dan 
mencoba bertindak secara positif dengan cara melakukan penafsiran kembali 
sejumlah ajaran dalam Islam yang sudah tak relevan dengan perkembangan zaman. 
Dengan penafsiran kembali, Islam akan menjadi agama yang damai, sesuai dengan 
semangat zaman, dan menghormati matabat manusia.

Penafsiran semacam itu sudah seharusnya dilakukan terus-menerus tanpa henti. 
Kata "afala ta'qilun" dalam Qur'an yang berarti "apakah kalian tak berpikir", 
diungkapkan dalam bentuk fi'il mudhari', yakni kata kerja yang menunjukkan masa 
kini atau masa mendatang. Kata kerja seperti itu mempunyai makna dan nuansa 
khusus, yakni tajaddud, kebaharuan. Dengan kata lain, perintah untuk berpikir 
itu bukan perintah yang hanya berlaku sekali saja, tetapi terus-menerus, tanpa 
henti. Dengan kata lain, umat Islam tak boleh berhenti berpikir dan menelaah 
dengan kritis.

Qur'an dan Nabi sendiri jelas tak menghendaki ajaran Islam dipandang sebagai 
ajaran yang mati dan mandeg. Sebaliknya, ajaran yang harus terus-menerus 
diusahakan agar kontekstual dengan perkembangan sejarah manusia. Dengan 
eksplisit Nabi, misalnya, mengatakan bahwa pada awal setiap abad, akan lahir 
orang-orang yang memperbaharui agama Islam (yujaddidu laha amra diniha). Yang 
aneh adalah usaha kaum ulama ortodoks untuk membatasi makna "tajdid" atau 
pembaharuan ini pada pemurnian ajaran Islam. Menurut mereka, yang disebut 
tajdid adalah upaya mengembalikan Islam kepada praktek "murni" yang pernah 
dicontohkan oleh Nabid dan sahabatnya. Tajdid dalam pengertian pembaharuan 
pemikiran Islam mereka tolak, dan sebaliknya mereka ejek sebagai "tabdid" atau 
merusak Islam. Secara retoris, mereka mengatakan bahwa yang dibutuhkan oleh 
umat adalah tajdid, bukan tabdid.

Ini hanyalah permainan kata-kata dari kaum ortodoks yang tak suka menerima 
gagasan baru, sebaliknya lebih suka pada taqlid. Definisi tajdid yang dibatasi 
hanya pada pemurnian seperti itu jelas merupakan tindakan arbitrer yang sama 
sekali tak berdasar. Dalam istilah ilmu kalam (teologi Islam), hal itu disebut 
sebagai tahakkum, artinya penilaian yang semena-mena. Dalam pandangan saya, 
tajdid mencakup dua makna sekaligus. Pertama, pemurnian, dalam pengertian 
mengembalikan Islam pada semangat aslinya sebelum terkotori oleh praktek 
tradisi yang menyimpang. Kedua, pembaharuan, dalam pengertian menyesuaikan 
Islam dengan perkembangan zaman, dengan cara menafsirkan kembali sejumlah 
ajaran di dalamnya yang sudah tak relevan.

Selamat membaca!

Wa 'l-salamu 'ala man ittaba'a 'l-huda.

Ruzbihan Hamazani

  ----- Original Message ----- 
  From: IND, Kurniawan, Yahya 
  To: jaerony ; AL Ikhlash ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, February 13, 2008 5:11 PM
  Subject: [Ar-Royyan-7360] RE: Menyoal tentang Akhlak


  Assalamu'alaikum,

  Pak bisa ngasih informasi tentang latar belakang penulis, jazakallah

  Wassalam,

  Yahya
    -----Original Message-----
    From: jaerony [mailto:[EMAIL PROTECTED]
    Sent: Wednesday, January 30, 2008 10:21 AM
    To: 'AL Ikhlash'; [email protected]
    Subject: Menyoal tentang Akhlak


    January 29, 2008...3:09 pm
    Di Manakah Akhlak Kalian, Wahai Umat Islam?
    Ruzbihan Hamazani

    1.

    Nabi Muhammad datang kepada masyarakat Arab dengan suatu misi penting, 
yaitu menyempurnakan akhlak, menegakkan kembali kehidupan yang diatur dengan 
norma dan etika. Itulah pengertian yang kita tangkap dari ucapan Nabi, 
"bu'ithtu li utammima makarim al-akhlaq". Arti hadis itu adalah, aku (Nabi 
Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak. Menegakkan kehidupan yang etis, 
dengan demikian, merupakan fondasi agama Islam.

    Dan inilah yang tergambar dalam sejumlah hadis Nabi yang terkenal. Nabi, 
misalnya, pernah berujar, bahwa barangsiapa beriman kepada Allah dan hari 
akhir, maka ia harus menghormati tetangganya. Dalam hadis lain dikatakan, harus 
menghormati tamu. Nabi juga pernah mengatakan bahwa barangsiapa beriman, maka 
hendaklah ia berkata yang baik, atau, kalau tak bisa, diam saja (fal yaqul 
khairan aw li-yashmut). Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa barangsiapa 
kenyang sementara tetangganya menderita kelaparan, maka ia tak bisa disebut 
sebagai seorang beriman. Nabi juga pernah berkata dalam sebuah hadis terkenal: 
al-muslimu man salima akhuhu min yadihi aw min lisanihi (aw kama qal). Artinya: 
seorang disebut Muslim jika saudaranya terhindarkan dari hal-hal yang 
menyakitkan yang datang dari mulut dan tangannya. Dengan kata lain, seseorang 
tak dapat disebut Muslim jika menyakiti saudaranya, entah dengan kata-kata atau 
dengan tindakan.

    Sebuah hadis lain yang menerangkan tentang cabang-cabang iman (shu'ab 
al-iman) menarik pula untuk kita simak di sini. Dalam hadis itu dikatakan bahwa 
iman memiliki tujuh puluh sekian cabang. Cabang paling tinggi adalah pengakuan 
tentang katauhidan dan kerasulan yang dicerminkan dalam kredo dua shahadat. 
Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan "gangguan" (al-adza) dari tengah 
jalan. Dengan kata lain, jika kita melihat sebuah paku tergeletak di tengah 
jalan lalu, tergerak oleh rasa khawatir bahwa paku itu bisa mencelakakan 
seorang pelintas jalan, kita menyingkirkannya, maka tindakan itu adalah salah 
satu cabang dari iman. Dengan kata lain pula, iman bukan sekedar deklarasi 
verbal dalam mulut, tetapi juga tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. 
Iman yang benar akan membawa manfaat bagi kehidupan sosial. Iman yang benar 
akan mengubah cara hidup seseorang, dari kehidupan yang brengsek, amoral, dan 
mencelakakan orang lain, menjadi kehidupan yang bermartabat, etis, dan membawa 
rasa aman bagi orang lain. Dalam Qur'an digambarkan bahwa iman yang baik, 
bermutu, dan kuat adalah seperti pepohonan yang memiliki mutu biji yang baik 
sehingga berkembang menjadi pohon besar, tinggi menjulang ke langit, rindang, 
dan membawa buah yang bermanfaat bagi orang banyak (QS 14:24-25). Iman yang 
benar akan terlihat dari buahnya. Jika buah itu membawa manfaat bagi masyarakat 
luas, maka iman itu dapat kita pastikan sebagai iman yang benar. Tak heran jika 
Islam mengumandangkan kerasulan Muhammad sebagai suatu misi yang membawa rahmat 
bagi seluruh manusia, bukan saja bagi manusia Muslim, tetapi juga non-Muslim 
(QS 21:107).

    Puncak dari sebuah orde etis atau tatanan bermoral yang diajarkan oleh Nabi 
adalah sebuah hadis yang terkenal: man yu'min bi al-Lahi wa al-yaum al-akhiri 
fal-yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsihi. Arti hadis itu: barangsiapa beriman 
kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berbuat kepada temannya sesuatu 
yang ia suka temannya itu perbuat pada dia. Etika ini, sebagaimana kita tahu, 
terdapat dalam Injil, juga dalam kata-kata bijak yang sudah ribuan tahun lalu 
pernah dikatakan oleh seorang bijak dari Cina, Confucius. Ajaran etis yang 
dikenalkan Islam adalah meneruskan hal serupa yang sudah pernah diajarkan oleh 
agama-agama besar sebelumnya. Inti ajaran itu adalah sederhana: kalau anda tak 
mau disakiti, jangan menyakiti orang lain. Atau, jika mau dikatakan dalam 
bentuk yang positif: jika anda suka teman anda berbuat sesuatu kepada anda, 
maka perbuatlah hal yang sama kepada teman anda itu.

    Kehidupan yang etis sebagaimana diajarkan oleh Islam dan ajaran agama-agama 
besar yang lain berdiri atas suatu fondasi yang sangat sederhana tetapi sangat 
penting, yakni prinsip resiprokalitas atau tindakan saling memberikan respon 
yang positif. Para filsuf Muslim seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan lain-lain 
dikenal dengan pernyataan mereka bahwa manusia adalah "madaniyyun bi al-thab'", 
manusia secara natural adalah bersifat "madani". Apa yang dimaksud dengan 
"madani" di sana? Pengertian madani di sini adalah kehidupan "kota" yang 
dicirikan dengan etos-etos seperti saling menolong, kerjasama, gotong-royong, 
dan tunduk kepada aturan atau otoritas hukum yang disepakati atau ditunduki 
bersama. Kebalikan dari "madani" adalah kehidupan "barbar" atau liar yang sama 
sekali tak diatur oleh hukum, sehingga masing-masing orang atau kelompok dapat 
menyakiti, mencelakai, dan menyerang orang atau kelompok lain. Dengan kata 
lain, kehidupan yang tanpa otoritas, tanpa aturan, tanpa "sunnah", tanpa norma 
etis, tanpa etos saling tolong-menolong, sebagaimana digambarkan oleh kata-kata 
terkenal dari Thomas Hobbes dalam risalahnya yang masyhur, Leviathan, yakni: 
bellum omnium contra omnes. Kalimat dalam bahasa Latin itu artinya adalah, 
perang semua lawan semua. Itulah kehidupan barbar yang merupakan lawan dari 
kehidupan "etis" yang mencirikan suatu tatanan yang disebut dengan "madani" 
sebagaimana dimengerti oleh para filsuf Muslim.

    Dengan kata lain, ciri khas kehidupan etis dalam masyarakat madani adalah 
resiprokalitas, bukan permusuhan semua lawan semua. Suatu kehidupan yang 
ditandai oleh resipkrokalitas mengandaikan bahwa masing-masing pihak saling 
menghargai yang lain, tidak merasa benar sendiri. Seseorang sudah tentu tidak 
suka terlibat dalam sebuah percakapan di mana pihak yang lain merasa paling 
benar sendiri, sehingga tak menerima pendapat pihak yang satunya. Begitu pula, 
jika seorang Muslim, Kristen, Hindu, Budha atau pemeluk agama-agama lain 
terlibat dalam sebuah kehidupan sosial di mana masing-masing pihak merasa 
paling benar, maka sudah pasti akan muncul suasana pergaulan yang kurang 
menyenangkan. Alasannya sangat jelas: dalam kehidupan semacam itu, etos 
resiprokalitas hilang sama sekali. Jika satu pihak merasa menang sendiri, benar 
sendiri, lurus sendiri, maka pihak lain akan merasa "minder" dan "inferior", 
atau sekurang-kurangnya orang bersangkutan akan menganggap pihak yang lain 
demikian. Inferioritas membuat timbangan kehidupan sosial menjadi "njomplang", 
tak seimbang, kehilangan equilibrium.

    Hadis Nabi di atas dengan baik menggambarkan bahwa kehidupan sosial yang 
ideal adalah kehidupan yang bersifat resiprokal, di mana masing-masing pihak 
memperlakukan pihak yang lain dengan cara yang terhormat. Itulah dasar dari 
kehidupan "madani", kehidupan yang berlandaskan pada etos saling menghargai. 
Dalam semangat ini pula, kita bisa membaca sebuah ayat dalam Qur'an, "wa la 
talmizu anfusakum wa la tanabazu bi al-alqab" (QS 49:11). Artinya: janganlah 
kalian saling mengejek dan bertukar sebutan jelek.

    2.

    Apa yang saya sebutkan di atas adalah ajaran-ajaran ideal yang dibawa oleh 
Islam. Sebagaimana yang terjadi pada agama-agama lain, memenuhi standar 
kehidupan etis tidak lah mudah dilaksanakan oleh umat Islam. Dalam 
contoh-contoh kehidupan empiris, cita ideal Islam itu seringkali dicederai. 
Umat Islam, dalam banyak kasus, gagal memenuhi tuntutan Qur'ani untuk hidup 
secara etis itu. Yang lebih celaka adalah bahwa tuntutan untuk hidup secara 
etis ini dianggap tak penting karena ada satu dua ayat dalam Qur'an yang (dalam 
pemahaman mereka) menuntut untuk berbuat lain.

    Salah satu contoh sederhana yang sering kita lihat dalam praktek umat Islam 
akhir-akhir ini adalah mudahnya sekelompok umat Islam untuk memaki, mengejek, 
menyebut dengan sebutan jelek, meng-insinuasi kelompok lain yang dianggap 
memiliki pendapat sesat. Saya seringkali membaca artikel atau mendengar 
ceramah/khutbah di mana teman-teman Muslim yang memperjuangkan ide pluralisme, 
misalnya, diejek sebagai kaum "SEPILIS". Kata itu adalah singkatan yang dengan 
sengaja dibuat oleh sebagian kelompok Islam untuk mengejek dan menyindir para 
pejuang ide-ide pluralisme. SEPILIS adalah singkatan dari sekularisme, 
pluralisme, dan liberalisme. Sekelompok umat itu juga gemar memlintir singkatan 
organisasi Islam lain yang mereka tak sukai dengan cara-cara yang sama sekali 
berlawanan dengan adab dan tata-krama dalam Islam. Mereka juga gemar menyebut 
kelompok Islam lain sebagai "antek Yahudi", "agen CIA", dan seterusnya. Ini 
semua dilakukan, anehnya, dengan pretensi untuk membela dan memperjuangkan 
Islam.

    Jika anda masuk ke milis-milis yang biasa mendiskusikan isu-isu Islam, 
janganlah kaget jika anda bertemu dengan komentar yang berisi insinuasi vulgar, 
ejekan, sindiran, bahkan makian terhadap kelompok lain yang berbeda pendapat. 
Larangan Qur'an untuk bertukar sebutan jelek (wa la tanabazu bi al-alqab) 
seperti mereka abaikan sama sekali. Dengan gampang sekali sejumlah kelompok 
dalam Islam mengejek kelompok lain karena dianggap pandangannya sesat.

    Ini semua membuat kita bertanya-tanya dalam hati: apakah ajaran Islam, 
sebagaimana tertuang entah dalam Qur'an atau hadis, tentang hidup etis, saling 
menghormati teman dan tetangga, saling tak menyakiti dan mencelakai, hanya 
relevan bagi sesama Muslim yang sependapat? Apakah ajaran itu boleh dilanggar 
jika kita berhadapan dengan "Muslim" lain yang dianggap sesat? Dengan kata 
lain, apakah ajaran etis Islam hanya berlaku bagi sesama Muslim? Apakah dengan 
demikian Islam membolehkan kita memaki dan menyakiti umat Kristen karena mereka 
memeluk ajaran yang menurut umat Islam sesat? Apakah dengan demikian kita boleh 
menyerang, merusak, dan memukul mereka yang kita anggap sesat, seolah-olah 
mereka bukanlah "manusia yang bermartabat"?

    Jika benar ini adalah pemahaman mereka yang gemar memakai kata-kata buruk 
terhadap lawan-lawan diskusi, padahal mereka adalah sesama Muslim, maka kita 
menjadi tahu, betapa merosotnya umat Islam saat ini dalam memahami ajaran etis 
Islam.

    Saya, sebagai Muslim, percaya bahwa ajaran etis Islam berlaku universal. 
Etika tentang larangan saling menyakiti dan anjuran untuk saling menghormati 
berlaku bagi siapapun, tak peduli agama dan kepercayaan dia. Jika kita 
menganggap bahwa yang dilayak diperlakukan dengan terhormat hanyalah sesama 
Muslim yang sependapat dengan kita, maka Islam, dengan pemahaman seperti itu, 
akan menjadi olok-olok dunia. Sebab Islam dalam "versi" semacam itu tak layak 
menjadi agama universal yang membawa perdamaian dunia.

    Tantangan umat Islam saat ini adalah menegaskan kembali komitmen yang 
konsisten pada ajaran etis Islam seperti disebut di atas. Kegagalan melakukan 
tugas ini akan berarti kegagalan umat Islam memperlihatkan kepada dunia luar 
tentang universalitas etika Islam, sekaligus kegagalan kleim Qur'an bahwa Islam 
membawa rahmat bagi seluruh dunia. Alih-alih membawa rahmat, Islam dan umat 
Islam akan diejek sebagai agama dan umat yang membawa musibah bagi dunia.

    Inikah nasib Islam yang dikehendaki oleh umat Islam saat ini?

    Jika umat Islam tak mampu mengubah sikap-sikap mereka sendiri dan hidup 
sesuai dengan cita-cita etis Islam, maka janganlah melolong, marah, protes 
kiri-kanan karena bangsa lain menuduh umat Islam sebagai umat yang menggemari 
kekerasan, intoleran, eksklusif, dan sama sekali tak bisa menhormati pihak 
lain. Tuduhan dari bangsa lain di luar Islam hanyalah cerminan dari keadaan 
dalam tubuh umat Islam sendiri. Peribahasa Melayu mengatakan, janganlah karena 
buruk muka, cermin ditepuk. Qur'an sendiri menegaskan, "inna 'l-Laha la 
yughayyiru ma bi qawmin hatta yughayyiru ma bi anfusihim." (QS 13:11) Artinya: 
Allah tak akan mengubah nasib suatu bangsa jika mereka tak mengubah keadaan 
mereka sendiri.

    Kalau wajah umat Islam jelek, tentu mereka tak boleh merusak cermin. Kalau 
mau tampak ganteng dan baik, perbaikilah dulu "muka" sendiri. Dengan kata lain, 
umat Islam haruslah otokritik, ketimbang menuduh pihak lain sebagai biang 
masalah.

    Wa 'l-Lahu a'lam bi al-shawab.



    sumber :

    
http://ruzbihanhamazani.wordpress.com/2008/01/29/di-manakah-akhlak-kalian-wahai-umat-islam/



------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 2/11/2008 
5:28 PM

Kirim email ke