Selasa, 08 April 2008

Demam Sari Kurma di Musim DBD 




Musim pancaroba selalu identik dengan musim serangan penyakit. Di musim 
peralihan ini biasanya kondisi cuaca menjadi ekstrem. Daya tahan tubuh pun 
menjadi sangat penting. Mereka yang daya tahan tubuhnya lemah menjadi sangat 
mudah sakit ketika perubahan musim terjadi.

Di antara sekian banyak penyakit yang selalu mengintai di masa pancaroba, demam 
berdarah dengue (DBD) termasuk paling berbahaya. Tak hanya mematikan, penyakit 
yang ditularkan lewat gigitan nyamuk ini juga mudah menyebar. Karena gejalanya 
mirip dengan demam biasa, biasanya penderita DBD tidak cepat menyadari bahwa 
penyakit yang diidapnya itu berbahaya.

Salah satu gejala yang sangat menonjol pada penderita DBD adalah turunnya 
kandungan trombosit dalam darah secara drastis. Penurunan trombosit yang 
berlangsung drastis, menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia. 

Beberapa waktu lalu, jambu biji merah banyak dibincangkan orang sebagai obat 
pendongkrak kadar trombosit yang ampuh bagi penderita DBD. Saat itu, jambu biji 
merah pun menjadi buah yang sangat popular dan dicari orang. Para petani yang 
membudidaya jambu biji merah di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pun 
kebanjiran rezeki.

Hampir bersamaan dengan itu juga muncul banyak cerita tentang khasiat buah 
merah untuk mengobati banyak penyakit termasuk DBD. Buah yang aslinya dari 
Papua itu pun menjadi naik daun. Banyak toko obat maupun apotek yang memajang 
produk ini. Tapi, tak berapa lama, popularitas buah merah pun melorot. Produk 
ini tak banyak lagi ditemui di apotek-apotek maupun toko obat.

Belakangan, popularitas sari buah kurma banyak dipercaya lebih manjur untuk 
menaikkan kadar trombosit dalam darah. Menurut produsen sari buah kurma 
bermerek Arofah, Syahir Karim Vasandani, khasiat produk tersebut sudah banyak 
terbukti. Menurut dia, sari buah kurma bisa secara drastis menambah kadar 
trombosit dan membantu menyembuhkan para penderita DBD.

''Tidak seperti yang lain, sari buah kurma ini memang terbukti,'' tutur dia. 
Karena itu dia sangat yakin bahwa kemunculan sari buah kurma ini tidak akan 
hanya sekilas, lalu surut. Dalam enam bulan terakhir, menurut dia, penjualan 
sari buah kurma bikinannya pun terus menanjak. 

Tak hanya masyarakat umum yang secara massal mengonsumsi sari buah kurma ini, 
kata Syahir, saat ini juga mulai ada rumah sakit yang memanfaatkan obat 
tersebut. Dia mengungkapkan bahwa beberapa rumah sakit di Jakarta telah 
memanfaatkan produk sari kurma Arofah untuk mengobati pasien. Bahkan, menurut 
dia, beberapa dokter sudah menganjurkannya.

Dengan potensi tersebut, dia pun sangat yakin target penjualan sari buah kurma 
tahun ini bisa tercapai. Untuk 2008 ini, dia menargetkan untuk bisa menjual 100 
ribu botol sari buah kurma. Sari buah kurma merek Arofah ini dikemas dalam dua 
ukuran botol. Kemasan botol berukuran 310 ml dijualnya dengan harga Rp 40 ribu. 
Sedang kemasan yang lebih kecil, yakni 150 ml dijualnya seharga Rp 20 ribu.

Pasar sari buah kurma ini pun sudah menyebar di beberapa kota. Saat ini, 
menurut Syahir, sari buah kurma bikinannya itu sudah dijual di Jakarta, 
Bandung, Surabaya, juga Medan. Dalam pandangannya, pertumbuhan pasar sari buah 
kurma ini tergolong pesat. 

Tak hanya untuk menambah trombosit, dia mengungkapkan bahwa sari buah kurma 
juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi keletihan, juga menyehatkan 
jantung. ''Obat ini aman dikonsumsi untuk segala usia, termasuk juga aman bagi 
bayi,'' tutur dia. 

Cara penyajian produk yang mirip sirup ini juga tidak harus ditampilkan sebagai 
obat. Sari buah kurma juga bisa menjadi campuran minum susu, atau dibuat 
semacam selai untuk makan roti. Cara penyajian yang bervariasi ini memudahkan 
anak-anak kecil untuk mengonsumsi sari buah kurma.

Salah satu putra Syahir yang ikut menekuni bisnis tersebut, Sham Sony SKV, 
menjelaskan bahwa bahan baku sari buah kurma merek Arofah ini didatangkan dari 
Arab Saudi. Kini, menurut dia, kompetitor yang menjual produk serupa sudah 
sangat banyak. Meski begitu, dia yakin produk bikinannya ini tetap mampu 
bersaing di pasar. 

Sejak tiga tahun lalu, Sham Sony, SKV mulai terlibat mengelola bisnis Bursa 
Sajadah Aarti Jaya. Waktu itu, dia baru saja menyelesaikan studi diploma 
bisnisnya di Australia. Ayahnya, Syahir Karim Vasandani, yang juga pemilik 
Aarti Jaya menginginkan agar Sony bisa menjadi pewaris bisnisnya.

Untuk bisa memenuhi harapan tersebut, putra bungsu dari dua bersaudara itu pun 
terus berusaha keras memahami bisnis ayahnya. Dari dinamika di tingkat terbawah 
hingga pengambilan kebijakan di tingkat yang lebih tinggi dalam perusahaan 
tersebut dia pelajari secara tekun.

Sejak sekitar enam bulan lalu, Aarti Jaya telah melebarkan sayap dengan membuat 
produk sari buah kurma bermerek Arofah. Lajang kelahiran 26 April 1983 ini pun 
terlibat dalam bisnis ini. 

(irf ) 

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=329556&kat_id=150

Kirim email ke