amin widada wrote:
Jadi mikir, kira-kira kenapa ya mereka (BreadTalk) terkesan cuek/gak
perlu urus sertifikat halal?
Barangkali mereka berpikir: toh konsumennya juga gak nambah walaupun
pakai sertifikat. Atau dibalik, toh pelanggan juga gak berkurang
walaupun tanpa sertifikat. Singkatnya: ada/tidak ada sertifikat, gak
ngaruh!
Mungkin juga pak, seperti halnya HOKBEN yang sampai saat ini tambeng.
Karena setahu saya untuk makanan jepang itu memang sulit mendapatkan
sertifikat halal, karena banyak menggunakan mirin/sake/angchiu pada
proses pembutannya.
Toh, masih banyak orang islam yang makan dengan lezat, santai dan nikmatnya
di restoran HOKBEN tersebut, Suka miris juga lihat ibu-ibu pakai jilbab
yang
makan di HOKBEN.
Padahal sudah ada alternatif untuk yang sejenis HOKBEN dan sudah mendapatkan
sertifikat halal, namanya Platinum atau Gokana teppan, ada di PIM atau
di Plasa
Semanggi.
Alhamdulillah sampai saat ini saya sudah tidak pernah makan hokben lagi :)
Apa ada hubungannya dengan 'kelas sosial' pelanggannya, yang relatif
'bebas nilai' dalam filosofi urusan mengisi perut?
Feeilng saya sih, ada kali ya, semakin tinggi pendapatan, semakin
konsumtif-nya
orang, sepertinya jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran
akan
pentingnya menjaga kehalalan makanan yang dimakan baik untuk diri sendiri,
istri maupun anak dan keluarga di rumah.
Karena ada istilah, "You Are What You Eat" mungkin bisa menjadi cambuk kita
untuk lebih berhati-hati terhadap apa yang kita makan, baik itu sumbernya,
bahannya, cara mendapatkanya dsb.
-- A. Yahya Sjarifuddin.
--
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)