Assalamu alaikum...WR..Wb..

 

Saya teringat komentar salah seorang tokoh ( JIL ..?) ketika
mengomentari Fatwa MUI tentang Ahmadiyah..

 

"MUI tidak berhak menentukan benar dan salah suatu aliran, Hanya ALLah
sendirilah.. yang berhak..."

 

Melihat pernyataan tersebut, sepertinya benar dan biasa saja,. Namun
jika dicermati rasanya terlalu berlebihan jika membandingkan Allah
dengan MUI, karena memang sangat beda antara Creator & createe..
Pencipta & makhluk...

Termasuk juga berlibihan jika membandingkan Allah dengan Pak Diran
misalnya...

 

Setuju bahwa kebenaran adalah relaitf, namun akan tidak relatif jika
nilai yang kita anut telah sama. Nilai kita akan sama jika pandangan
hidup kita sama. Contoh: ada seorang gadis begitu merah padam merasa
bersaah ketika jilbabnya trsingkap hingga terlihat betis bagian
bawahnya... namun ada juga yang malah bangga dengan menunjukkan (maaf)
celana dalamnya/pantatnya  karena baju kaosnya kurang panjang sedangkan
celananya melorot sebagaimana halnya mode yang lagi digandrungi anak2
sekarang... atau dengan bangganya para artis yang ditiru anak2 kita
"ngeler puser"..

Nah dua-duanya akan merasa benar...karena nilai yang di anut beda.. yang
satu menganut nilai Islam bahwa betis adalah aurot, sedangkan yang
satunya menganut nilai barat/"bebas"...

 

Dalam kontek millis kita, saya rasa kita sepakat bahwa nilai yang benar
adalah dari Allah melalui agama Islam beserta syariat dan seluruh
aturannya..Jadi kebenaran Allah adalah melalui firman2 Nya yang telah di
turunkan kepada Rosullulah SAW.  Karena Wahyu sekarang sudah tidak turun
rasanya kurang pas jika membawa-bawa Allah misalnya seperyi contoh di
atas..

 

Dalam contoh kasus pemerintah, mengapa merasa benar dengan menaikan BBM
hingga belum dianaikkan saja sudah banyak rakyat yang bunuh diri karena
frustasi mengahadapi hidup...? apakah pemerinatah memakai nilai WTO (
yang diciptakan negeri2 maju untuk bisa bersaing meraih pasar di negeri2
berkembang) atau nilai Islam dalam mengelola negri ini...?

 

Kalo dijaman Kholifah Umar, seorang pemimpin harus mengotong gandum di
punggunya agar rakyatnya besok bisa makan gandum bukan makan rebusan
batu..atau jaman Usman bin Affan yang ikhlas menyumbangkan harta
perniagaanya untuk menanggulangi kelaparan walau sudah ditawari kaum
Yahudi dengan keuntungan 10 x lipat..

Mengapa dijaman sekarang,  ketika banyak rakyat yang bunuh diri karena
nggak bisa makan...disaat yang bersamaan di adakan  pagelaran seni
besar2an  yang menghabiskan puluhan milliar rupiah  di senayan..  Atau
ketika seorang ibu yang sedang mengandung 7 bulan meninggal beserta
anak2nya karena akumulasi sudah beberapa hari tidak makan di Makasar
beberapa waktu yang lalu,  mengapa disaat bersamaan pemimpin kita malah
menyanyi dalam rangka peluncuran album lagu..?

 

Apakah kita bisa mem-"benar"kan kejadian2 tersbut..? Lupakah kita dengan
sabda rosul kita bahwa hancurnya ka'bah adalah belum seberapa
dibandingkan dengan kematian seorang muslim?

 

 

Walohu 'alam.

 

Wassalamu alaikum WR. WB.

sdk

 

 

 

 

 

Kirim email ke