Assalamu'alaikum wr wb. Semakin lama, sepertinya tidak sulit juga mencari mana yang pluralisme dan liberalisme di negeri ini :)
---------------------------- Metro TV Panggil *Rizieq Syihab Tanpa *Habib Kamis, 5 Jun 08 06:35 WIB Shakespeare pernah berkata, "Apalah artinya nama?" Bagi sastrawan tersebut, nama tidaklah penting karena yang penting adalah esensinya. Tapi tidak demikian bagi Iwan Fals dengan Kantata Takwanya. Bagi Iwan Fals cs, nama atau kata-kata itu sangat penting sehingga mereka menegaskan, "Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata." Bagi siapa pun yang pernah mempelajari ilmu kata, misal dalam dunia humas atau pun jurnalistik, pasti menyadari pentingnya pemilihan kata dalam sebuah artikel atau pemberitaan. Dengan pemilihan atau penghilangan istilah atau kata, sebuah artikel bisa dikendalikan atau dibuat `efek khusus' dengan tujuan si pembaca atau pendengar akan menangkap pesan-pesan tersembunyi dari yang membuat berita atau tulisan. Atau lebih tegasnya, dengan pemilihan istilah dan kata di dalam pemberitaan, si pembuat berita sesungguhnya hendak menyampaikan pesannya kepada masyarakat luas. Pemilihan kata dan istilah dalam satu pemberitaan bisa menyibak ideologi yang dianut oleh si pembuat berita. Terkait dengan pemilihan istilah, jika kita mencermati tayangan teve di negeri ini, maka ada hal menarik yang terjadi. Di saat semua saluran teve menayangkan penangkapan dan pengusutan kasus 1 Juni 2008 di Monas, semua teve menyebut pimpinan Front Pembela Islam (FPI) dengan sebutan Habib Rizieq, nama yang sudah sangat dikenal masyarakat. Namun beda dengan MetroTV. Stasiun teve yang dimiliki Surya Paloh, konglomerat dari Partai Golkar, yang banyak menampilkan orang-orang dari kubu liberal dan juga siaran teve Amerika (VOA) ini menghilangkan kata `Habib' untuk menyebut Habib Rizieq dan hanya menggunakan istilah `Rizieq Syihab'. Ini jelas pesannya, yakni hendak `melucuti' Habib Rizieq sebagai Habib dan Ulama sehingga khalayak ramai akan mengira Habib Rizieq bukanlah seorang ulama yang memiliki ilmu keagamaan yang mumpuni dan luas. Namun untuk menyebut seorang Abdurrahman Wahid, MetroTV tetap mempergunakan sebutan `Gus Dur' atau "KH. Abdurrhaman Wahid" (Gus artinya "anak bagus", dan `KH' artinya `Kyai Haji'). Padahal jelas, manusia yang satu ini adalah sekutu Zionis-Israel. Bulan lalu saja, tokoh yang oleh ulama NU (alm) KH. As'ad Syamsul Arifin dianggap sebagai "Imam yang kentut" tersebut baru pulang dari Amerika setelah menerima Medali Penghargaan (Varlor of Medal) dari kelompok Zionis Israel di AS. Durahman juga merayakan 60 tahun "kemerdekaan Israel" yang sesungguhnya bagi Muslim Palestina merupakan hari dimulainya pembantaian besar-besaran Muslim Palestina yang dilakukan oleh Zionis-Israel. Tapi manusia yang satu ini tetap disapa dengan istilah `Gus Dur' atau `KH. Abdurahman Wahid' oleh Metro TV, sebuah istilah penghormatan. Metro TV sah-sah saja dengan semua ini. Tapi bagi kita, hal ini telah memperlihatkan ideologi sesungguhnya. (rz) http://www.eramuslim.com/berita/nas/8605062913.htm FPI Berdzikir, AKKBB Nyalakan Lilin Rabu, 4 Jun 08 03:00 WIB Kirim teman Sejak tengah malam, Jalan Petamburan III yang telah dihalangi sejumlah bambu yang dililit kawat duri tampak dipenuhi oleh massa dan simpatisan Front Pembela Islam. Jalan selebar lebih kurang lima meter yang berada di depan markas FPI tampak ditutupi karpet dan tikar seadanya. Acara dzikir bersama dilantunkan dipimpin oleh Ustadz Alwi dari FPI. "Kami di sini, malam ini, berdzikir kepada Allah agar kami diberi kekuatan menghadapi cobaan ini dan semoga Allah membuka mata hati saudara-saudara Muslim yang ada di mana pun agar bisa membeakan mana yang haq dan mana yang bathil, " ujar Ust. Alwi. Suasana syahdu tampak terasa di sekitar markas FPI ini. Lantunan ayat-ayat suci dan dzikir terus bergema memenuhi langit Petamburan. Sementara itu, di Yogyakarta, puluhan massa Gerakan Integrasi Nasional (GIN) yang termasuk dalam kelompok AKKBB menggelar malam renungan dengan menyalakan lilin. Menyalakan lilin bukan bagian dari tradisi Islam, melainkan tradisi orang-orang kafir. Walau demikian, sejumlah perempuan berkerudung ketat (bukan jilbab) tampak mengikuti acara tersebut. Entah, mereka paham atau tidak bahwa Rasulullah SAW empatbelas abad lalu sudah memperingatkan umatnya agar tidak sekali-kali menyerupai atau melakukan hal-hal yang menyerupai orang kafir, seperti menyalakan lilin untuk suatu acara tertentu. Hal yang dilakukan AKKBB memang tidak istimewa. Karena aliansi yang terdiri dari banyak orang dari agama yang berbeda tersebut, bahkan ada yang mengaku tidak beragama namun menggunakan istilah 'penghayat terhadap ketuhanan'--sudah terbiasa atas nama pluralisme dan liberalisme mengerjakan hal-hal yang bukan tuntutan agamanya sendiri. Abdurrahman Wahid sebagai sesepuh AKKBB misalnya, sering berkunjung ke gereja dan bahkan ke Israel menemui tokoh-tokoh Zionis di sana sembari mengecam HAMAS yang merupakan kelompok pejuang kemerdekaan Palestina. Dari dua momen ini sudah jelas bisa ditangkap simbol-simbol atau ideologi kedua kelompok tersebut. FPI jelas berideologi Islam dengan menggelar acara dzikir, sedangkan yang menyalakan lilin di Yogya adalah elemen dari AKKBB. (rz) ---------------------------- Semoga kita dijadikan dan dimasukan ke dalam golongan yang sedikit, seperti doa sahabat: "Ya Allah, masukanlah aku kedalam golongan orang yang Sedikit". http://prabu.wordpress.com/2008/01/08/ya-allah-jadikanlah-aku-yang-sedikit/ -- A. Yahya Sjarifuddin ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)

