Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Lucu, ikhwan yang menanggapi sikap Rizal Malarangeng, menggunakan bahasa  yang 
sama seperti yang digunakan Rizal Malarangeng, yaitu kata-kata kasar dan 
mengumpat. Lalu apa bedanya dengan sikap  Rizal Malarangeng dalam mengumpat 
orang lain. Lupakah ikhwan sekalian, bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika 
baginda dilempari batu oleh masyarakat Thaif. ? Ingatlah, bagaimana  sikap 
Rasulullah terhadap tetangganya yang Yahudi yang setiap hari meletakkan kotoran 
di depan rumah Baginda.  Tahukah ikhwan sekalian, bagaimana setiap hari 
Rasulullah SAW menyuap seorang  Yahudi yang buta matanya yang setiap hari  
mencaci maki baginda.?  Sejarah mencatat, semua penduduk Thaif, tetangga Yahudi 
dan  orang Yahudi yang buta tersebut, akhirnya masuk Islam karena kemuliaan 
akhlak Rasulullah

Saya menghargai reaksi ikhwan sekalian sebagai manifestasi dari kecintaan 
kepada kemurnian, kewibawaan dan keagungan umat Islam dengan al-Qur'an dan 
As-Sunnahnya. Oleh karena itu, tolong perhatikan metode yang diajarkan 
al-Qur'an dan Sunnah Rasul tentang adab dalam berbeda pendapat dan bagaimana 
caranya berdebat dan berargumentasi. Pada kesempatan ini, saya menyarankan 
ikhwan sekalian, termasuk diri saya sendiri, untuk kita mengurangi wacana dan 
memulai dengan aksi yang konkrit, antara lain:
1. Segera tarik semua simpanan uang antum yang ada di bank non syariah
2. Jangan berbelanja di mall atau supermarket milik non muslim atau muslim yang 
sekuler
3. Kalau bertugas ke daerah, jangan nginap di hotel berbintang, kecuali 
dipastikan hotel itu milik pengusaha muslim yang saleh. Carilah penginapan atau 
hotel tidak berbintang yang biasa milik pribumi
4. Jangan berlangganan majalah atau koran, kecuali dipastikan majalah dan koran 
itu milik pengusaha muslim yang tidak beraliran sekuler
5. Jangan menonton program TV apa pun kecuali program dakwah oleh da'i atau 
tokoh Islam yang memperjuangkan syariat Islam. Kalau terpaksa harus mengikuti 
warta berita, mungkin TVRI bisa dipertimbangkan untuk diikuti warta beritanya

Demikian beberapa catatan saya, semoga mendapat ridhah dari-Nya. Amiin

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ikhlas dari,

Abu Ghazali





----- Original Message ----
From: Agus Rasidi <[EMAIL PROTECTED]>
To: MILIS DKM AL IKHLAS <[EMAIL PROTECTED]>; MILIS AR-ROYYAN 
<[email protected]>
Sent: Friday, June 6, 2008 2:02:29 PM
Subject: [Ar-Royyan-7787] Save Our Nation...!!!

 
Save Our Nation...!!!
 
 Saya menulis blog ini karena risih selepas melihat acara Metro 
TV semalam, yaitu acara “Save Our Nation” yang dipandu Rizal Mallarangeng dan 
menghadirkan 2 narasumber Sri Adiningsih dan Didik Rachbini (Rabu, 20 September 
2006 jam 20.00 WIB). 

Acara ini menjadi jauh dari makna judul acaranya 
“Save Our Nation” dan semata dikarenakan faktor pemandu acaranya. Acara ini 
terlalu amat sangat kental dengan nuansa propaganda globalisasi, neo 
liberalisme, dan kapitalisme ala Rizal Mallarangeng. Rizal Mallarangeng semua 
orang sudah faham, adalah antek globalisasi dan neo liberalisme, yang di forum 
apapun selalu dengan arogan dan merasa paling benar mengatakan bahwa bangsa 
Indonesia harus segera sadar untuk segera menerima arus globalisasi dan 
perdagangan bebas tanpa syarat, karena itu adalah syarat mutlak Indonesia untuk 
bersaing dan berkompetisi di era modern. Globalisasi adalah sarana Indonesia 
untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, liberalisme adalah 
pilihan satu-satunya Indonesia untuk bisa dihormati bangsa-bangsa lain. 
Proteksi, subsidi, ekonomi kerakyatan menurut dia adalah pandangan kuno yang 
sudah tidak relevan dan harus ditinggalkan. 

Rizal seolah tidak mau 
membuka mata sedikitpun atas berbagai kerugian yang diderita karena paham 
liberalisme yang telah banyak merasuk di Indonesia. Carefour dan Giant 
Supermarket yang mematikan pasar tradisional, impor beras besar-besaran yang 
merugikan petani, masuknya pakaian-pakaian jadi dari Cina yang mematikan 
industri garmen dalam negeri, kenaikan harga BBM yang ternyata dipicu 
kepentingan investor asing dan nyata-nyata merugikan rakyat serta bahkan 
terbukti meningkatkan angka kemiskinan Indonesia. Rizal juga seolah tidak ingin 
tahu bila murahnya harga pesawat yang bisa dinikmati di Indonesia sekarang sama 
sekali tidak memerlukan paham globalisasi, sebagian besar bangsa Indonesia 
sekarang ini adalah mereka yang hidup di pedesaan yang nyata-nyata tidak 
memerlukan bisnis ala globalisasi, laju perekonomian rakyat di pelosok tanah 
air 
sama sekali tidak memerlukan paham liberalisme pasar yang pada akhirnya 
hanyalah 
paham untuk menguntungkan para kapitalis dan pemodal. 

Maka jika kita 
menyimak acara “Save Our Nations” semalam, Rizal yang seharusnya memandu acara, 
justru mendominasi acara dengan propagandanya, walau para pengamat yang 
diundangnya acap kali menyangkal apa yang dikatakan Rizal. Dan yang sangat 
menggelikan adalah ketika Rizal dengan bodoh menayangkan sebuah hasil polling 
untuk menunjukkan bahwa walaupun LSM-LSM penentang IMF dan Bank Dunia aktif 
berdemonstrasi di berbagai tempat, namun rakyat tidaklah mendukung mereka, 
karena hasil polling lebih menunjukkan simpati kepada hasil kerja IMF dan Bank 
Dunia. Hasil polling mana yang ditunjukkan Rizal? Ternyata hasil polling sebuah 
lembaga survey di New York!! Alangkah bodohnya... Ketika dia memandu dialog 
“Save Our Nations” di Metro TV, maka dia pikir ini adalah acara “Save Our 
America..” !!?? 

Sangat disayangkan Metro TV menayangkan acara berbau 
propaganda seperti ini dengan pemandu acara berwawasan dangkal dan sangat 
arogan 
karena merasa paling benar tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Saya 
kira 
bila acara ini berjudul “Save Our Nations”, maka saya berpikir Indonesia harus 
diselamatkan dari orang-orang seperti Rizal Mallarangeng ini. Orang-orang 
seperti Rizal, Aburizal Bakrie dkk., yang didukung oleh donor-donor berpaham 
neo 
liberalisme pendukung globalisasi dan pasar bebas, kita sadari saat ini telah 
menguasai urat nadi panggung politik dan pemerintahan Indonesia. Kita 
mengkhawatirkan sepak terjang mereka memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan 
segelintir elit dan para pemilik modal kaum kapitalis global, serta justru 
menyengsarakan sejumlah besar masyarakat Indonesia lainnya.

Saya bukannya 
anti globalisasi sepenuhnya, karena bagaimanapun sebagian bangsa Indonesia 
tetap 
bisa mengambil keuntungan di dalamnya. Tetapi menerima paham globalisasi dan 
liberalisme tanpa reserve, apalagi sampai tergoda dan terjebak dalam belenggu 
utang yang ditawarkan IMF dan Bank Dunia hingga kita harus bertekuk lutut di 
hadapan mereka, ini sangat tidak bisa diterima. Kita patut waspada, karena 
bagaimanapun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin terjebak dalam 
iklim persaingan yang saling mematikan, tetapi jauh lebih membutuhkan daya 
tahan 
dan kestabilan iklim usaha untuk kehidupan perekonomian yang lebih 
menyejahterakan. 

http://www.ekonomirakyat.org/galeri_opi/opini_9.php?parameter=1&nowstage=2&nowpage=20


      

Kirim email ke