Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menanggapi informasi dari Pak Jaerony di bawah, perlu diinformasikan bahwa:
a. Bank di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan sistem syariah adalah Bank 
Muamalat dan Bank Syariah Mandiri
b. Bank syariah di bank-bank yang lain, apakah BI, BNI, Permata, BCA dan 
sebagainya tidak sepenuhnya mengikuti kaedah syariah karena modal asalnya 
berasal dari bank induknya yang non syariah (konvensional). Syariah Mandiri, 
sejak awal pendiriannya tidak menggunakan dana dari bank induk, yaitu bank 
Mandiri sehingga modal awalnya bersih dari riba

Bagi ikhwan yang gajinya dibayar oleh kantor atau perusahaan, langsung ke 
rekening masing-masing di bank selain Bank Muamalat dan Syariah Mandiri, maka 
bisa dilakukan tindakan berikut: Setelah gaji sudah masuk ke rekening anda, 
langsung ditransfer ke rekening anda di Bank Muamalat atau Syariah Mandiri. 
Jangan biarkan sisa gaji anda berbunga di bank non syariah tersebut sehingga 
anda tidak mengkonsumsi uang haram karena memakan riba

Demikian tambahan informasi, mudah-mudahan ada manfaatnya

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ikhlas dari,

Abu Ghazali



----- Original Message ----
From: FPS Indonesia (Jkt) - Mr. Jaerony S <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 9, 2008 10:16:38 AM
Subject: Re: [Ar-Royyan-7787] Save Our Nation...!!!

 
Asslmkm.Wr.Wb.
 
Nyambung dengan tanggapan Pak Ustadz di bawah, ada 
info dari kawan bahwa Hotel Sofyan, Jakarta (yang saya tahu Jakarta, entah di 
kota lain) nawarin diskon 40% biaya nginap jika pakai Kartu Mandiri. Kantor 
saya 
(karena memang langganan) minggu ini insya Allah akan pakai.
 
Maaf ini bukan iklan, tapi kalau memang demikian 
kawan yang dari Bank Mandiri bisa tambahin info? Terima 
kasih.
 
Tambahan lagi, di kantor semua pakai bank muamalat 
yang salah satu layanannya adalah ATM Muamalat. Karena pakai ATM-Bersama, maka 
penggunaan Kartu ATM ini malah lebih fleksible.
Sok ... lah, jangan lama-lama NATO.
 
Wassallam / Jaerony.-
 
----- Original Message ----- 
From: Abu  Ghazali 
To: [email protected] 
Sent: Saturday, June 07, 2008 9:30  PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-7787] Save Our  Nation...!!!

Assalamu'alaikum  Warahmatullahi Wabarakatuh,

Lucu, ikhwan yang menanggapi sikap Rizal  Malarangeng, menggunakan bahasa  yang 
sama seperti yang digunakan Rizal  Malarangeng, yaitu kata-kata kasar dan 
mengumpat. Lalu apa bedanya dengan  sikap  Rizal Malarangeng dalam mengumpat 
orang lain. Lupakah ikhwan  sekalian, bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika 
baginda dilempari batu oleh  masyarakat Thaif. ? Ingatlah, bagaimana  sikap 
Rasulullah terhadap  tetangganya yang Yahudi yang setiap hari meletakkan 
kotoran di depan rumah  Baginda.  Tahukah ikhwan sekalian, bagaimana setiap 
hari Rasulullah SAW  menyuap seorang  Yahudi yang buta matanya yang setiap hari 
 mencaci  maki baginda.?  Sejarah mencatat, semua penduduk Thaif, tetangga 
Yahudi  dan  orang Yahudi yang buta tersebut, akhirnya masuk Islam karena  
kemuliaan akhlak Rasulullah

Saya menghargai reaksi ikhwan sekalian  sebagai manifestasi dari kecintaan 
kepada kemurnian, kewibawaan dan keagungan  umat Islam dengan al-Qur'an dan 
As-Sunnahnya. Oleh karena itu, tolong  perhatikan metode yang diajarkan 
al-Qur'an dan Sunnah Rasul tentang adab dalam  berbeda pendapat dan bagaimana 
caranya berdebat dan berargumentasi. Pada  kesempatan ini, saya menyarankan 
ikhwan sekalian, termasuk diri saya sendiri,  untuk kita mengurangi wacana dan 
memulai dengan aksi yang konkrit, antara  lain:
1. Segera tarik semua simpanan uang antum yang ada di bank non  syariah
2. Jangan berbelanja di mall atau supermarket milik non muslim atau  muslim 
yang sekuler
3. Kalau bertugas ke daerah, jangan nginap di hotel  berbintang, kecuali 
dipastikan hotel itu milik pengusaha muslim yang saleh.  Carilah penginapan 
atau hotel tidak berbintang yang biasa milik pribumi
4.  Jangan berlangganan majalah atau koran, kecuali dipastikan majalah dan 
koran  itu milik pengusaha muslim yang tidak beraliran sekuler
5. Jangan menonton  program TV apa pun kecuali program dakwah oleh da'i atau 
tokoh Islam yang  memperjuangkan syariat Islam. Kalau terpaksa harus mengikuti 
warta berita,  mungkin TVRI bisa dipertimbangkan untuk diikuti warta  beritanya

Demikian beberapa catatan saya, semoga mendapat ridhah  dari-Nya. Amiin

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi  Wabarakatuh

Ikhlas dari,

Abu Ghazali





-----  Original Message ----
From: Agus Rasidi  <[EMAIL PROTECTED]>
To: MILIS DKM AL IKHLAS  <[EMAIL PROTECTED]>; MILIS AR-ROYYAN  
<[email protected]>
Sent: Friday, June 6, 2008 2:02:29  PM
Subject: [Ar-Royyan-7787] Save Our Nation...!!!

 
Save Our Nation...!!!
 
 Saya menulis blog ini karena risih selepas melihat acara  Metro TV semalam, 
yaitu acara “Save Our Nation” yang dipandu Rizal  Mallarangeng dan menghadirkan 
2 narasumber Sri Adiningsih dan Didik Rachbini  (Rabu, 20 September 2006 jam 
20.00 WIB). 

Acara ini menjadi jauh dari  makna judul acaranya “Save Our Nation” dan semata 
dikarenakan faktor pemandu  acaranya. Acara ini terlalu amat sangat kental 
dengan nuansa propaganda  globalisasi, neo liberalisme, dan kapitalisme ala 
Rizal Mallarangeng. Rizal  Mallarangeng semua orang sudah faham, adalah antek 
globalisasi dan neo  liberalisme, yang di forum apapun selalu dengan arogan dan 
merasa paling benar  mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus segera sadar untuk 
segera menerima  arus globalisasi dan perdagangan bebas tanpa syarat, karena 
itu adalah syarat  mutlak Indonesia untuk bersaing dan berkompetisi di era 
modern. Globalisasi  adalah sarana Indonesia untuk berdiri sejajar dengan 
bangsa-bangsa lain di  dunia, liberalisme adalah pilihan satu-satunya Indonesia 
untuk bisa dihormati  bangsa-bangsa lain. Proteksi, subsidi, ekonomi kerakyatan 
menurut dia adalah  pandangan kuno yang sudah tidak relevan dan harus 
ditinggalkan. 

Rizal  seolah tidak mau membuka mata sedikitpun atas berbagai kerugian yang 
diderita  karena paham liberalisme yang telah banyak merasuk di Indonesia. 
Carefour dan  Giant Supermarket yang mematikan pasar tradisional, impor beras 
besar-besaran  yang merugikan petani, masuknya pakaian-pakaian jadi dari Cina 
yang mematikan  industri garmen dalam negeri, kenaikan harga BBM yang ternyata 
dipicu  kepentingan investor asing dan nyata-nyata merugikan rakyat serta 
bahkan  terbukti meningkatkan angka kemiskinan Indonesia. Rizal juga seolah 
tidak  ingin tahu bila murahnya harga pesawat yang bisa dinikmati di Indonesia  
sekarang sama sekali tidak memerlukan paham globalisasi, sebagian besar bangsa  
Indonesia sekarang ini adalah mereka yang hidup di pedesaan yang nyata-nyata  
tidak memerlukan bisnis ala globalisasi, laju perekonomian rakyat di pelosok  
tanah air sama sekali tidak memerlukan paham liberalisme pasar yang pada  
akhirnya hanyalah paham untuk
 menguntungkan para kapitalis dan pemodal. 

Maka jika kita menyimak acara “Save Our Nations” semalam, Rizal yang  
seharusnya memandu acara, justru mendominasi acara dengan propagandanya, walau  
para pengamat yang diundangnya acap kali menyangkal apa yang dikatakan Rizal.  
Dan yang sangat menggelikan adalah ketika Rizal dengan bodoh menayangkan  
sebuah hasil polling untuk menunjukkan bahwa walaupun LSM-LSM penentang IMF  
dan Bank Dunia aktif berdemonstrasi di berbagai tempat, namun rakyat tidaklah  
mendukung mereka, karena hasil polling lebih menunjukkan simpati kepada hasil  
kerja IMF dan Bank Dunia. Hasil polling mana yang ditunjukkan Rizal? Ternyata  
hasil polling sebuah lembaga survey di New York!! Alangkah bodohnya... Ketika  
dia memandu dialog “Save Our Nations” di Metro TV, maka dia pikir ini adalah  
acara “Save Our America..” !!?? 

Sangat disayangkan Metro TV  menayangkan acara berbau propaganda seperti ini 
dengan pemandu acara  berwawasan dangkal dan sangat arogan karena merasa paling 
benar tanpa mau  mendengarkan pendapat orang lain. Saya kira bila acara ini 
berjudul “Save Our  Nations”, maka saya berpikir Indonesia harus diselamatkan 
dari orang-orang  seperti Rizal Mallarangeng ini. Orang-orang seperti Rizal, 
Aburizal Bakrie  dkk., yang didukung oleh donor-donor berpaham neo liberalisme 
pendukung  globalisasi dan pasar bebas, kita sadari saat ini telah menguasai 
urat nadi  panggung politik dan pemerintahan Indonesia. Kita mengkhawatirkan 
sepak  terjang mereka memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan segelintir elit 
dan  para pemilik modal kaum kapitalis global, serta justru menyengsarakan 
sejumlah  besar masyarakat Indonesia lainnya.

Saya bukannya anti globalisasi  sepenuhnya, karena bagaimanapun sebagian bangsa 
Indonesia tetap bisa mengambil  keuntungan di dalamnya. Tetapi menerima paham 
globalisasi dan liberalisme  tanpa reserve, apalagi sampai tergoda dan terjebak 
dalam belenggu utang yang  ditawarkan IMF dan Bank Dunia hingga kita harus 
bertekuk lutut di hadapan  mereka, ini sangat tidak bisa diterima. Kita patut 
waspada, karena  bagaimanapun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin 
terjebak dalam  iklim persaingan yang saling mematikan, tetapi jauh lebih 
membutuhkan daya  tahan dan kestabilan iklim usaha untuk kehidupan perekonomian 
yang lebih  menyejahterakan. 

http://www.ekonomirakyat.org/galeri_opi/opini_9.php?parameter=1&nowstage=2&nowpage=20



      

Kirim email ke