Oleh Siti Aisyah Nurmi

Seorang pria duduk tercenung di depan monitor komputernya. Dari
speaker terdengar suara adzan dengan diikuti kemudian oleh doa
setelah adzan dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Nun jauh di sana, di tempat adzan itu berkumandang, saat ini
ummat Islam sedang berbuka puasa. Pagi ini ia baru saja duduk di
meja kerjanya, ketika ia tiba-tiba diserang rasa rindu tanahair.
Hari pertama Ramadhan di New York, maghrib pertama di Jakarta.

Beberapa menit kemudian memorinya menari-nari mendengarkan doa
berbuka lengkap dengan segenap suasana masa kecil di musholla di
kampung halamannya. Suasana hingar bingar berebut ta'jil
(penganan kecil untuk buka puasa) dan suara air wudhu di
kucurkan. Kenangan manis yang sulit dicarinya di sini.

Kenangan masa kecil niscaya akan terpateri dalam dan kuat di
sanubari insan. Bagi seseorang, apa-apa yang mengingatkannya pada
kenangan manis di masa kecil akan selalu menjadi kerinduan
sekaligus dapat menjadi motivasinya di masa dewasa.

Kini Ramadhan Alhamdulillah kembali menjelang. Sudahkah kita
siapkan program untuk mengisinya?

Mundur sekian belas tahun atau puluh tahun yang lalu, berbagai
tradisi dalam keluarga Indonesia masih mewarnai Ramadhan. Kini
dengan berbagai perubahan zaman yang pesat, kehidupan urban yang
berubah total, sebagian tradisi keluarga mulai menghilang.

Misal tradisi berburu Lailatul Qadar (malam seribu bulan) yang
diyakini mempunyai banyak sekali keistimewaan pahala dari Allah
SWT. Sebagian keluarga dulu ada yang menyelenggarakan shalat
malam bersama keluarga di luar rumah. Lengkap dengan lilin atau
obor sebagai penerang malam gelap. Mengapa di luar rumah?
Alasannya agar dapat melihat gerak gerik alam yang konon pada
malam tersebut ada tanda-tandanya.

Apapun alasannya, tradisi semacam itu akan membekas dalam
sanubari. Apalagi jika tradisi yang dilakukan keluarga juga
mempunyai landasan dalil yang kuat, selain menjadi memori, juga
menjadi penguat motivasi.

Anak dengan jiwanya yang masih hijau, belumlah sanggup memahami
perintah-perintah Allah dengan baik. Cara mereka memahami sebuah
kewajiban adalah dengan cara pembiasaan dari orangtua (lihat
tulisan sebelum ini "Lima Poin Pendidikan Anak", Aadah
atau Metode Pembiasaan). Dengan dibiasakan akan istilah dan
aktifitas ibadah, lama kelamaan dalam jiwa mereka akan tertanam
kecintaan atas ibadah itu sendiri. Kelak jika nalar mereka sudah
berfungsi penuh, barulah nilai pengetahuannya dapat dimasukkan.
Contohnya, seorang muslim yang dibesarkan di negeri ini kemudian
merantau ke negeri mayoritas non-muslim, jika ketika ia
menjalankan ibadah di negeri asing, niscaya pada waktu-waktu
tertentu akan timbul memorinya akan pelaksanaan ibadah di kampung
halaman, dan memori tersebut akan sekaligus memperkuat motivasi
menjalankan ibadah.

Dalam beberapa pekan ke depan, buatlah program Ramadhan bersama
anak, misalnya, merencanakan safari shalat Tarawih beberapa kali
selama Ramadhan. Bepergian bersama orangtua menarik bagi anak,
mengapa tidak kita ajak anak untuk bersama kita menikmati suasana
Ramadhan di tengah ummat?

Ada lagi keluarga yang menyelenggarakan shalat malam di sepuluh
malam terakhir di teras rumah. Suasana hening malam dan alunan
ayat-ayat suci sebagai satu-satunya suara yang terdengar,
merupakan memori yang tak terlupakan.

Anak yang lebih kecil akan membutuhkan aktifitas yang lebih
ceria. Memasak makanan khas Ramadhan dan Idul Fitri bersama ibu
merupakan pengalaman mengasyikkan. Penulis masih selalu ingat
suasana siang hari kehausan yang ceria karena asyik bermain
tepung sagu yang dipilin dan diberi warna. Setelah itu dipotong
seperti butiran mutiara dan kemudian dicemplungkan ke dalam panci
air panas. Nyam-nyam, serasa manisnya sekoteng mengusir haus di
siang hari Ramadhan.

Masih teringat bagaimana penulis kagum bahwa butiran sagu polos
bisa berubah menjadi bulir permata dengan warna putih susu di
dalamnya.

Ada pula yang masih ingat bagaimana alunan suara ibunda yang
melantunkan doa menjelang berbuka sambil mengisi plastik es mambo
dengan teh es manis untuk dikirim ke masjid.

Ya, tak perlu program yang rumit dengan biaya banyak, yang
terpenting adalah:

1. Bukalah buku panduan Ramadhan, kemudian pilihlah aktifitas
tertentu dari berbagai aktifitas ibadah Ramadhan yang jelas
tuntunan dalilnya.

2. Cobalah hias aktifitas tadi dengan kegiatan sesuai usia anak,
misalnya aktifitas berbuka, diwarnai dengan permainan-permainan
tebak doa atau aktifitas lainnya.

3. Jika penggolongan usia anak-anak anda berbeda jauh, buatlah
program yang berbeda untuk si kakak dan si adik.

4. Terangkanlah kepada anak nilai-nilai keagamaan dari program
atau aktifitas yang anda rancang, agar mereka selalu ingat
maknanya.

5. Biasakanlah untuk selalu memperdengarkan ayat-ayat
Al-Qur'an sepanjang hari bulan Ramadhan, reduksilah
suara-suara hiburan hingar bingar seperti suara lagu dan
televisi, baik siang maupun malam Ramadhan.

6. Lakukanlah dengan semangat kebersamaan.

7. Dan usahakanlah dilakukanlah setiap tahun, sehingga membekas
dalam.

8. Di bulan penuh berkah ini, hendaknya anda sendiri, para ibu,
juga memenuhi Ramadhan dengan memperbanyak aktifitas ibadah,
seperti membaca Al-Qur'an dan mendengarkan pengajian. Jika
anda melakukan ini, niscaya akan menjadi contoh teladan bagi anak
kelak.

        -- A. Yahya Sjarifuddin


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa seorang laki-laki berkata kepada 
Nabi SAW., Berilah wasiat kepadaku, Nabi SAW. bersabda, Jangan marah. 
Beliau mengulanginya beberapa kali dan bersabda, Jangan marah (Diriwayatkan
oleh Imam Bukhari)

Kirim email ke