Sambut Ramadhan di Zaman Edan
Oleh Agus Suryanto

Memang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, 
kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan 
dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal 'putih' diingatkan 
agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, 
untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, 
yang seharusnya Qur'an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan 
indah saat diucapkan, dalam kajian - kajian rutin pekanan.

Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang 
banyak anak - anak gadis jual diri. Isteri - isteri buka 'lapak' dengan alasan 
bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena 
langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu 
pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak 
punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada 
jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah 
rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita 
untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.

Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip 
jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi 
dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil 
mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa 
dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat 
berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya 
syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda 
untuk masuk kedalamnya.

Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada 
motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama 
untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas 
barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya 
memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.

Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. 
Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli 
anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya 
banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting 
keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh 
diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab 
kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab 
neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.

Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak 
pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk 
jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana 
kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih 
seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan 
sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka 
ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng - bedeng, yang membuat 
masyarakat berbuat sedeng.

Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN 
adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para 
wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP 
bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. 
Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah 
membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga 
ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas 
jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan 
bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.

Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat 
diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari 
anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. 
Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang 
untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara 
sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat 
datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.

Saat berharap itu telah tiba
Dikala zaman sungguh susah 'luar biasa', yang bisa membuat banyak orang putus 
asa, maka sambutlah bahwa ramadhan itu telah tiba. Sebuah bulan yang sungguh 
mulia, namun bisa saja dinanti atau dibenci oleh para pecinta, tergantung dari 
sudut mana ia melihatnya.

Ada golongan para pecinta yang sangat bersuka cita dengan kedatangannya. Mereka 
menganggap saat berharap itu telah tiba. Berharap untuk keadaan diri dan 
negara. Agar zaman edan ini segera sirna. Saat untuk berharap keberkahanNya. 
Saat untuk berharap rahmatNya. Saat untuk berharap keampunanNya. Termasuk pula 
saat untuk berharap masuk ke dalam JannahNya dan terhindar dari nerakaNya. 
Merekalah para pecinta syurga.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), 
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa 
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala 
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada 
dalam kebenaran." (QS. Al-Baqoroh: 186).

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu 
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu 
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 
7)

Namun ada pula golongan para pecinta. Yang bermuram durja atas kedatangannya. 
Lapar dahaga dirasa begitu menyiksa. Sholat malam hanya bikin ngantuk saja. Dan 
bahkan beberapa profesi merasa kehilangan pemasukannya. Merekalah para pecinta 
dunia.

Maka sahabat. Termasuk golongan yang manakah diri kita ini. Maka masih ada 
waktu untuk merenungkanya. Sehingga ketika Ramadhan itu tiba. Maka kita akan 
menjadi bagian golongan pecinta sesuai pilihan kita. Marhabban yaa Ramadhan.

Catatan: 
keduman : kebagian
kiwari : saat ini
gendeng : gila
puyeng : pusing
ngegele : memakai narkoba
greng : enak sekali
mudeng : mengerti
sedeng : selingkuh
mbeling : nakal
clubbing : mengunjungi kelab malam
kalabendu : sengsara
burik : tidak mulus
hordeng : gorden/tirai
Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.

Kirim email ke