DOA DI BULAN RAMADHAN
Oleh Ihsan Tandjung
sumber :http://www.eramuslim.com/atk/rbb/8827173908-doa-bulan-ramadhan.htm

Dalam rangkaian ayat Al-Qur’an mengenai puasa di bulan Ramadhan terselip
suatu ayat yang secara khusus membicarakan soal berdoa. Di dalamnya Allah
subhaanahu wa ta’aala perintahkan orang beriman untuk berdoa kepadaNya.
Dan Allah subhaanahu wa ta’aala berjanji untuk mengabulkan doa siapapun
asalkan memenuhi tiga syarat: (1) Memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa
ta’aala, bukan selainNya. (2) Memenuhi segala perintahNya dan (3) Beriman
kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai Rabb yang Maha Kuasa
mengabulkan permintaan dan menetapkan taqdir segalanya.


أُجِيبُ
دَعْوَةَ
الدَّاعِ
إِذَا
دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي
وَلْيُؤْمِنُوا
بِي
لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat 186)

Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana orang beriman mempunyai kesempatan
begitu luas untuk berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan
waktu-waktu mustajab (saat doa berpeluang besar dikabulkan Allah) tersebar
dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan.

ثَلَاثَةٌ
لَا تُرَدُّ
دَعْوَتُهُمْ
الصَّائِمُ
حَتَّى
يُفْطِرَ
وَالْإِمَامُ
الْعَادِلُ
وَدَعْوَةُ
الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa
hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.”
(HR Tirmidzi 3522)

Subhanallah…! Dalam hal berdoa orang berpuasa disetarakan dengan pemimpin
yang adil dan orang terzalimi. Doa orang berpuasa mustajab. Didengar,
tidak ditolak Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan dikabulkan insyaAllah.
Setiap orang yang faham hadits ini sangat bergembira menyambut Ramadhan.
Sebab itu berarti selama 29 atau 30 hari selama ia berpuasa peluang doanya
dikabulkan Allah subhaanahu wa ta’aala sangatlah luas…!

Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika menanti tibanya azan
Magrib. Kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya untuk berdoa saat itu.
Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas menjelang berbuka dengan
mengajukan berbagai permintaan kepada Allah ta'aala. Sebab sebagian
masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan ngobrol tidak karuan
menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba perhatikan hadits
berikut:


سَمِعْتُ
عَبْدَ
اللَّهِ
بْنَ
عَمْرِو
بْنِ
الْعَاصِ
يَقُولُ
قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
إِنَّ
لِلصَّائِمِ
عِنْدَ
فِطْرِهِ
لَدَعْوَةً
مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada
saat berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)

Lalu apakahlafal khususNabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelang ifthor
berbuka puasa? Beliau membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah
ini:


كَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
إِذَا
أَفْطَرَ
قَالَ
ذَهَبَ
الظَّمَأُ

وَابْتَلَّتْ
الْعُرُوقُ
وَثَبَتَ
الْأَجْرُ
إِنْ شَاءَ
اللَّهُ

“Jika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berbuka, ia berdoa:
Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-'uruq wa tsabbatal-ajru insyaa Allah “Telah
hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, insya
Allah.” (HR Abu Dawud 2010)

Mengapa di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan:
”...dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.”?

Karena sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan
pertama sewaktu berbuka di dunia, melainkan yang lebih diharapkan orang
beriman ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu Allah ta’aala di hari
berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa Allah
ta’aala karena puasanya sewaktu di dunia diterima olehNya. Demikianlah
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut:


لِلصَّائِمِ
فَرْحَتَانِ
يَفْرَحُهُمَا
إِذَا
أَفْطَرَ
فَرِحَ
وَإِذَا
لَقِيَ
رَبَّهُ
فَرِحَ
بِصَوْمِهِ

Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat
berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan Allah ta’aala
karena ibadah puasanya.” (HR Bukhary 1771)

Hidup manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka
selama bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah
maupun menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu
’alaih wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:

قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مَنْ لَزِمَ
الِاسْتِغْفَارَ
جَعَلَ
اللَّهُ
لَهُ مِنْ
كُلِّ ضِيقٍ
مَخْرَجًا
وَمِنْ
كُلِّ هَمٍّ
فَرَجًا
وَرَزَقَهُ
مِنْ حَيْثُ
لَا
يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa
ta’aala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari
setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak
diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)

Sedangkan ketika menerima karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam
menganjurkan kita membaca sebagaimana hadits berikut:


قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مَا
أَنْعَمَ
اللَّهُ
عَلَى
عَبْدٍ
نِعْمَةً
فَقَالَ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
إِلَّا
كَانَ
الَّذِي
أَعْطَاهُ
أَفْضَلَ
مِمَّا
أَخَذَ

“Setiap orang yang diberi karunia Allah ta'aala lalu ia membaca
‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama daripada
apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)

Ya Allah, basahi lidah kami dengan mengingatMu selalu. Cerdaskan kami
dalam mengajukan doa-doa kepada Engkau sesuai situasi dan kondisi kami
masing-masing mengikuti teladan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa
sallam. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan Ramadhan. Amin ya
rabb...


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Syuraih bin Hani berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah Radhiallaahu anha : 
Apa yang pertama sekali dilakukan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam setiap 
kali memasuki rumahnya? Aisyah Radhiallaahu anh menjawab: Beliau Shalallaahu 
alaihi wasalam memulainya dengan bersiwak. (HR. Muslim). 

Kirim email ke