Buat yang nggak bisa browsing, saya copy paste-in:

Naudzubillah min dzalik, summa naudzubillah ...

Jumat, 02 Januari 2009
Dari Luthfie Asyaukanie untuk Israel

Keterpesonaan Luthfie pada Israel

Beberapa Catatan dari Israel

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal
berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua
yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang
cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya
kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan
mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.


Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan
kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan
cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan
promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank
Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap
ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat
itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang
saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan
bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan
cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan
joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku
mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur
yang katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch,
seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan
dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang
Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita
tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh
beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan
bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu?
Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang
Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia.
Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang
Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang
menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak
pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya
ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak
yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara
memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan
ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel,
paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis,
dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih
berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa
berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab.
Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa
formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa,
Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat
resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas,
bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di
Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah
memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab.
Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang
dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing
yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi.
Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan
surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam
bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar,
jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka
memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2
strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas,
kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari
delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2
imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari
sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini
menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv,
jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang
pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. Sistem
irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu
menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan
pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan
karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk
memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka
betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar
menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah
menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan
keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya
teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya
Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat
dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat
dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya
menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka
sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka
punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain.
Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak
terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan
kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat
doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki
saya: "orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau
ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang
Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri
surga seperti Tel Aviv ini?" Problem besar orang-orang Arab,
sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state
solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang
realistik sampai sekarang. Jika saja orag-orang Palestina dulu
mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain,
mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang,
mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik.
Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa
dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak
tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem,
tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau
tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah
sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak
lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung
sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada
perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi,
jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di
Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur
tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak
rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua
dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang
sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi
ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya
berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman,
dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat
kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang
Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart,
the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan
menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan
salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian
dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum
perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel.
"Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah
Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok
Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu
kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi
pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem
Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan
kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur
dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem
Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi,
mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?"
Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab,
ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua
neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan
pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama
suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka,
sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini,
mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang."
Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya
menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi
kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan
Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin
al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh
dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga
kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah
saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang
quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan
di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter
Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya
hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim
bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di
perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa
(mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat
Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi
abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke
sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja,
tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam
tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh
berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan
masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim
(apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan
kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah)." Kalau
hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa
masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja
dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi,
kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda
Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk
kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka.
Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama.
Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan
karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa
kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.


Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang
dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada
gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang
yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib
di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali,
padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat
al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah
tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang
non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku
Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap
Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang
tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke
tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya
begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.


Jawaban Anggota DPR-RI Komisi I, Abdillah Toha, atas Catatan
Luthfie

Bung Luthfie yang baik,

Membaca catatan anda, saya juga terkesima. Bukan dengan Israel,
tetapi dengan catatan itu. Betapa seorang yang berpendidikan
tinggi seperti anda bisa membuat tulisan dan kesimpulan yang
berbau propaganda setelah hanya beberapa hari (?) berkunjung ke
Israel, atas undangan dan kebaikan mereka, Sampai-sampai anda
meratap di tembok ratapan Yahudi. Seingat saya, saya belum pernah
membaca tulisan yang begitu memuja dan memuji Israel seperti
tulisan anda ini, termasuk tulisan oarng Israel yang mendukung
Zionisme. Kenapa saya sebut propaganda? Karena sebuah tulisan
yang memuja dan memuji ditambah mengecam lawannya, seolah-olah
tak ada aspek negatif dari subyek yang dipuji dan tak ada aspek
positif dari yang dikecam, adalah sebuah propaganda. Propaganda
ini cukup berhasil, melihat komentar-komentar di halaman Facebook
anda. Namun, menurut saya, proaganda ini kurang cerdas karena
orang langsung akan dapat menilai demikian. Seharusnya, anda bisa
lebih cerdas dengan "pura-pura" sedikit mengeritik Israel
agar lebih kelihatan obyektif.


amin widada wrote:
> Ngomong-omong tentang Luthfie Asyaukanie, silakan baca di:
>
> http://www.berpolitik.com/viewnewspost.pl?nid=18739&param=jnKbQwKYpG6aHaR7WIAo
>
> Naudzubillahi mindzalik ... saya bukan JIL. Mohon jangan di remove ...
>
> --amin
>
> Pada tanggal 13/01/09, Achmad Y. Sjarifuddin <[email protected]> menulis:
>   
>> Yang JIL disini siapa ya?  Mau saya remove dari member milis :)
>>
>>    -- A. Yahya Sjarifuddin.
>>     


-- 
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke