Ada alamat emailnya gak Pak? sekalian lapor kondisi jalan :-(
2009/1/21 amin widada <[email protected]> > Laporkan ke bupati saja, pak ... > Bupati yang sekarang kan seorang ulama/ustadz ... > Kalau nggak mempan, ke Gubernur, kan ustadz juga .... > Masa punya pemimpin ustadz masih ada yang gini-gini ... :-( > > Wassalam, > --amin > > > 2009/1/21, Agus Rasidi <[email protected]>: > > > > http://www.nahimunkar.com/?p=222 > > > > Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor > > January 18, 2009 9:22 pm admin Artikel > > > > Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor > > > > Tipuan dan kelicikan menjadi jurus andalan > > dalam gerakan pemurtadan terhadap umat Islam. > > > > Pada musim haji tahun 1429H, para misionaris Kristen mengedarkan buku > > manasik haji palsu berjudul "Upacara Ibadah Haji" (Jumat, 13/11/2008). > Buku > > yang sampul depannya memajang foto Masjidil Haram ini ternyata berisi > > hujatan terhadap Islam, pelecehan terhadap Allah SWT dan penghinaan > terhadap > > Nabi Muhammad. (lihat nahimunkar.com, Buku Panduan Haji Palsu dan Fatwa > > Mati, November 18, 2008 9:23 pm). > > > > Masih pada bulan yang sama, para misionaris melancarkan aksi tipuan di > > Bekasi, dalam acara Bekasi Berbagi Bahagia (B3) hari Ahad (23/11 2008) > yang > > digelar Yayasan Mahanaim. Awalnya, mereka minta izin kepada walikota > Bekasi > > untuk acara kegiatan sosial seperti pernikahan massal, aneka lomba > seperti > > lomba tumpeng tertinggi dan terindah, hingga lomba joget, dan pembagian > > hadiah. Pesertanya diikuti oleh keluarga, remaja, dan anak-anak. Tapi > > praktiknya adalah gerakan pengkristenan dan pemurtadan terhadap umat > Islam. > > Acara bertema dengan tema "Indonesia Bangkit Jadi Berkat" itu dipenuhi > > dengan seremonial Kristiani, seperti: lagu-lagu rohani Kristen dan > doa-doa > > dalam nama Yesus yang dipimpin oleh pendeta. > > > > Siang itu adalah hari yang aneh bagi Salim. Selepas shalat dzuhur > berjamaah > > di masjid, ia melihat puluhan minibus Metromini 91 jurusan > Batangsari–Tanah > > Abang datang dan parkir berjajar di sekitar komplek DPA Palmerah Slipi, > > Jakarta Barat.Bus-bus itu kebanyakan dipenuhi oleh ibu-ibu berjilbab > yang > > sebagian membawa anak-anak balitanya. Sedangkan anak-anak usia remaja dan > > bapak-bapak yang hadir tidak banyak jumlahnya. > > Melihat penampilan ibu-ibu berjilbab tersebut, mulanya Salim mengira > bahwa > > mereka akan menghadiri acara Tabligh Akbar di tempat lain. Tapi Salim > merasa > > curiga, karena ia tidak pernah mendengar ada Tabligh Akbar pada hari itu. > > Sebagai aktivis masjid, biasanya ia selalu tahu kalau ada acara Tabligh > > Akbar yang diumumkan sebelum shalat Jum'at. > > "Mau ke mana ini, Bu?" selidiknya. "Mau ke Sentul, Dik, tamasya dan > belanja > > sembako murah," jawab seorang ibu dari dalam bus. > > "Kok jauh banget, beli sembako ke daerah Bogor?" tanya Salim dalam hati. > > Tanpa pikir panjang, Salim pun mengontak rekannya yang punya mobil. Tak > lama > > kemudian rekannya datang membawa mobil. Tepat pukul dua siang, Salim dan > > ketiga rekannya membuntuti bus-bus itu, meluncur menuju kawasan > Sentul-Bogor > > lewat tol Jagorawi. Di sepanjang jalan tol, Salim sering berdecak kaget > > bertemu dengan puluhan metromini yang datang dari berbagai daerah di > sekitar > > Jabodetabek. Tetapi ketika sampai di kawasan Sentul City, Salim semakin > > kaget luar biasa. Jalan di kawasan ini menjadi lautan mobil yang terdiri > > dari ratusan metromini, bus, mobil pribadi dan sepeda motor. Nampak jelas > > dalam tulisan yang tertempel di bagian depan kendaraan tersebut, bahwa > > mereka adalah rombongan dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Jakarta, Depok, > > Karawang, Purwakarta, Cianjur. Bahkan ada bus berplat nomor Semarang. > > Karena bahu jalan tak bisa menampung ratusan bus, maka sebagian besar > > kendaraan parkir beberapa kilometer dari lokasi yang dituju, lalu para > > rombongan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu pula Salim > dan > > rekan-rekannya. Tak lupa, Salim menyalakan kamera di HP-nya untuk > > mengabadikan hal-hal yang unik, sementara tiga orang rekannya sibuk > > bertanya-tanya kepada ibu-ibu yang datang dari berbagai daerah. Ternyata > > lokasi yang dituju adalah lapanganTaman Budaya di kawasan kompleks Sentul > > City Bogor Jawa Barat. Umumnya mereka datang ke tempat itu dikoordinir > oleh > > seseorang bahkan ada yang melalui ibu-ibu posyandu di tempatnya > > masing-masing. Mereka tidak tahu banyak tentang acara yang sedang mereka > > datangi. Mereka hanya tahu bahwa mereka datang untuk mendapatkan "Sembako > > Murah" sembari bertamasya gratis. > > Salim berusaha mendapatkan informasi dari pengelola Taman Budaya tentang > > acara besar-besaran itu, tapi tak banyak yang ia dapat. Ia hanya dapat > > informasi bahwa acara itu diselenggarakan oleh PT Anika. > > > > Karantina Kristenisasi untuk Anak-anak > > Jutaan orang yang berbaur jadi satu untuk mendapatkan sembako murah serba > > lima ribu, jelas menyiksa anak-anak kecil dan wanita usia lanjut. Mereka > > tidak tahan berdesak-desakan dalam kompetisi membeli sembako murah. Maka > > ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil, memilih menitipkan anak-anaknya di > > arena bermain khusus anak-anak. Di tempat ini mereka bisa bermaik > > sepuas-puasnya tanpa ada gangguan, karena arena ini berpagar besi > keliling. > > Sementara orang tuanya antre berebut membeli sembako murah yang terdiri > dari > > beras, minyak goreng, mie instan, dll, sang anak asyik bermain leluasa > dalam > > pengawasan panitia. > > Ternyata, pukul 5 sore arena bermain ini ditutup dan dikunci dengan > alasan > > keamanan dan baru akan dibuka pukul 7 malam. Dalam arena ini, para > penginjil > > mencekoki anak-anak dengan dongeng-dongeng tentang kebaikan doktrin > > Kristiani. Mereka diberi aneka permen, coklat dan bendera bergambar > salib > > bertuliskan "Aku Siap Dibangkitkan Menjadi Ksatria Allah." Tak ayal, > arena > > bermain anak-anak ini berubah menjadi Karantina Kristenisasi untuk > > anak-anak. > > Anehnya, para orang tua tidak merasa terusik dengan situasi ini. Hanya > ada > > beberapa orang tua saja sadar akan bahaya situasi ini bagi buah hati > mereka. > > Tak banyak orang yang melakukan perlawanan dengan marah-marah dan > > memaki-maki panitia untuk memaksa supaya anak mereka diizinkan pulang. > > Salim pun mulai menarik kesimpulan kalau acara akhir tahun ini > > adalahKristenisasi berkedok pasar murah. > > > > Jebakan Festival Natal > > Dalam situasi yang sangat ramai, rombongan yang sudah mendapatkan sembako > > ingin secepatnya pulang agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Tapi > mereka > > tidak bisa pulang, mengingat supir bus belum mendapatkan uang sewa bus > dari > > panitia. Nampaknya ini disengaja agar umat Islam menghabiskan waktu lebih > > lama dengan menunggu uang transport di arena yang nyaman. Dan > satu-satunya > > lokasi yang nyaman adalah lapangan yang terletak di sebelah timur. > > Di lapangan terbuka seluas lapangan sepak bola ini disuguhkan berbagai > > hiburan dan pengobatan gratis. > > Sambil menunggu pembagian uang transport, rombongan yang memiliki keluhan > > sakit, dapat mendatangi stand pengobatan gratis yang dilayani oleh para > > dokter Kristen. Sama seperti stand sembako murah, stand pengobatan yang > > terletak di sisi selatan lapangan ini pun dipadati oleh antrean panjang > > orang yang ingin mendapatkan pengobatan gratis. Para dokter Kristen > melayani > > para pasien dengan sabar dan murah senyum. Demi misi agama, mereka begitu > > bersemangat menyentuh hati umat dengan kedok kasihnya. > > Sementara bagi pengunjung yang suka hiburan dan musik, mereka bisa > menikmati > > pertunjukan musik yang disajikan oleh para aktivis gereja. Dengan > berbagai > > pesonanya, mereka bebas menyuguhkan lagu-lagu rohani Kristen untuk > > memperingati Natal dan memuji ketuhanan Yesus. Anehnya, tak sedikit > lelaki > > berpeci dan wanita berjilbab yang terbawa arus dengan berjoget, > melambaikan > > tangan keatas, dan sebagainya menuruti instruksi para pembawa acara dan > > penyanyi rohani. > > Para pengunjung semakin antusias karena dari atas panggung diumumkan > bahwa > > pada akhir acara itu nanti akan diberikan beberapa doorprize. > > Penasaran dengan banyaknya pria berpeci, Salim bertanya kepada seseorang > > berpeci haji yang bertampang Ambon. Ternyata dia bukan seorang Muslim, > > melainkan seorang Nasrani jemaat sebuah gereja di Jakarta. > > "Ooooh, ternyata mereka mereka berpenampilan islami untuk memancing umat > > Islam agar larut dalam acara Kristen itu," guman Salim dalam hati. > > > > Klinik Merubah Akidah > > Satu pemandangan yang menarik di pojok lapangan adalah stand berukuran > 5×6 > > meter. Bagian depan stand ini bertuliskan "Klinik Merubah Nasib." Dalam > > ruangan yang disekat dengan penutup kain putih terdapat beberapa meja > > lengkap dengan kursinya. Setiap meja dijaga oleh seorang petugas yang > > memakai kaus seragam bertuliskan "Yayasan Obor Berkat Indonesia." > > Ruangan ini pun antri dengan pengunjung yang rata-rata memiliki banyak > > masalah rumah tangga, perjodohan, pekerjaan, karier, dan sebagainya. > > Pemandangan yang menarik dalam ruangan ini adalah ibu berjilbab yang > sedang > > dilayani oleh petugas. Salim menguping pembicaraan antara ibu berjilbab > > dengan petugas. Setelah sang ibu berjilbab curhat mengutarakan problem > dalam > > hidupnya, giliran petugas berbicara. Dengan lembut, murah senyum dan > penuh > > perhatian, sang petugas menjelaskan solusi bahwa semua masalah di dunia > ini > > hanya bisa diselesaikan dalam nama Yesus. Karena Yesus adalah > satu-satunya > > jalan kebenaran dan hidup. Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga > > selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini hanya olehnya > > manusia dapat diselamatkan. Setelah menerangkan bahwa Yesus adalah > > satu-satunya pengharapan, sang petugas meminta alamat dan nomor telepon > ibu > > berjilbab, dan berjanji dalam waktu dekat akan menghubunginya. Sebelum > > keluar dari ruangan, sang petugas mendoakan ibu berjilbab dalam nama > Yesus. > > Salim baru sadar bahwa ternyata area ini adalah ruang konseling > untukmenjala > > umat Islam. Salim melongok ke dalam ruangan sambil membidikkan HP > kameranya > > untuk mengambil gambar, tapi diusir oleh petugas. > > > > Sembako Murah yang Menipu > > Pukul 04.30, Salim dan rekan-rekannya shalat di mushalla mungil di > pinggir > > selatan Taman Budaya. Situasi di mushalla ini kontras dengan situasi di > > festival musik natal maupun di klinik konseling. Hanya ada beberapa orang > > saja yang menunaikan kewajiban shalat. Usai shalat, Salim > berbincang-bincang > > dengan jamaah shalat yang lainnya. Pak Ahmad yang datang jauh-jauh > Balaraja > > Tangerang, sangat kesal dengan acara ini. Mereka merasa ditipu oleh para > > koordinator dengan iming-iming sembako murah dan transportasi gratis. > > Padahal acara yang sesungguhnya adalah perayaan Natal dan Kristenisasi. > > Sayangnya, orang seperti Pak Ahmad di lokasi ini tidak banyak. > > > > Sembako Murah Misi Ternyata Mahal > > Di tengah jutaan pengunjung yang membeli sembako murah, Pak Abu, tukang > ojek > > yang datang dari Bekasi menyimpan kesan negatif terhadap acara Kristen > ini, > > meski ia berhasil membeli sembako seharga Rp 20.000 dengan mendapatkan > beras > > 3 liter, minyak goreng 1 liter, gula 2 kg, dan mie instant 8 bungkus. > Kalau > > dihitung-hitung, memang ia mendapatkan keuntungan sembako yang lebih > murah > > dengan selisih kurang lebih Rp 30.000 jika ia membeli di warung biasa. > > Dikurangi biaya makan sore di warung seharga 10.000, maka keuntungan > materi > > yang diperolehnya hanya Rp 20.000. > > Apalagi dengan pengorbanan perjalanan dari rumah ke kokasi selama 7 jam > > (PP), ditambah dengan antre berdesak-desakan selama sejam, jalan kaki 2 > km > > dari parkir mobil ke lokasi, serta uang makan di lokasi Rp 10.000, > tentunya > > uang 20.000 tidak ada artinya sama-sekali. Padahal kalau ia narik ojek > > selama 7 jam bisa membawa penumpang minimal 7 kali dengan keuntungan > minimal > > 50.000. > > "Brengsek, ternyata gue dibohongin. Seumur hidup gue kapok ikut acara > kayak > > ginian. Entar kalau ada acara beginian lagi, gue ajak warga di tempat gue > > biar kagak ikutan," tuturnya kesal dalam logat betawi yang kental. > > Salim tidak bisa mengikuti acara sampai akhir. Pukul 17.30 ia harus > pulang > > karena ada jadwal taklim di masjid. Ternyata perjalanan pulang pun tak > > mulus. Jalanan di Sentul City macet dengan ratusan bus. Setelah satu jam > > bergumul dengan kemacetan, barulah ia bisa keluar menuju tol Jagorawi. > > Salim dan rekan-rekannya pun pulang dengan membawa keprihatinan. Kenapa > > acara yang luar biasa besar dan spektakuler seperti ini tidak > diantisipasi > > oleh ormas-ormas Islam? Padahal kasus Kristenisasi berkedok sembako murah > > bukan hal yang baru. Pada akhir Mei 2008 ketika diadakan acara serupa di > > kawasan Monas Jakarta Pusat, umat Islam kecolongan dan tidak > > mengantisipasinya dengan pembentengan akidah terhadap umat Islam. > > Mudah-mudahan tahun berikutnya umat Islam lebih waspada dan sigap dalam > > mengantisipasi gerakan Kristenisasi berkedok sembako murah yang menipu > umat. > > Acara ini adalah tipuan akidah dan tipuan ekonomi, seperti yang dirasakan > > oleh Pak Abu dari Bekasi tersebut. > > Karena Kristenisasi berkedok Pasar Murah adalah misi murahan yang menipu > > umat. Inilah upaya licik para misionaris yang melakukan pemurtadan secara > > terselubung. > > ( وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ > > إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا > > تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ) [سورة البقرة: 109] > > > > > > "Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan > > kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) > dari > > diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…" (Qs. > Al-Baqarah > > 109). (masml) > > ------------------------------------------------------------------ > - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - > - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - > > Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, > seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. > (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari) > >

