nambahin. sekalian bawa semua bukti2 yang otentik, disampaikan secara resmi melalui ormas Islam, dll, biar lebih kuat dukungannya.
--- Pada Rab, 21/1/09, amin widada <[email protected]> menulis: Dari: amin widada <[email protected]> Topik: Re: [Ar-Royyan-8575] Fw: Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 21 Januari, 2009, 2:52 AM Laporkan ke bupati saja, pak ... Bupati yang sekarang kan seorang ulama/ustadz ... Kalau nggak mempan, ke Gubernur, kan ustadz juga .... Masa punya pemimpin ustadz masih ada yang gini-gini ... :-( Wassalam, --amin 2009/1/21, Agus Rasidi <[email protected]>: > > http://www.nahimunkar.com/?p=222 > > Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor > January 18, 2009 9:22 pm admin Artikel > > Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor > > Tipuan dan kelicikan menjadi jurus andalan > dalam gerakan pemurtadan terhadap umat Islam. > > Pada musim haji tahun 1429H, para misionaris Kristen mengedarkan buku > manasik haji palsu berjudul "Upacara Ibadah Haji" (Jumat, 13/11/2008). Buku > yang sampul depannya memajang foto Masjidil Haram ini ternyata berisi > hujatan terhadap Islam, pelecehan terhadap Allah SWT dan penghinaan terhadap > Nabi Muhammad. (lihat nahimunkar.com, Buku Panduan Haji Palsu dan Fatwa > Mati, November 18, 2008 9:23 pm). > > Masih pada bulan yang sama, para misionaris melancarkan aksi tipuan di > Bekasi, dalam acara Bekasi Berbagi Bahagia (B3) hari Ahad (23/11 2008) yang > digelar Yayasan Mahanaim. Awalnya, mereka minta izin kepada walikota Bekasi > untuk acara kegiatan sosial seperti pernikahan massal, aneka lomba seperti > lomba tumpeng tertinggi dan terindah, hingga lomba joget, dan pembagian > hadiah. Pesertanya diikuti oleh keluarga, remaja, dan anak-anak. Tapi > praktiknya adalah gerakan pengkristenan dan pemurtadan terhadap umat Islam. > Acara bertema dengan tema "Indonesia Bangkit Jadi Berkat" itu dipenuhi > dengan seremonial Kristiani, seperti: lagu-lagu rohani Kristen dan doa-doa > dalam nama Yesus yang dipimpin oleh pendeta. > > Siang itu adalah hari yang aneh bagi Salim. Selepas shalat dzuhur berjamaah > di masjid, ia melihat puluhan minibus Metromini 91 jurusan Batangsari–Tanah > Abang datang dan parkir berjajar di sekitar komplek DPA Palmerah Slipi, > Jakarta Barat.Bus-bus itu kebanyakan dipenuhi oleh ibu-ibu berjilbab yang > sebagian membawa anak-anak balitanya. Sedangkan anak-anak usia remaja dan > bapak-bapak yang hadir tidak banyak jumlahnya. > Melihat penampilan ibu-ibu berjilbab tersebut, mulanya Salim mengira bahwa > mereka akan menghadiri acara Tabligh Akbar di tempat lain. Tapi Salim merasa > curiga, karena ia tidak pernah mendengar ada Tabligh Akbar pada hari itu. > Sebagai aktivis masjid, biasanya ia selalu tahu kalau ada acara Tabligh > Akbar yang diumumkan sebelum shalat Jum'at. > "Mau ke mana ini, Bu?" selidiknya. "Mau ke Sentul, Dik, tamasya dan belanja > sembako murah," jawab seorang ibu dari dalam bus. > "Kok jauh banget, beli sembako ke daerah Bogor?" tanya Salim dalam hati. > Tanpa pikir panjang, Salim pun mengontak rekannya yang punya mobil. Tak lama > kemudian rekannya datang membawa mobil. Tepat pukul dua siang, Salim dan > ketiga rekannya membuntuti bus-bus itu, meluncur menuju kawasan Sentul-Bogor > lewat tol Jagorawi. Di sepanjang jalan tol, Salim sering berdecak kaget > bertemu dengan puluhan metromini yang datang dari berbagai daerah di sekitar > Jabodetabek. Tetapi ketika sampai di kawasan Sentul City, Salim semakin > kaget luar biasa. Jalan di kawasan ini menjadi lautan mobil yang terdiri > dari ratusan metromini, bus, mobil pribadi dan sepeda motor. Nampak jelas > dalam tulisan yang tertempel di bagian depan kendaraan tersebut, bahwa > mereka adalah rombongan dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Jakarta, Depok, > Karawang, Purwakarta, Cianjur. Bahkan ada bus berplat nomor Semarang. > Karena bahu jalan tak bisa menampung ratusan bus, maka sebagian besar > kendaraan parkir beberapa kilometer dari lokasi yang dituju, lalu para > rombongan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu pula Salim dan > rekan-rekannya. Tak lupa, Salim menyalakan kamera di HP-nya untuk > mengabadikan hal-hal yang unik, sementara tiga orang rekannya sibuk > bertanya-tanya kepada ibu-ibu yang datang dari berbagai daerah. Ternyata > lokasi yang dituju adalah lapanganTaman Budaya di kawasan kompleks Sentul > City Bogor Jawa Barat. Umumnya mereka datang ke tempat itu dikoordinir oleh > seseorang bahkan ada yang melalui ibu-ibu posyandu di tempatnya > masing-masing. Mereka tidak tahu banyak tentang acara yang sedang mereka > datangi. Mereka hanya tahu bahwa mereka datang untuk mendapatkan "Sembako > Murah" sembari bertamasya gratis. > Salim berusaha mendapatkan informasi dari pengelola Taman Budaya tentang > acara besar-besaran itu, tapi tak banyak yang ia dapat. Ia hanya dapat > informasi bahwa acara itu diselenggarakan oleh PT Anika. > > Karantina Kristenisasi untuk Anak-anak > Jutaan orang yang berbaur jadi satu untuk mendapatkan sembako murah serba > lima ribu, jelas menyiksa anak-anak kecil dan wanita usia lanjut. Mereka > tidak tahan berdesak-desakan dalam kompetisi membeli sembako murah. Maka > ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil, memilih menitipkan anak-anaknya di > arena bermain khusus anak-anak. Di tempat ini mereka bisa bermaik > sepuas-puasnya tanpa ada gangguan, karena arena ini berpagar besi keliling. > Sementara orang tuanya antre berebut membeli sembako murah yang terdiri dari > beras, minyak goreng, mie instan, dll, sang anak asyik bermain leluasa dalam > pengawasan panitia. > Ternyata, pukul 5 sore arena bermain ini ditutup dan dikunci dengan alasan > keamanan dan baru akan dibuka pukul 7 malam. Dalam arena ini, para penginjil > mencekoki anak-anak dengan dongeng-dongeng tentang kebaikan doktrin > Kristiani. Mereka diberi aneka permen, coklat dan bendera bergambar salib > bertuliskan "Aku Siap Dibangkitkan Menjadi Ksatria Allah." Tak ayal, arena > bermain anak-anak ini berubah menjadi Karantina Kristenisasi untuk > anak-anak. > Anehnya, para orang tua tidak merasa terusik dengan situasi ini. Hanya ada > beberapa orang tua saja sadar akan bahaya situasi ini bagi buah hati mereka. > Tak banyak orang yang melakukan perlawanan dengan marah-marah dan > memaki-maki panitia untuk memaksa supaya anak mereka diizinkan pulang. > Salim pun mulai menarik kesimpulan kalau acara akhir tahun ini > adalahKristenisasi berkedok pasar murah. > > Jebakan Festival Natal > Dalam situasi yang sangat ramai, rombongan yang sudah mendapatkan sembako > ingin secepatnya pulang agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Tapi mereka > tidak bisa pulang, mengingat supir bus belum mendapatkan uang sewa bus dari > panitia. Nampaknya ini disengaja agar umat Islam menghabiskan waktu lebih > lama dengan menunggu uang transport di arena yang nyaman. Dan satu-satunya > lokasi yang nyaman adalah lapangan yang terletak di sebelah timur. > Di lapangan terbuka seluas lapangan sepak bola ini disuguhkan berbagai > hiburan dan pengobatan gratis. > Sambil menunggu pembagian uang transport, rombongan yang memiliki keluhan > sakit, dapat mendatangi stand pengobatan gratis yang dilayani oleh para > dokter Kristen. Sama seperti stand sembako murah, stand pengobatan yang > terletak di sisi selatan lapangan ini pun dipadati oleh antrean panjang > orang yang ingin mendapatkan pengobatan gratis. Para dokter Kristen melayani > para pasien dengan sabar dan murah senyum. Demi misi agama, mereka begitu > bersemangat menyentuh hati umat dengan kedok kasihnya. > Sementara bagi pengunjung yang suka hiburan dan musik, mereka bisa menikmati > pertunjukan musik yang disajikan oleh para aktivis gereja. Dengan berbagai > pesonanya, mereka bebas menyuguhkan lagu-lagu rohani Kristen untuk > memperingati Natal dan memuji ketuhanan Yesus. Anehnya, tak sedikit lelaki > berpeci dan wanita berjilbab yang terbawa arus dengan berjoget, melambaikan > tangan keatas, dan sebagainya menuruti instruksi para pembawa acara dan > penyanyi rohani. > Para pengunjung semakin antusias karena dari atas panggung diumumkan bahwa > pada akhir acara itu nanti akan diberikan beberapa doorprize. > Penasaran dengan banyaknya pria berpeci, Salim bertanya kepada seseorang > berpeci haji yang bertampang Ambon. Ternyata dia bukan seorang Muslim, > melainkan seorang Nasrani jemaat sebuah gereja di Jakarta. > "Ooooh, ternyata mereka mereka berpenampilan islami untuk memancing umat > Islam agar larut dalam acara Kristen itu," guman Salim dalam hati. > > Klinik Merubah Akidah > Satu pemandangan yang menarik di pojok lapangan adalah stand berukuran 5×6 > meter. Bagian depan stand ini bertuliskan "Klinik Merubah Nasib." Dalam > ruangan yang disekat dengan penutup kain putih terdapat beberapa meja > lengkap dengan kursinya. Setiap meja dijaga oleh seorang petugas yang > memakai kaus seragam bertuliskan "Yayasan Obor Berkat Indonesia." > Ruangan ini pun antri dengan pengunjung yang rata-rata memiliki banyak > masalah rumah tangga, perjodohan, pekerjaan, karier, dan sebagainya. > Pemandangan yang menarik dalam ruangan ini adalah ibu berjilbab yang sedang > dilayani oleh petugas. Salim menguping pembicaraan antara ibu berjilbab > dengan petugas. Setelah sang ibu berjilbab curhat mengutarakan problem dalam > hidupnya, giliran petugas berbicara. Dengan lembut, murah senyum dan penuh > perhatian, sang petugas menjelaskan solusi bahwa semua masalah di dunia ini > hanya bisa diselesaikan dalam nama Yesus. Karena Yesus adalah satu-satunya > jalan kebenaran dan hidup. Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga > selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini hanya olehnya > manusia dapat diselamatkan. Setelah menerangkan bahwa Yesus adalah > satu-satunya pengharapan, sang petugas meminta alamat dan nomor telepon ibu > berjilbab, dan berjanji dalam waktu dekat akan menghubunginya. Sebelum > keluar dari ruangan, sang petugas mendoakan ibu berjilbab dalam nama Yesus. > Salim baru sadar bahwa ternyata area ini adalah ruang konseling untukmenjala > umat Islam. Salim melongok ke dalam ruangan sambil membidikkan HP kameranya > untuk mengambil gambar, tapi diusir oleh petugas. > > Sembako Murah yang Menipu > Pukul 04.30, Salim dan rekan-rekannya shalat di mushalla mungil di pinggir > selatan Taman Budaya. Situasi di mushalla ini kontras dengan situasi di > festival musik natal maupun di klinik konseling. Hanya ada beberapa orang > saja yang menunaikan kewajiban shalat. Usai shalat, Salim berbincang-bincang > dengan jamaah shalat yang lainnya. Pak Ahmad yang datang jauh-jauh Balaraja > Tangerang, sangat kesal dengan acara ini. Mereka merasa ditipu oleh para > koordinator dengan iming-iming sembako murah dan transportasi gratis. > Padahal acara yang sesungguhnya adalah perayaan Natal dan Kristenisasi. > Sayangnya, orang seperti Pak Ahmad di lokasi ini tidak banyak. > > Sembako Murah Misi Ternyata Mahal > Di tengah jutaan pengunjung yang membeli sembako murah, Pak Abu, tukang ojek > yang datang dari Bekasi menyimpan kesan negatif terhadap acara Kristen ini, > meski ia berhasil membeli sembako seharga Rp 20.000 dengan mendapatkan beras > 3 liter, minyak goreng 1 liter, gula 2 kg, dan mie instant 8 bungkus. Kalau > dihitung-hitung, memang ia mendapatkan keuntungan sembako yang lebih murah > dengan selisih kurang lebih Rp 30.000 jika ia membeli di warung biasa. > Dikurangi biaya makan sore di warung seharga 10.000, maka keuntungan materi > yang diperolehnya hanya Rp 20.000. > Apalagi dengan pengorbanan perjalanan dari rumah ke kokasi selama 7 jam > (PP), ditambah dengan antre berdesak-desakan selama sejam, jalan kaki 2 km > dari parkir mobil ke lokasi, serta uang makan di lokasi Rp 10.000, tentunya > uang 20.000 tidak ada artinya sama-sekali. Padahal kalau ia narik ojek > selama 7 jam bisa membawa penumpang minimal 7 kali dengan keuntungan minimal > 50.000. > "Brengsek, ternyata gue dibohongin. Seumur hidup gue kapok ikut acara kayak > ginian. Entar kalau ada acara beginian lagi, gue ajak warga di tempat gue > biar kagak ikutan," tuturnya kesal dalam logat betawi yang kental. > Salim tidak bisa mengikuti acara sampai akhir. Pukul 17.30 ia harus pulang > karena ada jadwal taklim di masjid. Ternyata perjalanan pulang pun tak > mulus. Jalanan di Sentul City macet dengan ratusan bus. Setelah satu jam > bergumul dengan kemacetan, barulah ia bisa keluar menuju tol Jagorawi. > Salim dan rekan-rekannya pun pulang dengan membawa keprihatinan. Kenapa > acara yang luar biasa besar dan spektakuler seperti ini tidak diantisipasi > oleh ormas-ormas Islam? Padahal kasus Kristenisasi berkedok sembako murah > bukan hal yang baru. Pada akhir Mei 2008 ketika diadakan acara serupa di > kawasan Monas Jakarta Pusat, umat Islam kecolongan dan tidak > mengantisipasinya dengan pembentengan akidah terhadap umat Islam. > Mudah-mudahan tahun berikutnya umat Islam lebih waspada dan sigap dalam > mengantisipasi gerakan Kristenisasi berkedok sembako murah yang menipu umat. > Acara ini adalah tipuan akidah dan tipuan ekonomi, seperti yang dirasakan > oleh Pak Abu dari Bekasi tersebut. > Karena Kristenisasi berkedok Pasar Murah adalah misi murahan yang menipu > umat. Inilah upaya licik para misionaris yang melakukan pemurtadan secara > terselubung. > ( وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ > إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا > تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ) [سورة البقرة: 109] > > > "Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan > kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari > diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…" (Qs. Al-Baqarah > 109). (masml) ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari) Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Akhirnya datang juga! http://id.messenger.yahoo.com

