----- Original Message -----
From: najla abu
Sent: Tuesday, January 20, 2009 11:14 PM
http://www.nahimunkar.com/?p=222
Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor
January 18, 2009 9:22 pm admin Artikel
Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor
Tipuan dan kelicikan menjadi jurus andalan
dalam gerakan pemurtadan terhadap umat Islam.
Pada musim haji tahun 1429H, para misionaris Kristen mengedarkan buku
manasik haji palsu berjudul "Upacara Ibadah Haji" (Jumat, 13/11/2008). Buku
yang sampul depannya memajang foto Masjidil Haram ini ternyata berisi
hujatan terhadap Islam, pelecehan terhadap Allah SWT dan penghinaan terhadap
Nabi Muhammad. (lihat nahimunkar.com, Buku Panduan Haji Palsu dan Fatwa
Mati, November 18, 2008 9:23 pm).
Masih pada bulan yang sama, para misionaris melancarkan aksi tipuan di
Bekasi, dalam acara Bekasi Berbagi Bahagia (B3) hari Ahad (23/11 2008) yang
digelar Yayasan Mahanaim. Awalnya, mereka minta izin kepada walikota Bekasi
untuk acara kegiatan sosial seperti pernikahan massal, aneka lomba seperti
lomba tumpeng tertinggi dan terindah, hingga lomba joget, dan pembagian
hadiah. Pesertanya diikuti oleh keluarga, remaja, dan anak-anak. Tapi
praktiknya adalah gerakan pengkristenan dan pemurtadan terhadap umat Islam.
Acara bertema dengan tema "Indonesia Bangkit Jadi Berkat" itu dipenuhi
dengan seremonial Kristiani, seperti: lagu-lagu rohani Kristen dan doa-doa
dalam nama Yesus yang dipimpin oleh pendeta.
S
iang itu adalah hari yang aneh bagi Salim. Selepas shalat dzuhur berjamaah
di masjid, ia melihat puluhan minibus Metromini 91 jurusan Batangsari–Tanah
Abang datang dan parkir berjajar di sekitar komplek DPA Palmerah Slipi,
Jakarta Barat.Bus-bus itu kebanyakan dipenuhi oleh ibu-ibu berjilbab yang
sebagian membawa anak-anak balitanya. Sedangkan anak-anak usia remaja dan
bapak-bapak yang hadir tidak banyak jumlahnya.
Melihat penampilan ibu-ibu berjilbab tersebut, mulanya Salim mengira bahwa
mereka akan menghadiri acara Tabligh Akbar di tempat lain. Tapi Salim merasa
curiga, karena ia tidak pernah mendengar ada Tabligh Akbar pada hari itu.
Sebagai aktivis masjid, biasanya ia selalu tahu kalau ada acara Tabligh
Akbar yang diumumkan sebelum shalat Jum'at.
"Mau ke mana ini, Bu?" selidiknya. "Mau ke Sentul, Dik, tamasya dan belanja
sembako murah," jawab seorang ibu dari dalam bus.
"Kok jauh banget, beli sembako ke daerah Bogor?" tanya Salim dalam hati.
Tanpa pikir panjang, Salim pun mengontak rekannya yang punya mobil. Tak lama
kemudian rekannya datang membawa mobil. Tepat pukul dua siang, Salim dan
ketiga rekannya membuntuti bus-bus itu, meluncur menuju kawasan Sentul-Bogor
lewat tol Jagorawi. Di sepanjang jalan tol, Salim sering berdecak kaget
bertemu dengan puluhan metromini yang datang dari berbagai daerah di sekitar
Jabodetabek. Tetapi ketika sampai di kawasan Sentul City, Salim semakin
kaget luar biasa. Jalan di kawasan ini menjadi lautan mobil yang terdiri
dari ratusan metromini, bus, mobil pribadi dan sepeda motor. Nampak jelas
dalam tulisan yang tertempel di bagian depan kendaraan tersebut, bahwa
mereka adalah rombongan dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Jakarta, Depok,
Karawang, Purwakarta, Cianjur. Bahkan ada bus berplat nomor Semarang.
Karena bahu jalan tak bisa menampung ratusan bus, maka sebagian besar
kendaraan parkir beberapa kilometer dari lokasi yang dituju, lalu para
rombongan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu pula Salim dan
rekan-rekannya. Tak lupa, Salim menyalakan kamera di HP-nya untuk
mengabadikan hal-hal yang unik, sementara tiga orang rekannya sibuk
bertanya-tanya kepada ibu-ibu yang datang dari berbagai daerah. Ternyata
lokasi yang dituju adalah lapanganTaman Budaya di kawasan kompleks Sentul
City Bogor Jawa Barat. Umumnya mereka datang ke tempat itu dikoordinir oleh
seseorang bahkan ada yang melalui ibu-ibu posyandu di tempatnya
masing-masing. Mereka tidak tahu banyak tentang acara yang sedang mereka
datangi. Mereka hanya tahu bahwa mereka datang untuk mendapatkan "Sembako
Murah" sembari bertamasya gratis.
Salim berusaha mendapatkan informasi dari pengelola Taman Budaya tentang
acara besar-besaran itu, tapi tak banyak yang ia dapat. Ia hanya dapat
informasi bahwa acara itu diselenggarakan oleh PT Anika.
Karantina Kristenisasi untuk Anak-anak
Jutaan orang yang berbaur jadi satu untuk mendapatkan sembako murah serba
lima ribu, jelas menyiksa anak-anak kecil dan wanita usia lanjut. Mereka
tidak tahan berdesak-desakan dalam kompetisi membeli sembako murah. Maka
ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil, memilih menitipkan anak-anaknya di
arena bermain khusus anak-anak. Di tempat ini mereka bisa bermaik
sepuas-puasnya tanpa ada gangguan, karena arena ini berpagar besi keliling.
Sementara orang tuanya antre berebut membeli sembako murah yang terdiri dari
beras, minyak goreng, mie instan, dll, sang anak asyik bermain leluasa dalam
pengawasan panitia.
Ternyata, pukul 5 sore arena bermain ini ditutup dan dikunci dengan alasan
keamanan dan baru akan dibuka pukul 7 malam. Dalam arena ini, para penginjil
mencekoki anak-anak dengan dongeng-dongeng tentang kebaikan doktrin
Kristiani. Mereka diberi aneka permen, coklat dan bendera bergambar salib
bertuliskan "Aku Siap Dibangkitkan Menjadi Ksatria Allah." Tak ayal, arena
bermain anak-anak ini berubah menjadi Karantina Kristenisasi untuk
anak-anak.
Anehnya, para orang tua tidak merasa terusik dengan situasi ini. Hanya ada
beberapa orang tua saja sadar akan bahaya situasi ini bagi buah hati mereka.
Tak banyak orang yang melakukan perlawanan dengan marah-marah dan
memaki-maki panitia untuk memaksa supaya anak mereka diizinkan pulang.
Salim pun mulai menarik kesimpulan kalau acara akhir tahun ini
adalahKristenisasi berkedok pasar murah.
Jebakan Festival Natal
Dalam situasi yang sangat ramai, rombongan yang sudah mendapatkan sembako
ingin secepatnya pulang agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Tapi mereka
tidak bisa pulang, mengingat supir bus belum mendapatkan uang sewa bus dari
panitia. Nampaknya ini disengaja agar umat Islam menghabiskan waktu lebih
lama dengan menunggu uang transport di arena yang nyaman. Dan satu-satunya
lokasi yang nyaman adalah lapangan yang terletak di sebelah timur.
Di lapangan terbuka seluas lapangan sepak bola ini disuguhkan berbagai
hiburan dan pengobatan gratis.
Sambil menunggu pembagian uang transport, rombongan yang memiliki keluhan
sakit, dapat mendatangi stand pengobatan gratis yang dilayani oleh para
dokter Kristen. Sama seperti stand sembako murah, stand pengobatan yang
terletak di sisi selatan lapangan ini pun dipadati oleh antrean panjang
orang yang ingin mendapatkan pengobatan gratis. Para dokter Kristen melayani
para pasien dengan sabar dan murah senyum. Demi misi agama, mereka begitu
bersemangat menyentuh hati umat dengan kedok kasihnya.
Sementara bagi pengunjung yang suka hiburan dan musik, mereka bisa menikmati
pertunjukan musik yang disajikan oleh para aktivis gereja. Dengan berbagai
pesonanya, mereka bebas menyuguhkan lagu-lagu rohani Kristen untuk
memperingati Natal dan memuji ketuhanan Yesus. Anehnya, tak sedikit lelaki
berpeci dan wanita berjilbab yang terbawa arus dengan berjoget, melambaikan
tangan keatas, dan sebagainya menuruti instruksi para pembawa acara dan
penyanyi rohani.
Para pengunjung semakin antusias karena dari atas panggung diumumkan bahwa
pada akhir acara itu nanti akan diberikan beberapa doorprize.
Penasaran dengan banyaknya pria berpeci, Salim bertanya kepada seseorang
berpeci haji yang bertampang Ambon. Ternyata dia bukan seorang Muslim,
melainkan seorang Nasrani jemaat sebuah gereja di Jakarta.
"Ooooh, ternyata mereka mereka berpenampilan islami untuk memancing umat
Islam agar larut dalam acara Kristen itu," guman Salim dalam hati.
Klinik Merubah Akidah
Satu pemandangan yang menarik di pojok lapangan adalah stand berukuran 5×6
meter. Bagian depan stand ini bertuliskan "Klinik Merubah Nasib." Dalam
ruangan yang disekat dengan penutup kain putih terdapat beberapa meja
lengkap dengan kursinya. Setiap meja dijaga oleh seorang petugas yang
memakai kaus seragam bertuliskan "Yayasan Obor Berkat Indonesia."
Ruangan ini pun antri dengan pengunjung yang rata-rata memiliki banyak
masalah rumah tangga, perjodohan, pekerjaan, karier, dan sebagainya.
Pemandangan yang menarik dalam ruangan ini adalah ibu berjilbab yang sedang
dilayani oleh petugas. Salim menguping pembicaraan antara ibu berjilbab
dengan petugas. Setelah sang ibu berjilbab curhat mengutarakan problem dalam
hidupnya, giliran petugas berbicara. Dengan lembut, murah senyum dan penuh
perhatian, sang petugas menjelaskan solusi bahwa semua masalah di dunia ini
hanya bisa diselesaikan dalam nama Yesus. Karena Yesus adalah satu-satunya
jalan kebenaran dan hidup. Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga
selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini hanya olehnya
manusia dapat diselamatkan. Setelah menerangkan bahwa Yesus adalah
satu-satunya pengharapan, sang petugas meminta alamat dan nomor telepon ibu
berjilbab, dan berjanji dalam waktu dekat akan menghubunginya. Sebelum
keluar dari ruangan, sang petugas mendoakan ibu berjilbab dalam nama Yesus.
Salim baru sadar bahwa ternyata area ini adalah ruang konseling untukmenjala
umat Islam. Salim melongok ke dalam ruangan sambil membidikkan HP kameranya
untuk mengambil gambar, tapi diusir oleh petugas.
Sembako Murah yang Menipu
Pukul 04.30, Salim dan rekan-rekannya shalat di mushalla mungil di pinggir
selatan Taman Budaya. Situasi di mushalla ini kontras dengan situasi di
festival musik natal maupun di klinik konseling. Hanya ada beberapa orang
saja yang menunaikan kewajiban shalat. Usai shalat, Salim berbincang-bincang
dengan jamaah shalat yang lainnya. Pak Ahmad yang datang jauh-jauh Balaraja
Tangerang, sangat kesal dengan acara ini. Mereka merasa ditipu oleh para
koordinator dengan iming-iming sembako murah dan transportasi gratis.
Padahal acara yang sesungguhnya adalah perayaan Natal dan Kristenisasi.
Sayangnya, orang seperti Pak Ahmad di lokasi ini tidak banyak.
Sembako Murah Misi Ternyata Mahal
Di tengah jutaan pengunjung yang membeli sembako murah, Pak Abu, tukang ojek
yang datang dari Bekasi menyimpan kesan negatif terhadap acara Kristen ini,
meski ia berhasil membeli sembako seharga Rp 20.000 dengan mendapatkan beras
3 liter, minyak goreng 1 liter, gula 2 kg, dan mie instant 8 bungkus. Kalau
dihitung-hitung, memang ia mendapatkan keuntungan sembako yang lebih murah
dengan selisih kurang lebih Rp 30.000 jika ia membeli di warung biasa.
Dikurangi biaya makan sore di warung seharga 10.000, maka keuntungan materi
yang diperolehnya hanya Rp 20.000.
Apalagi dengan pengorbanan perjalanan dari rumah ke kokasi selama 7 jam
(PP), ditambah dengan antre berdesak-desakan selama sejam, jalan kaki 2 km
dari parkir mobil ke lokasi, serta uang makan di lokasi Rp 10.000, tentunya
uang 20.000 tidak ada artinya sama-sekali. Padahal kalau ia narik ojek
selama 7 jam bisa membawa penumpang minimal 7 kali dengan keuntungan minimal
50.000.
"Brengsek, ternyata gue dibohongin. Seumur hidup gue kapok ikut acara kayak
ginian. Entar kalau ada acara beginian lagi, gue ajak warga di tempat gue
biar kagak ikutan," tuturnya kesal dalam logat betawi yang kental.
Salim tidak bisa mengikuti acara sampai akhir. Pukul 17.30 ia harus pulang
karena ada jadwal taklim di masjid. Ternyata perjalanan pulang pun tak
mulus. Jalanan di Sentul City macet dengan ratusan bus. Setelah satu jam
bergumul dengan kemacetan, barulah ia bisa keluar menuju tol Jagorawi.
Salim dan rekan-rekannya pun pulang dengan membawa keprihatinan. Kenapa
acara yang luar biasa besar dan spektakuler seperti ini tidak diantisipasi
oleh ormas-ormas Islam? Padahal kasus Kristenisasi berkedok sembako murah
bukan hal yang baru. Pada akhir Mei 2008 ketika diadakan acara serupa di
kawasan Monas Jakarta Pusat, umat Islam kecolongan dan tidak
mengantisipasinya dengan pembentengan akidah terhadap umat Islam.
Mudah-mudahan tahun berikutnya umat Islam lebih waspada dan sigap dalam
mengantisipasi gerakan Kristenisasi berkedok sembako murah yang menipu umat.
Acara ini adalah tipuan akidah dan tipuan ekonomi, seperti yang dirasakan
oleh Pak Abu dari Bekasi tersebut.
Karena Kristenisasi berkedok Pasar Murah adalah misi murahan yang menipu
umat. Inilah upaya licik para misionaris yang melakukan pemurtadan secara
terselubung.
( وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ
إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ) [سورة البقرة: 109]
"Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan
kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari
diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…" (Qs. Al-Baqarah
109). (masml)
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)