----- Original Message ----- From: teha
Sent: Tuesday, March 03, 2009 12:26 AM

Inspirasi

MENGHADAPI MASALAH

"Masalah ada di mana-mana, hanya ketekunanlah kunci untuk mengatasinya". Itu kata Robert H. Schuller, dalam bukunya dengan judul sama. Masalah adalah kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Ada orang yang mengatakan bahwa masalah adalah gap antara apa yang seharusnya dan apa yang senyatanya. Dalam proses organisasi hal seperti itu tidaklah aneh. Bahkan tindakan antisipasinya telah disiapkan. Tidak dapat disangkal, setiap kali berhadapan dengan masalah, sadar atau tidak kita akan mengambil salah satu dari 4 sikap berikut ini: 1. Melarikan diri dari masalah. Ini jelas sikap pengecut, pecundang, karena melakukan upaya pelarian dari masalah, padahal masalah tetap akan mengikutinya. 2. Melupakan masalah yang ada. Ini pun jelas tidak baik, sebab akan membuat masalah semakin meluas di luar kendali dan berpotensi menjadi lebih buruk. 3. Melawan masalah. Indikasinya adalah menolak masalah dianggap sebagai masalah, dan memilih sikap tidak peduli. Sikap seperti ini malah menimbulkan masalah baru, sementara masalah sebelumnya tidak teratasi. 4. Menghadapi masalah. Pengalaman membuktikan bahwa inilah sikap paling bijak. Bukan saja realistis, melainkan juga membuat kita lebih terbiasa dan terlatih menyelesaikan masalah. Perlu kita ingat, bahwa sesungguhnya masalah adalah kesempatan potensial bagi kita untuk mengekspresikan potensi diri sebagai profesional yang kompeten. Sayangnya, tidak semua orang dapat berpikir begitu. Masih ada saja yang memiliki pandangan keliru, ditandai dengan pendapat bahwa: masalah tidak akan terselesaikan, masalah sifatnya permanen, tidak normal, membuat kita pahit, menguasai kita, dan kalau dihadapi akan mematikan karir. Padahal sesungguhnya masalah adalah hal yang dapat diselesaikan, hal yang lumrah dan normal dalam kehidupan, dan kalau diatasi justru akan membuat kita menjadi lebih baik. Ya, masalah memang harus dihadapi, diatasi, diselesaikan, sepedih atau sesakit apa pun. Mungkin kita akan merasa babak belur, sakit hati, terbanting atau berkeping-keping. Yang jelas, sesudahnya kita dapat membangun kembali keping-keping tersebut dengan suasana hati yang baru. Sahabat saya, Jeihan pernah mengatakan, "Kalau kamu kepedasan, jangan minum es. Itu akan tambah lama rasa pedas itu bertahan di mulutmu. Jadi, kalau kamu merasa kepedasan, minumlah air panas, seteguk, dua teguk, beberapa teguk, awalnya memang merasa terbakar, namun rasa pedas itu akan segera sirna". Masalah memang harus dihadapi, diatasi, apa pun resikonya, bukan dibiarkan, didiamkan, dipeti-eskan. Selanjutnya dalam hal pengambilan keputusan atas masalah, sebaiknya kita pun paham bahwa salah satu penyebab sulitnya penyelesaian masalah, karena kita terlalu dekat dengan masalah, sehingga kita tidak dapat memahaminya secara objektif. Dengan mengambil jarak, kita akan memiliki perspektif yang benar dan komprehensif terhadap masalah. Maka, sebaiknya kita tidak pernah marah kalau pengambilan keputusan agak lama dari yang kita harapkan, sebab proses ideal sedang berlangsung. Yaitu, pengambil keputusan mengambil jarak agar keputusan lebih baik, lebih komprehensif dan membawa dampak kebaikan. Bukan keputusan yang hanya baik dalam sesaat. Jika masalah itu berada di dalam "kantong" kita, selama itu kita tetap akan mendapatkan kesulitan mengatasinya, karena masalah itu menyatu dengan diri kita. Jika kita berusaha "mengeluarkan masalah itu dari kantong kita", nah kita akan tahu, bahwa sesungguhnya masalah itu kecil atau besar. Saya teringat dengan ucapan Paul Hana dalam bukunya You Can Do It!, saat Daud menghadapi raksasa Goliath (Jaluth). Saudara-saudaranya mengatakan, "Ia terlalu besar untuk dihadapi", namun Daud dengan tegas mengatakan, "Tidak, ia terlalu besar untuk diabaikan!" Yang juga perlu diingat, sesulit apa pun, serumit apa pun masalah itu, pasti ada jalan keluarnya. Pasti ada cara untuk mengatasinya! Mari kita cari jalan keluar itu, atau kalau tidak kita ketemukan, kita bikin sendiri!

Selamat mengambil jarak untuk menghadapi atau mengatasi masalah!




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke