Sedikit tanggapan:
Ada perbedaan antara peristiwa tsunami, gempabumi, gunung meletus,
dll, dengan bencana Situ Gunung. Yang satu adalah murni bencana alam,
sedangkan yang terakhir ada (atau justru didominasi?) unsur kelalaian,
ketidak-pedulian dan ke-gaptek-an kita.
Jadi mustinya taubatnya bukan sekedar taubat dari kemaksiatan, tapi
juga 'taubat' dari sikap-sikap non-profesional tadi. Berikut saya
kutipkan artikel sbb.
Wallahu a'lam.

--amin

--------------------------------

Faktor Cuaca pada Bencana Situ Gintung

Benarkah faktor cuaca, yaitu tingginya intensitas curah hujan, menjadi
salah satu pemicu jebolnya tanggul Situ Gintung pada dini hari tanggal
27 Maret lalu?

Penulis melakukan analisis menggunakan citra satelit GMS MTSAT pada
tanggal 26 dan 27 Maret 2009 untuk mengetahui kondisi cuaca regional
dan radar cuaca program HARIMAU (Hydrometeorological ARray for
Intraseasonal Monsoon AUtomonitoring) Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) yang berlokasi di Puspiptek, Serpong, untuk
mengetahui kondisi cuaca lokal.

Jangkauan radar cuaca dapat memetakan curah hujan dan medan angin
dalam radius 200-250 kilometer dari lokasi radar dengan berbagai sudut
elevasi setiap 6 menit untuk semua sapuan.

Kondisi cuaca regional melalui pantauan satelit meteorologi
geostationer (GMS) tidak memberi indikasi fenomena ekstrem di wilayah
Indonesia pada saat itu. Konsentrasi awan konveksi terjadi secara
lokal di wilayah Jakarta pada siang sampai dengan sore hari pada
tanggal 26 Maret 2009.

Identifikasi lebih lanjut, faktor cuaca lokal dengan citra radar cuaca
BPPT dapat dianalisis terjadi dua tahapan fase curah hujan tinggi
cenderung ekstrem 80-100 milimeter per jam pada 26 Maret pukul
13.00-14.30 (1,5 jam) dengan luasan 15 km x 15 km dan pukul
16.00-pukul 19.30 (3,5 jam) dengan luasan 25 km x 25 km di wilayah
Situ Gintung dan sekitarnya.

Dengan demikian, terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi selama
lima jam, mulai siang hari pukul 13.00 sampai dengan malam hari pukul
19.30 (ada jeda 1,5 jam dari pukul 14.30 sampai dengan pukul 19.30).

Mekanisme apa yang menyebabkan konsentrasi curah hujan tinggi dan
berlangsung cukup lama, 5 jam, di wilayah Situ Gintung dan sekitarnya?
Rekaman medan angin radar cuaca BPPT menunjukkan sirkulasi lokal yang
membentuk rotasi siklonik terjadi di wilayah Situ Gintung dan
sekitarnya akibat konvergensi angin yang membawa uap air jenuh dari
Teluk Jakarta bertemu dengan angin timuran dari wilayah Jawa Tengah
dan angin tenggara dari wilayah Bogor/Puncak.

Kondisi di atas sangat kondusif untuk mempertahankan curah hujan
tinggi dalam durasi cukup lama mengingat awan konveksi cumulonimbus
(Cb) yang terjadi di wilayah Situ Gintung dan sekitarnya memiliki
ketebalan yang cukup-mencapai ketinggian 8 km menurut pantauan radar.

Muka air naik

Apabila dihitung volume air hujan yang jatuh khusus di lokasi Situ
Gintung dan memakai asumsi luasan situ saat ini 21,4 hektar (Kompas,
28 Maret 2009), perkiraan jumlah air yang masuk ke situ adalah 0,107
juta meter kubik. Dengan kapasitas situ sebesar 2,1 juta m3 dan
kedalaman 10 meter, dapat diketahui suplai air hujan yang langsung
masuk situ akan menaikkan muka air situ sebesar 51 sentimeter.

Belum diketahui berapa duga muka air (DMA) Situ Gintung sebelum
mendapat suplai langsung dari air hujan ini. Namun, kondisi iklim saat
ini masih dalam masa peralihan dari musim hujan sehingga kondisi DMA
diperkirakan masih cukup tinggi. Penambahan muka air 51 cm dapat
diduga menjadi salah satu pemicu jebolnya tanggul Situ Gintung.

Hal tersebut dapat diketahui dari skenario runtuhnya tanggul yang
memerlukan waktu 7-8 jam setelah akumulasi curah hujan tinggi di
wilayah itu.

Kenaikan muka air akan memberi beban berlebih pada tanggul saluran
buang (spillway) dan memicu kerusakan yang lebih parah, misalnya
apabila terjadi keretakan pada struktur material tanggul, air dengan
mudah menyusup masuk dan memberikan tekanan lebih besar lagi. Pada
kondisi normal, tanggul ini semestinya dapat menahan beban air yang
ada.

Peta risiko bencana

Bencana Situ Gintung semestinya menjadi pelajaran sangat berharga bagi
kita semua. Pelajaran bahwa masyarakat sekitar wilayah Situ Gintung
telah hidup berdampingan dengan maut selama bertahun-tahun tanpa
disadari karena pemerintah tidak menyediakan peta risiko bencana di
wilayah tersebut. Demikian juga pelajaran betapa kurangnya perhatian
instansi terkait memeriksa kondisi situ (kekuatan konstruksi tanggul,
apakah ada yang retak, pemasangan alat ukur duga muka air, dan
sebagainya).

Peringatan dini

Mengingat jumlah situ yang cukup banyak di wilayah Jabodetabek dan
juga dapat memberikan ancaman serupa (lokasi situ umumnya dikelilingi
pemukiman padat), maka kebutuhan sebuah sistem peringatan dini
keselamatan situ merupakan hal yang mendesak saat ini.

Sistem pemantauan langsung menggunakan radar cuaca dan pengukur
perubahan tinggi muka air dapat dijadikan sistem peringatan dini
keselamatan situ di wilayah Jabodetabek.

Dengan radar cuaca dapat diketahui fenomena cuaca ekstrem (dalam hal
ini curah hujan tinggi dengan durasi lama yang terjadi pada suatu
situ) yang berpotensi pada bencana limpasan air (overtopping) dan
jebolnya tanggul penyangga. Pengukur ketinggian muka air dapat
dijadikan indikator nilai kritis yang berpotensi bencana.

Namun, sebelum itu perlu segera dilakukan perhitungan kerentanan situ
(dari aspek geologis kelabilan tanah yang berpotensi pada longsor);
kekuatan konstruksi tanggul menahan beban air dan yang terpenting lagi
apakah dalam kondisi yang baik, tidak retak? Keretakan akan memudahkan
air masuk dan menyebabkan longsoran dan sebagainya) di seluruh wilayah
Jabodetabek. Informasi ini dapat dijadikan rujukan untuk menghitung
ambang kritis (critical threshold) sebuah situ menampung air hujan.

Mengingat fasilitas pemantauan radar cuaca saat ini sudah operasional,
diharapkan instansi terkait dalam pembuatan sistem peringatan dini
keselamatan situ dapat segera diwujudkan dalam waktu yang singkat,
agar bencana serupa yang terjadi di Situ Gintung tidak terulang pada
masa mendatang.

Oleh: Fadli Syamsudin Perekayasa Madya Bidang Teknologi Kebumian dan
Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Sumber: cetak.kompas.com


Pada 2 April 2009 09:56, Agus Rasidi <[email protected]> menulis:
> Mendengar Nasihat Situ Gintung
>
> Selasa, 31 Maret 2009 08:12

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke