Pertanyaan saya: yang dimaksud "bicara" adalah semata-mata dengan
lisan, atau juga berarti tulisan?
Bukankah banyak kasus terjadi akibat bicara melalui "tulisan", bahkan
yang via cyberspace?

--amin

Pada 10 Juli 2009 10:12, jaerony<[email protected]> menulis:
> BICARA BAIK ATAU DIAM
>
> Allah SWT menciptakan nikmat lisan sebagai sarana beribadah. Dengan lisan,
> manusia diperintahkan menyampaikan kebaikan, saling menasihati dalam
> kebenaran, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
>
> Jika nikmat ini tak dapat difungsikan dengan baik, tapi justru digunakan
> untuk menggunjing, memfitnah, berkata kasar, memaki, memecah belah, dan
> lainnya, maka diam adalah pilihan paling tepat sebagaimana perintah
> Rasulullah SAW. ''Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka
> hendaklah berbicara dengan baik atau diam.''
>
> Lisan laksana pisau bermata dua. Ia bisa membawa manfaat yang besar, tapi
> juga bisa menimbulkan mafsadat sangat dahsyat. Ketika Rasulullah SAW ditanya
> apa yang paling ditakuti pada umatnya, Nabi SAW menunjuk lisannya seraya
> berkata, ''Inilah (yang paling aku takuti).''
>
> Begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan lisan, Rasulullah SAW mengajarkan
> umatnya agar menjaga lisan dengan cara diam, kecuali pembicaraan yang
> membawa maslahat. Diam adalah benteng bagi lidah manusia dari perkataan
> sia-sia.
>
> Banyak hikmah yang dapat dipetik dari sikap diam. Diam adalah ibadah tanpa
> mengeluarkan tenaga, perhiasan tanpa harus berhias, kharisma tanpa diminta,
> kerajaan tanpa singgasana, benteng tanpa pagar, istirahat bagi kedua
> malaikat pencatat amal, dan penutup segala aib.
>
> Rasulullah SAW pernah mengajarkan bahwa ada dua amal ibadah yang paling
> mudah dilakukan manusia, yaitu diam dan budi pekerti yang baik. Rasul SAW
> juga mengabarkan kebanyakan manusia masuk neraka disebabkan dua hal: lisan
> dan kemaluan.
>
> Para sahabat dan ulama terdahulu telah memberikan teladan tentang bagaimana
> menjaga lisan dari perkataan sia-sia dengan diam. Abu Bakar RA sampai
> meletakkan kerikil di dalam lisannya karena khawatir telanjur mengeluarkan
> kata-kata tidak berguna.
>
> Ketika ditanya, beliau menjawab sambil menunjuk lisannya, ''Inilah yang
> menjerumuskan aku pada jurang kecelakaan.'' Selama 40 tahun, Manshur bin
> Mu'taz tidak pernah berbicara setelah Isya. Rabi' bin al-Khaitsam tidak
> pernah melakukan pembicaraan tentang urusan dunia selama 20 tahun.
>
> Setiap pagi, beliau selalu meletakkan pena dan kertas di sampingnya dan
> menulis setiap perkataan yang keluar dari lisannya. Sore harinya, beliau
> memeriksa tulisan itu, lalu melakukan introspeksi diri. Selanjutnya meminta
> ampun kepada Allah SWT. (HMA-Rep)
>

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke