Sepertinya termasuk dalam bentuk tulisan kalo jaman skarang pak...
Tapi banyak yang menafsirkan salah perintah Rasulullah di bawah, sehingga lebih 
berat ke DIAM, alias gak mau nulis apapun di milis, karena takut salah, takut 
gak manfaat dll.
Menurut saya, sekiranya suatu tulisan itu manfaat bagi orang banyak, akan jauh 
lebih baik nulis di milis daripada cuman pasif.. apabila ternyata ada yang 
menganggap tulisan itu salah dll, itu lebih baik daripada gak pernah nulis sama 
sekali, karena penulisnya akan mendapat masukan / kritik yang bermanfaat bagi 
penulisnya.
Intinya, lebih baik melakukan tapi salah daripada tidak melakukan apapun alias 
diam.
Diam, menurut saya lebih baik jika ingin menghindarkan diri dari perdebatan 
yang tidak bermanfaat dan malah bikin sakit hati ato malah kehilangan teman, 
saya sendiri hampir tiap hari menahan tangan untuk tidak menanggapi tulisan di 
milis/facebook dll walaupun sbenarnya saya gemes untuk menanggapi.Mungkin 
hadits ini ada kaitannya :

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia 
benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun 
dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” 
(HR Abu Daud)

Lana's


--- On Fri, 7/10/09, amin widada <> wrote:

> From: amin widada <>
> Subject: Re: [Ar-Royyan-9076] Mimbar Jum'at: Bicara Baik atau Diam
> To: [email protected]
> Date: Friday, July 10, 2009, 12:37 AM
> Pertanyaan saya: yang dimaksud
> "bicara" adalah semata-mata dengan
> lisan, atau juga berarti tulisan?
> Bukankah banyak kasus terjadi akibat bicara melalui
> "tulisan", bahkan
> yang via cyberspace?
> 
> --amin
> 
> Pada 10 Juli 2009 10:12, jaerony<>
> menulis:
> > BICARA BAIK ATAU DIAM
> >
> > Allah SWT menciptakan nikmat lisan sebagai sarana
> beribadah. Dengan lisan,
> > manusia diperintahkan menyampaikan kebaikan, saling
> menasihati dalam
> > kebenaran, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
> >
> > Jika nikmat ini tak dapat difungsikan dengan baik,
> tapi justru digunakan
> > untuk menggunjing, memfitnah, berkata kasar, memaki,
> memecah belah, dan
> > lainnya, maka diam adalah pilihan paling tepat
> sebagaimana perintah
> > Rasulullah SAW. ''Barangsiapa yang beriman kepada
> Allah dan Hari Akhir, maka
> > hendaklah berbicara dengan baik atau diam.''
> >
> > Lisan laksana pisau bermata dua. Ia bisa membawa
> manfaat yang besar, tapi
> > juga bisa menimbulkan mafsadat sangat dahsyat. Ketika
> Rasulullah SAW ditanya
> > apa yang paling ditakuti pada umatnya, Nabi SAW
> menunjuk lisannya seraya
> > berkata, ''Inilah (yang paling aku takuti).''
> >
> > Begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan lisan,
> Rasulullah SAW mengajarkan
> > umatnya agar menjaga lisan dengan cara diam, kecuali
> pembicaraan yang
> > membawa maslahat. Diam adalah benteng bagi lidah
> manusia dari perkataan
> > sia-sia.
> >
> > Banyak hikmah yang dapat dipetik dari sikap diam. Diam
> adalah ibadah tanpa
> > mengeluarkan tenaga, perhiasan tanpa harus berhias,
> kharisma tanpa diminta,
> > kerajaan tanpa singgasana, benteng tanpa pagar,
> istirahat bagi kedua
> > malaikat pencatat amal, dan penutup segala aib.
> >
> > Rasulullah SAW pernah mengajarkan bahwa ada dua amal
> ibadah yang paling
> > mudah dilakukan manusia, yaitu diam dan budi pekerti
> yang baik. Rasul SAW
> > juga mengabarkan kebanyakan manusia masuk neraka
> disebabkan dua hal: lisan
> > dan kemaluan.
> >
> > Para sahabat dan ulama terdahulu telah memberikan
> teladan tentang bagaimana
> > menjaga lisan dari perkataan sia-sia dengan diam. Abu
> Bakar RA sampai
> > meletakkan kerikil di dalam lisannya karena khawatir
> telanjur mengeluarkan
> > kata-kata tidak berguna.
> >
> > Ketika ditanya, beliau menjawab sambil menunjuk
> lisannya, ''Inilah yang
> > menjerumuskan aku pada jurang kecelakaan.'' Selama 40
> tahun, Manshur bin
> > Mu'taz tidak pernah berbicara setelah Isya. Rabi' bin
> al-Khaitsam tidak
> > pernah melakukan pembicaraan tentang urusan dunia
> selama 20 tahun.
> >
> > Setiap pagi, beliau selalu meletakkan pena dan kertas
> di sampingnya dan
> > menulis setiap perkataan yang keluar dari lisannya.
> Sore harinya, beliau
> > memeriksa tulisan itu, lalu melakukan introspeksi
> diri. Selanjutnya meminta
> > ampun kepada Allah SWT. (HMA-Rep)
> >
> 
> ------------------------------------------------------------------
> - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong
> 16913 -
> - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
> -
> 
> Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh
> sembilan nama, 
> seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia
> masuk surga.
> (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama
> itu) (HR. Bukhari)
> 
> 




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke