Tambahan (dari HaditsWeb ) Hadits Arbain (hadits ke 12)
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim) Kedudukan Hadits Hadits ini merupakan hadits yang penting dalam bidang adab. Makna hadits ini telah tercakup di dalam hadits ke-12. Hak Alloh Dan Hak Hamba Pada hadits di atas menunjukkan ada 2 hak yang harus ditunaikan, yaitu hak Alloh dan hak hamba. Penunaian hak Alloh porosnya ada pada senantiasa merasa diawasi oleh Alloh. Di antara hak Alloh yang paling berat untuk ditunaikan adalah penjagaan lisan. Adapun penunaian hak hamba, yaitu dengan memuliakan orang lain. Menjaga Lisan Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik. Berkata baik terkait dengan 3 hal, seperti tersebut dalam surat An-Nisa’: 114, yaitu perintah bershadaqoh, perintah kepada yang makruf atau berkata yang membawa perbaikan pada manusia. Perkataan yang di luar ketiga hal tersebut bukan termasuk kebaikan, namun hanya sesuatu yang mubah atau bahkan suatu kejelekan. Pada menjaga lisan ada isyarat menjaga seluruh anggota badan yang lain, karena menjaga lisan adalah yang paling berat. Memuliakan Orang Lain Memuliakan berarti melakukan tindakan yang terpuji yang bisa mendatangkan kemuliaan bagi pelakunya. Dengan demikian memuliakan orang lain adalah melakukan tindakan yang terpuji terkait dengan tuntutan orang lain. Batasan Tetangga Dan Tamu Tetangga menurut syariat adalah sesuai dengan pengertian adat, artinya kapan secara adat dinilai sebagai tetangga maka dinilai sebagai tetangga juga oleh syariat. Kaidah menyatakan semua istilah yang ada dalam syariat dan tidak ada batasannya secara syariat dan bahasa maka pengertiannya dikembalikan kepada adat. Batasan tamu yang wajib diterima dan dilayani adalah jika dia tidak memiliki kemampuan untuk mencari tempat untuk tinggal atau untuk makan. Jika mampu maka hukumnya sunnah. Adapun batasan lamanya adalah 1 hari 1 malam, sempurnanya 3 hari 3 malam. Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi - Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh - http://muslim.or.id Penyusun: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya) ----- Original Message ----- From: "lana sularto" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, July 11, 2009 9:56 PM Subject: Re: [Ar-Royyan-9076] Mimbar Jum'at: Bicara Baik atau Diam Sepertinya termasuk dalam bentuk tulisan kalo jaman skarang pak... Tapi banyak yang menafsirkan salah perintah Rasulullah di bawah, sehingga lebih berat ke DIAM, alias gak mau nulis apapun di milis, karena takut salah, takut gak manfaat dll. Menurut saya, sekiranya suatu tulisan itu manfaat bagi orang banyak, akan jauh lebih baik nulis di milis daripada cuman pasif.. apabila ternyata ada yang menganggap tulisan itu salah dll, itu lebih baik daripada gak pernah nulis sama sekali, karena penulisnya akan mendapat masukan / kritik yang bermanfaat bagi penulisnya. Intinya, lebih baik melakukan tapi salah daripada tidak melakukan apapun alias diam. Diam, menurut saya lebih baik jika ingin menghindarkan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat dan malah bikin sakit hati ato malah kehilangan teman, saya sendiri hampir tiap hari menahan tangan untuk tidak menanggapi tulisan di milis/facebook dll walaupun sbenarnya saya gemes untuk menanggapi.Mungkin hadits ini ada kaitannya : “Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud) Lana's --- On Fri, 7/10/09, amin widada <> wrote: > From: amin widada <> > Subject: Re: [Ar-Royyan-9076] Mimbar Jum'at: Bicara Baik atau Diam > To: [email protected] > Date: Friday, July 10, 2009, 12:37 AM > Pertanyaan saya: yang dimaksud > "bicara" adalah semata-mata dengan > lisan, atau juga berarti tulisan? > Bukankah banyak kasus terjadi akibat bicara melalui > "tulisan", bahkan > yang via cyberspace? > > --amin > > Pada 10 Juli 2009 10:12, jaerony<> > menulis: > > BICARA BAIK ATAU DIAM > > > > Allah SWT menciptakan nikmat lisan sebagai sarana > beribadah. Dengan lisan, > > manusia diperintahkan menyampaikan kebaikan, saling > menasihati dalam > > kebenaran, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. > > > > Jika nikmat ini tak dapat difungsikan dengan baik, > tapi justru digunakan > > untuk menggunjing, memfitnah, berkata kasar, memaki, > memecah belah, dan > > lainnya, maka diam adalah pilihan paling tepat > sebagaimana perintah > > Rasulullah SAW. ''Barangsiapa yang beriman kepada > Allah dan Hari Akhir, maka > > hendaklah berbicara dengan baik atau diam.'' > > > > Lisan laksana pisau bermata dua. Ia bisa membawa > manfaat yang besar, tapi > > juga bisa menimbulkan mafsadat sangat dahsyat. Ketika > Rasulullah SAW ditanya > > apa yang paling ditakuti pada umatnya, Nabi SAW > menunjuk lisannya seraya > > berkata, ''Inilah (yang paling aku takuti).'' > > > > Begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan lisan, > Rasulullah SAW mengajarkan > > umatnya agar menjaga lisan dengan cara diam, kecuali > pembicaraan yang > > membawa maslahat. Diam adalah benteng bagi lidah > manusia dari perkataan > > sia-sia. > > > > Banyak hikmah yang dapat dipetik dari sikap diam. Diam > adalah ibadah tanpa > > mengeluarkan tenaga, perhiasan tanpa harus berhias, > kharisma tanpa diminta, > > kerajaan tanpa singgasana, benteng tanpa pagar, > istirahat bagi kedua > > malaikat pencatat amal, dan penutup segala aib. > > > > Rasulullah SAW pernah mengajarkan bahwa ada dua amal > ibadah yang paling > > mudah dilakukan manusia, yaitu diam dan budi pekerti > yang baik. Rasul SAW > > juga mengabarkan kebanyakan manusia masuk neraka > disebabkan dua hal: lisan > > dan kemaluan. > > > > Para sahabat dan ulama terdahulu telah memberikan > teladan tentang bagaimana > > menjaga lisan dari perkataan sia-sia dengan diam. Abu > Bakar RA sampai > > meletakkan kerikil di dalam lisannya karena khawatir > telanjur mengeluarkan > > kata-kata tidak berguna. > > > > Ketika ditanya, beliau menjawab sambil menunjuk > lisannya, ''Inilah yang > > menjerumuskan aku pada jurang kecelakaan.'' Selama 40 > tahun, Manshur bin > > Mu'taz tidak pernah berbicara setelah Isya. Rabi' bin > al-Khaitsam tidak > > pernah melakukan pembicaraan tentang urusan dunia > selama 20 tahun. > > > > Setiap pagi, beliau selalu meletakkan pena dan kertas > di sampingnya dan > > menulis setiap perkataan yang keluar dari lisannya. > Sore harinya, beliau > > memeriksa tulisan itu, lalu melakukan introspeksi > diri. Selanjutnya meminta > > ampun kepada Allah SWT. (HMA-Rep) > > > > ------------------------------------------------------------------ > - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong > 16913 - > - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com > - > > Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh > sembilan nama, > seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia > masuk surga. > (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama > itu) (HR. Bukhari) > > ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari) ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

