From: [EMAIL PROTECTED]

PERSEPULUHAN

Ada berita mengejutkan dimana ada pendeta di suatu gereja yang mewajibkan 
jemaatnya memberikan persepuluhan dan menuntut 40%-nya diberikan kepadanya 
dengan alasan seharusnya ia menerima 110%, karena bani Israel yang tinggal 11 
suku mempersembahkan 11X10% menjadi 110% kepada imam Lewi! Praktek persepuluhan 
yang disalah-gunakan oleh para pendeta tertentu banyak terjadi, ada pendeta 
yang mengingatkan jemaatnya bahwa mereka tidak akan dilayani bila tidak 
memberikan
persepuluhan, ada yang meminta lihat pembukuan usaha anggota jemaatnya
apakah sudah memberikan persepuluhan atau belum. Di sebuah desa ada pendeta 
yang ikut mengantar transaksi jual beli sapi anggotanya dan langsung meminta 
10% uang penjualan itu, bahkan ada pendeta yang mengumumkan bahwa bila jemaat 
memberikan persepuluhan maka itu memutihkan cara-cara apapun yang dipakai untuk 
mendapatkan uang yang dipotong itu (money laundering).

Banyak lagi cerita-cerita miring soal praktek persepuluhan yang sudah 
dikomersialkan dan dijadikan alat pemerasan oleh pendeta di gereja tertentu. 
Namun, apakah dengan adanya praktek yang keliru lalu kita tidak lagi perlu 
memberi persepuluhan? Ataukah bahwa persepuluhan itu memang bukan praktek 
diluar komunitas Israel?

Praktek persepuluhan sudah kelihatan jejaknya sejak masa Abraham seiring dengan 
upacara kurban yang merupakan praktek kuno Ibrani untuk menjalin hubungan 
dengan Allah melalui persembahan kepada 'Imam' sebagai pejabat perantara, dan 
yang kemudian dilembagakan dalam ketentuan Torat yang dikaitkan dengan rumah 
Tuhan dan jabatan ke-Imam-an (Kel.29/Bil.18/Ibr.8:1-4) pada masa Musa. Abraham 
memberi kan persepuluhan kepada imam Malkisedek (Kej.14:18-19), karena imam 
dikhususkan untuk pelayanan agama, dan kemudian diberikan kepada bani Lewi 
(Bil.18:21;Ibr.7:4-5) karena mereka tidak menerima warisan.
Persepuluhan merupakan bagian dari sistem agama Ibrani kuno yang terkait 
'Kurban dan Persembahan' dengan maksud untuk menjalin kembali hubungan dengan 
Tuhan, sebagai persembahan yang berbau harum, sebagai pengakuan dosa dan salah, 
dan untuk menyenangkan hati Allah (Kej.4:3-4;8:20;Kel.29:25, band. 
Mal.3:3-4,6-12). Dan perlu disadari bahwa dalam sistem kurban dan persembahan 
PL, persepuluhan dikumpulkan oleh imam Lewi dan disimpan dalam ruang 
perbendaharan di rumah Tuhan (Neh.10:37-38;2Taw.31:11-12), dan diberikan untuk 
menghidupi para imam
dan juga dibagikan kepada orang asing, anak yatim dan janda-janda 
(Ul.14:28-29), dan pemeliharaan rumah Tuhan.

Upacara kurban dan persembahan yang merupakan ungkapan pertobatan dan iman PL 
itu merosot hanya menjadi upacara lahir tanpa diiringi hati yang menyesal, 
bertobat, adil dan berbelas kasihan, dalam hal ini kurban dan persembahan itu 
tidak ada artinya di hadapan Allah (Kej.4:5) apalagi kalau pelaku berbuat jahat 
(Am.4:4). Kelihatannya sistem kurban dan persembahan telah menjadi upacara 
lahir tanpa disertai motivasi hati yang benar dan hormat serta mendengarkan 
firman Tuhan (1Sam.15:22) atau tidak menjalankan kasih setia (Hos.6:6) dan 
keadilan (Am.5:21-24; band.Mat.23:23). Korban persembahan yang benar dilakukan 
dengan pertobatan dan jiwa yang hancur (Mzm.51:18-19;Mikh.6:6-8).

Lalu bagaimana dengan ayat Maleachi 3:10? Kitab Maleakhi ditujukan pada umat 
Israel (1:1;3:6) yang telah mencemarkan korban dan para imam menghina Tuhan, 
itulah sebabnya Tuhan tidak senang dalam menerima persembahan mereka (1:10). 
Fasal-2 menunjukkan murka Tuhan kepada para imam yang nota bena menerima korban 
dan persembahan termasuk persepuluhan, sebab sekalipun tugas mereka menjadi 
perantara firman Tuhan ternyata mereka menyimpang (2:7-8). Kitab Maleakhi juga 
menyalahkan umat Israel karena kawin campur dengan bangsa lain, jadi sifatnya 
ibadat lahir (2:10-16) dan mereka akan dihukum, namun tujuan Tuhan adalah untuk 
menyucikan umat Israel lahiriah agar mereka menjadi orang-orang yang tidak 
menyalah gunakan kurban dan persembahan melainkan melayani Tuhan. Kita melihat 
antara lain penyalahgunaan persepuluhan oleh para imam sehingga para orang 
upahan, janda dan yatim piatu, dan orang asing menjadi tertindas, padahal 
maksud persepuluhan antara lain adalah untuk memberi mereka kesejahteraan.
Karena itulah Fasal-3 mengingatkan kembali mereka agar persepuluhan tidak 
disalahgunakan, karena itu berarti menipu dan mencuri milik Tuhan, melainkan 
mengumpulkannya dalam rumah perbendaharaan (3:10), dan bila itu terjadi maka 
berkat Tuhan akan dikucurkan kembali kepada umat Israel.

Dalam Perjanjian Baru Yesus dan para Rasul tidak mengajarkannya dan PB tidak 
lagi berbicara mengenai 'Israel secara lahir' melainkan Israel rohani. Demikian 
juga ibadat lahir dengan 'kurban dan persembahan' yang berpusat sekitar 'Taurat 
dan Bait Allah' dan dipimpin oleh 'para Imam' telah digantikan dalam PB. Dalam 
PB ibadat tidak berkisar Taurat dan Bait Allah, sekalipun pada awal pelayanan 
umat Kristen masih ada
yang hadir di bait Allah, ritus kurban dan persembahan sudah digantikan oleh 
'darah Yesus sendiri' itulah sebabnya dalam PB juga tidak lagi ada jabatan 
Imam, dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah 
perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan 'Injil kasih' (ritus 
basuhan, sunat, dan sabat juga
tidak lagi diajarkan dalam PB).

Umat Kristen perlu menghayati dengan benar arti Injil Anugerah Perjanjian Baru 
yang berbeda dengan Perjanjian Lama (Yer.31:31-33;Yeh.36:26-27;11:19-20) dimana 
Yesus Kristus dan Roh Kudus sangat berperan (Gal.3:10-14). Taurat adalah 
penuntun sampai
Kristus datang supaya kita dibenarkan bukan karena perbuatan kurban dan 
persembahan tetapi 'karena iman' (Gal.3:15-29;Ibr.8:8-13;9:9-10;10:9-10):

Jadi Perjanjian Baru telah melakukan pembaharuan dari Ibadat Insani (lahiriah) 
kepada Ibadat Hati Nurani (batiniah). (Ibr.9:9-10), dan sistem kurban dan 
persembahan PL telah digantikan oleh persembahan diri Kristus, sang Domba 
Paskah itu (Ibr.10:8-10). Yesus Kristus bukan saja menjadi kurban itu sendiri, 
tetapi ia menjadi 'Imam Besar Perjanjian Baru' (Ibr.4:14-5:10;8:1-13;9:11-28) 
dan menggantikan fungsi keimaman Harun dan orang Lewi (Ibr.7:11-28). Dalam PB 
tidak ada lagi jabatan imam dan konsep rumah Tuhan juga berubah, itu berarti 
bahwa sistem korban dan persembahan juga telah berubah. Jadi, persepuluhan yang 
menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan
yang dikaitkan dengan jabatan keimaman dan bait Allah juga sudah berubah!

Tetapi, bukankah Yesus mengajarkan juga persepuluhan dalam Mat.23:23 &
Luk.11:37-54? Ketika Yesus menyinggung soal persepuluhan, konteksnya berbicara 
mengenai 'percakapannya dengan orang Farisi' yang menekankan perbuatan lahir 
torat (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, belas kasihan dan 
kesetiaan, dan pada saat itu Tuhan Yesus belum melaksanakan tugas penebusannya 
(jadi ia belum menjadi domba paskah dan Imam Besar PB) dan kata-kata itu 
ditujukan kepada orang Farisi.
Dalam awal pelayanannya Yesus tidak secara radikal melakukan pembaharuan, ia 
masih disunat dan melakukan adat basuhan sesuai Torat namun berangsur-angsur ia 
menggeser hukum Taurat kepada hukum Kasih.
Dalam Kotbah di Bukit (Mat.5), Yesus menggeser ibadat lahir Taurat kepada 
ibadat batin Injil, seperti soal persembahan (ayat-23), zinah (27-32), sumpah 
(33-37), pembalasan (38-39), peminta & peminjam (40-42), dan menggesernya 
kepada kesempurnaan hukum Kasih (43-48). Di bagian lain Yesus sudah tidak 
membenarkan orang farisi yang melakukan persembahan persepuluhan (Luk.18:9-14).

Yesus tidak pernah mengajarkan persepuluhan kepada murid-muridNya, demikian 
juga para murid tidak mengajarkannya. Kitab Ibrani justru memberikan gambaran 
yang jelas bahwa dalam Perjanjian Lama, manusia-manusia yang fana menerima 
persepuluhan (untuk kehidupan mereka), tetapi Yesus (yang adalah domba Paskah 
dan Imam Besar) tidak lagi membutuhkannya karena 'Ia Hidup' dan lebih tinggi 
derajatnya dari Abraham (Ibr.7:1-10), karena itu persembahan kepada Yesus 
adalah persembahan kepada sesama manusia terutama mereka yang terlebih hina 
daripada kita (Mat.25:31-46).

Ritus kurban & persembahan telah dihapuskan oleh Yesus yang menjadi pengantara 
Perjanjian Baru, namun kurban dan persembahan itu kini berubah menjadi kurban & 
persembahan yang bersifat batin dalam bentuk keadilan, kesetiaan dan belas 
kasihan. Kita tidak lagi bermegah akan hal-hal yang bersifat lahiriah 
(1Kor.5:11-21), persembahan perjanjian baru bukan lagi persembahan secara 
Torat, tetapi buah-buah kasih yang keluar dari hati yang telah menerima kasih 
karunia Allah (Mat.13:23; Efs.2:8-10). Persembahan umat Kristen bukan lagi 
dalam bentuk persepuluhan tetapi merupakan buah kasih yang keluar dari hati 
yang dibenarkan Allah. Mereka yang telah beriman dan bertobat akan hidup dalam 
mengasihi sesamanya dengan harta mereka
(Kis.2:44-45;4:34-35;Mat.35:31-46;Luk.18:22) dan menyisihkan dengan teratur 
persembahan sesuai dengan yang diperoleh (1Kor.16:1-2;Gal.6:6) untuk pelayan 
dan pelayanan firman serta kasih.

Persembahan Perjanjian Baru bukan agar mendapat (seperti kurban dan persembahan 
PL) tetapi buah yang keluar dari hati yang telah diperbaharui, dan diberikan 
bukan dengan paksaan atau kewajiban tetapi dengan kerelaan dan sukacita 
(2Kor.9:7) dengan tujuan untuk menghindarkan kesenjangan dalam bentuk pelayanan 
kasih (Kis.4:34-35;2Kor.8:1-15). Pemberian Kristen adalah perwujudan kasih 
Allah dalam diri kita (Mat.22:37-40;1Yoh.3:17).

Lalu berapa persembahan Kristen yang tepat? Perjanjian Baru tidak menentukan 
hal ini, ada yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Zakheus, 
Luk.9:8) bahkan ada yang memberikan seluruh nafkahnya (Mar.12:41-44), Yang 
jelas buah-buah kasih tidak menentukan persentasi tertentu (Kis.2:45;4:36-37), 
bahkan berbeda dengan sistem PL dimana persepuluhan itu lebih banyak 
dimanfaatkan oleh para imam tetapi mengabaikan para janda, yatim piatu, orang 
upahan, dan orang asing seperti yang diceritakan dalam kitab Maleakhi, PB 
banyak bercerita mengenai pemberian yang sifatnya untuk orang miskin 
(Luk.18:18-27) dan para rasul mengorbankan diri dan harta mereka sebagai contoh.

Berbeda dengan ibadat PL yang bersifat lahir yang berpusat di Bait Allah dan 
dilaksanakan oleh perantara para Imam, jadi sifatnya sentripetal (memusat), 
ibadat PB sifatnya sentrifugal (menjauhi pusat), artinya sebagai buah-buah 
kasih yang dibagikan kepada sesama manusia. Ini dengan jelas digambarkan oleh 
rasul Yohanes dalam
suratnya, yaitu didasarkan: 
(1) kesediaan berkorban seperti Kristus yang telah berkorban untuk kita; 
(2) kepekaan lingkungan, yaitu peka terhadap kebutuhan rohani dan jasmani 
sesamanya; dan 
(3) kepedulian sosial dengan membagikan harta kita kepada sesama kita 
(1Yoh.3:16-18).

Persembahan yang benar digambarkan oleh rasul Paulus sebagai berikut:

"Karena itu saudara-saudara, dengan kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, 
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus 
dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu 
menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, 
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang 
berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Rom.12:1-2).

Jadi, persembahan Kristen yang benar adalah kesadaran bahwa seluruh tubuh dan 
harta kita adalah milik Tuhan, maka kita harus menjadikannya sebagai alat 
menyatakan buah-buah kasih kepada gereja, persekutuan, pelayanan kristen, dan 
menolong sesama kita yang berkekurangan, itulah persembahan kita kepada Tuhan. 
Yesus berfirman:

"kasihilah Tuhan. Allahmu, dengan seganap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan 
dengan segenap akal budimu … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu 
sendiri." (Mat.22:37-39).

"sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari 
saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Mat.25:40).

Akhirnya, kalau begitu bolehkah umat Kristen memberikan persembahan 
persepuluhan? Tidak ada larangan bagi mereka yang ingin menyisihkan suatu 
bagian tetentu secara teratur bila itu dilakukan sebagai ungkapan buah kasih 
dari iman yang bersyukur. Namun, bila umat Kristen yang hidup dalam iman dan 
anugerah Allah PB masih melakukan persembahan persepuluhan menurut tatacara 
Yahudi PL sebagai kewajiban torat apalagi kalau disertai dengan motivasi 
mengharapkan tingkap-tingkap langit terbuka agar mendatangkan berkat kelimpahan 
baginya, jelas dengan demikian ia melecehkan arti penebusan darah Yesus di kayu 
salib, seakan-akan penebusan Yesus belum tuntas melainkan harus ditambahi 
dengan usaha baik manusia, dan menjadikan berkat Tuhan sebagai hasil usaha 
manusia yang memberi persembahan.

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke