|
From: Ign.Sumarya SJ
Setiap orang yang mau mengikut Aku harus memikul salibnya (Nah 1:15;2:2; 3:1-3.6-7; Mat 16: 24-28) Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamat kan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya. (Mat 16:24-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Klara hari ini saya sampaikan catatan sederhana sebagai berikut: · Orang yang bertindak nekad pada umumnya dinilai kurangajar atau tidak bermoral, tetapi berbeda dengan yang dilakukan oleh Klara. Sebagai seorang gadis ia nekad untuk menjadi biarawati meskipun dihalang-halangi atau dilarang keras oleh orangtuanya, bahkan apa yang ia lakukan diikuti oleh adiknya bernama Agnes juga berkehendak untuk menjadi biarawati. Dengan kenekadannya itu ia boleh dikatakan kehilangan nyawanya, namun kemudian memperolehnya kembali. Ia meninggalkan orangtuanya karena panggilan Tuhan untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dengan hidup tidak menikah, menjadi biarawati. Kehendak Tuhan memang dapat melebihi atau mengalahkan kehendak orangtua, apalagi jika kehendak orangtua tidak selaras atau tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka pada pesta St.Klara hari ini marilah kita mawas diri: sejauh mana kita setia mengikuti kehendak Tuhan, antara lain dengan menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti kehendak Tuhan. Memikul salib kita sendiri berarti setia dan taat pada panggilan atau tugas perutusan yang dibebankan kepada kita. Apa yang menjadi panggilan atau tugas perutusan kita masing-masing pada saat ini? Jika kita berkeluarga, sebagai suami-isteri marilah kita setia dan taat pada janji kita untuk senantiasa saling mengasihi baik untung maupun malang, jika kita seorang imam marilah kita taat dan setia menghayati kaul kemurnian maupun ketaatan serta hidup sederhana, dan jika kita adalah religius marilah kita setia pada kharisma pendiri maupun kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Dengan setia dan taat pada panggilan dan tugas perutusan kiranya kita akan dapat menikmati kebahagiaan sejati atau Anak Manusia yang merajai kita. Memang untuk menghayati kesetiaan maupun ketaatan kita tidak akan terlepas dari salib atau penyangkalan diri terus-menerus, tetapi ingatlah bahwa jalan salib adalah jalan menuju ke kebahagiaan atau kemuliaan sejati. · Aku akan melemparkan barang keji ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan.Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: "Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia? (Nah 3:6-7). Kata-kata ini terarah pada kota Ninive, yang disebut sebagai kota penumpah darah alias kota yang penuh noda-dosa dan kejahatan. Rasanya kata-kata yang senada atau sama juga terarah pada siapapun yang hidupnya penuh noda-dosa, jahat atau tak bermoral. Bagaimana dengan hidup dan cara bertindak kita? Apakah kita juga hidup seenaknya tanpa aturan, masa bodoh terhadap panggilan dan tugas perutusan kita, sehingga suasana dan keberadaan kita kacau-balau? Kita juga merasa ditinggalkan atau dibiarkan oleh teman-teman, sahabat dan kenalan? Jika memang keberadaan kita demikian adanya, marilah kita bertobat atau memperbaiki diri, tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaiki diri. Dengan mengakui kelemahan, kerapuhan, kelalaian atau kendablegan kita dan kemudian bertobat kiranya lebih mulia dan terhormat daripada kita tidak berbuat apa-apa alias membiarkan diri terus menerus dalam kekacauan atau ketidak-teraturan hidup. Sekali lagi di sini saya sharingkan ajakan dan kesadaran rekan-rekan Yesuit yang berkumpul dalam Konggregasi Jendral 32 di mana mengakui dan menyadari bahwa Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dulu. Kesadaran dan penghayatan sebagai pendosa identik dengan kesadaran dan pengahayatan beriman. Hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya; apabila dilihat-Nya (Ul 32:35cd-36ab) Jakarta, 11 Agustus 2006 ====================================================
From: Ign.Sumarya SJ
"Hai orang yang kurang percaya mengapa engkau bimbang?" (Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36) Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. (Mat 14:22-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan St.Dominikus, Imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:. · Perjalanan ke manapun rasanya senantiasa akan menghadapi aneka tantangan dan hambatan, entah perjalanan atau pergi dengan kendaraan darat, laut maupun udara, atau perjalanan melaksanakan tugas perutusan/menghayati panggilan. Berjalan atau melangkah maju berarti akan menghadapi aneka macam situasi atau perubahan baru yang menuntut orang untuk senantiasa siap-siaga atas segala kemungkinan yang terjadi, tetapi percayalah jika perjalanan tersebut merupakan tugas perutusan atau panggilan dari atas pasti ada dukungan atau bantuan ketika harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan sebagaimana dialami oleh para murid Yesus. Mereka diminta oleh Yesus mendahului perjalananNya dengan mengarungi danau, dan tiba-tiba perahu mereka dihantam gelombang, diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Mereka pun ketakutan, dan dalam ketakutan mereka tidak mengenal lagi Yesus; mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendahului perahu mereka dikira hantu. Begitulah yang sering terjadi ketika orang dalam keadaan takut, entah takut situasi, takut jabatan atau kedudukannya terancam dst.., sering menjadi tidak waspada dan tajam lagi dalam melihat atau cara bertindak. Gelombang kehidupan adalah barang biasa bagi orang yang berkehendak tumbuh berkembang sebagai orang atau pribadi beriman, semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sesama. Marilah dalam perjalanan tersebut kita tidak melupakan Tuhan, yang memanggil dan mengutus kita melalui atasan atau pembesar kita, yang bersabda melalui kata-kata bijak dari atasan atau pimpinan kita atau tulisan-tulisan yang ditulis dengan ilham Roh seperti Kitab Suci, Konstitusi, Pedoman Hidup, aneka tatanan atau aturan hidup dan panggilan. Ketika kita takut menghadapi tantangan dan hambatan ada kemungkinan karena kita melupakan Tuhan, sehingga kita mejadi ragu dan bimbang dalam melangkah maju. Marilah berjalan/melangkah sesuai tatanan atau aturan yang berlaku atau terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita, dengan demikian kita akan selamat dan sejahtera sampai ke tujuan. Kita tunjukkan bahwa kita adalah orang beriman, yang mempercayakan atau mempersembahkan diri kepada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan berkarya atau bertindak dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini. · Kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Tuhanmu (Yer 30:22), demikian firman Tuhan kepada bangsa terpilih. Firman ini kiranya layak menjadi permenungan kita serta kita sebarluaskan kemanapun dan kepada siapapun, sebagaimana dilakukan oleh St.Dominikus yang dikenal dengan kotbah-kotbah atau pewartaan firman-firman Tuhan. Firman Tuhan sungguh kuat-kuasa seperti apa yang disabdakan atau dikerjakan oleh Yesus (=Firman/Sabda yang menjadi Manusia): menenangkan gelombang yang menakutkan serta mereka yang sedang dalam ketakutan. Ingatlah juga bahwa para santo-santa pendiri Tarekat atau Lembaga hidup bakti juga tersentuh oleh Firman Tuhan, antara lain Dominikus dalam kotbah-kotbahnya senantiasa mendasarkan pada Firman Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, Ignatius Loyola karena membaca kisah-kisah orang suci dst..Kepada kita, entah setiap hari atau setiap minggu ketika menghadiri Perayaan Ekaristi juga dibacakan Firman Tuhan dan dari pihak kita dipanggil untuk mendengarkan. Ingat mendengarkan berbeda dengan mendengar: mendengarkan berarti sungguh membuka hati, jiwa, akal budi dan (telinga) tubuh bagi apa yang sedang dibacakan. Dan karena yang dibacakan adalah firman/sabda Tuhan, kiranya orang yang sungguh mendengarkan pasti akan dibentuk atau dibina olehNya. Deus semper maior est = Tuhan senantiasa lebih besar. Mendengarkan firman/sabdaNya kita pasti akan dibina dan dikuasaiNya, sehingga kita sungguh menjadi milikNya, menjadi UmatNya. Sekali lagi marilah kita sungguh mendengarkan ketika dibacakan Firman Tuhan, dan hendaknya mereka yang bertugas membacakan mempersiapkan lebih dulu, sehingga ketika membacakan Firman Tuhan dapat menyentuh atau mengesan bagi para pendengar. Bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. (Mzm 102:16.18) Jakarta, 8 Agustus 2006 -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi yang ada. -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |

