From: Ronald Oroh 

 Kristus tidak Bangkit!? Paskah atau Paksa?

Dikutip sebagian dari:
http://roielministry.blogspot.com/2007/04/kristus-tidak-bangkit-paskah-atau-paksa.html

Seperti Paskah tahun-tahun sebelumnya, biasanya menjelang Paskah ada berbagai 
tulisan/film yang mencoba menentang kebangkitan Kristus. Dan tentu saja ada 
berbagai macam tulisan yang berbicara tentang kebangkitan Kristus dan menjawab 
orang-orang yang menentang kebangkitan Kristus. Tahun ini sedikit lebih seru. 
Film The Lost Tomb
of Jesus yang ditayangkan Discovery Channel pada 4 Maret 2007 sepertinya 
memberi angin segar bagi orang-orang yang percaya Kristus tidak bangkit. Untuk 
percaya Kristus tidak bangkit juga butuh iman! Ternyata ini juga mempengaruhi 
di banyak negara, termasuk Indonesia.
Seorang Pendeta yang juga dosen di salah satu Sekolah Teologi yang paling 
berpengaruh di Indonesia, menuliskan tentang hal ini di koran yang paling 
berpengaruh di Indonesia juga dengan mengemukakan teorinya (imannya)...

Mat 27:62-28:15

Dari kesaksian Matius, ada tiga macam orang yang berhubungan dengan Kebangkitan 
Kristus.

Yang pertama, adalah Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Mereka punya 
ingatan yang tajam (27:63). Mereka mengingat perkataan Kristus tentang 
kebangkitanNya (ternyata mereka memperhatikan dan mengingat kotbah-kotbah 
Kristus). Dan ternyata mereka juga percaya kebangkitan Kristus, karena sesudah 
serdadu-serdadu itu melaporkan kubur telah kosong, mereka percaya kepada para 
serdadu (27:11-15). Sesudah itu merancang cerita dan teori baru yang mengatakan 
bahwa murid-muridNya
datang mencuri pada waktu malam. Kalau dilanjutkan dengan cerita zaman sekarang 
ini, dibawa ke mana oleh para murid? Dibawa ke kuburan keluarga Yesus. Tapi 
ternyata para serdadu, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tidak bisa 
melacaknya. Mungkin terlalu sulit untuk menemukannya. Itu sebabnya baru 
akhir-akhir ini bisa ditemukan, mungkin karena arkeologi dan intelijen yang 
makin maju!?
Bagi mereka, Paskah berarti Paksa. Segala sesuatu dipaksakan demi untuk tujuan 
pribadi yang menguntungkan, kalau perlu ada sedikit pengorbanan yang nantinya 
akan membawa keuntungan. Ternyata penulis buku yang menginspirasikan film The 
Lost Tomb, pembuat film dan juga pendeta di Indonesia yang menulis bahwa 
Kristus tidak bangkit tubuhnya, mempunyai iman yang sama dengan imam-imam 
kepala dan
orang-orang Farisi? Saya pikir, mereka lebih diinspirasikan oleh tokoh kedua di 
dalam kesaksian Matius.

Siapa tokoh kedua? Para serdadu. Mereka punya senjata dan mereka punya kuasa, 
tapi tidak berdaya dengan kebangkitan Kristus. Hmm..Meskipun demikian mereka 
bisa mengambil keuntungan dari kisah kebangkitan Kristus. Caranya? Dengan 
menceritakan bahwa Kristus tidak bangkit, tetapi murid-murid mencuri mayatNya 
(dua wanita mengalahkan mereka dan mencuri mayatNya (28:1-4)?), maka mereka 
mendapatkan uang (28:15). Ini juga yang dilakukan oleh orang-orang yang 
berbicara bahwa Kristus
tidak bangkit. Biasanya mendapatkan keuntungan yang lumayan dengan teori dan 
cerita mereka. Bagi mereka, Paskah adalah Paksaan yang menguntungkan. Dipaksa 
untuk menceritakan kebohongan dan beriman terhadap kebohongan, ternyata 
mendapatkan upah yang menguntungkan.

Yang ketiga, dua orang Maria. Mereka seharusnya sudah mendengarkan ajaran 
Kristus tentang kebangkitanNya. Tetapi mungkin ingatan mereka tidak setajam 
para imam dan orang Farisi. Ataupun mungkin mereka tidak perhatian? 
Jangan-jangan mereka sebenarnya tidak percaya bahwa Kristus akan bangkit!? Sama 
seperti murid-murid yang lain sudah mendengar berkali-kali tapi tidak percaya 
bahwa Kristus akan bangkit dan sudah bangkit. Sesudah mendapatkan pengertian 
dan anugerah dari Tuhan,
teryata terjadi perubahan. Mereka menyambutnya dengan takut dan sukacita 
(28:8). Tidak percaya, menjadi percaya dan bahkan mendapatkan sukacita dari 
Paskah. Berbeda dengan imam-imam kepala, orang Farisi dan para serdadu yang 
tahu tentang kebangkitan, justru tidak beriman, mengambil keuntungan dari 
cerita yang dibuat sendiri, dan sukacitanya mungkin hanya didalam uang dan 
pengaruh/sensasi yang didapatkan.

Bagaimana dengan kita? Berbahagialah orang-orang yang dianugerahi iman dan bisa 
merasakan kegentaran dan kekaguman kepada Tuhan serta bersukacita di dalam 
kebangkitan Kristus. Bagi kita ada jaminan kebangkitan dan terlepas dari kuasa 
dosa dan kematian. Selamat Paskah!

Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu 
masih hidup dalam dosamu. 1 Korintus 15:17
============================================
Roma 1:1-7 : HAMBA KRISTUS & FOKUS INJIL
oleh : Denny Teguh Sutandio

Nats : Roma 1:1-7

Surat Roma adalah salah satu surat yang ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 
57 M. Selama perjalanan pelayanannya, Paulus tidak pernah mengunjungi jemaat 
Roma. Ia hanya mengunjungi kota Roma sebentar saja (Kisah Para Rasul 23:11-22), 
lalu ia dipindahkan ke Kaisarea (Kis. 23:23-35). Kota Roma adalah ibu kota 
sebuah kerajaan 
yang terbentang dari Inggris sampai ke Arab, sebuah kota yang kaya dan termasuk 
kosmopolitan serta sebagai pusat diplomatik dan perdagangan dunia yang terkenal 
pada waktu itu. Kekaisaran Romawi berada dalam suatu keadaan yang damai dan 
makmur (Pax Romana). 
Jemaat Roma yang merupakan campuran bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain 
pertama kali terbentuk dari penginjilan yang dilakukan oleh Rasul Petrus di 
hari Pentakosta (Kis. 2:10), ketika para pendatang dari Roma sedang berkumpul 
di Yerusalem. Surat Roma ini menduduki posisi yang penting berkenaan dengan 
pengajaran Paulus yang paling gamblang akan Injil dan iman Kristen sejati, 
sehingga surat yang ditulis setelah surat-surat Tesalonika, Korintus, Galatia 
dan sebelum surat-surat Kolose dan Efesus ini mempengaruhi para tokoh gereja 
dari Bapa Gereja Augustinus, Dr. Martin Luther, John Bunyan dan Wesley yang 
akhirnya mengembalikan keKristenan kepada Injil yang sejati. Setelah penulisan 
surat ini (sekitar tahun 64 M), terjadi penganiayaan besar dari Kaisar Nero 
yang mengkambinghitamkan orang-orang Kristen dengan menuduh mereka membakar 
kota Roma (padahal Nero lah yang membakar kota Roma). Hal ini dilakukan karena 
Nero membenci orang-orang Kristen dan menganggap mereka penentang kaisar karena 
tidak mau menyembah kaisar sebagai "Tuhan".

Pada awal suratnya, seperti pada surat-suratnya yang lain, Paulus mengemukakan 
identitasnya sebagai rasul Yesus Kristus, atau di Roma 1:1 disebut sebagai 
"hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul". Kata "hamba" dalam bahasa 
Yunaninya doulos yang artinya budak. Konsep hamba/budak/servant dipakai oleh 
Rasul Paulus menunjuk kepada suatu jabatan yang boleh dikatakan rendah, karena 
seorang budak bertugas melayani tuannya. Di dalam Perjanjian Lama, budak adalah 
orang yang dibeli. Ini tercantum di dalam Kejadian 43:18, di mana 
saudara-saudara Yusuf sadar betul siapa mereka di hadapan Yusuf. Di dalam ayat 
ini, sebagai budak, mereka benar-benar 
kehilangan hak mereka, bahkan harta milik mereka (dalam ayat ini, keledai 
saudara-saudara Yusuf) dapat diambil oleh tuan mereka. 
Selain itu, Imamat 25:45-46, konsep ini mengajarkan bahwa budak itu dibeli. Di 
sini, Paulus sadar bahwa dirinya adalah budak Kristus karena Kristus telah 
membeli dirinya dengan darah-Nya yang menebus dosa-dosanya. Konsep budak/hamba 
ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, di mana kita yang telah ditebus 
oleh Kristus merupakan 
budak-budak-Nya. Kalau kita sebagai budak-budak-Nya, maka tidak ada yang patut 
dipertahankan sebagai milik kita, sebaliknya kita harus menyerahkan segala 
sesuatu yang kita miliki kepada-Nya sebagai Tuan sekaligus Tuhan (Kurios) di 
dalam hidup kita (Roma 12:1-2 ; 1 Petrus 3:15). Konsep kedua di dalam 
Perjanjian Lama tentang hamba 
menunjukkan seorang yang beribadah kepada Tuhan. Di dalam Mazmur 119:49, hamba 
dikaitkan dengan seorang yang mengingat dan berharap akan firman-Nya, 
selanjutnya, di dalam Yesaya 56:6, hamba berkaitan dengan orang yang memegang 
teguh perjanjian (covenant)-Nya. Di dalam hal ini, Paulus sangat beribadah 
kepada Tuhan, maka beliau disebut hamba-Nya. Kita yang adalah hamba-hamba 
Kristus seharusnya bukan hanya bersyukur atas anugerah penebusan-Nya, tetapi 
juga bersedia menaati apa yang diperintah-Nya dan bersedia berkata TIDAK kepada 
dosa. Konsep ketiga tentang hamba di dalam Perjanjian Lama adalah berkaitan 
dengan orang yang sungguh-sungguh melayani orang lain. Di dalam Kejadian 24:2, 
10, 17, 34-67, konsep ini semakin jelas di mana hamba Abraham melayani Abraham 
dan Ishak dengan sungguh-sungguh, bahkan hamba ini meminta tanda dari Tuhan 
untuk menunjukkan istri yang sesuai untuk Ishak, tuannya. Demikian pula, halnya 
dengan 1 Raja-raja 19:19-21, di mana Elisa sebagai hamba dari Elia 
sungguh-sungguh melayani Elia, nabi Tuhan. Di dalam hal ini, Paulus 
sungguh-sungguh mengabdi dan melayani satu-satunya Tuan di dalam hidupnya yaitu 
Kristus sendiri, sehingga apapun yang Kristus perintahkan, Paulus taat mutlak. 
Kita pun sebagai hamba-hamba Kristus wajib membayar harga dalam mengikut 
Kristus (Matius 16:24), di mana kita wajib mewartakan Injil Kristus kepada 
semua orang sesuai amanat agung-Nya (Matius 28:19-20).

Di dalam Roma 1:1, Paulus bukan hanya sekedar hamba Kristus Yesus, tetapi ia 
juga "dipanggil menjadi rasul". Kata "dipanggil" dalam bahasa Yunaninya kletos 
yang artinya ditunjuk (appointed) secara khusus dan kata "rasul" dalam bahasa 
Yunaninya apostolos yang berarti delegasi atau duta besar Injil (ambassador of 
the Gospel) atau utusan (messenger). Di sini, Paulus selain menyebut dirinya 
sebagai hamba Kristus, ia juga rasul-Nya atau utusan Kristus atau duta besar 
Injil sebagai dasar/fondasi gereja (Efesus 2:20). Seorang dipanggil menjadi 
rasul memiliki ciri-ciri, yaitu sezaman dengan Yesus atau menjadi saksi mata 
hidup Tuhan Yesus dan/atau dipilih oleh Kristus sendiri. Kesebelas murid Tuhan 
Yesus (Yudas Iskariot tidak termasuk) disebut para rasul ditambah Paulus 
sebagai ganti Yudas Iskariot disebut rasul, karena Kristus sendirilah yang 
memilihnya secara khusus (Kisah 9:3-6). Paulus bukan hanya dipanggil menjadi 
rasul, tetapi juga "dikuduskan untuk memberitakan Injil Tuhan." Kata 
"dikuduskan" di dalam Alkitab Terjemahan Lama (TL) lebih tepat diterjemahkan 
diasingkan (separated) dan kata "diasingkan" ini cocok dengan bahasa Yunaninya 
aphorizo yang juga bisa berarti dipisahkan atau dibedakan. Kita sebagai 
anak-anak Tuhan pun berada di dalam kondisi yang sama yaitu kita sedang 
dipisahkan dari dunia untuk menjadi anak-anak adopsi-Nya untuk memberitakan 
Injil Kristus. Lalu, apa bedanya Paulus dan para rasul 
Kristus lainnya dengan kita yang sama-sama dipisahkan oleh Tuhan untuk 
memberitakan Injil-Nya ? Paulus dan para rasul Kristus lainnya menyatakan diri 
sebagai hamba yang dipisahkan untuk memberitakan Injil Tuhan berada dalam 
posisi peletak pertama pemberita Injil setelah Kristus (meneruskan berita Injil 
dari Kristus sendiri), sedangkan kita memberitakan Injil berada di dalam posisi 
meneruskan berita Injil dari Kristus dan para rasul-Nya (kita menunaikan fungsi 
kerasulan, tetapi tidak berjabatan rasul).
Kalau kita melihat ulang sejarah siapakah Paulus, kita akan semakin bersyukur 
bahwa Paulus yang dahulu bernama Saulus, seorang penganiaya jemaat Tuhan dapat 
menjadi rasul-Nya. Paulus dahulu bernama Saulus (Si Besar). Saulus adalah 
seorang murid dari 
Gamaliel, (pengajar Taurat terkemuka pada waktu itu) ia sangat membenci para 
pengikut Kristus (pengikut Jalan Tuhan), sehingga dengan legitimasi dari para 
ahli Taurat Yahudi, ia pergi ke Damsyik untuk menganiaya para jemaat Tuhan. 
Saulus dulu adalah budak dosa, di mana ia melayani dosa sebagai tuannya. Ia 
pikir bahwa dengan menjalankan syariat-syariat Yudaismenya, ia memperoleh 
keselamatan (sama seperti yang dianggap oleh banyak orang sekarang dengan jalan 
agama), padahal sebenarnya ia sedang berada di bawah dosa atau menjadi hamba 
dosa dengan menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:18). Ketika Saulus dan 
juga kita adalah budak dosa, maka ia 
dan kita sama-sama terjerat dan terikat dengan belenggu dosa serta tidak ada 
yang dapat melepaskan belenggu dosa kita, kecuali Kristus. Perjumpaan Saulus 
dengan Kristus sendiri di tengah perjalanan menuju Damsyik (Kisah 9:3-9) 
membukakan dan membebaskannya dari belenggu dosa, sehingga ia yang berganti 
nama menjadi Paulus (Si Kecil) sekarang menjadi hamba kebenaran yaitu hamba 
Kristus di mana ia 
dengan rela hati dan siap sedia untuk mati bagi Kristus dan Injil-Nya. Ketika 
kita dulu menjadi budak dosa telah dimerdekakan oleh darah Anak Domba Tuhan, 
maka kita sekarang tidak berarti tidak menjadi budak siapapun, tetapi kita 
justru tetap budak, tetapi menjadi budak Kristus, artinya kita melayani-Nya 
untuk selama-lamanya, setia kepada-Nya dan firman-Nya, taat mutlak kepada-Nya 
dan firman-Nya, dan siap mati demi nama-Nya. Paulus rela tidak mendapatkan nama 
yang termasyur seperti ketika dulu dia menjadi murid Gamaliel. Semua yang dulu 
dianggap untung, sekarang dianggap rugi oleh Paulus, karena pengenalannya akan 
Kristus lebih berharga dari apapun juga (Filipi 3:8-9). Itulah jiwa hamba 
Kristus. 
Uniknya, di dalam ayat 2-4, Paulus langsung mengaitkan Injil dengan nubuatan 
dalam Perjanjian Lama (Kejadian 3:15, dll), di mana inti Injil adalah Kristus 
Yesus yang bernatur manusia dan Tuhan (perhatikan ayat 3-4, yaitu "tentang 
Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh 
kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, ..."). 
Bahasa Indonesia Sehari-hari lebih jelas mengartikan kedua ayat ini, "Kabar 
Baik itu mengenai Anak Tuhan, Tuhan kita Yesus Kristus. 
Secara manusiawi, Ia adalah keturunan Daud, tetapi secara ilahi Ia ternyata 
adalah Anak Tuhan. Itu terbukti dengan kuasa yang luar biasa melalui 
kebangkitan-Nya dari kematian." Kristus bernatur manusia, terbukti bahwa Ia 
adalah keturunan Daud (Matius 1:1-17), 
dan Kristus pula bernatur Tuhan, terbukti bahwa Ia bangkit dari kematian untuk 
mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Di sini, konsep dwi natur Kristus 
dinyatakan dengan jelas oleh Paulus. Inti Injil adalah Kristus. Setiap "injil" 
yang tidak lagi memberitakan tentang Kristus adalah "injil-injil" palsu 
(Galatia 1:6-10). Kalau kita melihat kondisi keKristenan di jaman sekarang, 
inti Injil sudah digeser dari karya Kristus yang menebus dosa menjadi dua kubu 
"penting" yaitu "injil" kesehatan dan kemakmuran (health and prosperity 
`gospel') yang menekanan mujizat kesembuhan dan pemulihan ekonomi karena adanya 
penebusan Kristus, di sisi lain adanya "injil" sosial (social `gospel') yang 
menawarkan bahwa Kristus melepaskan semua manusia dari beban penderitaan dan 
kesengsaraan dunia (menolak karya Kristus yang menebus dosa). Kalau Paulus 
tetap memberitakan Injil Kristus yang murni dengan menekankan karya Kristus 
yang menebus dosa manusia, maka sudah sepatutnya kita pun juga 
memberitakan Injil Kristus yang murni tanpa dibumbui dengan segala hal yang 
tidak mutlak diajarkan oleh Alkitab. Kemudian, Paulus menjelaskan bahwa melalui 
karya Kristus sebagai Pengantara antara manusia yang berdosa dengan Tuhan yang 
Mahakudus, maka kami (Paulus dan para rasul Kristus) menerima anugerah atau 
kasih karunia dan jabatan rasul untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa 
agar 
mereka boleh percaya dan taat kepada-Nya. Di sini, Paulus bukan hanya membahas 
bahwa inti Injil adalah Kristus, ia pun sedang membicarakan tentang Injil yang 
universal, artinya Injil bukan terbatas bagi orang-orang Yahudi, tetapi juga 
perlu diberitakan 
kepada semua bangsa tanpa kecuali, agar beberapa dari mereka (yang telah 
dipilih-Nya) boleh meresponi Injil-Nya dengan percaya dan taat kepada-Nya. 
Memberitakan Injil yang berintikan Kristus harus direalisasikan dengan tidak 
memandang bulu, sebagaimana Kristus mengasihi semua orang tanpa pandang bulu. 
Artinya, kita harus memberitakan Injil kepada semua orang tanpa kecuali dengan 
berita bahwa Tuhan Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat dunia dan hasil 
akhirnya membawa orang-orang yang diinjili semakin percaya dan taat kepada-Nya. 
Penginjilan yang beres dan bertanggungjawab bukan hanya berpusatkan Kristus 
(Kristosentris), tetapi juga menuntun kepada Kristus. Penginjilan yang hanya 
mengajar tentang Kristus, tetapi tidak menuntun kepada Kristus, akan menjadi 
penginjilan yang sia-sia. Artinya, penginjilan itu hanya sekedar berupa 
teori-teori yang dirumuskan tanpa ada pergumulan dan keputusan men-Tuhan-kan 
Kristus di dalam hidup sehari-hari. Inilah yang Paulus sebut sebagai "taat 
kepada nama-Nya" sebagai respon dari iman kepada Kristus. 
Kata "taat" dalam bahasa Yunaninya hupakoe yang artinya penundukan (submission) 
atau kepatuhan (obedience). Seorang yang taat adalah seorang yang tunduk (tidak 
membantah) kepada perintah-perintah-Nya. 
Di sini, konsep taat sama dengan konsep penyerahan total (total surrender) 
kepada Tuhan sebagai satu-satunya yang mutlak patut dipercayai dan diimani 
tanpa salah dan kepada firman-Nya, Alkitab sebagai satu-satunya fondasi iman 
Kristen yang paling konsisten, bertanggungjawab dan tanpa salah. Mengapa 
anak-anak Tuhan dapat 
berserah total dan taat kepada Tuhan ? Karena Tuhan sajalah satu-satunya yang 
patut dipercayai sebagaimana ynag diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Timotius 
di dalam suratnya 2 Timotius 1:12, "Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, 
tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin 
bahwa Dia berkuasa 
memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." 
Paulus tidak malu sedikitpun di dalam menanggung aniaya, karena dirinya tahu 
kepada siapa dia mempercayakan hidupnya yaitu kepada Tuhan yang memelihara 
hidupnya sampai akhir. Adakah kita juga bersedia dengan rela hati menyerahkan 
hidup kita untuk 
terus-menerus dipimpin oleh Roh-Nya sehingga hidup kita makin menyerupai 
Kristus dan memuliakan Tuhan ?!

Di ayat 6-7a, Paulus langsung menunjuk jemaat-jemaat Roma sebagai orang-orang 
dari semua bangsa yang dipanggil oleh Tuhan menjadi milik Kristus sama seperti 
Paulus. Kita sebagai anak-anak Tuhan pun dipilih dan dipanggil oleh Tuhan 
sebelum dunia dijadikan (Roma 8:29-30) untuk diadopsi menjadi milik Kristus 
serta kita dikuduskan (atau "dijadikan orang-orang kudus" di dalam ayat 7a) 
agar serupa dengan gambar Kristus, Putra Sulung Tuhan. Di sini, Paulus 
mengaitkan konsep predestinasi (pemilihan Tuhan) dengan konsep Injil dan 
Kerajaan Tuhan, di mana Tuhan yang mengasihi anak-anak-Nya, memilih mereka, 
menentukan, memanggil mereka melalui Injil Kristus yang diberitakan, 
membenarkan dan memuliakan mereka kelak di dalam kerajaan-Nya. Kalau kita 
secara status sudah dipanggil Tuhan menjadi milik Kristus, itu berarti sudah 
seharusnya kita menaklukkan diri kita di bawah kuasa-Nya. Mengapa demikian ? 
Karena kita sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh pengorbanan 
Kristus. 
1 Korintus 6:20 mengajarkan, "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas 
dibayar: Karena itu muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu!" dan 1 Korintus 7:23 juga 
mengajarkan, "Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu 
janganlah kamu menjadi hamba manusia." Kalau pada 1 Korintus 6:20, Rasul Paulus 
mengaitkan 
konsep kita yang telah dibayar lunas oleh pengorbanan Kristus dengan hidup 
kudus/suci, maka di dalam 1 Korintus 7:23, Paulus juga mengaitkannya dengan 
konsep menghambakan diri di bawah Tuhan. 
Sungguh amat menarik, di dalam 1 Korintus 7:22, Paulus mengemukakan suatu 
istilah yang paradoks, yaitu, "Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan 
dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas 
yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." Mungkin sekali, manusia dunia 
berpikir bahwa tentunya seorang hamba itu adalah orang yang terikat, tetapi 
Paulus mengatakan hal yang berbeda yaitu bahwa seorang hamba yang dipanggil 
oleh Tuhan adalah orang bebas, dan disusul dengan pernyataan bahwa hamba itu 
meskipun orang bebas tetapi milik Tuhan. Artinya, meskipun setiap anak Tuhan 
adalah hamba Tuhan yang telah dimerdeka kan dari dosa, mereka tetaplah milik 
Tuhan yang wajib menghambakan diri bukan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan. 
Di sini, saya mencoba memberikan suatu konsep circular (melingkar) yang terus 
berkait satu sama lain, yaitu kita adalah hamba Tuhan yang sudah diselamatkan 
melalui pemberitaan Injil, kemudian dilanjutkan dengan suatu tindakan yaitu 
memberitakan Injil supaya orang lain juga bertobat dan juga menjadi hamba Tuhan 
setelah mendengar Injil, lalu orang lain itu pula juga memberitakan Injil, 
begitu seterusnya. Seperti Rasul Paulus yang dulunya bernama Saulus adalah 
penganiaya jalan Tuhan, lalu setelah Kristus sendiri menemuinya di tengah 
perjalanan 
menuju Damsyik, lalu ia dipanggil menjadi hamba Kristus dan memberitakan Injil 
salah satunya kepada jemaat di Roma dan Paulus juga ingin jemaat di Roma 
setelah mendengar Injil dan menerima Kristus serta menjadi hamba-Nya juga 
bersedia memberitakan Injil dan menjadi saksi-Nya. Jadi, ini adalah suatu 
lingkaran yang saling 
terkait di mana sebagai seorang hamba Kristus yang tentu juga milik Kristus, 
kita harus rela memberitakan Injil sebagai respon aktif kita sebagai hamba 
Kristus yang sudah ditebus oleh darah-Nya. 
Kemudian di akhir ayat 7, Paulus memberikan berkat yang merupakan gabungan dari 
tradisi Yunani dan Yahudi. Berkat ini merupakan suatu salam hangat dari Rasul 
Paulus kepada jemaat-jemaat di Roma yang belum pernah dikunjunginya (lihat ayat 
8). Ucapan salam dan berkat ini merupakan bukti perasaan kasih Paulus kepada 
jemaat di Roma yang di dalam ayat-ayat selanjutnya hal ini diperjelas.

Maukah kita hari ini menjadi hamba-Nya yang hanya memberitakan Injil Kristus 
yang murni tanpa ditambah oleh hal-hal yang tidak mutlak di dalam Alkitab ? 
Amin.

Kirim email ke