From: "Donny A. Wiguna" <[EMAIL PROTECTED]> Intermezzo: Da Vinci Code
Salam dalam kasih Kristus, Kita masih ramai membahas Da Vinci Code nya Dan Brown. Saya kira ini adalah bentuk respon yang baik dan dapat menjadi kesaksian tersendiri tentang menghadapi penyesatan. Bukan dengan pentung atau fatwa mati, melainkan mendidik dan membukakan kebenaran. Jadi demikianlah; saya sendiri mengikuti penjelasan-penjelasan dengan senang hati. Namun, ada hal lain yang agak mengherankan... Entah, apakah saya sendiri yang melihatnya berbeda, atau teman-teman tidak menganggapnya demikian? Jadi, dalam waktu senggang ini saya ingin bagikan. Begini. Dalam novel atau cerita, ada peran jagoan (protagonis) dan peran penjahat (antagonis). Tentu, penggambarannya tidak sesederhana hitam-putih, karena antara apa yang benar dan yang salah seringkali dibuat campur aduk, apalagi dalam novel seperti yang ditulis Dan Brown. Bagaimana pun, dalam Da Vinci Code ada kejadiannya, ada penjahatnya, dan ada jagoannya. Nah, seperti dalam banyak cerita lainnya, baik tokoh protagonis maupun antagonis mempunyai jalur pikirannya, yang pada umumnya ditunjukkan berbeda. Kalau dalam cerita anak-anak, tokoh protagonis digambarkan sebagai orang yang saleh, baik, sopan, dan seterusnya. Sebaliknya, tokoh antagonis digambarkan sebagai orang yang sombong, tersesat, serakah, bodoh, dan sebagainya. Secara alami, kita akan 'mendengarkan' penuturan tokoh protagonis, sebaliknya mengabaikan ucapan tokoh antagonis. Itu, dalam cerita anak-anak. Bagaimana dengan Da Vinci Code? Novel ini dimulai dengan pembunuhan Sauniere. Mungkin Dan Brown sedang bercanda, sebab Sauniere itu adalah nama pendeta pada buku Holy Blood, Holy Grail (lihat Bab 60). Apakah Brown sengaja menggambarkan bahwa Sauniere itu MATI terbunuh? Dan nama pembunuhnya adalah SILAS. Dalam Kisah Para Rasul, Silas disebutkan sebagai seorang nabi (Kis 15:32) yang menguatkan saudara-saudaranya dengan menjadi kurir surat dari para rasul. Yah...metafora apa yang digambarkan Brown dengan adegan Silas membunuh Sauniere? Adegan-adegan berikutnya membawa kita pada perkenalan akan musium Louvre, tentang piramida kaca. Brown menjelaskan bahwa bangunan itu adalah bangunan BARU, suatu piramida kaca yang dirancang oleh arsitek I.M. Pei, seorang Cina kelahiran Amerika. Bangunan yang kontroversial, katanya... Ini adalah lelucon lain, yang membuat seluruh buku ini menjadi lelucon, karena di halaman terakhir...perjalanan sang jagoan berakhir di bawah piramida kaca yang terbalik, La Pyramide Inversee, di mana di situ ada sebuah struktur kecil piramida yang muncul dari atas lantai. Atau, Dan Brown mau mengatakan bahwa pada akhirnya, Grail (dalam novel ini, yaitu makam akhirnya Magdalena) yang menghebohkan itu dibikin oleh arsitek Cina Amerika? Lelucon yang sama saya lihat di televisi: ada sebuah patung "asli dari pedalaman Afrika" yang diperebutkan, tetapi ketika akhirnya sang jagoan berhasil mendapatkannya, di bagian bawah patung itu tercetak "Made in Taiwan". Hahaha... Ketika kita membaca Da Vinci Code, hampir separuhnya adalah adegan-adegan menegangkan yang membawa jagoannya menemukan keystone -- batu kunci. Tapi, coba perhatikan satu hal: di dalam novel ini, pengetahuan Robert Langdon -- sang jagoan -- berasal dari seorang bernama Leigh Teabing. Langdon mengatakan, "Percayalah. Leigh Teabing lebih tahu tentang Biarawan Sion dan Holy Grail dibandingkan siapa pun di bumi ini." Dan, "Teabing telah menghabiskan hidupnya untuk menyiarkan kebenaran tentang Holy Grail. Anggota Biarawan bersumpah untuk menjaga kerahasiaannya." Tapi Sophie bilang, "Terdengar seperti konflik kepentingan, bagiku." Nah! Itulah dia. Dan Brown sudah memberi peringatan kepada para pembaca tentang tokoh Teabing ini. Dan kalau kita baca baik-baik, Teabing lah yang memberikan semua penjelasan yang menghebohkan itu, tentang Da Vinci, tentang gambar Perjamuan Terakhir... Brown menuliskan novelnya mulai dari tengah -- Bab 52 -- dari penjelasan Teabing. Dan penjelasan Teabing ITU yang saat ini menjadi sumber kontroversi, sehingga kita merasa perlu mengadakan seminar untuk menjelaskan kebenarannya. Tapi Brown sudah bilang "itu KONFLIK KEPENTINGAN". Ayolah, apakah ada yang menyadarinya? Semua penjelasan yang sesat itu berasal dari gembong penjahat! Dan Brown menggambarkan tentang arsitektur dan karya-karya seni dengan cermat, tetapi penjelasan Teabing benar-benar hanya kontroversi, yang didalam novel ini sendiri menunjukkan konflik kepentingan, sampai puncaknya di bagian akhir yang menegangkan. Mungkin Mr. Brown sekarang senyum-senyum sendiri dengan semua respon dan reaksi terhadap Da Vinci Code, karena siapa suruh orang bersikap bingung mendengar penuturan tokoh jahat dalam novelnya? Ketika Dan Brown mulai menggambarkan simbol demi simbol, saya mulai berpikir bahwa novel ini pun adalah sebuah simbol, sebuah teka-teki. Banyak hal tidak nampak sebagaimana nampaknya, ia menyisipkan teka teki lain untuk pembaca. Saya sendiri masih mencoba menemukan petunjuk-petunjuk lain... Tapi tidak serius, tentu saja. Ini tetaplah hanya novel yang cerdas. Bagusnya, dengan Da Vinci Code ini banyak orang Kristen seperti terbangun dan baru sadar bahwa dirinya tidak mengetahui sejarah gereja, tidak memahami dasar-dasar kepercayaannya sendiri. Jadi, kita semua bisa belajar untuk lebih banyak belajar, bukan dari sebuah novel -- betapapun cerdas ditulisnya -- melainkan dari kebenaran yang sungguh-sungguh, dari Alkitab, dari Tuhan. Maka, kita bisa tertawa membaca leluconnya Dan Brown. Salam kasih, Donny ============================================= From: "henny" <[EMAIL PROTECTED]> Tuhan turut bekerja dalam segala hal Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang harus dia tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi, karena begitu besar keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada di balik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalannya. Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak belukar yang sangat lebat dan penuh duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu. Pikir pengembara itu " Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan ini. " Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu. Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam hati " Betapa hebatnya aku. Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku . " Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya " Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka. Tapi aku tetap harus melewatinya." Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja. Sekali lagi ia berkata dalam hati : " Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku. " Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain dia harus melewati nya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya : " Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak itu. Aku harus melewatinya. " Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia...tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah. " Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku. " Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di puncak gunung itu. Betapa sukacitanya ia meihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk memandanginya. Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya. Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : " Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangn yang ada tadi? Tidak bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya ? " Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih : " Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini, mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah. Ingatkah engkau kembali padaKU ?" Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu. Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan. Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita. Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya bekerja dalam hidup kita? ========================================== From: "Donny A. Wiguna" <[EMAIL PROTECTED]> Intermezzo: Spiritual Leadership Salam dalam kasih Kristus, Di ibadah hari Minggu yang cerah ini, saya mendapatkan sesuatu yang mengesankan. Ya, kotbah hari ini dipimpin oleh Pdt. Caleb Tong, dan seperti biasanya beliau penuh ketajaman dalam menyampaikan pesan. Kotbahnya sendiri memang mengesankan, berbicara tentang kemurahan hati dan bagaimana Gereja yang Injili juga dapat memberi sumbangan besar bagi korban bencana, bagaimana hati yang digerakkan Injil bukan hanya berbicara tentang doktrin tetapi lebih dari itu: melakukannya. Tapi, selain pemberitaan Firman yang menggugah ini, ada hal lain yang mengesankan. Hal yang terasa berkesan itu adalah: bahwa sebenarnya, tadi pagi darah masih mengucur dari hidung Pak Caleb. Beliau mengalami musibah beberapa hari lalu, dan kalau mengikuti saran dokter seharusnya Pak Caleb tidak berkotbah. Matanya masih belum fokus, bicaranya pun masih terganggu. Tetapi hatinya lebih mengutamakan pemberitaan Firman, kepentingannya lebih condong pada melayani Tuhan, maka pagi-pagi ia sudah mempersiapkan diri. Dan Pak Caleb tidak setengah-setengah dalam menyampaikan kotbah; ia menyampaikannya dengan penuh, lengkap, tanpa dikurangi. Waktunya bahkan lebih lama daripada pengkotbah lain, yang lebih muda dan sehat, untuk suatu bahasan yang menyeluruh. Saya menemukan kesiapan semacam ini merupakan hal yang mengesankan, satu pelajaran sendiri yang saya terima pagi ini. Dan sikap seperti ini bukan pertama kali saya jumpai dalam diri para pemimpin Gereja. Saya sebelum ini menemukannya pada diri Ibu Dorothy I. Marx, pada diri Pak Joseph Tong, dan juga --walau tidak secara langsung-- pada diri Pak Stephen Tong. Sikap untuk memberikan diri secara total, dan menunjukkan diri sebagai teladan. Dan sikap ini bukan baru sekarang, karena Alkitab sudah menunjukkan sikap ini sejak lama, dalam diri Rasul Paulus. Coba simak suratnya kepada jemaat di Korintus: ~~~~~~~~~~~ 1 Kor 4:9:16 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! ~~~~~~~~~~~ Jemaat di Korintus mungkin membanggakan diri dengan kemegahan dan kemakmuran mereka, segala kemuliaan yang dapat dibayangkan orang. Tetapi jika kesejahteraan menjadi ukuran, maka para rasul tidak mempunyai tempat! Bagi para rasul, keberadaan mereka bahkan "telah menjadi sama dengan sampah dunia," yang sama sekali tidak berarti bagi dunia. Tetapi oleh para rasul, kekristenan disemai dan bertumbuh, bahkan hingga menjadi besar saat ini. Tentu saja, keadaan Pak Caleb Tong tidaklah separah para rasul. Kita tidak dapat mensejajarkannya dengan para rasul. Ia tidak perlu lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, dan seterusnya. Ia masih bisa menikmati keberadaannya sebagai pemimpin gereja yang besar, masih menikmati pelayanan dari banyak orang. Namun kita tidak perlu memikirkan perbandingan-perbandingan kesusahan atau 'kebesaran' mereka, tetapi lihatlah pokok utama yang mereka tunjukkan: "Turutilah teladanku!" Ini adalah kepemimpinan spiritual, sebuah kepemimpinan yang menggerakkan orang lain secara spiritual. Pokoknya bukanlah perilaku apa yang harus diikuti, tidak seperti keteladanan moral dan sikap yang pada umumnya dibahas orang. Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan, bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dengan teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang berbeda. Maka, pada pagi hari ini saya tergerak untuk mengikuti teladan spiritual dari Pak Caleb, dalam konteks yang saya hadapi. Saya tergerak untuk menyisihkan kesusahan sendiri, agar bisa membagikan kemurahan pada orang lain. Saya tergerak untuk menyangkali kemalasan sendiri, agar bisa menuliskan hal-hal ini dan menggerakkan orang lain juga. Tentu saya tidak mempunyai konteks kehidupan Pak Caleb, tetapi saya bisa melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dalam konteks saya, misalnya melalui internet dan milis, seperti yang Anda baca ini. Karena, saya sebenarnya tidak dalam keadaan cukup baik. Saya masih harus mengusahakan agar beban-beban finansial keluarga kami terpenuhi. Saya masih harus memikirkan bagaimana bisnis kami, agar besok kami masih bisa makan. Dan saya masih harus mengerjakan beberapa hal yang cukup mendesak di pertengahan bulan Juni 2006 ini. Spiritual leadership yang saya alami selama ini telah mendorong saya untuk mengambil sikap. Bukan hal yang mudah, karena di mata sebagian orang, apa yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Begini, saya telah berhenti bekerja di akhir tahun lalu, dan sejak itu saya berusaha sendiri. Tetapi keadaan ekonomi memang tidak begitu baik, jadi usaha baru yang dirintis juga tidak selancar yang dibutuhkan. Akibatnya, kami mengalami tekanan finansial yang cukup besar belakangan ini. Kalau saya bilang "no problem" maka tentu saya berdusta, karena hal itu menjadi masalah nyata sekarang. Dalam keadaan bermasalah di keuangan ini, saya dan istri menemukan peran baru, sebagai konsultan keuangan. Heran? Sebenarnya, itu adalah istilah bagi agen asuransi -- disebut "Financial Consultant" karena kami dibekali sejumlah produk yang mampu membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah finansial mereka di masa depan. Produk itu adalah kombinasi antara asuransi dan investasi, dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan menguntungkan nasabah. Masalahnya dengan produk asuransi: komisi yang diterima oleh agen dihitung dari besarnya premi dasar asuransi yang diterima, bukan dari besaran investasinya. Jadi, kalau kami menginginkan komisi lebih besar, kami harus mengatur agar premi dasar asuransi diperoleh sebesar-besarnya. Tapi hal ini berarti memperkecil investasi, dan ujung-ujungnya merugikan nasabah. Sekarang bagaimana? Masalah finansial seharusnya telah mendorong kami untuk mengusahakan sebesar-besarnya premi dasar asuransi, dengan demikian kami memperoleh komisi lebih besar dan selamat dari tekanan finansial ini. Namun bukan itu yang kami lakukan. Pada akhirnya kami tetap menghitung sebesar-besarnya investasi, agar memberikan keuntungan maksimum kepada nasabah. Itulah yang terjadi dengan polis-polis yang kami hasilkan. Di ujungnya, kami memenuhi apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh asuransi: keuntungan nasabah. Bodohkah, kalau lantas kami sendiri masih tertekan secara finansial? Saya tidak merasa bodoh, karena inilah kepemimpinan spiritual yang saya ikuti. Nah, sampai sini mohon jangan keliru memahami; saya tidak sedang menawarkan apa pun kepada teman-teman sekalian. Saya hanya ingin menunjukkan, seperti itulah yang ada dalam konteks kehidupan saya sekarang. Tentu, tiap orang dapat memiliki konteks yang berbeda, tetapi secara esensial melakukan hal serupa. Membagikan kebaikan secara total. Hidup dalam kebenaran dan keadilan. Menunjukkan kerendahan hati, belas kasihan, dan kelemah-lembutan. Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ada Spiritual Leadership di sana? Ada gereja yang berdiri dengan fondasi yang terpancang di atas batu karang legalisme. Philip Yancey dalam bukunya "Gereja: Mengapa Dirisaukan?" (terjemahan dari "Church Why Bother?"), menuliskan tentang gereja masa kecilnya: "Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian." Namun, bukankah deskripsi ini dapat diterapkan juga dalam lingkungan-lingkungan kita? Bukankah kita pun menemukan bagaimana orang-orang berseteru dalam gereja, bahkan sampai membawanya ke pengadilan negeri? Mengapa harus seperti itu? Coba hitung, berapa banyak orang Kristen yang tidak lagi pergi ke gereja? Mereka di masa mudanya mendapatkan lingkungan yang penuh disiplin dan aturan, mula-mula terasa baik dan melindungi, tetapi kemudian menjadi hambar. Menyebalkan. Tidak ada kepemimpinan spiritual di sana; yang ada hanyalah aturan dan hukuman bagi pelanggarnya. Kalau tidak dihukum sekarang (dengan misalnya, 'siasat gerejawi'), kelak akan dihukum masuk neraka. Dengan semua ancaman, tidak ada motivasi lain untuk melakukan hal ini atau itu selain menghindari hukuman. Apa maknanya bersikap baik, jika pendorong utamanya adalah agar tidak dicela orang lain? Betul, orang bisa digerakkan oleh ancaman, tetapi tidak dalam waktu panjang. Pada akhirnya ancaman itu akan kehilangan taringnya dan orang mulai bersikap apatis. "Peduli amat!" "Emangnya gua pikirin?" Serta merta melanggar semua aturan dan kekangan, apalagi jika ternyata "melanggar itu enak euy!" Dibutuhkan motivasi lain untuk menggerakkan jemaat, untuk membuat orang dapat melepaskan bajunya dan berkeringat membangun bersama-sama. Itulah spiritual leadership yang ditunjukkan, yang diikuti dengan seruan "turutilah teladanku!" Sekarang, mengapa pula orang harus mengikuti suatu kepemimpinan dalam bergereja? Pada kenyataannya, ada saja orang yang menyetarakan gereja dengan hiburan. Apa bedanya pergi ke gereja dengan nonton di bioskop? Orang merasa perlu terlayani di sana, menjadi penonton dari berbagai acara atau liturgi gereja. Di gereja protestan, aktor utamanya adalah pendeta di atas mimbar. Jemaat menjadi penonton dan pendengar; dan kalau pendetanya tidak menarik, ada saja orang yang mendengkur. Bagi mereka yang hadir sebagai penonton, tentu saja kepemimpinan tidak terlalu berarti. Toh orang hanya datang, duduk, memberi duit, lalu pergi lagi. Coba pikirkan lagi: dalam setiap ibadah, siapa yang sesungguhnya menjadi pelaku, dan siapa penontonnya? Tuhan tidak menciptakan dunia ini agar Ia menjadi Aktor sementara manusia-manusia bodoh menjadi penonton. Sebaliknya! Tuhan mengawasi kita sekalian, dan kitalah yang menjadi pelaku-pelaku kehidupan. Bisa dikatakan, urusan terpenting yang dihadapi manusia adalah bagaimana tampil dengan baik di hadapan Sang Penonton, dan untuk itu kita membutuhkan kepemimpinan. Di Gereja kita hadir untuk menyembah Dia yang mengawasi kita, dengan sorot mata seperti seorang Bapa memandang anak-anak-Nya. Karena itu, urusan kita adalah mendengar Rasul Paulus berkata "Turutilah teladanku!" maka kita memberkati ketika dimaki, sabar ketika dianiaya, dan menjawab dengan ramah ketika difitnah. Dan Rasul Paulus sendiri malah meneladani Tuhan Yesus, yang juga memberikan teladan-Nya bagi kita. Bukankah tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk menjadi serupa seperti Kristus? Baiklah kita hidup di dalam Dia yang menghidupkan. Terpujilah TUHAN! Salam kasih, Donny

