From: "Donny A. Wiguna" <[EMAIL PROTECTED]>

Intermezzo: Da Vinci Code

Salam dalam kasih Kristus,

Kita masih ramai membahas Da Vinci Code nya Dan Brown. Saya kira ini adalah 
bentuk respon yang baik dan dapat menjadi kesaksian tersendiri tentang 
menghadapi penyesatan. Bukan dengan pentung atau fatwa mati, melainkan mendidik 
dan membukakan kebenaran. Jadi demikianlah; saya sendiri mengikuti 
penjelasan-penjelasan dengan senang hati.

Namun, ada hal lain yang agak mengherankan... Entah, apakah saya sendiri yang 
melihatnya berbeda, atau teman-teman tidak menganggapnya demikian?
Jadi, dalam waktu senggang ini saya ingin bagikan.

Begini. Dalam novel atau cerita, ada peran jagoan (protagonis) dan peran 
penjahat (antagonis). Tentu, penggambarannya tidak sesederhana hitam-putih, 
karena antara apa yang benar dan yang salah seringkali dibuat campur aduk, 
apalagi dalam novel seperti yang ditulis Dan Brown. Bagaimana pun, dalam Da 
Vinci Code ada kejadiannya, ada penjahatnya, dan ada jagoannya.

Nah, seperti dalam banyak cerita lainnya, baik tokoh protagonis maupun 
antagonis mempunyai jalur pikirannya, yang pada umumnya ditunjukkan berbeda.
Kalau dalam cerita anak-anak, tokoh protagonis digambarkan sebagai orang yang 
saleh, baik, sopan, dan seterusnya. Sebaliknya, tokoh antagonis digambarkan 
sebagai orang yang sombong, tersesat, serakah, bodoh, dan sebagainya. Secara 
alami, kita akan 'mendengarkan' penuturan tokoh protagonis, sebaliknya 
mengabaikan ucapan tokoh antagonis. Itu, dalam cerita anak-anak.

Bagaimana dengan Da Vinci Code?

Novel ini dimulai dengan pembunuhan Sauniere. Mungkin Dan Brown sedang 
bercanda, sebab Sauniere itu adalah nama pendeta pada buku Holy Blood, Holy 
Grail (lihat Bab 60). Apakah Brown sengaja menggambarkan bahwa Sauniere itu 
MATI terbunuh? Dan nama pembunuhnya adalah SILAS. Dalam Kisah Para Rasul, Silas 
disebutkan sebagai seorang nabi (Kis 15:32) yang menguatkan saudara-saudaranya 
dengan menjadi kurir surat dari para rasul.

Yah...metafora apa yang digambarkan Brown dengan adegan Silas membunuh
Sauniere?

Adegan-adegan berikutnya membawa kita pada perkenalan akan musium Louvre,
tentang piramida kaca. Brown menjelaskan bahwa bangunan itu adalah bangunan
BARU, suatu piramida kaca yang dirancang oleh arsitek I.M. Pei, seorang Cina
kelahiran Amerika. Bangunan yang kontroversial, katanya...

Ini adalah lelucon lain, yang membuat seluruh buku ini menjadi lelucon, karena 
di halaman terakhir...perjalanan sang jagoan berakhir di bawah piramida kaca 
yang terbalik, La Pyramide Inversee, di mana di situ ada sebuah struktur kecil 
piramida yang muncul dari atas lantai.

Atau, Dan Brown mau mengatakan bahwa pada akhirnya, Grail (dalam novel ini, 
yaitu makam akhirnya Magdalena) yang menghebohkan itu dibikin oleh arsitek Cina 
Amerika? Lelucon yang sama saya lihat di televisi: ada sebuah patung "asli dari 
pedalaman Afrika" yang diperebutkan, tetapi ketika akhirnya sang jagoan 
berhasil mendapatkannya, di bagian bawah patung itu tercetak "Made in Taiwan". 
Hahaha...

Ketika kita membaca Da Vinci Code, hampir separuhnya adalah adegan-adegan
menegangkan yang membawa jagoannya menemukan keystone -- batu kunci. Tapi,
coba perhatikan satu hal: di dalam novel ini, pengetahuan Robert Langdon --
sang jagoan -- berasal dari seorang bernama Leigh Teabing. Langdon mengatakan, 
"Percayalah. Leigh Teabing lebih tahu tentang Biarawan Sion dan Holy Grail 
dibandingkan siapa pun di bumi ini."

Dan, "Teabing telah menghabiskan hidupnya untuk menyiarkan kebenaran tentang
Holy Grail. Anggota Biarawan bersumpah untuk menjaga kerahasiaannya."

Tapi Sophie bilang, "Terdengar seperti konflik kepentingan, bagiku."

Nah! Itulah dia. Dan Brown sudah memberi peringatan kepada para pembaca tentang 
tokoh Teabing ini. Dan kalau kita baca baik-baik, Teabing lah yang memberikan 
semua penjelasan yang menghebohkan itu, tentang Da Vinci, tentang gambar 
Perjamuan Terakhir... Brown menuliskan novelnya mulai dari tengah -- Bab 52 -- 
dari penjelasan Teabing.

Dan penjelasan Teabing ITU yang saat ini menjadi sumber kontroversi, sehingga 
kita merasa perlu mengadakan seminar untuk menjelaskan kebenarannya. Tapi Brown 
sudah bilang "itu KONFLIK KEPENTINGAN".

Ayolah, apakah ada yang menyadarinya? Semua penjelasan yang sesat itu berasal 
dari gembong penjahat! Dan Brown menggambarkan tentang arsitektur dan 
karya-karya seni dengan cermat, tetapi penjelasan Teabing benar-benar hanya 
kontroversi, yang didalam novel ini sendiri menunjukkan konflik kepentingan, 
sampai puncaknya di bagian akhir yang menegangkan. Mungkin Mr. Brown sekarang 
senyum-senyum sendiri dengan semua respon dan reaksi terhadap Da Vinci Code, 
karena siapa suruh orang bersikap bingung mendengar penuturan tokoh jahat dalam 
novelnya?

Ketika Dan Brown mulai menggambarkan simbol demi simbol, saya mulai berpikir
bahwa novel ini pun adalah sebuah simbol, sebuah teka-teki. Banyak hal tidak 
nampak sebagaimana nampaknya, ia menyisipkan teka teki lain untuk pembaca.
Saya sendiri masih mencoba menemukan petunjuk-petunjuk lain... Tapi tidak 
serius, tentu saja. Ini tetaplah hanya novel yang cerdas.

Bagusnya, dengan Da Vinci Code ini banyak orang Kristen seperti terbangun dan 
baru sadar bahwa dirinya tidak mengetahui sejarah gereja, tidak memahami 
dasar-dasar kepercayaannya sendiri. Jadi, kita semua bisa belajar untuk lebih 
banyak belajar, bukan dari sebuah novel -- betapapun cerdas ditulisnya -- 
melainkan dari kebenaran yang sungguh-sungguh, dari Alkitab, dari Tuhan.

Maka, kita bisa tertawa membaca leluconnya Dan Brown.

Salam kasih,
Donny
=============================================
From: "henny" <[EMAIL PROTECTED]>

Tuhan turut bekerja dalam segala hal 

Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di balik 
suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan
berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang harus dia tempuh, segala 
perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi, karena begitu besar 
keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada di balik gunung itu, ia terus 
melanjutkan perjalannya.

Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak belukar yang sangat lebat dan penuh 
duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu. Pikir 
pengembara itu " Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti 
akan robek dan penuh luka.
Tapi aku harus melanjutkan perjalanan ini. " Maka pengembara itupun mengambil 
ancang-ancang dan ia menerobos semak itu. Ajaib, pengembara itu tidak mengalami 
luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan 
perjalanan dan berkata dalam hati " Betapa hebatnya aku. Semak belukarpun tak 
mampu menghalangi aku . "

Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya 
kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus 
melewati jalan itu.
Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya " Jika aku melewati kerikil ini, 
kakiku pasti akan berdarah dan terluka. Tapi aku tetap harus melewatinya." Maka 
dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan.
Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya 
dalam keadaan baik-baik saja. Sekali lagi ia berkata dalam hati : " Betapa 
hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku. "

Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya.
Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. 
Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain 
dia harus melewati nya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya : " Jika 
aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta 
kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak itu. Aku harus melewatinya. 
" 
Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia...tergelincir. Aneh, 
setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada 
satupun tulangnya yang patah.
" Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku. 
"

Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di puncak gunung itu. 
Betapa sukacitanya ia meihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia 
melihat yang seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan 
badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk 
memandanginya. Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan 
darah. Ia tak dapat
menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya. Berkatalah 
pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : " Mengapa tubuhmu 
penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangn yang ada tadi? Tidak 
bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? 
Siapakah
engkau sebenarnya ? "

Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih : " Aku adalah Tuhanmu. 
Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini,
mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini.

Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat 
supaya tak satupun duri merobek kulitmu.

Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu 
tidak tertusuk.

Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak 
satupun tulangmu patah.

Ingatkah engkau kembali padaKU ?" Pengembara itupun terduduk dan menangis 
tersedu-sedu. Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu
kebahagiaan.

Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita. Kita lebih 
mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan 
tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana.

Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti 
Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak 
mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan 
tanganNya bekerja dalam hidup kita?
==========================================
From: "Donny A. Wiguna" <[EMAIL PROTECTED]>

Intermezzo: Spiritual Leadership

Salam dalam kasih Kristus,

Di ibadah hari Minggu yang cerah ini, saya mendapatkan sesuatu yang
mengesankan. Ya, kotbah hari ini dipimpin oleh Pdt. Caleb Tong, dan seperti
biasanya beliau penuh ketajaman dalam menyampaikan pesan. Kotbahnya sendiri
memang mengesankan, berbicara tentang kemurahan hati dan bagaimana Gereja
yang Injili juga dapat memberi sumbangan besar bagi korban bencana,
bagaimana hati yang digerakkan Injil bukan hanya berbicara tentang doktrin
tetapi lebih dari itu: melakukannya. Tapi, selain pemberitaan Firman yang
menggugah ini, ada hal lain yang mengesankan.

Hal yang terasa berkesan itu adalah: bahwa sebenarnya, tadi pagi darah masih
mengucur dari hidung Pak Caleb. Beliau mengalami musibah beberapa hari lalu,
dan kalau mengikuti saran dokter seharusnya Pak Caleb tidak berkotbah.
Matanya masih belum fokus, bicaranya pun masih terganggu. Tetapi hatinya
lebih mengutamakan pemberitaan Firman, kepentingannya lebih condong pada
melayani Tuhan, maka pagi-pagi ia sudah mempersiapkan diri. Dan Pak Caleb
tidak setengah-setengah dalam menyampaikan kotbah; ia menyampaikannya dengan
penuh, lengkap, tanpa dikurangi. Waktunya bahkan lebih lama daripada
pengkotbah lain, yang lebih muda dan sehat, untuk suatu bahasan yang menyeluruh.

Saya menemukan kesiapan semacam ini merupakan hal yang mengesankan, satu
pelajaran sendiri yang saya terima pagi ini. Dan sikap seperti ini bukan
pertama kali saya jumpai dalam diri para pemimpin Gereja. Saya sebelum ini
menemukannya pada diri Ibu Dorothy I. Marx, pada diri Pak Joseph Tong, dan
juga --walau tidak secara langsung-- pada diri Pak Stephen Tong. Sikap untuk
memberikan diri secara total, dan menunjukkan diri sebagai teladan. Dan
sikap ini bukan baru sekarang, karena Alkitab sudah menunjukkan sikap ini sejak 
lama, dalam diri Rasul Paulus. Coba simak suratnya kepada jemaat di Korintus:

~~~~~~~~~~~
1 Kor 4:9:16 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para
rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi 
hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi 
malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu 
arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 
kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; 
kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab 
dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran 
dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk 
memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu
tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah
menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku
menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
~~~~~~~~~~~

Jemaat di Korintus mungkin membanggakan diri dengan kemegahan dan kemakmuran
mereka, segala kemuliaan yang dapat dibayangkan orang. Tetapi jika
kesejahteraan menjadi ukuran, maka para rasul tidak mempunyai tempat! Bagi
para rasul, keberadaan mereka bahkan "telah menjadi sama dengan sampah
dunia," yang sama sekali tidak berarti bagi dunia. Tetapi oleh para rasul,
kekristenan disemai dan bertumbuh, bahkan hingga menjadi besar saat ini.

Tentu saja, keadaan Pak Caleb Tong tidaklah separah para rasul. Kita tidak
dapat mensejajarkannya dengan para rasul. Ia tidak perlu lapar, haus,
telanjang, dipukul dan hidup mengembara, dan seterusnya. Ia masih bisa
menikmati keberadaannya sebagai pemimpin gereja yang besar, masih menikmati
pelayanan dari banyak orang. Namun kita tidak perlu memikirkan
perbandingan-perbandingan kesusahan atau 'kebesaran' mereka, tetapi lihatlah
pokok utama yang mereka tunjukkan: "Turutilah teladanku!"

Ini adalah kepemimpinan spiritual, sebuah kepemimpinan yang menggerakkan
orang lain secara spiritual. Pokoknya bukanlah perilaku apa yang harus
diikuti, tidak seperti keteladanan moral dan sikap yang pada umumnya dibahas
orang. Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan,
bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat
spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dengan 
teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang berbeda.

Maka, pada pagi hari ini saya tergerak untuk mengikuti teladan spiritual
dari Pak Caleb, dalam konteks yang saya hadapi. Saya tergerak untuk
menyisihkan kesusahan sendiri, agar bisa membagikan kemurahan pada orang
lain. Saya tergerak untuk menyangkali kemalasan sendiri, agar bisa
menuliskan hal-hal ini dan menggerakkan orang lain juga. Tentu saya tidak
mempunyai konteks kehidupan Pak Caleb, tetapi saya bisa melakukan hal-hal
yang secara esensial serupa dalam konteks saya, misalnya melalui internet
dan milis, seperti yang Anda baca ini. Karena, saya sebenarnya tidak dalam
keadaan cukup baik. Saya masih harus mengusahakan agar beban-beban finansial
keluarga kami terpenuhi. Saya masih harus memikirkan bagaimana bisnis kami,
agar besok kami masih bisa makan. Dan saya masih harus mengerjakan beberapa
hal yang cukup mendesak di pertengahan bulan Juni 2006 ini.

Spiritual leadership yang saya alami selama ini telah mendorong saya untuk
mengambil sikap. Bukan hal yang mudah, karena di mata sebagian orang, apa
yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Begini, saya
telah berhenti bekerja di akhir tahun lalu, dan sejak itu saya berusaha
sendiri. Tetapi keadaan ekonomi memang tidak begitu baik, jadi usaha baru
yang dirintis juga tidak selancar yang dibutuhkan. Akibatnya, kami mengalami
tekanan finansial yang cukup besar belakangan ini. Kalau saya bilang "no 
problem" maka tentu saya berdusta, karena hal itu menjadi masalah nyata 
sekarang.

Dalam keadaan bermasalah di keuangan ini, saya dan istri menemukan peran
baru, sebagai konsultan keuangan. Heran? Sebenarnya, itu adalah istilah bagi
agen asuransi -- disebut "Financial Consultant" karena kami dibekali sejumlah 
produk yang mampu membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah finansial 
mereka di masa depan. Produk itu adalah kombinasi antara asuransi dan 
investasi, dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan menguntungkan nasabah.

Masalahnya dengan produk asuransi: komisi yang diterima oleh agen dihitung
dari besarnya premi dasar asuransi yang diterima, bukan dari besaran
investasinya. Jadi, kalau kami menginginkan komisi lebih besar, kami harus
mengatur agar premi dasar asuransi diperoleh sebesar-besarnya. Tapi hal ini
berarti memperkecil investasi, dan ujung-ujungnya merugikan nasabah.
Sekarang bagaimana? Masalah finansial seharusnya telah mendorong kami untuk
mengusahakan sebesar-besarnya premi dasar asuransi, dengan demikian kami
memperoleh komisi lebih besar dan selamat dari tekanan finansial ini. Namun
bukan itu yang kami lakukan. Pada akhirnya kami tetap menghitung
sebesar-besarnya investasi, agar memberikan keuntungan maksimum kepada
nasabah. Itulah yang terjadi dengan polis-polis yang kami hasilkan.

Di ujungnya, kami memenuhi apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh asuransi:
keuntungan nasabah. Bodohkah, kalau lantas kami sendiri masih tertekan
secara finansial?

Saya tidak merasa bodoh, karena inilah kepemimpinan spiritual yang saya
ikuti. Nah, sampai sini mohon jangan keliru memahami; saya tidak sedang
menawarkan apa pun kepada teman-teman sekalian. Saya hanya ingin menunjukkan, 
seperti itulah yang ada dalam konteks kehidupan saya sekarang.
Tentu, tiap orang dapat memiliki konteks yang berbeda, tetapi secara esensial 
melakukan hal serupa. Membagikan kebaikan secara total. Hidup dalam kebenaran 
dan keadilan. Menunjukkan kerendahan hati, belas kasihan, dan kelemah-lembutan.

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ada Spiritual Leadership di sana? Ada
gereja yang berdiri dengan fondasi yang terpancang di atas batu karang
legalisme. Philip Yancey dalam bukunya "Gereja: Mengapa Dirisaukan?"
(terjemahan dari "Church Why Bother?"), menuliskan tentang gereja masa
kecilnya: "Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka
hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya
mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian." Namun, bukankah deskripsi ini
dapat diterapkan juga dalam lingkungan-lingkungan kita? Bukankah kita pun
menemukan bagaimana orang-orang berseteru dalam gereja, bahkan sampai
membawanya ke pengadilan negeri?

Mengapa harus seperti itu? Coba hitung, berapa banyak orang Kristen yang
tidak lagi pergi ke gereja? Mereka di masa mudanya mendapatkan lingkungan
yang penuh disiplin dan aturan, mula-mula terasa baik dan melindungi, tetapi
kemudian menjadi hambar. Menyebalkan. Tidak ada kepemimpinan spiritual di
sana; yang ada hanyalah aturan dan hukuman bagi pelanggarnya. Kalau tidak
dihukum sekarang (dengan misalnya, 'siasat gerejawi'), kelak akan dihukum
masuk neraka. Dengan semua ancaman, tidak ada motivasi lain untuk melakukan
hal ini atau itu selain menghindari hukuman. Apa maknanya bersikap baik,
jika pendorong utamanya adalah agar tidak dicela orang lain?

Betul, orang bisa digerakkan oleh ancaman, tetapi tidak dalam waktu panjang.
Pada akhirnya ancaman itu akan kehilangan taringnya dan orang mulai bersikap
apatis. "Peduli amat!" "Emangnya gua pikirin?" Serta merta melanggar semua
aturan dan kekangan, apalagi jika ternyata "melanggar itu enak euy!"
Dibutuhkan motivasi lain untuk menggerakkan jemaat, untuk membuat orang
dapat melepaskan bajunya dan berkeringat membangun bersama-sama. Itulah
spiritual leadership yang ditunjukkan, yang diikuti dengan seruan "turutilah 
teladanku!"

Sekarang, mengapa pula orang harus mengikuti suatu kepemimpinan dalam
bergereja? Pada kenyataannya, ada saja orang yang menyetarakan gereja dengan
hiburan. Apa bedanya pergi ke gereja dengan nonton di bioskop? Orang merasa
perlu terlayani di sana, menjadi penonton dari berbagai acara atau liturgi 
gereja. Di gereja protestan, aktor utamanya adalah pendeta di atas mimbar. 
Jemaat menjadi penonton dan pendengar; dan kalau pendetanya tidak menarik, ada 
saja orang yang mendengkur. Bagi mereka yang hadir sebagai penonton, tentu saja 
kepemimpinan tidak terlalu berarti. Toh orang hanya datang, duduk, memberi 
duit, lalu pergi lagi.

Coba pikirkan lagi: dalam setiap ibadah, siapa yang sesungguhnya menjadi
pelaku, dan siapa penontonnya? Tuhan tidak menciptakan dunia ini agar Ia
menjadi Aktor sementara manusia-manusia bodoh menjadi penonton. Sebaliknya!
Tuhan mengawasi kita sekalian, dan kitalah yang menjadi pelaku-pelaku
kehidupan. Bisa dikatakan, urusan terpenting yang dihadapi manusia adalah
bagaimana tampil dengan baik di hadapan Sang Penonton, dan untuk itu kita
membutuhkan kepemimpinan. Di Gereja kita hadir untuk menyembah Dia yang
mengawasi kita, dengan sorot mata seperti seorang Bapa memandang anak-anak-Nya.

Karena itu, urusan kita adalah mendengar Rasul Paulus berkata "Turutilah
teladanku!" maka kita memberkati ketika dimaki,  sabar ketika dianiaya, dan
menjawab dengan ramah ketika difitnah. Dan Rasul Paulus sendiri malah
meneladani Tuhan Yesus, yang juga memberikan teladan-Nya bagi kita. Bukankah
tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk menjadi serupa seperti Kristus?
Baiklah kita hidup di dalam Dia yang menghidupkan. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Kirim email ke