From: Albert August Dewantoro 

Sepuluh anjuran

Sepuluh anjuran untuk membantu memperkembangkan & memelihara gambar-diri yang 
sehat  (Bacalah pelan-pelan. . renungkanlah. .)

1. Bencilah dosamu, tapi jangan pernah membenci dirimu.

2. Cepatlah untuk menyesali kesalahan.

3. Apabila Tuhan memberimu terang, berjalanlah di dalam terang-Nya itu.

4. Berhentilah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirimu sendiri. Tuhan 
mencintai mu dan tidaklah benar jika kamu membenci sesuatu yang Dia cintai. Dia 
mempunyai rancangan-rancangan yang indah bagimu, jadi kamu melawan-Nya jika 
kamu berbicara secara negatif mengenai masa depanmu sendiri.

5. Janganlah takut untuk mengaku bahwa kamu telah berbuat kesalahan, tapi 
janganlah selalu berprasangka bahwa kamulah yang salah setiap saat ada yang 
tidak benar.

6. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kamu lakukan, baik yang benar 
maupun yang salah; itu sama dengan memikirkan terus diri sendiri! Pusatkanlah 
pikiranmu kepadaNya!

7. Jagalah dirimu sendiri secara fisik. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya apa 
yang
Tuhan telah berikan padamu demi tugasmu, tapi janganlah menjadi terobsesi 
dengan penampilanmu.

8. Janganlah berhenti untuk belajar tapi jangan sampai ilmu itu membuat kamu 
sombong. Tuhan memakai kamu bukan karena apa yang ada di dalam kepalamu 
melainkan karena apa yang ada di dalam hatimu.

9. Sadarilah bahwa setiap talentamu adalah anugerah, bukanlah sesuatu yang kamu 
ciptakan sendiri; jangan pernah merendahkan orang lain yang tidak sanggup 
melakukan apa yang kamu dapat lakukan.

10. Janganlah meremehkan kelemahan-kelemahan dirimu... merekalah yang membuat
kamu tetap tergantung pada Tuhan
==============================================
From: Herlianto 

KRISTEN TAUHID

Belakangan ini di Indonesia terbit banyak buku yang penulisnya meng’klaim’ 
dirinya sebagai ‘Kristen Tauhid’ yang mengimani ajaran ‘Unitarian,’ bahkan 
beberapa kali mengadakan debat dengan pendeta Kristen tertentu terutama di 
Surabaya. Apakah Unitarianisme dan Kristen Tauhid itu?

Ajaran Unitarian mewarisi ajaran Arianisme yang dikenal dengan tokohnya Arius 
(256-336) yang memadukan Neoplatonisme ke dalam pemikirannya yang merendahkan 
Kristus sekedar sebagai ciptaan lebih rendah dari Tuhan. Pre-existence Yesus 
bukanlah Tuhan tetapi ciptaan pertama yang ‘seperti Tuhan’ (homoi-ousius) atau 
‘demigod,’ semacam konsep ‘demiurge’ dalam gnostisisme. Bagi Arius, karena 
Yesus adalah ciptaan, maka ia bukan Tuhan, dan bukan penebus karena hanya Tuhan 
yang bisa menebus. Arius mengemukakan bahwa:

‘Anak Tuhan adalah ciptaan dan sebagai firman (logos) ia bukanlah Tuhan dan 
juga bukan manusia biasa. Firman adalah ciptaan yang berada di antara Tuhan dan 
manusia, ia lebih rendah dari Bapa, namun diangkat sebagai ‘anak angkat’ dengan 
gelar ‘Anak Tuhan.’ Firman itu diciptakan pertama dan paling besar dari semua 
ciptaan, kemudian firman itu menciptakan yang lainnya. Menurut Arius ada 
saatnya dimana firman itu tidak ada, kemudian diciptakan oleh Tuhan dan disebut 
‘Tuhan’ juga namun tidak setara dengan ‘Tuhan.’

Mayoritas bapak gereja menolak ajaran Arius yang dianggap tidak sesuai dengan 
ajaran Alkitab yang sejak abad pertama dipercaya gereja Kristen.  Alexander, 
uskup Alexandria menolak pemikiran Arius dan karena kemudian menjadi bahan 
perdebatan di kalangan beberapa pimpinan jemaat, raja Konstantin mengadakan 
Konsili Nicaea (325) untuk membahas kontroversi ajaran Arius itu. Mayoritas 
yang hadir dari 300 peserta dalam konsili itu menolak ajaran Arius dan 
menganggapnya tidak sesuai dengan firman Tuhan dan meneguhkan kepercayaan 
semula mengenai ke’Tuhan’an Yesus yang setara dan sehakekat dengan Tuhan Bapa. 
Hanya sekitar 30 uskup yang mendukung Arius. Nicea mengaku Yesus sama dengan 
Tuhan (homo-ousius).

Sekalipun Arius dan pengajarannya ditolak oleh gereja dan uskup Alexandria, 
namun ia tetap mengumpulkan murid-murid, namun secara sporadis masih ada 
kelompok yang menganut fahamnya, tetapi pada abad-7 sirna pengaruhnya. Baru 
satu milenium kemudian semangat anti-trinitarian Arianisme dipercaya lagi oleh 
kelompok Unitarian (abad-16), Christadelphian (abad-19), Saksi-Saksi Yehuwa 
(abad-19), dan sekarang Kristen Tauhid. 

Pengikut faham anti-trinitarian semacam Arianisme biasanya disebut sebagai 
Unitarian , dan faham ini menggugat keyakinan Tritunggal/Trinitas. Dokter dan 
teolog Spanyol, Michael Serrvetus menantang gereja dengan menerbitkan dua 
tulisan yang provokatif berjudul De Trinitatis Erroribus (Tentang Kesalahan 
Tritunggal, 1551) dan Christianismi Restitutio (1553) yang menantang Insitutio 
dari Johanes Calvin. Pandangannya yang anti-trinitas meletakkan dasar bari 
gerakan Unitarian. 

Di Amerika Serikat, unitarian berkembang dari perpecahan yang terjadi di 
kalangan pendeta gereja Puritan konggregasional. Kelompok pendeta yang lebih 
liberal bereaksi terhadap doktrin predestinasi dan dosa asal dalam Calvinisme, 
doktrin yang melanda Protestantisme Amerika terutama semasa Kebangunan Besar 
(The Great Awakening), demikian juga konggregasi yang terpengauh faham 
Arianisme dan Armenianisme mengarah pada ajaran Unitarian. 

Charles Chauncy, seorang pendeta konggregasional menolak Calvinisme dan percaya 
akan kehendak bebas (free will). Pada tahun 1979, King’s Chapel di Boston 
secara resmi menerima ajaran Unitarian dan meninggalkan gereja Episkopal. 
Kemudian beberapa konggregasi di New England  mengikuti jejak itu, tetapi nama 
Unitarian baru secara umum digunakan sejak tahun 1815. Hosea Ballou 
(1771-1825), pemimpin universalist Amerika, bukunya A Treatise of Atonement 
(1805) membawa banyak pendeta universalist ke dalam pandangan Unitarian 
mengenai Tuhan dan kristologi Arianisme. Ia berpendapat bahwa karena dosa 
bersifat terbatas dalam alam dan segala akibatnya dirasakan dalam kehidupan 
didunia ini, maka semua manusia akan diselamatkan setelah meninggal. 

Pada tahun 1825 dibentuk American Unitarian Association yang menyelenggarakan 
konperensi nasional pada tahun 1865. Gereja anggota tetap memiliki independensi 
mereka, dan ditahun 1961, organisasi ini bergabung dengan Universalist Church 
of America membentuk Unitarian Universalist Association (UUA) dengan pusat di 
Boston.
Unitarian menganggap agama mereka sebagai liberal yang tidak bergantung pada 
doktrin, keyakinan, maupun pengakuan iman tertentu, melainkan menganggap 
kesadaran, pengalaman, dan akal budi sebagai fundasi dalam keyakinan agama. 
Mereka menekankan toleransi beragama, hakekat kebaikan kemanusiaan, dan hidup 
yang saling bergantung. Sebagai konsekwensi, unitarian bergabung dengan 
semangat faham liberalisme dalam ranah sosial dan etis. 

Unitarian Universalist tidak memiliki pengakuan iman (credo) dalam pengajaran 
mereka, mereka juga menolak otoritas dogma yang disusun dewan-dewan gerejawi. 
Pengajaran mereka termasuk percaya akan kesatuan Tuhan, kemanusiaan Yesus, 
tanggungjawab manusia dalam hal agama dan sosial, dan kemampuan mencapai 
keselamatan agama melalui berbagai tradisi agama. Unitarian mendukung 
pluralisme agama, dan bagi Unitarian yang masih mengkaitkan diri mereka dengan 
kekristenan, sekalipun percaya bahwa keselamatan juga bisa diperoleh melalui 
agama-agama lain, mereka tetap berpegang kepada ajaran Kristus dalam soal hidup 
ini.

Sekalipun demikian, lama kelamaan banyak Unitarian dan Unitarian Universalist 
menjauh dari Unitarian tradisional yang berakar kekristenan. Sebagai contoh, di 
tahun 1890-an American Unitarian Association menerima keanggotaan mereka yang 
bukan kristen dan gereja-gereja yang tidak pecaya kepada Tuhan. Pada masa 
merebaknya pandangan humanisme agama di abad-20, keinginan untuk mengembangkan 
teologi liberal yang lepas dari dasar ketuhanan tumbuh dalam gerakan Unitarian, 
ini menyebabkan kontroversi theis-humanist. Setelah pendeta unitarian John 
Dietrich dan Curtis Reese menandatangani ‘Humanist Manifesto’ (1933), humanisme 
agama menjadi pandangan banyak unitarian. Masakini,  jumlah penganut Unitarian 
atheist melebihi penganut Unitarian theist.

Perkembangan Unitarianisme terbatas. Di Amerika Serikat terdapat 155.000 
penganut Unitarian, padahal pada waktu yang sama setiap tahun ada sekitar 
200.000 orang dewasa menjadi anggota baru gereja Roma Katolik. Beberapa 
penyebab mengenai hal ini adalah dominannya warga kulit putih kelas menengah, 
dan ajaran Unitarian tidak dapat dijadikan pegangan memelihara iman karena 
Unitarianisme tidak mengajarkan pengharapan akan kehidupan sesudah mati. 
Lalu bagaimana dengan aliran Kristen Tauhid yang mengaku sebagai penganut 
Unitarian itu? Apakah sama dengan Unitarianisme, ataukah memiliki ciri khas 
tertentu? Para penulis buku-buku Kristen Tauhid mengaku bahwa mereka termasuk 
penganut faham Unitarian. Tjahjadi Nugroho tokoh utama Kristen Tauhid dalam 
kata Pengantar dalam buku Frans Donald (Tuhan dalam Alkitab & Al-Quran), 
mengemukakan bahwa:
“Modal terbesar Frans Donald untuk menulis buku ini adalah semangatnya adalah 
semangatnya sebagai seorang Kristen Tauhid (Unitarian).
Sedangkan Frans Donald sendiri dalam buku yang sama menyebut mengenai agama 
dirinya:
“Apa itu Kristen Tauhid? Pada intinya, sebagai Kristen Tauhid, Tuhan saya Esa, 
bukan tiga atau Trinitas. Saya tidak percaya Tuhan itu satu dalam tiga pribadi 
(Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus)”.
Penulis lain Ellen Kristi (Bukan Tuhan Tapi Tuhan) juga mengaku sebagai Kristen 
Tauhid yang adalah Unitarian. Pada judul bukunya  ditulis:
“Perspektif Seorang Kristen Tauhid tentang Keesaan Tuhan dan Keilahian Yesus 
Kristus”.

Dalam Prakata buku itu ia menguraikan sejarah singkat Unitarianisme seperti 
yang berkembang di benua Eropah, dan ia mengatakan didalamnya, bahwa:
“Semangat dari Kristen Tauhid atau Unitarianisme adalah memperjuangkan 
kebebasan bagi setiap orang untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh nurani 
sesuai akal sehat-nya, bahkan sekalipun harus bertentangan dengan doktrin atau 
kredo yang lazim dianut mayoraitas umat (mainstream). Agama dan keyakinan 
religious merupakan pilihan pribadi,tidak boleh dipaksakan, apalagi dengan 
kekerasan.”
Menurut Tjahjadi Nugroho (Manusia Yesus Kristus), tokoh utama Kristen Tauhid, 
ketauhidan itu berkait erat dengan Iman monotheisme Abraham. Ia mengatakan:
“Ciri utama agama Ibrahim adalah tauhid atau monotheistik. Konsep dasar tauhid 
ini adalah melekat pada ciri Tuhan Israel yang bersifat pribadi, personal God, 
bukan substansi atau zat sebagaimana diyakini bangsa-bangsa lain. ... Dasar 
ketauhidan yang kokoh ini menetapkan perintah pertama hukum Taurat menajdi 
dasar perintah lain. Mempersekutukan atau menduakan Tuhan adalah larangan 
terbesar dalam Iman Ibrahimik”.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa Kristen Tauhid mau kembali kepada agama 
monotheisme Abraham yang dipercayai oleh umat Yahudi. Monotheisme yang tidak 
menyekutukan Tuhan dan menjadikan Yesus sekedar ciptaan yang lebih rendah dari 
Yahweh.

Unitarianisme mewarisi berbagai tradisi, setidaknya ada dua kutub besar dalam 
Unitarianisme yaitu Unitarianisme Liberal yaitu aliran yang cenderung mengarah 
pada faham Universalisme, dan Unitarianisme Teologis aliran yang terkait 
tradisi Kristen Eropah yang tumbuh dalam era reformasi.
Ellen Kristi dalam Sekedar Prakata bukunya mengakui bahwa Unitarianisme 
cenderung mengarah pada Universalisme, namun ia mengemukakan bahwa Kristen 
Tauhid mewarisi tradisi klasik. Dalam bukunya ia memberikan Catatan Kaki yang 
berbunyi:
“Dalam perkembangannya, Unitarianisme modern mengalami perluasan makna dan 
cakupan, sehingga berimpitan dengan Universalisme. Definisi Kristen Tauhid 
dalam buku ini merupakan Unitarianisme dalam bentuk klasik dan yang khas 
Indonesia”.
Kelihatannya aliran Kristen Tauhid klasik termasuk yang Teologis atau Religious 
karena secara eksplisit menyebut dirinya ‘kristen.’ Kesan ini jelas pula dalam 
tulisan Ellen Kristi berikut:
“seorang Kristen Tauhid memilih untuk meletakkan dasar imannya dalam Kitab Suci 
Judeo-Kristen (the Bible), baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru’.
Jadi, Kristen Tauhid mengaku sebagai aliran Kristen yang bertumpu pada Alkitab 
Kristen, namun mengapa mereka menolak keyakinan trinitarian yang dipercayai 
oleh umumnya umat Kristen? Ada kecenderungan di kalangan mereka untuk 
menjadikan Kristen Tauhid sebagai Unitarian yang khas Indonesia, yaitu usaha 
untuk mensintesakan ajaran Kristen Tauhid dengan ajaran agama Islam yang dianut 
oleh sebagian besar warga Indonesia, khususnya konsep tentang Tuhan. Dalam buku 
penganut Kristen Tauhid sering diacu ayat-ayat Al Quran untuk mendukung thesis 
mereka.

Kristen Tauhid banyak menganjurkan keterbukaan termasuk terhadap liberalisme 
maupun terhadap agama Islam, dan mempromosikan toleransi beragama. Sayang 
Kristen Tauhid tidak bisa mentolerir kekristenan historis yang mempercayai 
Tuhan Tritunggal yang mereka anggap mempercayai kepercayaan yang tidak masuk 
akal.
Dari buku-buku kalangan Kristen Tauhid kita melihat latar belakang para 
tokohnya ikut mewarnai pendangan Unitarian mereka. Yang mencolok adalah sifat 
Arianisme yang kentara dengan banyaknya doktrin Saksi-Saksi Yehuwa yang 
dipegang oleh Kristen Tauhid. Dalam penjelasannya ‘Tentang Penulis,’ dalam 
bukunya, Frans Donald mengaku bahwa ia pernah menjadi mengikut Saksi-Saksi 
Yehuwa, dan bahwa ia:
“Lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik yang sangat sederhana alias 
miskin. Sepeninggal almarhum ayahnya, karena kerinduannya akan kebenaran ia 
telah melakukan passing over ke dalam berbagai denominasi Protestan Bethani, 
Advent, Saksi Yehuwa, dan lain-lain, juga mempelajari Hindu Dharma dan Islam. 
Saat ini ia “berlabuh” di komunitas religius Kristen Tauhid (Christian 
Unitarian) yang ia nilai terbuka dan tidak dogmatis, memberi kebebasan kepada 
setiap orang untuk merumuskan iman berdasarkan hati nurani dan akal sehatnya”.

Ciri pengajaran Arianisme dan Saksi Yehuwa dapat dilihat dari faham yang dianut 
Kristen Tauhid yang anti-Trinitas yaitu mengenai Yesus yang bukan Tuhan dan 
lebih rendah dari Yahweh, dan juga beberapa pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa 
seperti antara lain Roh Kudus sebagai tenaga aktif Tuhan, dan bahwa Yesus 
adalah ciptaan pertama dan sama dengan penghulu malaekat Mikhael.
Selain ciri khas mewarisi doktrin Saksi-Saksi Yehuwa, Frans Donald mengaku 
perlunya perayaan Sabat.
“Kitab Suci menyuruh peribadahan agama di hari Sabtu, hari yang tidak pernah 
kita kuduskan”.

Kelihatannya Kristen Tauhid tidak memiliki sistem keyakinan yang seragam dan 
jelas kecuali bahwa mereka mempercayai Tuhan Yang Esa (tauhid) dan anti ajaran 
Tritunggal/ Trinitas, dan mereka gencar sekali menyerang ajaran Tritunggal/ 
Trinitas yang dipercayai umat Kristen & Katolik secara umum. Ini terlihat dalam 
judul buku terbaru Frans Donald, seorang Kristen Tauhid yang vokal, yang 
berjudul: “Menjawab Doktrin Tritunggal.”!

Salam kasih dari Herlianto www.yabina.org 

PS: Telah terbit Seri Buku Saku Yabina – 07 berjudul ‘Kristen Tauhid, siapa dan 
bagaimana ajaran mereka? (Agustus 2007, 75 halaman).’ Mereka yang membutuhkan 
dapat menghubungi penulis. 
=============================================
From: "james widodo" <[EMAIL PROTECTED]>

Pelajaran Dari Seorang Pengemis

Siang hari tadi kami sekeluarga bermaksud makan pagi sekaligus makan siang di 
sebuah rumah makan sepulang dari menjemput putri kami di sekolah. Ketika 
menunggu pesanan datang, seorang pengemis yang kurus dan kotor mendekati kami 
untuk meminta uang. Istri saya menyodorkan uang Rp. 500 kepadanya dan dengan 
semerta-merta ditolaknya dan dia meminta lebih banyak!!. Saat itu juga kami 
menjadi kesal dan berkata: ʽdikasi uang kok ndak mauʼ. Kemudian kami memutuskan 
untuk tidak memberinya uang lagi dan pengemis itu datang kepada orang lain, 
yang tidak memperdulikannya sama sekali. Setelah merengek beberapa lama tanpa 
mendapat hasil, pengemis itu kembali kepada kami dan mengulangi permintaannya 
selama beberapa lama. Akhirnya dengan sedikit rasa belas kasihan dan didominasi 
perasaan yang terganggu, saya memberinya uang Rp. 1.000. Apa yang kemudian 
terjadi? Ya, pengemis itu segera menyambar uang seribu itu dan ngeloyor pergi 
tanpa mengucapkan satu patah kata apapun juga. Dengan hati yang mengkal, saya 
menyindirnya dengan mengatakan ʽterima kasih yaʼ. Di luar dugaan, pengemis itu 
menjawab sambil terus berjalan, tanpa menoleh: ʽyaʼ. Mendengar jawaban itu saya 
merasa jengkel tetapi dengan cepat kejengkelan itu berubah menjadi rasa geli 
ketika istri saya berkata ʽisih kalah edaneʼ (masih kalah gilanya). 

Dari peristiwa di atas, kami mendapat beberapa pelajaran sbb:
1. Ternyata ʽworld viewʼ kami berbeda dengan ʽworld viewʼ sang pengemis. Pada 
mulanya kami beranggapan uang Rp. 500 sudah cukup memuaskannya, ternyata bagi 
dia jumlah itu tidak mencukupinya. Hal ini menyadarkan kami ternyata dalam 
hidup sehari-hari secara sadar maupun tidak kita tidak terlepas dari 
mempergunakan ilmu psikologi dalam bertindak.

2. Kami berpikir bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh sang pengemis secara 
tidak sadar kami lakukan juga dalam hubungan kami dengan Tuhan. Bukankah setiap 
hari Tuhan sudah memberikan berkat yang cukup bahkan berlebih kepada kami, 
tetapi sering kami merasa belum cukup sehingga doa kami setiap hari didominasi 
dengan permintaan-permintaan untuk memuaskan ego narcis kami?. 

3. Mungkin setelah membaca tulisan di atas, ada di antara pembaca yang berkata: 
ʽsetelah menyadari kesalahan kami, pasti Tuhan akan memberkati kami berlimpahʼ. 
Nah, pada kenyataannya, setelah peristiwa di atas, selama sehari penuh toko 
kami sepi sekali, memang orang keluar dan masuk tetapi tidak ada seorangpun 
yang beli; sungguh suatu hal yang sangat sangat jarang terjadi. Sore hari kami 
keluar naik mobil sambil memperbincangkan hal ini. Kami sungguh bersyukur 
karena sadar Tuhan memberikan peringatan kepada kami melalui peristiwa dengan 
pengemis tsb. Menjelang malam saya turun ke toko untuk menutup toko dan 
mendapati sebuah penjualan terjadi. Secara nilai memang bukan pejualan yang 
besar, hanya kira-kira sepertiga dari penjualan normal tetapi nilai pelajaran 
yang kami dapat jauh lebih tinggi dari nilai materinya. Sebuah nas terngiang 
dalam kepala saya ʽmasakan kamu hanya mau menerima yang baik dari Tuhan tanpa 
mau menerima yang buruk?ʼ, juga teringat sebuah kotbah dari pak Yohan dari Mat 
15:21-28 yang mengatakan bahwa Tuhan lebih tertarik untuk membentuk kepribadian 
kita terlebih dahulu dari pada cepat-cepat menyelesaikan masalah kita dan 
akhirnya saya juga teringat bahan PA pak Robby Chandra tentang ʽdog and cat 
theologyʼ yang mengupas perbedaan karakter orang kristen yang diilustrasikan 
dari perbedaan sifat-sifat seekor anjing dan seekor kucing. Terima kasih Tuhan 
karena Kau masih mau memprosesku hari lepas hari. Soli Deo Gloria.....

Hendra, 150907  jameswidodo-heart.blogspot.com

Kirim email ke