From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 37 -- Aku Tak Bisa Memegang Kartu Lagi
PENGANTAR
Setiap orang pasti mengharapkan perubahan di dalam hidupnya meskipun
tidak sedikit usaha yang harus dilakukan demi tercapainya perubahan
yang diharapkan. Apabila saat ini kita sedang menginginkan perubahan
di dalam hidup, motivasi apa yang membuat kita yakin ingin berubah?
Apakah untuk diri kita sendiri? Ataukah untuk orang lain? Pernahkah kita
berpikir
untuk berubah karena kita ingin hidup yang kita miliki menjadi lebih
berkenan di
hadapan Tuhan? Melalui kisah berikut, mari kita renungkan motivasi perubahan
di
dalam hidup kita. Biarlah semuanya kita lakukan demi kemuliaan nama-Nya.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
AKU TAK BISA MEMEGANG KARTU LAGI
================================
Ia pulang, duduk seorang diri dengan suasana hening dan damai,
sedamai hatinya. Tadi ketika seorang hamba Tuhan berbicara dengan
penuh kuasa Ilahi, hatinya dikuasai penyesalan yang sangat dalam
teringat kehidupannya yang penuh dosa. Ia melihat bagaimana
hari-harinya dilewati dengan berjudi, sampai tubuhnya payah dan
tidak pernah sedikit pun terpikir akan anak dan istrinya.
Bila ia kalah, anaknya yang datang untuk meminta uang belanja selalu
diumpatnya: "Karena tadi aku kamu ganggu, maka aku jadi kalah!" Tak
pernah diperhatikannya istri dan anaknya yang semakin kurus menahan
derita batin dan jasmani. Bila kebetulan menang, uang yang
didapatnya dibelanjakan berbagai barang kebutuhan keluarga. Karena
pikirnya, dengan begitu keluarganya akan senang dan merasa terhibur.
Ia berpikir seolah-olah dengan memborong barang-barang (baik yang
dibutuhkan ataupun tidak), ia dapat mengurangi seluruh beban keluarganya.
Saat semua disadarinya, pintu hatinya telah terbuka. Ketika hamba
Injil itu mengajak orang-orang untuk bertobat dan menerima Juru
Selamat, ia menjadi salah seorang di antara mereka. "Mulai saat ini,
segala dosa Saudara telah dihapus oleh darah pengorbanan Kristus di
kayu salib," demikian berkata hamba Injil itu, "damai sejahteralah
Saudara sekarang dan tinggalkan perbuatan dosa yang dahulu."
Pertobatan itu telah mengubah dirinya, ia bertekad untuk
meninggalkan segala perbuatan dosa yang terdahulu. Tetapi setan
tidak pernah tinggal diam. Tak henti-hentinya teman-teman berjudinya
datang ke rumah, mengajaknya kembali mencari keuntungan yang tidak
dihalalkan Tuhan. Bila ia berkata bahwa telah bertobat serta
menerima Kristus, mereka tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kami
ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan sebagai orang Kristen!"
Ia mulai gelisah, akankah ia dapat bertahan dalam imannya?
Tiba-tiba ia teringat bagaimana Kristus mencurahkan darah-Nya
sebagai penebus dosa manusia, dosa dirinya, si penjudi. Maka dari
dalam hatinya yang baru disucikan, timbul suatu tekad. Tuhan, demi
menunjukkan kasih setiaku pada-Mu, aku rela berkorban sekalipun
dengan mencurahkan darahku. Ia memanggil istrinya, "Ambilkan aku
golok," katanya dengan tenang. Istrinya tidak berprasangka dan
menuruti permintaan itu. Dipegangnya golok itu, kemudian tangannya
yang lain diletakkan di atas meja. Golok diangkat dan istrinya memerhatikan
perbuatannya dengan perasaan ngeri. Apakah yang hendak dilakukan suaminya
itu?
Darah mengalir deras, telunjuk terkapar di atas meja dan terpisah
dari tangannya. Dengan wajah pucat menahan sakit, ia memerintahkan
istrinya mengambil pembalut. "Selesai sudah," gumamnya karena baru
saja memotong jari telunjuknya. Keesokan harinya ketika
teman-temannya datang, ia mengangkat tangannya yang sudah tak
berjari telunjuk tinggi-tinggi, "Aku sudah tidak bisa memegang kartu
lagi," katanya dengan tegas. Teman-temannya pergi setelah mendengar
apa yang terjadi dan mereka mengaku kalah karena iman mampu
mengalahkan segala-galanya dan mampu memberi kesaksian.
Di kota kecil Jepara, hidup seorang kakek berusia delapan puluh
tahun. Jalan dan gerak-geriknya masih gagah, bicaranya jujur dan
tegas. Selama empat puluh tahun, ia telah bersaksi dan tanpa didikan
teologis telah mempertobatkan beratus-ratus orang di kota itu. Bila
secara kebetulan kita bertemu dengan dia dan melirik ke tangannya,
kita akan melihat bahwa tangannya tidak berjari telunjuk ....
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Untaian Mutiara
Judul artikel: Plass ... Aku Tak Bisa Memegang Kartu Lagi
Penulis : Betsy T.
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 59 -- 61
______________________________________________________________________
"Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa
yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta
melakukan
keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati." (Yehezkiel
18:21)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yehezkiel+18:21 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Mari bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa memberi dorongan dan
harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Mintalah kekuatan
dari-Nya
agar kita dapat mewujudkan kehidupan yang penuh kesetiaan kepada-Nya.
2. Doakanlah orang-orang di sekitar kita yang masih berkutat dalam
kehidupan lamanya, kiranya Tuhan masih memberi belas kasihan-Nya
kepada mereka. Berdoalah juga agar melalui kesaksian dan teladan
kita, mereka boleh diyakinkan akan anugerah dan hidup baru yang
jauh lebih indah di dalam Kristus.
3. Doakan agar Tuhan memberikan komunitas atau persekutuan yang sehat bagi
setiap petobat baru. Kiranya para petobat baru itu dapat mengalami
pertumbuhan
rohani yang sehat bersama saudara-saudara persekutuannya itu.
=============================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 38 -- Korea Utara: Satu-satunya Saksi
PENGANTAR
Menjadi seorang Kristen ternyata tidak cukup hanya sekadar mengikuti
Kristus saja, tapi juga dituntut untuk bisa menjadi saksi-Nya. Tidak
hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui cara hidup kita sehari-hari.
Tidak perlu
menjadi seorang martir untuk menjadi seorang Kristen sebab kisah hidup
seorang
martir dapat menjadi kesaksian yang nyata. Simaklah kisah martir berikut
ini,
semoga semakin menguatkan iman percaya kita.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
KOREA UTARA: SATU-SATUNYA SAKSI
===============================
Saat ia datang perlahan, matanya tertuju ke asap. Ia berteriak
mencari gembalanya, tetapi tak seorang pun menjawab. Karena
ketakutan, ia segera mulai berusaha keluar dari tumpukan mayat dan
reruntuhan.
Pagi itu, ia berada di antara sekelompok 190 orang percaya Korea
Utara saat polisi menyerbu masuk, mengelilingi mereka, dan dengan
kasar menggiring mereka ke pusat kota.
Pemimpin bangsa mereka, Kim Il-sung, berdiri di depan mereka.
Diktator yang tak memiliki hati itu berjalan ke tengah-tengah lapangan dan
menggambar sebuah garis di tanah, kemudian memerintahkan orang-orang yang
ingin tetap hidup agar mengingkari Kristus dan melewati garis itu.
Tak seorang pun maju. Karena sangat marah, Kim Il-sung memerintahkan supaya
kelompok itu dilemparkan ke dalam terowongan tambang disertai
dinamit-dinamit.
Hal terakhir yang diingat oleh orang percaya yang selamat itu adalah
gembalanya, yang menghibur dan memberi dorongan semangat kepada
kelompok itu. Karena menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang
selamat, ia menangis, "Mengapa Tuhan? Mengapa Engkau tidak
membiarkanku mati bersama lainnya?"
Tuhan segera memenuhi hatinya dengan damai dan kemudian ia sadar
bahwa seseorang harus tetap tinggal dan menjadi seorang saksi bagi
iman mereka. Ini merupakan serangan brutal pertama kalinya dari
beberapa lainnya yang dilakukan oleh bentuk komunisme dan pemujaan
Kim Il-sung, yang dinamai Juche. Berita tentang kejadian heroik ini menyebar
dengan cepat di antara umat Kristen dan masih diceritakan sampai hari ini di
Korea Utara.
*****
Seperti umat percaya dalam kisah ini, pemadam kebakaran yang selamat
dari serangan teroris pada gedung World Trade Centre bukanlah
saksi-saksi yang diam. Sekalipun mereka tidak dapat menjelaskan
mengapa mereka selamat dan rekan-rekan lainnya tidak, mereka
merupakan para pejuang yang terus terang menyadari bahwa seseorang
harus tetap tinggal untuk menceritakan kisah-kisah mereka yang meninggal
karena
menyelamatkan orang lain supaya orang lain tersebut dapat hidup.
Sebagai seorang Kristen, Anda bahkan memiliki orang yang selamat
yang lebih besar daripada yang diceritakan oleh kisah tersebut.
Yesus tidak selamat dari kayu salib. Ia menaklukkannya. Ia tidak
hanya selamat dari penderitaan-Nya; Ia menang atasnya. Ia kembali
dalam tubuh kebangkitan untuk menyampaikan berita kepada
murid-murid-Nya yang kemudian menceritakan kejadian ini kepada
dunia. Yesus mati menyelamatkan orang lain supaya mereka dapat hidup. Namun
Ia
hidup, bangkit dari kematian dan menawarkan keselamatan bagi dunia.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel: Korea Utara: Satu-satunya Saksi
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 312
______________________________________________________________________
"Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus
datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,"
dan di antara mereka akulah yang paling berdosa." (1 Timotius 1:15:)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Timotius+1:15 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Bersyukur untuk kesempatan hidup yang Tuhan percayakan sehingga
kita dapat menyaksikan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita kepada setiap
orang.
2. Dalam menjalankan pekerjaan di ladang-Nya, tak jarang kita
mengalami berbagai tekanan yang membawa kedukaan dan kesengsaraan.
Berserulah kepada-Nya setiap kali kedukaan dan kesengsaraan itu melanda.
3. Tantangan dan hambatan tentu akan merintangi pelayanan kita
bagi-Nya. Oleh karena itu, mohonkanlah hikmat kepada-Nya sehingga
meskipun dihadang rintangan, kita justru semakin dikuatkan,
bahkan dimampukan untuk menghadapinya.
4. Doakan pula setiap orang yang mengalami pergumulan dalam
menjalankan kesaksian mereka. Berdoalah agar Tuhan
menganugerahkan penghiburan dan kekuatan bagi mereka.