From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 41 -- Penantian yang Panjang
PENGANTAR
Berapa lama kita mampu menunggu sesuatu? Apakah satu jam? Ataukah
satu minggu? Bagaimana dengan sebulan atau setahun? Masih sanggupkah
kita bertahan? Tentu saja kalau boleh memilih, kita tidak akan
melakukannya. Bukankah menunggu merupakan pekerjaan yang
membosankan? Tapi bagaimana jika mau tidak mau kita harus menunggu?
Apakah kita akan menunggu tanpa berharap bahwa yang kita tunggu akan
datang? Satu hal yang jelas, sering kali penantian kita itu tidak
sia-sia. Apalagi penantian akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Nah, kali ini kami mengajak Anda untuk menyimak satu kesaksian yang
menggetarkan. Kesaksian ini juga hendak menunjukkan bahwa penantian
itu tidak sia-sia sebab dilakukan bersama Tuhan. Mari kita simak.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
PENANTIAN YANG PANJANG
======================
Langit rasanya runtuh menimpa saya saat peristiwa itu. Bukan saya
saja yang terpukul, tapi anak-anak saya juga. Mereka yang dulunya
periang menjadi pemurung, hampir tiap hari saya dipanggil ke
sekolah, menangani dampak dari kesedihan mereka yang dalam.
Perekonomian keluarga yang sudah sangat sulit menjadi ambruk sama
sekali. Sementara anak-anak harus tetap sekolah dan makan. Berbagai
usaha saya lakukan, yang penting halal, walaupun ada perasaan sedih
dan malu karena memikul nama suami saya. Tapi saya tutup telinga
karena bagaimanapun saya tetap harus menghidupi ketujuh anak saya.
Walaupun harus berhemat luar biasa sehingga beberapa tahun kami
harus bergelap-gelapan karena saat malam kami mengandalkan lilin.
Itu karena kami tidak mampu membayar listrik.
Kesedihan saya yang terbesar karena ketakutan saya akan masa depan
anak-anak saya. Pergaulan dan teman-teman saya banyak yang mengalami
kehancuran rumah tangga seperti ini, dan semua anak-anaknya menjadi
hancur menyedihkan. Sedih sekali, jangan sampai hal itu juga terjadi
pada anak-anak saya.
Tapi saya tahu, saya tidak boleh terus bersedih dan merenungkan
nasib saya. Karena kalau saya goyah, bagaimana anak-anak saya bisa bertahan.
Untuk itu, saya harus menunjukan bahwa saya kuat, agar mereka bisa bertahan.
Pada saat-saat tertentu, seperti saat bermain, mereka bisa langsung
berhenti bermain dan berlari mencari saya, menangis dengan sedihnya
menyatakan betapa ia merindukan papinya. Saat makan bersama, anak
saya bisa mendadak berhenti dan menangis dengan sedihnya, "Aduh Mama
... aduh ... tolong aku ... aku rindu ... aku rindu sekali dengan
Papi ... bagaimana Mama...?!" Sebagai seorang ibu, apa yang harus
saya lakukan menghadapi hal seperti itu?
Dalam kepedihan seperti itu, saya membawa anak-anak mengenal Tuhan.
Hasilnya sekitar satu tahun kemudian, anak saya yang paling tua
sering mengajak saudara-saudaranya bergandengan tangan, menyanyikan
pujian penyembahan, dan berdoa. Saat mereka berdoa, saya menjadi
begitu terharu, bangga, dan bahagia. "Tuhan kami mengampuni Papi
kami karena ia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Ampunilah juga
perempuan yang mengambil Papi, berilah suami yang baik untuknya dan
kembalikan Papi kami."
Sebelas Tahun Kemudian
Satu saat telepon berbunyi, ternyata telepon dari Robby. Robby
selalu memanggil saya Etha. Robby mengatakan hal ini kepada saya,
"Halo Etha, ini aku. Etha, aku mau pulang dan kembali ke rumah. Kamu
bersabar yah, aku mau menyelesaikan semua masalah di sini. Aku pasti
akan kembali padamu dan anak-anak!" Setelah suami saya Robby
berbicara seperti itu, suatu perasaan sayang, perasaan cinta
sepertinya mulai timbul dan saya rasakan kembali.
Satu tahun lewat, dua tahun lewat, tiga tahun lewat. Tapi ayahnya
belum juga pulang sesuai janjinya. Anak saya yang pertama selalu
membeli hadiah untuk kado ulang tahun papinya, menyiapkannya untuk
papinya saat ia pulang. Dan ia tidak mau membuka kado-kado itu,
meskipun papinya tidak kunjung pulang.
Priscila, putri saya menyatakan kerinduannya akan ayahnya, mewakili
saudaranya, "Kami bertemu Papi hanya pada waktu Natal lalu saja, itu
pun tidak bisa setiap tahun. Di saat itu, kami baru bisa melepas
rasa kangen dan rindu. Kami benar-benar gunakan waktu untuk jalan
bareng dan bercanda dengan Papi. Tapi, hanya di saat itu saja kami
memunyai waktu dengan Papi."
Petronela, putri sulung Robby sungguh merindukan kehadiran ayahnya.
"Begitu bertemu Papi semua perasaan sakit di dada rasanya langsung
hilang begitu saja. Tapi begitu Papi mau pergi lagi, aku memeluk
Papi, rasanya sayang untuk melepas Papi pergi lagi. Kerinduanku akan
Papi besar sekali. Kalau aku merasa kurang puas, aku biasanya akan
tulis di diari atau di bukuku. Aku akan tulis: 'Papi, aku kangen
banget sama Papi. Kok Papi nggak merasa apa yang aku rasain sih? Aku
sungguh kangen Papi!'. Aku selalu menulis tulisan itu berulang-ulang
dengan kata-kata yang sama."
Suatu hari pada bulan Januari 1998, Robby berjanji untuk kembali ke
rumah pada tanggal sekian. Anak-anak menanti ayah mereka kembali ke
rumah hingga jauh malam. Di saat dini hari menjelang, doa-doa Bertha
beserta anak-anaknya selama empat belas tahun akhirnya berbuah;
jawaban Tuhan pun datang. Jam dua pagi ada ketukan di pintu.
Anak-anak membuka dan ternyata Robby kembali .... Anak-anak bersuka
cita sekali. Mereka memeluk papi mereka, saya sendiri terharu melihatnya.
Petronela: "Kita semua menangis, semua sakit di dada terlepas, Tuhan angkat."
Priscila: "Saya tidak bisa ngomong apa-apa lagi, yang ada cuma tangis!"
Tuhan memulihkan hati saya dan hati Robby. Luar biasa ...! Hubungan
kami lebih daripada masa pacaran. Saat ini saya merasakan satu
kebahagiaan yang luar biasa. Kami tahu bahwa Tuhanlah yang
memberikan kebahagiaan dan sukacita yang kami alami saat ini. Tidak
ada yang mustahil bagi Tuhan, suami saya yang rasanya sudah mustahil
untuk kembali, empat belas tahun kemudian bisa pulang lagi. Terus
berdoa dengan sungguh dan berharap pada Tuhan Yesus; asal kita
percaya dan bertekun, semua mungkin terjadi.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Sumber : Majalah VOICE
Judul artikel: Penantian yang Panjang
Penulis : Bertha (istri Robby Sugara)
Halaman : 15 -- 17
______________________________________________________________________
"Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan
dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan;
juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung." (Yesaya 57:18)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=yesaya+57:18 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Permasalahan dalam keluarga sering kali menimbulkan luka bagi
para anggotanya. Oleh karena itu, berdoalah bagi setiap orang
yang saat ini sedang didera masalah keluarga. Doakan agar mereka
tidak menjauh dari Tuhan karena masalah yang mereka hadapi.
2. Bila masalah serupa menimpa kehidupan keluarga kita, mohonkanlah
kebijaksanaan dari Tuhan agar kita mampu menyikapinya dengan
baik. Berdoalah agar Tuhan memberi kita kekuatan, kesabaran, dan
akal sehat untuk menemukan jalan keluar. Doakan pula agar Tuhan
memulihkan setiap anggota keluarga yang terluka.
3. Sering kali Tuhan tidak serta-merta memberi jawaban atas setiap
doa kita. Oleh karena itu, mintalah kesabaran untuk menanti
jawaban Tuhan atas masalah yang dihadapi.
4. Mohonkan pula kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan agar kita
dapat menghibur dan menguatkan orang-orang yang sedang menghadapi
masalah keluarga.
==========================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 42 -- Mesir: Ahmed
PENGANTAR
Sering kali Iblis memakai banyak hal untuk membuat kita mundur dari
pekerjaan Tuhan. Bahkan keluarga sekali pun dapat dipakainya untuk
menjauhkan kita dari menggenapi kehendak-Nya. Meski demikian, Tuhan
tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya. Bahkan Ia senantiasa
menganugerahkan keteguhan kepada mereka yang setia. Kisah Ahmed
berikut ini bisa menunjukkan ketangguhannya, meski berkali-kali
ditangkap karena kesaksiannya. Silakan menyimak.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
MESIR: AHMED
============
"Mengapa engkau membahayakan anak-anakmu?" tanya salah seorang
polisi Mesir itu.
Ahmed telah ditangkap beberapa kali karena kesaksiannya dan karena
telah membagikan buku-buku Kristen. Tapi ia melihat setiap
interogasi sebagai kesempatan untuk bersaksi bagi Kristus.
"Keamanan anak-anak saya tidak tergantung pada saya," ia menjawab
dengan tenang. Keamanan mereka datang dari Allah."
"Mengapa kamu tidak bersedia untuk menaati pemerintah?" tanya
polisi yang memimpin.
"Saya tidak akan berhenti bersaksi mengenai Yesus karena Ia adalah
Jalan Kebenaran," jawab Ahmed. "Yesus telah mengubah hati saya."
Polisi itu menanyainya mengenai buku-buku Kristen yang telah dicetak
secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga bertanya mengenai orang-orang
Kristen tertentu dan aktivitas mereka. Untuk kedua pertanyaan itu,
Ahmed tidak menjawab.
"Saya tidak berkata apa-apa kepada mereka," ia berkata pada
kesempatan lain. "Saya tidak mau menjadi pengkhianat Tubuh Kristus."
Ketika mereka memintanya untuk memata-matai orang-orang Kristen
lainnya dan melaporkannya kembali kepada polisi, ia berkata kepada
mereka, "Itu bukan tugas saya."
Pada kali lain, Ahmed ditangkap dan diinterogasi oleh polisi Turki
karena telah membawa satu tas penuh berisi buku-buku Kristen. "Kalau
kamu tidak menjawab pertanyaan kami dan tidak membantu kami, kami
akan memenjarakan kamu karena membuat masalah dengan pemerintah
Turki," polisi itu memberitahunya.
"Yesus tidak menyuruh kami membuat masalah dengan pemerintah," Ahmed
menjawab, "Ia meminta kami untuk memberitakan kasih dan pengampunan-Nya."
*****
Pembuat masalah. Mereka adalah anak-anak di dalam ruang kelas yang
tidak bisa diam. Mereka adalah anak-anak nakal di ruang makan yang
suka mencuri uang makan anak-anak lain. Mereka adalah penyebar gosip
di kantor yang menggosipkan orang lain dan menyebarkan gosip seperti
penyakit. Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi pembuat
masalah. Sebaliknya, Yesus memanggil kita untuk menjadi pembawa
damai. Namun, ada satu pengecualian: kita harus menjadi pembuat
masalah bagi Iblis dan tipu muslihatnya. Kita tidak boleh dianggap
tidak berbahaya oleh Iblis. Doa adalah senjata kita yang paling
ampuh. Berapa sering Anda berdoa untuk menghancurkan pekerjaan
Iblis? Mulailah berdoa dalam nama Yesus hari ini melawan rencana si jahat.
*****
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel: Mesir: Ahmed
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 169
______________________________________________________________________
"Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah,
supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." (Efesus 6:11)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=efesus+6:11 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Bersyukurlah untuk segala kesempatan bersaksi yang dianugerahkan
Tuhan kepada kita, meski kesempatan itu datang lewat penderitaan yang kita
alami.
2. Bersyukurlah bila sampai saat ini kita masih menikmati kebebasan
dalam ibadah dan dalam menyatakan iman percaya kita. Berdoalah
bagi mereka yang tidak mendapatkan kebebasan seperti kita agar hal itu
tidak membuat mereka mundur dari kebenaran yang telah memerdekakan mereka.
3. Mintalah hikmat dari-Nya supaya kita dapat mengenali setiap
serangan Iblis yang hendak meruntuhkan kesetiaan kita pada Yesus.