From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 43 -- Filsuf yang Mencari Tuhan
PENGANTAR
Tuhan menciptakan manusia dengan sebuah tujuan, yaitu agar dapat
menjadi berkat bagi sesama. Oleh karena itu, Ia memperlengkapi
setiap manusia sebagai ciptaannya dengan karunia dan kemampuan,
dengan tujuan agar kita sebagai manusia dapat memaksimalkan potensi
yang ada dalam diri kita bagi pekerjaan Tuhan. Itulah yang
dikerjakan oleh filsuf dalam kisah berikut ini. Tatkala ia menemukan
bahwa kebenaran hanya ada di dalam Yesus, ia memberikan seluruh
hidupnya bagi pekerjaan Tuhan. Simak dan renungkanlah.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
FILSUF YANG MENCARI Tuhan
=========================
Yustinus Martir, seorang filsuf muda pada abad kedua, mendengarkan
dengan baik pidato seorang lain yang berpendidikan baik.
"Orang-orang yang menjadi pengikut orang Nazaret yang mati itu
adalah orang-orang bodoh yang percaya kepada takhayul," kata si ahli
pidato itu. "Yang mereka puja tak lain hanya awan-awan dan pengaruh
bintang. Saya kira mereka merupakan ancaman bagi kekaisaran ini."
Orang-orang yang berkumpul di sana dalam bentuk lingkaran itu
menganggukkan kepala.
Namun Yustinus tidak begitu cepat menyetujui. "Saya tidak begitu
yakin akan hal itu," ia memberi komentar. "Mereka sangat tulus. Saya
telah mendengar tentang orang-orang Kristen yang mengakui imannya
walaupun mereka tahu akan dilemparkan ke dalam ketel yang berisi
minyak yang mendidih demi keyakinannya."
Satu di antara orang-orang itu tertawa terkekeh-kekeh. "Yustinus,
kamu tidak akan menjadi orang Kristen, bukan?" tanyanya.
"Saya ingin mengetahui kebenaran," Yustinus menjawab dengan tenang.
Sejak masa kanak-kanaknya, Yustinus telah mencari-cari kebenaran
itu. Ia telah mewarisi kekayaan yang cukup besar yang membiayai
perjalanannya ke seluruh pelosok kekaisaran Romawi. Ia menjadi
seorang wisatawan yang dikenal di sepanjang jalan-jalan dagang. Ke
mana pun ia pergi untuk mencari pengetahuan dan kebenaran, ia
melihat keteguhan iman orang-orang Kristen yang dihina itu.
"Apa yang terpenting dalam hidup ini?" Yustinus bertanya kepada
seorang guru yang beraliran Stoa. Orang-orang dari aliran Stoa
percaya bahwa dunia merupakan tubuh Tuhan.
Orang itu menjawab, "Carilah kebajikan."
Seorang pengikut Plato menasihati Yustinus untuk melarikan diri dari
dunia. Dengan cara ini, ia akan menjadi seperti Tuhan, dengan
kembali ke dunia roh semata-mata. Tetapi walau bagaimana pun
Yustinus mencoba, ia tak dapat menahan keinginan-keinginan
jasmaniahnya. Ia menerima nasihat dari guru-guru ternama lainnya,
tetapi tak seorang pun memberikan jawaban yang memuaskan kepadanya.
Ia berulang-ulang bertanya kepada dirinya sendiri, di mana arti
kehidupan ini? Di manakah Tuhan, seandainya ada Tuhan?
Ia memikirkan lagi tentang orang-orang Kristen yang berani yang
diketahuinya itu. Pada saat itu, agama Kristen adalah agama yang
tidak sah dalam kekaisaran Romawi. Beribu-ribu orang telah mati
sebagai martir. Yustinus telah merasa pasti bahwa orang-orang
Kristen itu tidak bersalah. Ia merasa bahwa mereka mungkin saja
tersesat, tetapi mereka pasti tidak jahat.
Pada suatu hari, filsuf yang sedang mencari Tuhan itu pergi
berjalan-jalan dalam suatu ladang yang sunyi dekat kota Efesus.
Sementara ia berjalan, ia tahu bahwa seorang laki-laki tua
mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ia berbalik dan berhadapan
dengan orang asing itu.
"Mengapa Anda menatap saya?" orang tua itu bertanya.
"Saya merasa heran menemui orang lain di ladang yang sunyi ini," jawab
Yustinus.
"Saya ada di sini untuk mencari seorang anggota keluarga saya.
Tetapi mengapa Anda ada di sini?" orang tua itu bertanya dengan sangsi.
"Untuk menguji akal saya."
"Apakah filsafat memberikan kebahagiaan kepada seseorang?"
"Ya," Yustinus menjawab. Tetapi nada suaranya tidak pasti.
"Jelaskan pada saya, Anak Muda. Apa filsafat dan kebahagiaan itu?"
Yustinus memberikan jawaban biasa, "Filsafat adalah pengetahuan yang
lengkap akan realitas dan daya memahami kebenaran dengan jelas.
Kebahagiaan adalah upah dari pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu.
"Apakah definisi Anda mengenal Tuhan?" orang tua itu bertanya.
Sekali lagi Yustinus menggunakan jawaban lancar yang pernah
diajarkan kepadanya, Tuhan itu merupakan sebab yang tidak berubah
bagi segala hal lainnya.
"Lalu dapatkah seseorang mengenal Tuhan tanpa mendengar dari
seseorang yang telah melihat-Nya? Bagaimanakah filsuf-filsuf, yang
tidak pernah melihat Dia itu, dapat membuat penilaian yang benar?"
Yustinus menjawab dengan mengutip Plato, "Tuhan hanya dapat dikenal
dengan pikiran dan hanya pada saat pikiran itu murni dan terang."
Orang tua itu tidak terkejut. "Ada guru-guru pada zaman kuno yang
berbicara dengan Roh Ilahi dan meramalkan masa akan datang. Mereka
membuktikan diri dengan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban mereka."
Yustinus menatap dengan aneh kepada orang tua itu. Ia tidak dapat
memberi jawaban.
"Saya harap, Anakku, pintu gerbang cahaya akan terbuka bagi Anda.
Hal-hal ini dapat dimengerti hanya oleh orang yang diberi hikmat
oleh Tuhan dan Kristus."
Yustinus tidak pernah bertemu lagi dengan orang asing yang tua itu.
Beberapa waktu kemudian, ia menyebutkan peristiwa itu dan menulis:
"Dengan segera nyala api berkobar dalam hati saya dan kasih
orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat Kristus ini menguasai saya.
Menurut pendapat saya, filsafat itu sendiri aman dan berfaedah.
Lebih-lebih lagi, saya berharap bahwa semua orang tidak akan
menjauhkan diri mereka dari Juru Selamat."
Pada saat ia percaya bahwa agama Kristen adalah satu-satunya
filsafat yang benar, Yustinus pergi mengabarkan tentang Kristus
kepada filsuf-filsuf lainnya. Setelah dibaptis, ia menjadi seorang
guru yang mengembara. Ia mengunjungi persekutuan-persekutuan Kristen
yang pertama di tempat-tempat terkenal, seperti Efesus, Iskandaria,
dan Roma. Ia mempergunakan karangannya untuk menantang ahli-ahli
kritik dan penganiaya-penganiaya orang-orang Kristen.
Pada masa sekarang, hampir 1.800 tahun kemudian, karangannya yang
disebut "Apologies" dianggap sebagai tulisan klasik dalam
kesusastraan Kristen. Yustinus sendiri dianggap sebagai pembela
orang-orang Kristen atau agama Kristen yang terbesar. Tidak dapat
dielakkan lagi, Yustinus harus menentang orang-orang Romawi dan
ditangkap karena pengajarannya. Pada tahun 163 dia dan beberapa
orang Kristen lainnya dihadapkan ke Rustikus, kepala daerah Roma.
Yustinus dan sahabat-sahabatnya dengan berani mengakui iman mereka
dan menolak untuk memberikan korban kepada dewa-dewa berhala; mereka
dipenggal. Setelah kematiannya, filsuf yang terkemuka itu menjadi
terkenal sebagai Yustinus Martir. Teladannya yang sangat baik
menjadi inspirasi bagi orang-orang Kristen di kemudian hari yang
bersedia mati sebagai martir oleh karena mereka memilih untuk
mengikut orang Nazaret yang dianggap hina itu, yaitu Yesus Kristus.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs : Pemuda Kristen
Judul artikel: Filsuf yang Mencari Tuhan
Penulis : James C. Hefley
URL :
http://www.pemudakristen.com/artikel/filsuf_yang_mencari_Tuhan.php
Catatan: artikel di atas dapat ditemukan dalam versi tercetak pada
buku "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus" karya
James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup.
______________________________________________________________________
"Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Tuhan hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." (Matius 22:37)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+22:37 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Di sepanjang sejarah, Tuhan sudah memakai banyak orang untuk
mewartakan Injil. Oleh karena itu, bersyukurlah untuk setiap
penginjil yang sudah memberi diri diutus oleh-Nya. Berdoalah agar
ada lebih banyak lagi orang yang tergerak untuk mengikuti jejak para
penginjil ini.
2. Berdoalah bagi setiap orang yang masih beranggapan bahwa Kristus
bukanlah satu-satunya jalan keselamatan. Mohonlah agar Tuhan
sendiri yang mengubah konsep berpikir mereka sehingga mereka
mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat.
3. Sering kali apa yang diinginkan dunia berbeda dengan apa yang
dikehendaki Tuhan. Karena itu berdoalah untuk seluruh umat
Kristen agar dapat bersikap sesuai dengan kebenaran Alkitab
meskipun ancaman, siksaan, bahkan kematian harus mereka hadapi.
=======================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 44 -- Cina: Saudari Kwang
PENGANTAR
Penderitaan bukanlah suatu keadaan hidup yang ingin kita pilih untuk
dijalani. Tapi siapa yang dapat memperkirakan bahwa suatu saat
penderitaan itu akan menghampiri pula? Kalaupun kita dapat
mengetahuinya, mungkin kita akan mempersiapkan diri supaya jangan sampai
menghadapi hal yang lebih parah. Tetapi bukan berarti kita dapat menghindarinya.
Meski demikian, sebagai orang Kristen, penderitaan memang memberi
arti lebih. Melaluinya, kita diajar untuk sungguh-sungguh bergantung
hanya pada belas kasihan Tuhan saja. Penderitaan pulalah yang membuka
peluang untuk bersaksi kepada semua orang. Cobalah menyimak kisah berikut.
Kiranya mendorong setiap kita untuk rela berkarya, meski di tengah penderitaan.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
_____________________________________________________________________
KESAKSIAN
CINA: SAUDARI KWANG
===================
Setelah menuntut jam-jam kerja keras yang panjang dan makanan yang
sangat sedikit, penjaga penjara di Cina meminta seseorang untuk
secara sukarela membersihkan kamar mandi setiap hari. Tidak ada
seorang pun dari tahanan wanita itu yang bersedia.
Akhirnya, Saudari Kwang maju dan menawarkan diri untuk melakukan
pekerjaan yang menjijikkan itu. Dia melihatnya sebagai suatu
kesempatan untuk membagikan imannya kepada para wanita di penjara
yang tadinya tidak mungkin dia temui. Selama di dalam penjara, dia
telah membawa ratusan wanita kepada Kristus.
Ketaatan Kwang jelas terlihat oleh semua yang mengenalnya, tapi itu
semua baru jelas setelah dia melewati banyak penderitaan. Sebelum
dimasukkan ke penjara, dia dan suaminya secara sukarela membantu
mengorganisir para penginjil yang datang ke Cina untuk mendirikan gereja
rumah.
Ketika pemerintah komunis mengetahui aktivitas Kwang, mereka
memukuli anak laki-lakinya yang berumur dua belas tahun hingga mati.
Namun, dia masih saja menolak untuk menyangkali Kristus dan bahkan
mulai mendirikan gerakan gereja rumah setelah dia dibebaskan.
Akhirnya pada tahun 1974, komunis memutuskan untuk menjadikan "Mama
Kwang", saat itu anggota gereja mengenalnya dengan nama ini, sebagai
contoh. Dia dihukum penjara seumur hidup, ditempatkan di sel bawah tanah
dengan satu ember untuk buang air, dan memberinya makan nasi yang sudah kotor.
Secara ajaib, dia dibebaskan sepuluh tahun kemudian dan selalu
melihat saat-saat dia berada dalam penjara sebagai suatu karunia --
kesempatan istimewa untuk dapat membagikan kasih Kristus kepada
orang-orang yang tidak pernah ditemuinya jika tidak di dalam penjara.
*****
Menjadi sukarelawan/ wati bagi beberapa orang merupakan suatu
profesi. Menjadi sukarelawan untuk suatu hal yang tidak terlalu
populer merupakan suatu tantangan tersendiri. Sering kali di sana
tidak didapati semangat untuk menolong. Rumah jompo, rumah yatim
piatu, dan rumah penampungan adalah tempat yang tidak terlalu
populer untuk menerima bantuan. Lingkungan yang bau dan tidak nyaman
serta hal-hal lainnya yang tidak menyenangkan, membuat orang
menjauh. Tapi menurut Anda, di manakah Yesus akan menghabiskan
sebagian besar waktunya? Hampir semua posisi di mana orang mau
membantu adalah pekerjaan yang membanggakan dan perlu, tapi cobalah
untuk memerhatikan baik-baik kesempatan yang tidak terlalu diminati
orang dan kesempatan untuk melayani mereka yang kurang beruntung.
Cobalah untuk langsung menawarkan pertolongan jika kesempatan itu ada.
*****
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel: China: Saudari Kwang
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 117
______________________________________________________________________
"Dan segala sesuatu yang kamu lakukan
dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu
dalam nama Tuhan Yesus,
sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Tuhan, Bapa kita." (Kolose 3:17)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Kolose+3:17 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa penderitaan
merupakan anugerah yang Tuhan berikan. Padahal melalui setiap
penderitaan yang diizinkan Tuhan terjadi, dipakai-Nya untuk
kebaikan kita. Oleh karena itu, berdoalah bagi setiap orang
Kristen yang mengalami penderitaan agar menyadarinya dan tetap
mengucap syukur ketika menghadapinya.
2. Apabila penderitaan yang kita alami disebabkan karena kehilangan,
baik anggota keluarga maupun harta benda, berdoalah kepada Tuhan
supaya hal itu tidak menggoyahkan iman kita kepada-Nya, namun
membuat kita semakin bertumbuh di dalam-Nya.
3. Mohonlah juga hikmat dan keberanian supaya melalui penderitaan
yang dialami, kita dapat bersaksi tentang karya dan kasih yang
nyata dari Tuhan. Berdoalah agar hal itu dapat mendorong setiap
orang untuk mengenal Kristus yang kita percayai.