From: rm_maryo Mg Adven Ic: Yes 2:1-5; Rm 13:11-14a; Mat 24:37-44 "Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang"
Penjaga malam atau satpam memang tidak boleh tertidur atau lengah dalam menjalan kan tugas pekerjaannya. Ia menjadi `pintu utama secara phisik' bagi siapapun yang akan memasuki kantor atau tempat kerja atau rumah (saya katakan secara phisik karena pada masa kini orang dapat `datang atau bertamu' dengan sarana komunikasi seperti HP, email dll.). Karena harus terus berjaga maka kondisi tubuhnya senantiasa harus sehat, tidak sakit-sakitan atau mudah jatuh sakit, maka untuk itu secara pribadi ia harus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya agar ketika bertugas juga tetap sehat dan bugar. Ia tidak tahu persis kapan para tamu maupun pegawai datang, sewaktu-waktu ia harus `siap sedia membuka pintu', dan rasanya penjaga atau satpam yang baik harus bertindak rendah hati, sopan, lemah lembut dan tegas. Hal senada kiranya juga terjadi atau dihayati oleh para petugas penerima tamu (`among tamu'), entah di kantor atau pesta-pesta. Para penerima tamu dalam pesta perkawinan, misalnya, senantiasa berpakaian rapi dan menarik serta penuh senyum dalam menyambut para tamu, mereka yang mendatangi pesta perkawinan. Bahkan sering para penerima tamu ini harus memakai pakaian baru serta seragam, yang disesuaikan dengan pakaian yang dipestakan, sepasang penganten yang menjadi `raja' untuk sementara serta menjadi pusat perhatian. Hari ini kita memasuki Tahun Baru dalam kalendarium liturgy, memasuki masa Adven, masa penantian dan penuh pengharapan, maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita memiliki sikap menantikan kedatangan Tuhan, Penyelamat Dunia, sebagaimana diharapkan oleh Warta Gembira hari ini. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."(Mat 24:42-44) Tuhan senantiasa datang atau hadir dan berkarya di tengah-tengah kita, namun sering kurang menyadari kehadiran dan karyaNya, karena sibuk atau memang kurang percaya akan kehadiran dan karyaNya. Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, yaitu ketika kita dipanggil Tuhan secara khusus alias mati atau meninggal dunia. Orang yang mau mati atau dipanggil Tuhan pada umumnya gelisah, ada yang sedikit gelisah dan ada yang sangat gelisah (Jawa: `mecati'), dimana kaki dan tangannya bergerak kesana-kemari dan mulutnya berteriak-teriak menunjukkan ketidak siapan atau kekurang siapan bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Maka hemat saya mawas diri dalam memasuki masa Adven ini kiranya pertanyaan sederhana ini membantu: "Apakah saya sewaktu-waktu siap dipanggil Tuhan atau mati?" Kapan kita akan mati atau dipanggil oleh Tuhan kiranya tidak ada yang tahu. Sebagaimana terjadi dalam berbagai musibah atau bencana yang terjadi, termasuk di Indonesia ini, seperti tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten, kapal tenggelam, pesawat terbang jatuh dst.. , banyak orang mati tak terduga sebelumnya. Maka marilah kita mempersiapkan diri terus menerus alias berjaga-jaga supaya sewaktu dipanggil Tuhan kita siap, dan pada detik-detik terakhir hidup kita berani berkata seperti penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan bertobat: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.", dan memperoleh jawaban : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:42-43) Agar kita berani dan dapat berdoa atau berkata seperti itu rasanya kita perlu membiasakan diri berjumpa dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari, selalu siap-siaga dan berjaga-jaga untuk bertemu dengan Tuhan. Maka baiklah jika kita tidak memiliki kesiap-siagaan marilah kita memasuki masa Adven ini mawas diri dan dengan rendah hati berusaha menjadikan diri kita siap siaga untuk didatangi atau dipanggil oleh Tuhan. Marilah kita renungkan atau refleksikan peringatan atau sapaan Paulus kepada umat di Roma di bawah ini. "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati."(Rm 13:12-13) Ada dua bagian peringatan atau sapaan Paulus ini, yaitu: (1) ajakan untuk hidup dengan sopan dan (2) jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati: (1) Hidup dengan sopan. Sopan antara lain berarti menghormati orang lain atau sesama manusia yang diciptakan sebagai citra atau gambar Tuhan, tidak melecehkan dan merendahkannya. Sebagai contoh: orang telanjang bulat sendirian di kamar tidur atau di kamar mandi tidak apa-apa alias sopan, tetapi ketika ia telanjang atau berpakaian merangsang di depan umum pasti tidak sopan karena merangsang orang lain yang melihatnya untuk berpikir kotor atau jorok dan lebih melihat manusia sebagai tubuh seperti binatang, bukan manusia sebagai citra atau gambar Tuhan. Hati dan pikiran orang yang melihat orang telanjang atau berpakaian merangsang turun dari tingkat spiritual ke phisik. Maka baiklah kita senantiasa menghadirkan diri dengan sopan di hadapan umum atau sesama, entah dalam cara berpakaian, bicara maupun bertindak. Ingat sabda Yesus ini :"Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya"(Mat 5:28). (2) Tidak berpesta-pora, mabuk-mabukan, berbuat cabul, menuruti hawa nafsu, berselisih dan iri hati. Cara bertindak yang amoral ini hemat saya saling berhubungan atau kait-mengait. Orang berpesta pora cenderung untuk bermabuk-mabukan dan kemudian mengikuti hawa nafsu untuk berbuat cabul yang dapat menimbulkan dan memperdalam perselisihan dan iri hati. Maka kiranya sebagai kontrol atau pencegah agar kita tidak jatuh dalam aneka bentuk kebejatan moral tersebut, hemat kami kita harus hidup sederhana, tidak berpesta pora. Dalam hidup menggereja atau di dalam Gereja Katolik, rasanya ajakan hidup sederhana ini perlu dihayati dan disponsori oleh para pastor atau klerus, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Hukum Kanonik ini: "Para klerikus hendaknya hidup sederhan dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang memberi kesan kesia-siaan. Harta benda yang mereka terima pada kesempatan melaksanakan jabatan gerejawi, setelah dikurangi untuk penghidupan yang layak untuk memenuhi semua tugas jabatannnya, sisanya hendaklah digunakan untuk kepentingan Gereja dan karya amal" (KHK kan 282 ) . Bagaimanapun dan dimanapun rasanya keteladanan para pemimpin dalam hal keutamaan sangat dibutuhkan bagi yang mereka pimpin atau layani, apalagi di Indonesia. Dengan kata lain ajakan dan peringatan Paulus tersebut diatas harus dimulai dari atas; siapapun yang merasa di atas atau de fakto berada di atas, misalnya pemimpin, ketua, atasan, orangtua, senior dst.. hendaknya menjadi teladan dalam hal tidak berpesta pora, mabuk-mabukan, berbuat cabul, menuruti hawa nafsu, berselisih dan iri hati. Masa Adven juga menjadi masa pertobatan atau pembaharuan diri, maka marilah jika kita masih hidup dan bertindak tidak sopan dan amoral, sebagaimana dikatakan oleh Paulus tersebut diatas bertobat, "menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang" "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem."(Mzm 122:1-2) Jakarta, 2 Desember 2007 =========================================== From: rm_maryo "Semuanya Engkau nyatakan kepada orang kecil" (Yes 11:1-10; Luk 10:21-24) "Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya." (Luk 10:21-240, demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Toni, ini roti hanya satu potong saya berikan kepadamu. Jangan ceritera kepada kakakmu ya", demikian kata seorang ibu kepada anaknya, Toni, yang baru berusia tiga tahun. Dengan senang hati Toni menerima roti tersebut dan menikmatinya. Begitu gembiranya ia tidak dapat menyembunyikan kegembiraan itu kepada kakaknya, dengan kata lain Toni berceritera bahwa ia telah diberi roti oleh mama/ibu. Mendengar ceritera ini sang kakakpun menggerutu dan marah-marah pada ibunya: "Ibu tidak adil, saya tidak diberi.". Memang orangtua atau orang dewasa sering dengan mudah menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu, sebaliknya anak-anak begitu jujur dan terbuka atas segala sesuatu. "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil", demikian doa Yesus. Anak-anak atau yang kecil pada umumnya lebih suci, lebih baik daripada orangtua/orang dewasa atau yang besar, karena bertambah usia dan pengalaman pada umum orang juga bertambah dosa dan kejahatannya. Dengan kata lain dalam perjalanan hidup kita mengalami erosi iman, cintakasih dan harapan. Maka bercermin dari doa Yesus di atas kami mengajak kita semua: marilah kita `belajar' dari anak-anak, yang kecil dan miskin serta menderita, karena kiranya mereka lebih kaya akan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan daripada kita yang dewasa, tua dan lanjut usia, antara lain: keterbukaan, kejujuran, kepolosan, keceriaan, kegairahan, mendengarkan dan menerima, dst.. Marilah di dalam hidup sehari-hari kita juga senantiasa memperhatikan anak-anak, orang miskin maupun menderita. Secara khusus kami mengingatkan pentingnya pendampingan, pembinaan dan pendidikan anak-anak, agar mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman. Tidak memperhatikan, mendidik, membina dan mendampingi anak-anak secara memadai kiranya berarti mau `bunuh diri' pelan-pelan alias akan lebih menderita di masa depan. . "Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuh kan keputusan menurut kata orang" (Yes 11:2-3). Kutipan ini kiranya menunjuk pada Kanak-kanak Yesus, Penyelamat Dunia, yang kita nanti-nantikan atau songsong pesta kelahiranNya di hari Natal nanti. Baiklah harapan dan dambaan itu tidak hanya terarah kepada Kanak-kanak Yesus, tetapi juga kepada anak-anak. Agar anak-anak kita di kemudian hati memiliki `roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan, dan tidak menilai orang dengan sekilas pandang' saja, marilah anak-anak kita biasakan menghayati keutamaan-keutamaan tersebut; tentu saja pertama-tama perlu keteladanan dari orangtua, orang dewasa. Secara khusus saya mengajak untuk memperhatikan `tidak menilai orang dengan sekilas pandang saja'. Menilai orang dengan sekilas pandang pada umumnya cenderung untuk melihat kelemahan dan kekurangan dan kemudian melecehkannya alias melanggar hak asasi manusia, harkat martabat manusia. Salah satu cara untuk itu adalah membiasa kan diri berrefleksi atau pemeriksaan batin setiap hari. Jika kita dapat berrefleksi atau mengadakan pemeriksaan batin dengan benar dan baik, kiranya kita akan lebih banyak melihat keutamaan-keutamaan daripada ejahatan, kebaikan daripada kejelekan, kelebihan daripada kekurangan dst.., dan dengan demikian kita akan lebih cenderung untuk memuji dan menghormati yang lain atau sesama kita. Kita diharapkan dan dipanggil untuk ahli roh baik alias peka akan karya Roh Kudus bukan ahli roh jahat alias setan. Setiap manusia pada hemat kami lebih memiliki banyak kebaikan daripada kejelekan, kelebihan daripada kekurangan, sehingga terjadilah kehidupan bersama yang saling memuji, menghomati dan melayani. "Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72: 12-13) Jakarta, 4 Desember 2007 =============================================== From: Arie Saptaji Saingan Terberat TV Rabu, 28-11-2007 16:26:45 oleh: Panjikristo Kanal: Gaya Hidup Suatu pagi saat menemani anak nonton film kartun kegemaran mereka di televisi (TV), saya terperangah. Saat jeda, muncul iklan obat kuat pria. Walah! Untunglah ada remote control. Untung pula anak-anak masih balita sehingga mereka tidak mengajukan pertanyaan macam-macam (hal 51). Selengkapanya.... http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4904&post=14 ~.as.~ http://sepatuwarrior.wordpress.com/

