Syallom...
Kisah di bawah sungguh merupakan sesuatu yg tidak pernah kita
harapkan. Apa ada informasi tentang panti yang banyak menampung anak2
korban aborsi di Indonesia/Jakarta? Saya terbeban untuk membantu
mereka walau tidak banyak.
Terima kasih.
Andre
MAMA MENGASIHIMU, JENNIFER
Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau
belati di
Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua
kebanggaan
saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari
pemerkosaan hanya
kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit
tersebut.
Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun
sementara
tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat
menutupi
kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti
ada jalan keluar yang terbaik! Saya baru saja menjalani wawancara
untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko
dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi
dari orang yang memperkosa saya.
Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar
seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada
waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.
Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya
dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata
dokter tersebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita
infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk Bila infeksi tersebut
menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan
menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya
bisa menjalaninya.
Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang
membantu saya
melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan
kasih dan
menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya
bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam
diri saya dan nyaris lupa asal mulanya. Saat saya akhirnya
memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil,
apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya
berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat
saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi."
Mereka tidak menawarkan alternatif lain.
Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan
saya dapat
meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah
terjadi apa-apa." Orang tua saya menghubungi District Attorney
(D.A. yaitu Jaksa Wilayah) untuk memberi kesaksian tentang
pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A.
menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan
bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya.
Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak - terutama
untuk
menyenangkan orang tua saya - sehingga akhirnya saya mengalah. Saya
tidak akan
pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di
rumah sakit.
Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan
diri, lari -
tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati
saya tercabik
- saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun
demikian
saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya.
Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan
garam ke
dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya
pergi
ketempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi
yang hidup.
Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya
jalani. Selama
18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung.
Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang
berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang
mungil ke dalam sebuah bejana sorong.
Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak
dan tenang.
Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan
kepada saya
hanyalah segumpal daging.
Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia
mulai
menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang
tidak dapat
diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus
berkelanjutan
lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang.
Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi
buruk yang
menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-
orang
merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke
segala tempat,
tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar
tangisannya
bergema di kejauhan. Saya menguburkannya dalam-dalam dan
mengeraskan hati
saya atas derita tersebut.
Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi
adalah hal yang
jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri.
Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang
menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi
adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan
saya adalah salah seorang pelakunya.
Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai
alasan yang
baik untuk melakukan aborsi - bagaimanapun juga, saya telah
diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat
mengingatnya, maka saya berusaha
mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua
orang
anak laki-laki.
Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima
Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di
banyak segi
kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih
menghantui
kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah
mempengaruhi
kehidupan saya.
Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi
lagi, namun
saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya.
Tiap kali
aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak
ingin mendengar nya. Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa
menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini
menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan.
Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya
yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan
duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan
menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada
mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya
mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas
perbuatan tersebut.
Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh
keberanian.
Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami
sungguh menuai
apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu
setia dan
berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia
adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat
untuk dapat
mengampuni diri sendiri.
Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak
perempuan bernama "Hope/Harapan". Tuhan mengingatkan saya akan
mimpi ini setelah
'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya,
yaitu janji
atas seorang anak perempuan. Lima tahun kemudian, sesuai janji -
Nya, Hope datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga
minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi.
Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa
untuknya
setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya -
hadiah yang
paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu
harapan
untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya.
Pada mulanya saya ingin Hope menggantikan putri saya yang hilang,
tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat
digantikan. Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang
membutuhkan kesembuhan akibat aborsi.
Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami.
Secara
fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya.
Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si
ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terenggut dari jiwa
saudara sendiri.
Bagian dari dirimu juga sudah mati. Kesedihan adalah proses penting
yang saya
jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya
percaya bagian dari
proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi
kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi
saudara tersebut.
Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak
bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah
kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga
bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati
waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang
tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar
ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada
wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan.
Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.
Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk
mengabaikan nya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan,
Mama merasa begitu kesepian dan bingung.
Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai
merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati
diri Mama mau menerima keberadaanmu. Kamu berumur 22 minggu saat
ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan
untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi
dibawah tekanan dari orang-orang disekitar
Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.
Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi
yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai
dirimu dan
membiarkan diri Mama meratap atas kematianmu. Mama juga menjadi
korban sebagai
akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong
informasi yang salah.
Bagian dalam diri Mama mati bersamamu. Saat kau dari surga
memandang ke bawah,
Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar
mengampuni
diri Mama sendiri.
Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu
mereka yang
telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang
lain untuk
tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan
hanya dapat
datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.
Sampai kita bertemu lagi,
Jenniferku,
Mama mengasihimu.
Oleh : Jackie Bakker
Kisah di atas diambil dan diterjemahkan dari majalah American
Against Abortion.