From: Denny Teguh Sutandio 

Belajar menggali Alkitab dgn Software Alkitab : e-Sword

Apakah Anda ingin belajar Alkitab dengan menggalinya lebih dalam ? Tetapi Anda 
tidak punya uang untuk membeli perlengkapan-perlengkapan studi tersebut ? Salah 
satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan software Alkitab. 
Tetapi bagaimana caranya ? 
Caranya dengan membuka situs : http://www.e-sword.net 

Di situs ini, Anda bisa mendownload beragam perlengkapan dalam menyelidiki 
Alkitab secara GRATIS (free), misalnya :
Ø     beragam versi terjemahan Alkitab (khusus untuk New King James 
Version-NKJV, New International Version-NIV, dan beberapa versi terjemahan 
Alkitab, Anda diharuskan membayar),
Ø     beragam tafsiran Alkitab (yang saya sarankan : Matthew Henry's Commentary 
on the Whole Bible, Matthew Henry's Concise Commentary (MHCC), John Gill's 
Exposition of the Entire Bible, Geneva Bible Translation Notes, Albert Barnes' 
Notes on the Bible, dan Adam Clarke's Commentary on the Bible), 
Ø     peta Alkitab,
Ø     Kamus/Ensiklopedia Alkitab (seperti : International Standard Bible 
Encyclopedia-ISBE),
Ø     Kamus Inggris (seperti : Webster, dll),
Ø     Kamus Bahasa Ibrani dan Yunani (Leksikon),< /div> 
Ø     dll

Program e-Sword ini disusun oleh Rick Meyer. Selamat mempelajari dan menggali 
Alkitab untuk pertumbuhan iman dan kerohanian kita. 
Sola Scriptura ! Soli Deo Gloria. Solus Christus !
=============================================
From: Lion Of Judah 

Belajar menggali Alkitab dgn Software Alkitab : e-Sword

Bisa juga dicoba software SABDA di www.sabda.org.
Berbagai versi Alkitab, Commentary, dan banyak lagi buku-buku rohani dalam 
bentuk elektronik ada di software ini.
Software ini juga gratis, dan yang lebih memudahkan adalah: menggunakan bahasa 
Indonesia.
Download saja programnya atau pesan CD-nya secara gratis di www.sabda.org 

salam,
Irlan G.
==========================================
From: Antonius Steven Un 

SURYA, Selasa, 15 Januari 2008
KING DAN ROH ANTI KEKERASAN 
Antonius Steven Un 
 
            Hari Selasa, 15 Januari ini merupakan peringatan lahirnya Martin 
Luther King, Jr, pejuang hak asasi manusia (HAM) dan anti diskriminasi ras yang 
berhasil memenangkan kesetaraan ras bagi kaum kulit hitam di Amerika Serikat. 
Untuk jerih lelah perjuangannya, King dihadiahi Nobel Perdamaian tahun 1964. 
Komitmennya bagi penghapusan diskriminasi ras demikian besar sampai-sampai 
hadiah uang yang diterimanya dari Komite Nobel sebesar $54.123 disumbangkan 
bagi kemajuan gerakan hak-hak sipil. Salah satu sumbangsih King bagi sejarah 
adalah roh (baca: gerakan) anti-kekerasan. 
            King mengkritik pendekatan kekerasan yang digunakan kaum tertindas 
menghadapi penindasan, sekalipun ia mengakui bahwa kekerasan kerap mendatangkan 
kemenangan. Namun demikian, meminjam ungkapan filsuf-teolog Dr. Stephen Tong, 
side effects overcome original effects, maka efek samping kekerasan lebih mahal 
dan dominan ketimbang efek aslinya. Efek samping kekerasan bahkan menciptakan 
masalah sosial baru dan mendatangkan kondisi yang lebih chaos.   
            Menggunakan kekerasan sebagai pendekatan menuju keadilan rasial 
dianggap oleh King sebagai tidak praktis dan tidak bermoral (Stride Toward 
Freedom (1958) dalam kumpulan tulisan suntingan editor Diane Revitch & Abigail 
Thernstrom, 2005, hal. 214-15). Dianggap tidak praktis karena akan berakhir 
dengan kehancuran bagi semua. 
"Hukum lama mata ganti mata akan membuat semua orang buta", demikian 
keluhannya. Dianggap tidak bermoral karena menginjak-injak kemanusiaan, 
menyuburkan kebencian, memustahilkan persaudaraan, membuat masyarakat 
bermonolog, menciptakan kepahitan dan kebengisan dan warisannya adalah 
"kerajaan kekacauan (chaos) yang tanpa makna dan tanpa akhir". 
Logika sesat kekerasan sebagaimana dieksposisi oleh King seharusnya membuat 
kita menghapuskan pendekatan tersebut dari bumi Pertiwi ini. Regulasi bukanlah 
satu-satunya solusi. 
Sebaliknya pembangunan paradigma dan kultur baru sebagai antitesis kultur 
kekerasan yang mendarah daging merupakan salah satu isu pergumulan sosial 
kekinian kita sebagai bangsa. IPDN, gang motor, KDRT, tawuran antar pelajar dan 
sebagainya, masih harus menjadi pekerjaan rumah berat ke depan.    
 
Pendekatan Non-Violence 
King menawarkan pendekatan non-violence (nir-kekerasan) sebagai jalan keluar 
dalam memperjuangkan kebebasan. Pembelajaran bagi kita adalah dengan melakukan 
dereduksi makna yakni bahwa pendekatan nir-kekerasan bukan saja digunakan dalam 
perjuangan kemanusiaan kaum tertindas tetapi menjadi pola pikir dan model 
relasi interpersonal, antar kelembagaan dan organisasi, khususnya menghadapi 
konflik horizontal. 
Pertama, pendekatan non-violence merupakan upaya menjaga keseimbangan 
masyarakat yang sehat. Membalas kekerasan dengan kekerasan hanyalah akan 
menciptakan masyarakat sakit dan timpang dengan aroma dan trauma balas dendam 
tidak habis-habisnya. 
Motivasi perjuangan King jelas, seperti yang dirumuskannya, "Tuhan tidak 
sekedar berkepentingan akan pemerdekaan kaum hitam, kaum coklat dan kaum 
kuning; Tuhan berkepentingan akan kebebasan seluruh umat manusia" (Stride 
Toward Freedom, hal. 211). Hal inilah yang harus menjadi motivasi bersama 
seluruh bangsa, sebab dengan terciptanya masyarakat sakit, energi bangsa 
terkuras dalam menyelesaikan konflik horizontal, sementara upaya mencapai visi 
bangsa sesuai amanat konstitusi menjadi terasa sangat amat berat. 
Kedua, pendekatan non-violence menunjukkan bahwa obyek perlawanan kita alias 
musuh bersama bukanlah sang kriminal melainkan kriminalisme itu sendiri, bukan 
sang penjahat melainkan kejahatan itu sendiri, bukan sang penindas, melainkan 
penindasan itu sendiri. King mengatakan "Melalui perlawanan non-violence, kaum 
kulit hitam akan naik ke puncak kemuliaannya karena melawan sistem yang tidak 
adil sementara mencintai para pelaku sistem itu" (Stride Toward Freedom, hal. 
216). 
Karena itu, musuh kaum buruh bukanlah pengusaha, tetapi kiat berbisnis kotor 
yang memanipulasi dan mengeksploitasi buruh secara semena-mena bagi kepentingan 
profit finansial. 
Musuh kita dalam hal lingkungan bukan kaum kapital melainkan perilaku 
pembalakan liar dan perilaku pembuangan limbah secara tidak bertanggung jawab, 
entah hal itu dilakukan oleh pemodal, atau regulator yang berselingkuh jahat 
bagi kepentingan materialisme belaka. 
Ketiga, pendekatan non-violence tidak berarti membuang militansi. Militansi 
tidak boleh disempitkan dengan penggunaan kekerasan yang tidak terukur. King 
mengatakan, "manakala gerakan massa itu pantang memakai cara-cara kekerasan dan 
dengan teguh hati bergerak menuju sasarannya...maka dukungan publik secara 
magnetis akan tertarik kepada kubu gerakan non-violence ini" (Stride Toward 
Freedom, hal. 217). 
Berarti militansi bukanlah berbicara pendekatan sebab komitmen nir-kekerasan 
sudah jelas. Sebaliknya, militansi berbicara keteguhan hati terhadap visi dan 
prinsip perjuangan yang tidak boleh luntur sekalipun ditempa penderitaan. 
Justru daya tarik dari gerakan demokrasi nir-kekerasan adalah militansinya. Hal 
ini berarti, gerakan dan masyarakat sipil harus menghapus kekerasan dari kamus 
mereka, untuk kondisi apapun juga. 
Keempat, pendekatan non-violence mempunyai kekuatan lain yang tidak dimiliki 
oleh kekuatan hukum yuridis-formal. Jika hal yang terakhir ini berkekuatan 
koersif menuntut individu menjalankan amanahnya, paling-paling yang terjadi 
adalah kemunafikan karena hukum dijalankan dari luar (legalisme) tetapi bukan 
dari kesadaran nurani. 
Sebaliknya, pendekatan non-violence yang berbasiskan cinta kasih kepada musuh, 
mempunyai kekuatan menyentuh nurani yang tertidur, hati yang keras untuk 
tergerak melihat dan mengkonsiderasi nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Dengan 
kata lain, pendekatan nir-kekerasan adalah pendekatan sosial yang tidak kalah 
penting dalam penyelesaian konflik dengan pendekatan yuridis-formal. Terhadap 
konflik-konlik horizontal yang kerap masih banyak terjadi, membangun relasi 
interpersonal perlu dikemukakan dan diupayakan terus menerus.  
Terakhir, pendekatan non-violence berarti kesediaan untuk menderita dan 
berkorban. King bukan saja mengajarkan pendekatan ini tetapi melakoninya 
sendiri dan menjadi teladan. Ia melakukan perjalanan lebih dari enam juta mil 
dan berpidato ratusan kali, ditangkap sebanyak dua puluh kali, diserang 
sebanyak empat kali dan terakhir ditembak mati selagi ia berdiri di balkon 
ruang motelnya di Memphis, Tennesee, pada 4 April 1968. 
Setiap perjuangan bagi kebenaran dan keadilan tidak mungkin tanpa pengorbanan. 
Perjuangan melawan Orde Baru harus menghasilkan kematian demikian banyak 
mahasiswa. Tinggal pertanyaannya, siapakah yang rela berkorban bagi kebenaran 
dan keadilan. 
Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi kebenaran keadilan tatkala memiliki 
kesediaan berkorban bagi orang lain, bagi nilai kemanusiaan universal dan 
seterusnya. Inilah teladan King yang harus kita tiru. Semoga! 
 
Antonius Steven Un, Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society. 

Kirim email ke