From: Denny Teguh Sutandio 

Tuhan, Ajarlah Kami Memberitakan Firman-Mu
(Sebuah Refleksi Pribadi Atas Panggilan Berkhotbah)
oleh : Pdt. Billy Kristanto.
Judul di atas tidak pernah saya dengar secara langsung sebagai suatu doa yang 
dikatakan oleh pak Tong (Pdt. Dr. Stephen Tong, ed.). Namun yang pernah saya 
dengar adalah kesadaran akan ketidaksanggupan beliau ketika harus mengajar mata 
kuliah homiletika (ilmu berkhotbah, ed.), karena beliau sendiri berpendapat 
belum begitu bisa berkhotbah. Suatu kerendahan hati yang pura-pura supaya 
mendapat kemuliaan yang lebih tinggi? Saya kira tidak. Karena pengertian 
paradoks seperti ini tidak mungkin tidak beliau mengerti dari pengajaran Firman 
Tuhan sebagaimana diteruskan oleh para reformator.[1] Dan saya pikir pemahaman 
seperti ini bukan hanya cocok diterapkan untuk homiletika tapi juga untuk semua 
bidang yang lain.

Tulisan singkat ini tidak bermaksud untuk merepresentasikan homiletika yang 
diajarkan oleh pak Tong (lebih baik kita mendengar langsung dari beliau), namun 
sebagai suatu refleksi pribadi yang subyektif sifatnya, sejauh yang dapat saya 
cerna dan olah kembali. Saya akan mulai dari tiga, bahkan empat poin dasar yang 
seringkali dikatakan oleh pak Tong mengenai tugas khotbah.

Yang pertama, khotbah harus menyatakan otoritas dari Tuhan. Kita teringat 
perkataan Luther yang menyatakan bahwa seorang pengkhotbah setelah 
menyelesaikan khotbahnya tidak perlu meminta pengampunan mengenai kekurangan 
dan keterbatasannya, "for it is God's Word and not (the preacher's) and God 
ought not and cannot forgive it, but only confirm, praise, and crown it."[2] 
Kedengarannya seperti bertentangan dengan pemahaman paradoks di alinea pertama 
tadi, mengapa tiba-tiba menjadi congkak di sini? Bukan bertentangan, melainkan 
ini adalah pengertian paradoks yang lain lagi: seorang pengkhotbah yang baik 
perlu menyadari ketidakberdayaannya, untuk dapat mengerti bahwa kemahakuasaan 
Tuhanlah yang sedang bekerja pada saat ia berdiri di atas mimbar. Ia tidak 
perlu merasa sungkan dan minder akan kekurangannya, karena justru melalui jalan 
itulah kuasa Tuhan dinyatakan secara sempurna.[3] Alangkah sulitnya untuk 
mengerti kebenaran yang sangat sederhana ini. Kita menjumpai mimbar-mimbar yang 
begitu confidence memberitakan ajaran-ajaran sesat yang tidak berasal dari 
Firman Tuhan di satu sisi, dan di sisi yang lain pengkhotbah-pengkhotbah yang 
'minder' dan 'sungkan' untuk menegur dosa mereka. Para pencari muka manusia 
seperti ini tidak mungkin sanggup untuk menyatakan kemuliaan wajah Tuhan yang 
berbicara melalui mimbar. Tidak ada otoritas, tidak ada penyertaan dari tempat 
yang tinggi.

Yang kedua, seorang pengkhotbah menyampaikan berita (message) yang relevan bagi 
pendengarnya. Ada perbedaan antara message dan information. Informasi hanya 
berupa data! , tidak harus ada kaitan yang personal, juga tidak memiliki aspek 
momen waktu yang krusial. Sebaliknya, message sekalipun tidak harus selalu 
merupakan new insights, mungkin bahkan perkataan yang kita 'sudah' pernah 
mendengarnya, namun dibutuhkan pada saat itu, karena itu adalah sapaan pribadi 
dari Tuhan kepada masing-masing pendengar. Tidak ada salahnya dengan new 
insights yang menambah wawasan pengetahuan kita lebih luas dan kaya, namun 
ketika seorang menyampaikan Firman Tuhan, ia melakukan lebih daripada hal itu. 
Seorang pengkhotbah yang diurapi memiliki kepekaan rohani untuk membicarakan 
kalimat-kalimat yang menyelidiki hati manusia yang terdalam, sementara ia 
sendiri tidak tentu tahu pergumulan pendengarnya. Relevansi message yang 
disampaikannya didasarkan pada iman yang sederhana atas kemahatahuan Tuhan yang 
mengenal setiap kebutuhan domba-domba-Nya. Karunia nubuat seperti ini tentu 
adalah semata-mata pemberian Tuhan dan yang menjadi tanggung jawab si pemberita 
Firman adalah dia sendiri hidup bersama dengan domba-domba yang ia layani. Ia 
menderita dan terluka bersama dengan domba-dombanya. Ia sendiri menanggapi dan 
menggumuli hidupnya di hadapan Tuhan. Ia bukan mesin fotokopi dan ketika ia 
mengutip perkataan para orang saleh, ia dengan jujur dan tulus belajar untuk 
mencicipi kedalaman pergumulan jiwa mereka.

Yang ketiga, kuasa yang mengubah (transforming power). Seorang pengkhotbah yang 
diurapi Tuhan tidak sekadar tampil sebagai pembicara yang menarik. Menarik 
adalah satu hal, menyampaikan berita yang mengubah hati dan hidup manusia 
adalah hal yang lain lagi. Seorang pengkhotbah yang baik tidak mempedulikan 
apakah khotbahnya diterima dan diakui dengan baik atau tidak, melainkan ia 
mendorong semua pendengarnya untuk bertumbuh menjadi dewasa. Transforming power 
ini berkaitan erat dengan convincing power, sementara convincing power 
berkaitan dengan ketulusan dan kesungguhan kerinduan si pemberita untuk menaati 
apa yang ia sampaikan. Setiap pengkhotbah adalah orang berdosa yang selalu 
membutuhkan anugerah pengampunan Tuhan. Ia bukanlah orang yang sempurna dalam 
pengertian kesempurnaan yang mutlak kelak di sorga. Ia bahkan kadang juga gagal 
dalam kesaksian untuk menjadi teladan atas apa yang ia khotbahkan. Namun 
kesempurnaannya terutama terletak pada sikap hatinya yang menjadikan dirinya 
sendiri sebagai pendengar yang pertama terhadap khotbah yang disampaikannya. 
Bersama dengan orang-orang Puritan yang saleh, ia meneriakkan khotbah yang 
paling keras dan tajam kepada dirinya sendiri.

Yang keempat, dinamika. Ini mirip dengan apa yang sudah dibahas di atas tadi, 
yaitu kepekaan menangkap apa yang Tuhan mau katakan pada saat itu. Seorang 
pengkhotbah yang baik, mempersiapkan dengan baik khotbah yang akan 
disampaikannya. Ia bukanlah seorang yang 'bergantung kepada kuasa Roh Kudus' 
tanpa melakukan persiapan apa-apa. Lloyd-Jones (D. Martyn Lloyd-Jones, ed.) 
mengatakan agar setiap pengkhotbah mempersiapkan dengan baik khotbah yang akan 
disampaikan, "The great preachers have been men who prepared great sermons."[4] 
(=Pengkhotbah agung telah menjadi orang yang mempersiapkan khotbah yang agung., 
ed.) Namun ketika ia berdiri di atas mimbar, ia harus mempersilakan Roh Kudus 
untuk memegang kontrol sepenuhnya atas setiap perkataan yang keluar dari 
mulutnya, "...though you may go into the pulpit with what you regard as an 
almost perfect sermon, you never know what is going to happen to it when you 
start preaching..."[5] (=...meskipun Anda berdiri di atas mimbar dengan apa 
yang Anda anggap sebagai sebuah khotbah yang sempurna, Anda tidak pernah 
mengetahui apa yang akan terjadi ketika Anda mulai berkhotbah..., ed.) Dia 
sendi! ri menyaksikan bagaimana seringkali kalimat-kalimat yang terbaik yang 
diucapkan dalam khotbahnya justru merupakan kalimat yang tidak ada dalam 
persiapannya. Pengkhotbah yang terlalu bergantung pada persiapannya dan tidak 
terbuka pada pimpinan Roh Kudus secara mendadak di atas mimbar akan sulit untuk 
menyatakan dinamika ini. Sebaliknya, mereka yang hanya menantikan karya Roh 
Kudus namun tidak melakukan persiapan apa-apa adalah orang-orang yang tidak 
taat menjalankan bagian dan tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Beberapa poin tambahan lagi yang dapat kita pelajari dari pak Tong mengenai 
tugas khotbah yaitu suatu prinsip sederhana sepe! rti kita warisi dari para 
reformator. Seorang pengkhotbah hanya member itakan Kitab Suci. Calvin 
mengatakan, "The Spirit will not be a maker of new revelations."[6] Sekalipun 
demikian, tugas seorang pengkhotbah adalah "to expound the scripture in the 
midst of the worshipping Church, preaching in the expectancy that God will do, 
through his frail human word, what He did through the Word of His prophets of 
old, that God by His grace will cause the word that goes out of the mouth of 
man to become a Word that proceeds from God Himself, with all the power and 
efficacy of the Word of the Creator and Redeemer."[7] Keaslian (authenticity) 
seorang pengkhotbah bukanlah dalam pengertian ia memberitakan wahyu-wahyu baru 
yang tidak ada dan bahkan bertentangan dengan Alkitab, melainkan bahwa ia tetap 
setia memberitakan wahyu yang tua itu, namun yang senantiasa menjadi baru dan 
segar karena "as if men 'heard the very words pronounced by God himself."[8] 
Seorang pengkhotbah yang baik bergumul agar jemaatnya tidak melihat wajah 
manusia yang berdosa, melainkan kemuliaan wajah Tuhan yang sedang berkata-kata 
pribadi kepada domba-domba-Nya.

Dalam kaitan ini, pak Tong juga mengatakan bahwa kita perlu belajar beriman dan 
percaya bahwa Roh yang telah menggerakkan para nabi dan para rasul memberitakan 
Firman Tuhan adalah Roh yang sama yang juga dapat menggerakkan kita. Di sini, 
kita teringat perkataan seorang Elisa sebelum Elia terangka! t ke sorga, 
"Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu." (2Raj. 2:9) Sayang 
sekali, di kalangan gereja-gereja Protestan tidak banyak pemberita-pemberita 
Firman yang memiliki urapan dan kuasa yang besar. Pengkhotbah-pengkhotbah yang 
hanya berusaha untuk menyenangkan pendengar dan jemaatnya dan tidak mencari 
kepenuhan kuasa dan kehadiran Tuhan dalam pelayanannya tidak mungkin dapat 
hidup memperkenan serta menyenangkan hati Tuhan.

Berbeda dengan pengkhotbah tertentu, pak Tong tidak berusaha untuk membujuk 
(persuade) pendengarnya untuk menerima kebenaran Injil Yesus Kristus. 
Seringkali pada saat calling beliau mengatakan, "Sekarang saya memberikan 
kesempatan terakhir bagi mereka yang mau menerima Tuhan ... setelah itu 
kesempatan akan ditutup." Injil dan Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang perlu 
diobral, karena bukan Tuhan yang membutuhkan manusia, tapi manusialah yang 
membutuhkan Tuhan dan Firman-Nya. Seorang theolog menggambarkan khotbah 
Jonathan Edwards demikian, "Rather than attempt to persuade the unconverted, 
Edwards tried by means of his preaching, in addition to offering the Word, (1) 
to provide the optimal conditions and circumstances within which conversion 
might take place, (2) to offer the logical connections between guilt and 
repentance so that those who have been or are being converted might better 
understand what is happening to them, and (3) to prevent the misinterpretation 
of pseudo-religious experience, especially by those who believe they have 
experienced grace but have not."[9] Seorang pengkhotbah yang baik tidak 
menyayangkan perasaan pendengarnya agar jangan sampai dibuat terluka. Alkitab 
mengatakan, "Sebab dukacita menurut kehendak Tuhan menghasilkan pertobatan yang 
membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari 
dunia ini menghasilkan kematian." (2Kor. 7:10)

Mungkin poin yang terakhir, seorang pengkhotbah yang baik setiap kali berdiri 
di atas mimbar, melihatnya sebagai kesempatan yang pertama kali, sekaligus yang 
terakhir k! alinya. Sebagai yang pertama kali sehingga ia boleh senantiasa 
menjaga perasaan ketidaklayakan dan ketidakmampuan, supaya ia terus-menerus 
belajar bergantung kepada kuasa Tuhan. Sebagai yang terakhir kali sehingga ia 
berusaha untuk memberikan yang terbaik yang dapat ia berikan. Lloyd-Jones dalam 
bukunya Preaching and Preachers mengutip perkataan terkenal Richard Baxter, "I 
preach as never sure to preach again and as a dying man to dying men."[10] 
Kaitan erat antara eschatological consciousness dengan hidup yang menggunakan 
waktu dengan baik sudah dicatat dalam Alkitab (Ef. 5:16). Ketika seseorang 
belajar untuk selalu melihat setiap kesempatan sebagai kesempatan yang 
terakhir, ia akan mempunyai cara pandang yang berbeda dalam melakukan segala 
sesuatu dalam hidup ini.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya berharap dapat menggambarkan dengan 
gamblang bahwa homiletika Pdt. Stephen Tong mewarisi semangat dan pengertian 
yang dapat kita telusuri dalam sejarah Gereja, mulai dari Perjanjian Lama, 
Perjanjian Baru, para reformator dan pengkhotbah-pengkhotbah yang diurapi 
Tuhan. Kiranya kita dengan rendah hati boleh belajar dari kehidupan Kristus 
sebagaimana dinyatakan dalam hidup hamba-hamba-Nya yang dikasihi-Nya. Sola 
Gratia. Sola Fide. Solus Christus. Soli Deo Gloria! 

Sumber :
Handout khotbah Pdt. Billy Kristanto di sesi Worker di National Reformed 
Evangelical Convention (NREC) 2007.

Disalin ulang dan diedit oleh :
Denny Teguh Sutandio, S.S.
(proofreader di Momentum Christian! Literature, Surabaya)

  
--------------------------------------------------------------------------------

[1] Bandingkan perkataan Paulus bahwa di antara orang berdosa, dialah yang 
paling berdosa (1Tim. 1:15).
[2] Luthers Works Vol. 41, American! ed., ed. by Jaroslav Pelikan and Helmut T. 
Lehmann (St. Louis: Concordia Publishing House; Philadelphia: Fortress, 
1958-86), 216.
[3] Bersama dengan Paulus, ia mengatakan, "Sebab jika aku lemah, maka aku 
kuat." (2Kor. 12:10)
[4] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids, Mich.: 1972), 
79.
[5] Ibid., 80.
[6] Commentary on John 14:26, Calvini Opera Vol. 47, 334-335. Quoted in 
Haroutunian, Calvin: Commentaries, 397.
[7] Ibid.
[8] T. H. L. Parker, The Oracles of God: An Introduction to the Preaching of 
John Calvin (London and Redhill: Lutterworth, 1947), 50. Ia mengacu pada 
Calvini Opera Vol. 25, 646.
[9] Stephen R. Yarborough and John C. Adams, Delightful Convinction: Jonathan 
Edwards and the Rhetoric of Conversion, Great American Orators, no. 20 
(Westport, Conn., and London: Greenwood, 1993), 10.
[10] Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, 86.
 

Kirim email ke