From: "Romo maryo" <[EMAIL PROTECTED]> Minggu Biasa IVa: Zef 2:3; 3:12-13; 1Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan" Pada awal gerakan akreditasi sekolah-sekolah untuk memberi peringkat sekolah yang bersangkutan sebagai yang disamakan, yang diakui atau yang terdaftar, muncullah aneka macam gerakan dari sekolah-sekolah yang bersangkutan sebagai reaksi akan diselenggarakannya akreditasi. Ada sekolah-sekolah yang berusaha memoles diri antara lain: memperbaiki system administrasi sekolah, penyimpanan arsip, pembersihan atau pengecetan ulang bangunan/gedung, pengadaan aneka macam sarana-prasarana sebagai penunjang proses pembelajaran dst.. Bagi sekolah-sekolah miskin gerakan yang membutuhkan dana atau uang tersebut jelas tidak mungkin jika mengandalkan kekuatan sendiri, maka ada beberapa sekolah berusaha mencari pinjaman, bukan uang melainkan barang atau sarana-prasarana, karena kalau uang sulit mengembalikan, sedangkan barang hanya dipinjam sementara saja dan kemudian segera dapat dikembalikan. Sekolah-sekolah yang nampak lengkap atau sempurna karena pinjaman-pinjaman tersebut ketika diakreditasi memang memperoleh peringkat disamakan atau paling tidak diakui, dengan kata lain sudah dapat berjalan sendiri dengan baik, dan dengan demikian sekolah yang bersangkutan tidak perlu dibantu. Sebaliknya ketika saya menjadi Direktur Perkumpulan Strada di Jakarta, yang mengelola cukup banyak sekolah miskin, kepada sekolah-sekolah tersebut ketika diakreditasi supaya 'menampilkan diri apa adanya', dan gerakan yang kami anjurkan adalah gerakan kebersihan lingkungan. Ketika beberapa sekolah Strada yang miskin diakreditasi memang hanya memperoleh peringkat terdaftar, serta perlu dibantu. Maka setelah akreditasi tersebut sekolah-sekolah ini memperoleh bantuan dari pemerintah antara lain berupa dana untuk memperbaiki gedung, prasarana penunjang proses pembelajaran seperti alat-alat laboratorium dst. "Berbahagialah yang tampil apa adanya, miskin di hadapan Tuhan, karena mereka memperoleh bantuan, memiliki Kerajaan Sorga". "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" (Mat 5:3) Kutipan Warta Gembira/Injil hari ini : "Berbahagialah.." kiranya bagaikan garis besar haluan hidup beriman atau beragama, yaitu panggilan untuk hidup dengan rendah hati. Rendah hati secara konkret antara lain berarti menyadari dan menghayati diri apa adanya, dan kiranya diri kita yang sejati adalah orang yang berdosa, lemah dan rapuh, tanpa bantuan rahmat Tuhan melalui kebaikan sesama dan saudara-saudari kita, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan kata lain segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini merupakan anugerah Tuhan, bukan semata-mata hasil usaha, kerja atau jerih payah kita. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh berarti senantiasa membuka diri (hati, jiwa, akal budi dan tubuh) terhadap segala kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang semakin dekat dengan Tuhan dan sasama, seperti orang miskin yang senantiasa siap sedia dan terbuka menanggapi ajakan dan sentuhan dari sesamanya. Pada zaman yang ditandai pertumbuhan dan perkembangan aneka macam sarana komunikasi dan teknologi ini, rasanya kita tidak mungkin lagi hidup menyendiri, mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Jika kita menghendaki hidup bahagia, selamat dan damai sejahtera, maka kita memang harus terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan, termasuk "yang dianiaya oleh sebab kebenaran dan karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat" .Aniaya dan fitnah karena kebenaran atau Tuhan akan membuahkan keutamaan-keutamaan: lemah lembut, murah hati, suci hati, pendamai sebagai kekuatan maupun buah kerendahan hati atau karya Tuhan yang merajai dan menguasai hidup kita. Keutamaan-keutamaan tersebut sebenarnya telah kita terima dan nikmati secara melimpah ruah melalui orangtua kita masing-masing, maka marilah kita perdalam, tingkatkan dan sebarluaskan keutamaan-keutamaan tersebut di dalam hidup kita sehari-hari. "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Tuhan". Sabda ini kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluskan pada masa kini, mengingat masih maraknya pertentangan, permusuhan atau tawuran yang antara lain muncul dari kasus-kasus Pilkada, pertandingan sepak bola, warisan, pergaulan bebas. Kegilaan akan 'harta/uang, pangkat/jabatan atau kedudukan dan kehormatan duniawi' mengacaukan hidup damai, yang didambakan banyak orang. Beberapa petinggi atau pejabat yang seharusnya 'membawa damai' justru sebaliknya menjadi sumber provokasi pertengkaran dan permusuhan demi keuntungan diri sendiri. "Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Tuhan untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Tuhan untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Tuhan, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Tuhan untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Tuhan" (1Kor 1:27-29) "Kalau bapak menghendaki kami besok atau lusa mati, maka kami akan mengenakan pakaian seperti bapak", demikian tanggapan salah satu rekan dari Papua atas ajakan seorang menteri yang berkunjung di Papua. "Lho mengapa dengan berpakaian lalu mati", pertanyaan bapak menteri. "Kalau kami berpakaian maka tubuh kami tidak dapat dilumuri minyak babi sebagai penangkal nyamuk malaria yang ganas; kami digigit nyamuk malaria dan tidak lama kemudian tentu akan mati karena belum ada obat yang memadai', demikian tanggapan lebih lanjut. Kutipan singkat dari dialog diatas ini kiranya membenarkan apa yang dikatakan Paulus kepada umat di Korintus di atas ini: yang bodoh, lemah, tidak terpandang, hina dan tidak berarti bagi dunia, dipilih Alah untuk memalukan yang berhikmat, yang kuat, yang berarti dan memegahkan diri alias sombong. Rasanya dari apa yang bodoh, lemah, tidak terpandang, hina dan tidak berarti bagi dunia lebih mudah dilihat, diindrai karya agung Tuhan atau anugerah-anugerah Tuhan. Mereka kiranya kurang mengandalkan diri kepada sesamanya, melainkan lebih mengandalkan diri kepada Tuhan, mempercayakan diri pada penyelenggaraan Ilahi. Maka marilah kita perhatikan mereka yang bodoh, lemah, tidak terpandang, hina dan tidak berarti di mata atau bagi dunia, entah mereka itu anak-anak kecil, orang miskin, bodoh atau serba kekurangan. Lebih-lebih kepada para petinggi atau pejabat kami berharap untuk memperhatikan mereka ini, sebagai tanda usaha dan keberhasilan pelayanan yang baik dan benar. Atau mereka itu adalah para pembantu atau pelayan rumah tangga maupun kantor: bukankah dalam keadaan biasa mereka kita pandang bodoh, lemah, tidak terpandang, tidak berarti, tetapi dalam situasi genting dan darurat sangat kita butuhkan? Ketika mereka bekerja dengan baik kita biarkan, tidak dipuji dan tidak dihargai, tetapi ketika bekerja tidak baik pasti kita marahi, yang berarti kita perhatikan. Dalam situasi dan kondisi yang tidak baik seperti halaman, rumah, jalan kotor pada umumnya mereka yang bodoh, lemah, tidak terpandang, tidak berarti bagi dunia dalam keadaan biasa, sungguh dibutuhkan. Yang merasa berhikmat, kuat dan berarti bagi dunia pada masa kini kami berharap tidak menyombongkan diri, agar nanti tidak dipermalukan oleh mereka yang bodoh, lemah, tidak terpandang, hina dan tidak berarti. "TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya" (Mzm 146:8-9) Jakarta, 3 Februari 2008 =============================================== From: rm_maryo
"Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri" (Rm 4:20-25; Luk 12:13-21) "Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Tuhan kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Tuhan."(Luk 12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Dana abadi" atau "simpanan untuk tujuh turunan", demikian cita-cita atau harapan banyak orang dan aneka organisasi atau lembaga. Mereka merasa aman, tenteram dan damai serta penuh harapan masa depan jika memiliki simpanan harta benda yang cukup banyak atau uang di bank dengan jumlah jutaan atau milyardan, padahal yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari tidak sebanyak itu dan tiap hari atau bulan senantiasa memperoleh masukan atau pendapatan harta benda atau uang yang memadai untuk kebutuhan hidup keluarga maupun usaha atau kegiatannya. Jika terjadi musibah besar, entah kebakaran atau peperangan yang berkepanjangan, maka harta benda atau uang tersebut dapat hilang dalam waktu sekejap, dan tak berbekas sedikitpun. Maka marilah kita tidak mengumpulkan harta bagi diri sendiri sehingga kaya akan harta benda atau uang, melainkan marilah menjadi `kaya di hadapan Tuhan'. "Kaya di hadapan Tuhan" berarti kaya akan nilai-nilai kehidupan atau keutamaan-keutamaan atau buah-buah Roh seperti: "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22- 23). Keutamaan yang kiranya erat dan dekat dengan kutipan Warta Gembira hari ini adalah `penguasaan diri', maka marilah kita perdalam dan perkuat serta sebarluaskan keutamaan `penguasaan diri' ini di dalam kesibukan, pelayanan atau pergaulan kita setiap hari. Menguasai diri sendiri rasanya lebih sulit daripada menguasai orang lain atau harta benda dan uang; jika orang tidak dapat menguasai diri sendiri, maka menguasai orang lain atau harta benda/uang berarti akan hidup dan bekerja dijiwai oleh roh jahat atau " percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya"(Gal 5:19-21) yang mambawa orang yang bersangkutan semakin menderita sengsara dan masuk `neraka di dunia ini maupun setelah mati nanti'. . "Terhadap janji Tuhan ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Tuhan, dengan penuh keyakinan, bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan"(Rm 4:20-21), demikian pewartaan Paulus perihal keimanan bapa Abraham kepada umat di Roma, kepada kita semua. Sara, isteri Abraham, sudah berumur kira-kira seratus tahun dan belum memiliki anak, melalui Abraham dijanjikan akan memiliki keturunan ribuan atau jutaan jumlahnya. Secara phisik dan logis kiranya tidak mungkin perempuan yang begitu tua akan mengandung dan melahirkan anak, namun Abraham "dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan". Maka baiklah kita mawas diri terhadap aneka macam janji yang pernah kita ikhrarkan dengan bangga serta kita hayati sebagai anugerah Tuhan, artinya janji yang berasal dari Tuhan. Sebagai yang telah dibaptis kita pasti akan berhasil untuk hanya mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan, sebagai suami-isteri pasti yakin akan setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang sampai mati, sebagai imam, bruder atau suster pasti yakin akan setia dalam mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesame, antara lain dengan hidup tidak menikah serta segala sesuatu kenikmatan yang menyertai hidup menikah dst.. Marilah kita tetap tegar dan bergairah dalam menghayati iman, panggilan dan tugas perutusan, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan kesulitan. "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."(Mat 28:20) "Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus"(Luk 1:69-72)

