From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 55 -- Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata

 
PENGANTAR

  Mendengar dan melihat pengalaman hidup teman, membuat saya harus
  "mengangkat topi" untuknya. Karena melaluinya saya dapat mengetahui
  betapa sukarnya menjalani hidup dengan keterbatasan fisik. Dari
  semua kesulitan hidup yang pernah dia jalani, satu yang paling
  membuatnya merasa terpukul adalah adanya penolakan dari keluarganya
  sendiri, dan hal ini tidak mudah untuknya. Saya bersyukur karena
  Tuhan senantiasa memeliharanya dengan setia sampai ia berhasil
  melaluinya. Dan kini teman saya ini menjadi inspirasi bagi saya
  untuk menjalani hidup dengan berani dan penuh ucapan syukur.

  Pengalaman hidup yang demikian tentu pernah Anda dengar dan lihat.
  Kisah yang hadir kali ini merupakan salah satunya, meski dalam
  kondisi yang mungkin agak berbeda. Semoga kisahnya menjadi inspirasi
  bagi kita semua untuk terus optimis dalam menjalani hidup di tahun yang baru 
ini.

  Pimpinan Redaksi KISAH,
  Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

           SAYA TERSELAMATKAN WALAUPUN LAHIR TANPA BOLA MATA
           =================================================
  Jhon Natanael lahir tanpa bola mata. Saat ia di dalam kandungan,
  ibunya putus asa dengan keberadaan ayahnya, lalu mencoba melakukan
  tindakan bunuh diri. Ini berimbas di masa kecilnya. Ia melewati
  semuanya dengan luka yang teramat dalam. Kesepian menjadi nyanyian
  pilu yang disimpannya sendiri. Bertahun-tahun, ia mengalami
  frustrasi dan terus bertanya. Mengapa ia dilahirkan buta? Namun,
  semua kesesakan itu dihempasnya di kaki salib Yesus. Kini, Jhon bisa
  berkata, "Hidup saya amat berarti."

  Lahir Tanpa Bola Mata
  Saat mengandung Jhon empat bulan, ibunya terguncang karena ayah Jhon
  punya kebiasaan judi yang tak kunjung berhenti. Puncak stres itu
  ketika ayah Jhon berurusan dengan polisi dan masuk penjara. Dalam
  keputusasaan, dia mencoba bunuh diri dengan menenggak minuman yang
  mematikan, semacam garam pekat. Namun, Tuhan berkehendak lain,
  keduanya selamat. "Mama saya terselamatkan. Saya yang di dalam
  kandungan pun tetap hidup meskipun lahir dengan keadaan mata seperti
  ini, tanpa bola mata," kisah anak bungsu dari empat bersaudara itu.

  Jhon yang terlahir dengan nama Laij Tji The seolah menampung duka
  lara dan kemarahan ibunya. "Umur delapan bulan, saya dibawa Mama ke
  Jakarta untuk periksa mata. Tapi dokter mengatakan saya tak mungkin
  bisa melihat, sekali pun dicangkokkan melalui donor. Tidak ada
  harapan karena saraf mata sudah mati. Lebih menyakitkan, dokter
  bilang pada mama bahwa hidup saya sudah tidak berguna dan belum terlambat 
untuk 
   membunuhnya," cerita Jhon yang mengetahui semua kisah itu dari ibunya.

  Jhon "hidup" dalam gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Jhon kecil
  sendirian. Ia menyendiri di kamar, duduk terpekur. Belajar berjalan
  dan berulang kali jatuh, tak jarang kepalanya terbentur. Tangannya
  adalah juga mata yang melihat dengan meraba. "Saya tahu, saya cacat
  karena Mama. Sering kali kalau saya dianggap nakal, Mama kerap
  mengeluarkan kata-kata penyesalan telah melahirkan saya. Bahkan,
  beberapa kali Mama mengancam dengan kata-kata, 'Saya akan bunuh kamu!'"

  Bila ada tamu, Jhon kecil diboyong ke kamar. "Mereka malu karena
  memiliki anggota keluarga yang cacat. Saya dijauhkan dari hubungan
  luar. Menjadi kebiasaan ketika saya mulai tumbuh besar, langsung
  cepat-cepat masuk kamar bila ada ketukan pintu atau terdengar suara orang 
datang. Saya hanya mengenal rumah dan orang-orang seisi rumah," ungkapnya lirih.

  Sewaktu umur sepuluh tahun, Jhon pernah mencoba bunuh diri. Setengah
  tak sadar, Jhon mengikat leher dengan karet sampai sulit bernapas.
  Sikap berontak pada orang tua dan situasi yang membosankan itu membuat Jhon 
  gampang tersinggung. Namun, sakit hati itu cuma bisa dirasakannya dalam hati.

  Jhon tak bisa lagi menghindar ketika guru-guru les ketiga kakaknya
  selalu datang ke rumah memberi pelajaran. "Mereka sering datang,
  jadi mau nggak mau saya kenal mereka. Di antara mereka, ada yang
  sangat memerhatikan saya, mengajak saya ngobrol, suka ngasih permen
  dan ngajak saya nyanyi. Dari sinilah, saya mulai berani bicara
  dengan orang di luar keluarga."

  Ketika Jhon pindah rumah, ia mulai berani ngajak ngobrol orang yang
  ditemui. Suatu kali, ada yang membawanya ke persekutuan. Namun,
  entahlah, Jhon cepat bosan. Paling bertahan dua minggu, setelah itu,
  selalu bikin alasan sakit atau jawaban sekenanya.

  Ishak Sang Motivator
  Di rumah yang baru, ada beberapa orang datang ke rumahnya. Salah
  satunya adalah Ishak, pemuda Kristen yang kerap mabuk. "Kamu harus
  bisa main gitar, ntar saya pinjemin dari gereja. Saya ajarin kamu
  sebentar, trus kamu latihan sendiri. Dua minggu kamu harus bisa
  mainkan satu lagu. Kamu harus rajin. Jangan cepat putus asa kayak
  saya. Kamu harus punya masa depan," kata Jhon tertawa menirukan
  nasihat Ishak. Menurut Jhon, kata-kata Ishak itu kena di hatinya. Ia
  lantas belajar gitar dengan sungguh-sungguh.

  Suatu kali, Jhon berkenalan dengan Amir, teman kakaknya, seorang
  arsitek yang mengerjakan taman di halaman rumahnya. Jhonlah yang
  paling banyak menemani Amir lantaran paling sering di rumah. Betapa
  kagetnya Amir ketika tiba-tiba Jhon nyanyi lagu Gombloh sambil
  memetik gitar. "Pak Amir langsung nanya, mau bantu saya main musik
  di gereja? Karena saya merasa sangat dekat dengan dia saya nggak
  enak nolak. Pak Amir sungguh-sungguh melayani dan mendorong saya.
  Biarpun hujan, Pak Amir tetap menjemput saya dengan sepeda motornya.
  Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Dalam hati saya, nekat juga orang ini."

  Perubahan Sikap
  Suatu malam, di rumah teman, Jhon merenungi hidup. Rasa gagal,
  tertolak, tidak berguna yang selama ini menekannya, satu per satu
  terbayang di benaknya. Masa kecil yang kelam penuh kepahitan,
  perkataan ibunya, saudara serta kata-kata dokter yang pernah ia
  dengar dari mulut mamanya betul-betul menyesakkan. Malam itu menjadi
  malam yang amat berarti bagi Jhon. Ia tumpahkan segala kekesalan dan
  gelisahnya pada Tuhan. Jhon berserah penuh pada Tuhan. Ia bertekad
  mengubah cara pandangnya dalam melihat kehidupan.

  Pelan-pelan, Jhon bisa menerima kekurangannya. Dia juga berdamai
  dengan diri sendiri dan mengampuni orang-orang yang pernah
  melukainya. Malam itu, Jhon "berhadapan dengan Tuhan".

  "Saya seperti menemukan sosok Bapak," kata Jhon yang sejak lahir
  sampai ia dengar ayahnya meninggal, belum pernah sekalipun bertemu.

  Sukacita dan harapan pelan-pelan memenuhi hati Jhon. Bagi Jhon malam
  itu adalah malam pengampunan. Sebab pada malam itu, ia bisa
  mengampuni setiap orang yang pernah melukainya. Itulah yang
  memotivasi Jhon untuk bangkit dan tidak larut dalam masalah.
  Benarlah, hati yang gembira adalah obat. Jhon makin giat melayani
  Tuhan. Lewat nyanyian dan petikan gitarnya, ia semakin maju dan
  menang mengalahkan segala rasa yang tak perlu disimpannya.

  Usia 20 tahun, Jhon memberanikan diri minta izin pada ibunya untuk
  dibaptis. Ibunya tak keberatan asal Jhon menjadi orang Kristen yang
  sungguh-sungguh. "Meski Mama bukan seorang Kristen, tapi ia
  sungguh-sungguh mendorong saya untuk melayani Tuhan. Pernah suatu
  kali, saya jenuh dan berniat bolos tidak ke gereja, Mama saya ribut.
  'Lho, katanya kamu mau jadi Kristen kok malas-malasan.' Ketika saya pulang 
   pelayanan, Mama menunggu saya dan selalu bertanya, sudah makan belum?"

  Tuhan juga memberi kesempatan Jhon melayani ibunya saat wanita yang
  melahirkannya itu jatuh sakit dan harus opname. Selama satu minggu,
  Jhon menemani ibunya, "Sewaktu Mama anfal, ia berteriak, 'Yesus
  tolong saya!' Tak lama kemudian, Mama dipanggil Tuhan. Rasanya waktu
  bersama Mama belum cukup. Mama meninggal saat kami sangat dekat.
  Tapi hati saya sangat bahagia, Mama sudah mengakui Yesus."

  Bertemu Tulang Rusuk
  Jhon semakin terpacu bercerita tentang Yesus. Jadwal pelayanan
  padat. Awal Juni tahun 2000, Jhon bersama beberapa teman pelayanan
  ke Kalimantan Barat. Di sana, Jhon didampingi Pdt. Kenny Wolter.
  Marianalah yang mengurus dan banyak mendampingi Jhon. Teman-teman
  Jhon maupun Mariana kerap menggoda, "Wah, kayaknya kalian cocok
  banget," kata Jhon tersenyum menirukan godaan mereka.

  Sehari menjelang kembali ke Jakarta, Jhon "didesak" teman-temannya
  untuk "mengungkapkan cinta". Semula Jhon ragu, sadar atas
  keterbatasan yang dimilikinya. Namun akhirnya, muncul keberanian
  itu. Jhon mengajak bicara Mariana. Memang tak ada yang dapat
  membandingi kuasa Tuhan. Mariana, meski kaget bukan kepalang,
  akhirnya menerima cinta Jhon.

  Malam itu pula mereka sepakat untuk segera menikah. Hal ini
  disampaikan kepada Pdt. Kenny, yang kaget mendengarnya. "Pendeta
  bilang, uji dulu. Kami pun dipisahkan di tempat yang berbeda.
  Setelah selesai, kami dipanggil Pdt. Kenny. Apakah jawaban kami
  sama? Ternyata saya dan Mariana punya jawaban sama, mantap untuk menikah."

  Pernikahan yang mengharukan itu pun dilaksanakan. "Saya pulang ke Jakarta 
bawa 
  istri, mukjizat ya?" kata Jhon tertawa, Mariana yang mendampingi pun 
tersenyum.

  Mariana mengaku kagum atas karya Tuhan dalam hidup suaminya.
  "Meskipun Kak Jhon begitu, dia loh yang atur keuangan keluarga. Dia
  pinter banget ngurus duit. Saya juga heran, dia bisa main gitar,
  keyboard, drum, suaranya juga bagus," ungkap Mariana, gantian Jhon
  tersenyum mendengar pujian istrinya.

  Tak lama menunggu, Mariana hamil. Pada 13 April 2002, lahirlah Ester
  Agung Natanael; buah cinta kisah keajaiban.

  Jhon tak lagi merasa sepi dan sendiri. Mariana dan Ester memenuhinya
  dengan cinta. Luka itu telah digantikan-Nya dengan sukacita.

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Judul buku   : Karena Dia
  Judul artikel: Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata
  Penyusun     : Niken Maria Simarmata
  Penerbit     : ANDI, Yogyakarta 2006
  Halaman      : 71 -- 80
______________________________________________________________________

              "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!
          Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."  (Mazmur 107:1)
           < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Mazmur+107:1 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

  1. Berdoalah bagi orang-orang tertolak, yang pernah mengalami kepahitan dan 
     kegagalan hidup. Doakan agar Tuhan memulihkan kehidupan mereka.

  2. Doakan setiap orang yang memiliki keterbatasan fisik, agar Tuhan
     memberikan pemahaman kepada mereka bahwa Ia memiliki rencana
     yang mulia di balik keadaan tersebut. Berdoalah juga agar kita
     memberi diri dapat dipakai Tuhan untuk memotivasi dan menguatkan
     mereka yang mengalaminya, agar turut berkarya bagi nama-Nya.

  3. Doakan Jhon dan keluarganya dalam segenap pelayanannya; kiranya Tuhan 
     mengurapi dan memampukannya sehingga ada banyak orang yang  mengenal 
     Kristus dan menerima keselamatan di dalam-Nya melalui pelayanan mereka.
=============================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 56 -- George Whitefield, Peniru Gerak-Gerik Pendeta

 
PENGANTAR
  Saya sangat menikmati saat-saat penyampaian firman Tuhan. Taburan
  setiap benih firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkhotbah menjadi
  berkat yang begitu menguatkan iman saya. Apalagi didukung dengan
  suasana yang begitu hikmat di mana sidang jemaat dengan tenang
  mendengarkan pengajaran firman Tuhan. Tidak jarang pula saya
  merasakan angin sepoi-sepoi tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan dan
  membuat bulu-bulu kecil di tangan saya berdiri.

  Terlepas dari bagaimana cara sang pengkhotbah menyampaikan kebenaran
  firman Tuhan, sering kali ada gambaran indah di kepala saya, yaitu
  seolah-olah Tuhan sendiri yang sedang berbicara. Apakah Anda juga
  menikmati saat-saat firman Tuhan disampaikan melalui hamba-Nya?
  Masih ingatkah Anda isi khotbah yang disampaikan hari Minggu kemarin?

  Kisah berikut kiranya membuka mata rohani kita bahwa setiap firman
  Tuhan yang disampaikan oleh hamba-Nya berkuasa untuk mengubah
  seseorang. Jangan abaikan, bahkan melupakan apa saja yang
  difirmankan Tuhan ketika khotbah disampaikan, karena firman itu
  dapat mendewasakan iman kita di dalam-Nya.

  Pimpinan Redaksi KISAH,
  Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

            GEORGE WHITEFIELD, PENIRU GERAK-GERIK PENDETA
            =============================================
  "Saudara-saudara yang kekasih, dengarlah kata-kata yang keluar dari
  mulut saya. Saya membawa pesan Tuhan Yang Maha kuasa." Orang-orang
  yang berkumpul di kedai minuman itu tertawa terbahak-bahak. "Bagus,
  Nak! Bagus!" teriak seorang pria gemuk pendek sambil mengangkat
  gelas birnya. "Seandainya aku tidak melihatmu, Nak, aku mungkin
  tertipu," kata seorang langganan lainnya. "Kukira Pendeta Cole tua
  yang membentak-bentak di kedai minuman ibumu."

  George Whitefield muda, yang baru berumur lima belas tahun itu,
  melakukan tipuannya yang paling disukai, yaitu menirukan Bapak Cole,
  Pendeta Southgate Chapel di Gloucester, Inggris. Menirukan pendeta
  di daerahnya telah menjadi suatu hiburan yang dilakukannya setiap
  malam sementara ia mengurus kedai itu untuk ibu dan ayah tirinya.

  Bakat George Whitefield dalam hal menirukan dan bermain sandiwara
  itu terkenal di daerahnya. Di sekolah, ia selalu disuruh mengucapkan
  pidato apabila bapak walikota mengadakan kunjungan tahunannya.
  Kadang-kadang ia membolos dari sekolah beberapa hari berturut-turut
  untuk latihan sandiwara.

  Ketika ia mencapai umur lima belas tahun, ia berhenti sekolah.
  Ibunya mengatakan bahwa ia diperlukan untuk membantu di kedai
  keluarganya itu. Demikianlah, pemuda yang kelak menjadi penginjil yang 
terkenal di 
  dunia tersebut menghabiskan waktunya setiap sore dan malam dengan mengepel 
  lantai, menghidangkan bir, dan menirukan Bapak Cole, sang pendeta.

  Pada suatu malam, George dan teman-temannya masuk serta mengganggu
  kebaktian yang dipimpin oleh pendeta itu. Dengan berteriak-teriak,
  "Bapak Cole Tua! Bapak Cole Tua!", anak-anak lelaki itu hampir
  mengubah kebaktian itu menjadi kekacauan. Apa yang tidak diketahui
  oleh teman-teman George dan langganan-langganan kedai itu ialah
  bahwa di dalam hatinya, George sungguh-sungguh tertarik akan
  khotbah-khotbah Bapak Cole. Sering kali setelah kedai minuman itu
  ditutup, pemuda itu duduk sampai jauh malam membaca Alkitab.

  Pada suatu hari, seorang temannya mampir ke kedai itu dan
  menyarankan agar George memikirkan untuk pergi ke Oxford. "Kamu
  dapat melanjutkan pendidikanmu dengan bekerja keras."

  George berkonsultasi dengan ibunya, dan disetujui bahwa ia sebaiknya
  kembali ke sekolah serta menyelesaikan pelajaran-pelajarannya agar
  dapat memenuhi syarat untuk masuk ke universitas.

  Ketika pelayan kedai yang masih muda itu akhirnya sampai di Oxford,
  ia bertemu dengan John dan Charles Wesley. Kedua bersaudara itu
  telah membentuk "Perkumpulan Suci" yang disebut oleh
  mahasiswa-mahasiswa yang suka mengejek sebagai "Perkumpulan Orang
  Saleh", "Kutu-kutu Alkitab", "Fanatik-fanatik Alkitab", dan paling
  sering "Kaum Metodis", karena acara kebaktian rutin dan teratur yang
  mereka ikuti. Meski demikian, George tertarik oleh
  kebiasaan-kebiasaan agama yang sangat ketat dan ibadah yang
  dipatuhi oleh kedua bersaudara Wesley. Dalam tahun kedua di Oxford,
  ia menjadi anggota perkumpulan itu, serta bersumpah akan hidup
  sesuai dengan peraturan yang ada.

  Ia berpuasa serta berdoa sama salehnya seperti anggota-anggota
  "Perkumpulan Suci" lainnya. Tetapi alangkah kecewanya, ia tidak
  menemukan damai di dalam jiwanya.

  Charles Wesley meminjamkan sebuah buku kepadanya, yang berjudul
  "Kehidupan Tuhan di Dalam Jiwa Manusia". Ajaran-ajaran dalam buku
  itu seolah-olah merupakan berkas-berkas cahaya yang menyinari hati
  pemuda Whitefield. "Tuhan telah menunjukkan kepadaku bahwa agama
  yang benar merupakan kesatuan jiwa dengan Tuhan, dan Kristus
  menyatakan diri dalam hati kita," yang kemudian ditulis Whitefield.

  Dalam mencari agama yang benar ini, George Whitefield membiasakan
  dirinya berdoa dengan tekun. Setiap malam, ia mengeluh dan mengerang
  di tempat tidurnya, sambil memerintahkan iblis agar pergi dari
  padanya. Ia mencoba hidup dengan menahan lapar dan memberikan hampir
  semua uangnya kepada orang miskin. Ia memakai sarung tangan wol yang
  kasar, pakaian yang penuh tambalan, dan sepatu kotor. Akhirnya,
  karena ia mencari kesatuan dengan Tuhan secara terburu-buru dan
  dipaksakan, ia menjadi sakit. Kemudian pada suatu hari, ia ingat
  bahwa pernyataan Yesus akan rasa haus-Nya terjadi pada saat Ia
  tergantung di salib. Penderitaan-penderitaannya hampir berakhir,
  tiba-tiba Whitefield yang masih muda itu menjatuhkan dirinya di
  tempat tidur. "Aku haus! Aku haus!" teriaknya.

  Kemudian ia bersaksi mengenai apa yang dialaminya. "Tidak lama
  setelah itu, aku merasa dalam diriku bahwa aku dibebaskan dari
  beban. Perasaan duka telah diangkat dari dalam diriku, dan aku tahu apa yang 
  menyebabkan aku sungguh-sungguh bersukacita di dalam Tuhan penebusku."

  Baru setahun kemudian, Whitefield menyampaikan khotbahnya tentang
  doktrin "kelahiran baru"-nya di gereja-gereja terbesar di kota
  London. Seluruh Inggris segera menjadi gempar mendengar pengkhotbah
  muda yang bersuara emas itu. Atas undangan Wesley bersaudara,
  Whitefield pergi ke Amerika. Ia memimpin kebangunan rohani yang
  dramatis di Georgia. Ketika kembali ke Inggris, ia mendapatkan
  dirinya lebih terkenal daripada sebelumnya. Pada saat gereja negara
  yang merasa dipermalukan itu menutup pintu baginya, Whitefield pindah ke 
lapangan-
  lapangan dan berkhotbah kepada orang banyak yang berjumlah tiga puluh ribu 
atau 
   lebih. Banyak pendengarnya mengalami kelahiran baru.

  Ia pergi kembali ke Amerika. Pelayanannya demikian berhasil, bahkan
  Benyamin Franklin yang skeptis itu menyatakan, "Rupa-rupanya seluruh
  dunia menjadi saleh." George Whitefield baru saja berumur dua puluh
  enam tahun pada waktu itu. Whitefield berkhotbah selama tiga puluh
  tahun lagi kepada kumpulan banyak orang. Ia bolak-balik menyeberangi 
Atlantik. Ia 
  terus berdoa bagi mereka yang belum mau memedulikan panggilan Kristus.

  Pada tahun 1770, ia meninggal dunia ketika sedang berkhotbah. Ia
  sangat lelah dan tidak memedulikan dirinya lagi. Ketika sedang
  berkhotbah, ia berbalik sambil mengangkat kedua tangannya dan
  berkata, "Aku lelah, ya Tuhan!" kemudian Whitefield meninggal di
  atas mimbar. Lord Bolingbroke, bangsawan yang skeptis itu, menyebut
  dia sebagai "orang yang paling luar biasa pada zaman kita".

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Nama situs   : Pemuda Kristen
  Judul artikel: George Whitefield, Peniru Gerak-gerik Pendeta
  Penulis      : James C. Hefley
  Alamat URL   : http://www.pemudakristen.com/artikel/george_whitefield.php

  Catatan: Artikel di atas dapat ditemukan dalam versi tercetak pada
  buku "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus" karya
  James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup.
______________________________________________________________________

   "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku
     dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang
 ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang
                     Injil kasih karunia Tuhan." (Kisah Para Rasul 20:24)
              < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Kis+20:24 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

  1. Firman Tuhan sangat berkuasa untuk mengubah hidup seseorang.
     Kiranya Tuhan mengurapi serta memberikan hikmat dan kebijaksanaan
     kepada setiap hamba Tuhan yang dipakai-Nya untuk menjelaskan isi
     hati-Nya kepada sidang jemaat. Sehingga sidang jemaat semakin
     dikuatkan imannya dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

  2. Biarlah setiap firman Tuhan yang disampaikan menggerakkan hati
     mereka yang belum percaya sehingga mereka mau menerima Yesus
     sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.

  3. Para petobat baru perlu mendapatkan pengertian yang benar akan
     firman Tuhan. Doakan supaya Tuhan memakai anak-anak-Nya untuk
     menolong para petobat baru tersebut untuk semakin mengenal Tuhan
     dan memiliki sikap hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Kirim email ke