From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 55 -- Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata
PENGANTAR
Mendengar dan melihat pengalaman hidup teman, membuat saya harus
"mengangkat topi" untuknya. Karena melaluinya saya dapat mengetahui
betapa sukarnya menjalani hidup dengan keterbatasan fisik. Dari
semua kesulitan hidup yang pernah dia jalani, satu yang paling
membuatnya merasa terpukul adalah adanya penolakan dari keluarganya
sendiri, dan hal ini tidak mudah untuknya. Saya bersyukur karena
Tuhan senantiasa memeliharanya dengan setia sampai ia berhasil
melaluinya. Dan kini teman saya ini menjadi inspirasi bagi saya
untuk menjalani hidup dengan berani dan penuh ucapan syukur.
Pengalaman hidup yang demikian tentu pernah Anda dengar dan lihat.
Kisah yang hadir kali ini merupakan salah satunya, meski dalam
kondisi yang mungkin agak berbeda. Semoga kisahnya menjadi inspirasi
bagi kita semua untuk terus optimis dalam menjalani hidup di tahun yang baru
ini.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
SAYA TERSELAMATKAN WALAUPUN LAHIR TANPA BOLA MATA
=================================================
Jhon Natanael lahir tanpa bola mata. Saat ia di dalam kandungan,
ibunya putus asa dengan keberadaan ayahnya, lalu mencoba melakukan
tindakan bunuh diri. Ini berimbas di masa kecilnya. Ia melewati
semuanya dengan luka yang teramat dalam. Kesepian menjadi nyanyian
pilu yang disimpannya sendiri. Bertahun-tahun, ia mengalami
frustrasi dan terus bertanya. Mengapa ia dilahirkan buta? Namun,
semua kesesakan itu dihempasnya di kaki salib Yesus. Kini, Jhon bisa
berkata, "Hidup saya amat berarti."
Lahir Tanpa Bola Mata
Saat mengandung Jhon empat bulan, ibunya terguncang karena ayah Jhon
punya kebiasaan judi yang tak kunjung berhenti. Puncak stres itu
ketika ayah Jhon berurusan dengan polisi dan masuk penjara. Dalam
keputusasaan, dia mencoba bunuh diri dengan menenggak minuman yang
mematikan, semacam garam pekat. Namun, Tuhan berkehendak lain,
keduanya selamat. "Mama saya terselamatkan. Saya yang di dalam
kandungan pun tetap hidup meskipun lahir dengan keadaan mata seperti
ini, tanpa bola mata," kisah anak bungsu dari empat bersaudara itu.
Jhon yang terlahir dengan nama Laij Tji The seolah menampung duka
lara dan kemarahan ibunya. "Umur delapan bulan, saya dibawa Mama ke
Jakarta untuk periksa mata. Tapi dokter mengatakan saya tak mungkin
bisa melihat, sekali pun dicangkokkan melalui donor. Tidak ada
harapan karena saraf mata sudah mati. Lebih menyakitkan, dokter
bilang pada mama bahwa hidup saya sudah tidak berguna dan belum terlambat
untuk
membunuhnya," cerita Jhon yang mengetahui semua kisah itu dari ibunya.
Jhon "hidup" dalam gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Jhon kecil
sendirian. Ia menyendiri di kamar, duduk terpekur. Belajar berjalan
dan berulang kali jatuh, tak jarang kepalanya terbentur. Tangannya
adalah juga mata yang melihat dengan meraba. "Saya tahu, saya cacat
karena Mama. Sering kali kalau saya dianggap nakal, Mama kerap
mengeluarkan kata-kata penyesalan telah melahirkan saya. Bahkan,
beberapa kali Mama mengancam dengan kata-kata, 'Saya akan bunuh kamu!'"
Bila ada tamu, Jhon kecil diboyong ke kamar. "Mereka malu karena
memiliki anggota keluarga yang cacat. Saya dijauhkan dari hubungan
luar. Menjadi kebiasaan ketika saya mulai tumbuh besar, langsung
cepat-cepat masuk kamar bila ada ketukan pintu atau terdengar suara orang
datang. Saya hanya mengenal rumah dan orang-orang seisi rumah," ungkapnya lirih.
Sewaktu umur sepuluh tahun, Jhon pernah mencoba bunuh diri. Setengah
tak sadar, Jhon mengikat leher dengan karet sampai sulit bernapas.
Sikap berontak pada orang tua dan situasi yang membosankan itu membuat Jhon
gampang tersinggung. Namun, sakit hati itu cuma bisa dirasakannya dalam hati.
Jhon tak bisa lagi menghindar ketika guru-guru les ketiga kakaknya
selalu datang ke rumah memberi pelajaran. "Mereka sering datang,
jadi mau nggak mau saya kenal mereka. Di antara mereka, ada yang
sangat memerhatikan saya, mengajak saya ngobrol, suka ngasih permen
dan ngajak saya nyanyi. Dari sinilah, saya mulai berani bicara
dengan orang di luar keluarga."
Ketika Jhon pindah rumah, ia mulai berani ngajak ngobrol orang yang
ditemui. Suatu kali, ada yang membawanya ke persekutuan. Namun,
entahlah, Jhon cepat bosan. Paling bertahan dua minggu, setelah itu,
selalu bikin alasan sakit atau jawaban sekenanya.
Ishak Sang Motivator
Di rumah yang baru, ada beberapa orang datang ke rumahnya. Salah
satunya adalah Ishak, pemuda Kristen yang kerap mabuk. "Kamu harus
bisa main gitar, ntar saya pinjemin dari gereja. Saya ajarin kamu
sebentar, trus kamu latihan sendiri. Dua minggu kamu harus bisa
mainkan satu lagu. Kamu harus rajin. Jangan cepat putus asa kayak
saya. Kamu harus punya masa depan," kata Jhon tertawa menirukan
nasihat Ishak. Menurut Jhon, kata-kata Ishak itu kena di hatinya. Ia
lantas belajar gitar dengan sungguh-sungguh.
Suatu kali, Jhon berkenalan dengan Amir, teman kakaknya, seorang
arsitek yang mengerjakan taman di halaman rumahnya. Jhonlah yang
paling banyak menemani Amir lantaran paling sering di rumah. Betapa
kagetnya Amir ketika tiba-tiba Jhon nyanyi lagu Gombloh sambil
memetik gitar. "Pak Amir langsung nanya, mau bantu saya main musik
di gereja? Karena saya merasa sangat dekat dengan dia saya nggak
enak nolak. Pak Amir sungguh-sungguh melayani dan mendorong saya.
Biarpun hujan, Pak Amir tetap menjemput saya dengan sepeda motornya.
Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Dalam hati saya, nekat juga orang ini."
Perubahan Sikap
Suatu malam, di rumah teman, Jhon merenungi hidup. Rasa gagal,
tertolak, tidak berguna yang selama ini menekannya, satu per satu
terbayang di benaknya. Masa kecil yang kelam penuh kepahitan,
perkataan ibunya, saudara serta kata-kata dokter yang pernah ia
dengar dari mulut mamanya betul-betul menyesakkan. Malam itu menjadi
malam yang amat berarti bagi Jhon. Ia tumpahkan segala kekesalan dan
gelisahnya pada Tuhan. Jhon berserah penuh pada Tuhan. Ia bertekad
mengubah cara pandangnya dalam melihat kehidupan.
Pelan-pelan, Jhon bisa menerima kekurangannya. Dia juga berdamai
dengan diri sendiri dan mengampuni orang-orang yang pernah
melukainya. Malam itu, Jhon "berhadapan dengan Tuhan".
"Saya seperti menemukan sosok Bapak," kata Jhon yang sejak lahir
sampai ia dengar ayahnya meninggal, belum pernah sekalipun bertemu.
Sukacita dan harapan pelan-pelan memenuhi hati Jhon. Bagi Jhon malam
itu adalah malam pengampunan. Sebab pada malam itu, ia bisa
mengampuni setiap orang yang pernah melukainya. Itulah yang
memotivasi Jhon untuk bangkit dan tidak larut dalam masalah.
Benarlah, hati yang gembira adalah obat. Jhon makin giat melayani
Tuhan. Lewat nyanyian dan petikan gitarnya, ia semakin maju dan
menang mengalahkan segala rasa yang tak perlu disimpannya.
Usia 20 tahun, Jhon memberanikan diri minta izin pada ibunya untuk
dibaptis. Ibunya tak keberatan asal Jhon menjadi orang Kristen yang
sungguh-sungguh. "Meski Mama bukan seorang Kristen, tapi ia
sungguh-sungguh mendorong saya untuk melayani Tuhan. Pernah suatu
kali, saya jenuh dan berniat bolos tidak ke gereja, Mama saya ribut.
'Lho, katanya kamu mau jadi Kristen kok malas-malasan.' Ketika saya pulang
pelayanan, Mama menunggu saya dan selalu bertanya, sudah makan belum?"
Tuhan juga memberi kesempatan Jhon melayani ibunya saat wanita yang
melahirkannya itu jatuh sakit dan harus opname. Selama satu minggu,
Jhon menemani ibunya, "Sewaktu Mama anfal, ia berteriak, 'Yesus
tolong saya!' Tak lama kemudian, Mama dipanggil Tuhan. Rasanya waktu
bersama Mama belum cukup. Mama meninggal saat kami sangat dekat.
Tapi hati saya sangat bahagia, Mama sudah mengakui Yesus."
Bertemu Tulang Rusuk
Jhon semakin terpacu bercerita tentang Yesus. Jadwal pelayanan
padat. Awal Juni tahun 2000, Jhon bersama beberapa teman pelayanan
ke Kalimantan Barat. Di sana, Jhon didampingi Pdt. Kenny Wolter.
Marianalah yang mengurus dan banyak mendampingi Jhon. Teman-teman
Jhon maupun Mariana kerap menggoda, "Wah, kayaknya kalian cocok
banget," kata Jhon tersenyum menirukan godaan mereka.
Sehari menjelang kembali ke Jakarta, Jhon "didesak" teman-temannya
untuk "mengungkapkan cinta". Semula Jhon ragu, sadar atas
keterbatasan yang dimilikinya. Namun akhirnya, muncul keberanian
itu. Jhon mengajak bicara Mariana. Memang tak ada yang dapat
membandingi kuasa Tuhan. Mariana, meski kaget bukan kepalang,
akhirnya menerima cinta Jhon.
Malam itu pula mereka sepakat untuk segera menikah. Hal ini
disampaikan kepada Pdt. Kenny, yang kaget mendengarnya. "Pendeta
bilang, uji dulu. Kami pun dipisahkan di tempat yang berbeda.
Setelah selesai, kami dipanggil Pdt. Kenny. Apakah jawaban kami
sama? Ternyata saya dan Mariana punya jawaban sama, mantap untuk menikah."
Pernikahan yang mengharukan itu pun dilaksanakan. "Saya pulang ke Jakarta
bawa
istri, mukjizat ya?" kata Jhon tertawa, Mariana yang mendampingi pun
tersenyum.
Mariana mengaku kagum atas karya Tuhan dalam hidup suaminya.
"Meskipun Kak Jhon begitu, dia loh yang atur keuangan keluarga. Dia
pinter banget ngurus duit. Saya juga heran, dia bisa main gitar,
keyboard, drum, suaranya juga bagus," ungkap Mariana, gantian Jhon
tersenyum mendengar pujian istrinya.
Tak lama menunggu, Mariana hamil. Pada 13 April 2002, lahirlah Ester
Agung Natanael; buah cinta kisah keajaiban.
Jhon tak lagi merasa sepi dan sendiri. Mariana dan Ester memenuhinya
dengan cinta. Luka itu telah digantikan-Nya dengan sukacita.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata
Penyusun : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 71 -- 80
______________________________________________________________________
"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 107:1)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Mazmur+107:1 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Berdoalah bagi orang-orang tertolak, yang pernah mengalami kepahitan dan
kegagalan hidup. Doakan agar Tuhan memulihkan kehidupan mereka.
2. Doakan setiap orang yang memiliki keterbatasan fisik, agar Tuhan
memberikan pemahaman kepada mereka bahwa Ia memiliki rencana
yang mulia di balik keadaan tersebut. Berdoalah juga agar kita
memberi diri dapat dipakai Tuhan untuk memotivasi dan menguatkan
mereka yang mengalaminya, agar turut berkarya bagi nama-Nya.
3. Doakan Jhon dan keluarganya dalam segenap pelayanannya; kiranya Tuhan
mengurapi dan memampukannya sehingga ada banyak orang yang mengenal
Kristus dan menerima keselamatan di dalam-Nya melalui pelayanan mereka.
=============================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 56 -- George Whitefield, Peniru Gerak-Gerik Pendeta
PENGANTAR
Saya sangat menikmati saat-saat penyampaian firman Tuhan. Taburan
setiap benih firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkhotbah menjadi
berkat yang begitu menguatkan iman saya. Apalagi didukung dengan
suasana yang begitu hikmat di mana sidang jemaat dengan tenang
mendengarkan pengajaran firman Tuhan. Tidak jarang pula saya
merasakan angin sepoi-sepoi tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan dan
membuat bulu-bulu kecil di tangan saya berdiri.
Terlepas dari bagaimana cara sang pengkhotbah menyampaikan kebenaran
firman Tuhan, sering kali ada gambaran indah di kepala saya, yaitu
seolah-olah Tuhan sendiri yang sedang berbicara. Apakah Anda juga
menikmati saat-saat firman Tuhan disampaikan melalui hamba-Nya?
Masih ingatkah Anda isi khotbah yang disampaikan hari Minggu kemarin?
Kisah berikut kiranya membuka mata rohani kita bahwa setiap firman
Tuhan yang disampaikan oleh hamba-Nya berkuasa untuk mengubah
seseorang. Jangan abaikan, bahkan melupakan apa saja yang
difirmankan Tuhan ketika khotbah disampaikan, karena firman itu
dapat mendewasakan iman kita di dalam-Nya.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
GEORGE WHITEFIELD, PENIRU GERAK-GERIK PENDETA
=============================================
"Saudara-saudara yang kekasih, dengarlah kata-kata yang keluar dari
mulut saya. Saya membawa pesan Tuhan Yang Maha kuasa." Orang-orang
yang berkumpul di kedai minuman itu tertawa terbahak-bahak. "Bagus,
Nak! Bagus!" teriak seorang pria gemuk pendek sambil mengangkat
gelas birnya. "Seandainya aku tidak melihatmu, Nak, aku mungkin
tertipu," kata seorang langganan lainnya. "Kukira Pendeta Cole tua
yang membentak-bentak di kedai minuman ibumu."
George Whitefield muda, yang baru berumur lima belas tahun itu,
melakukan tipuannya yang paling disukai, yaitu menirukan Bapak Cole,
Pendeta Southgate Chapel di Gloucester, Inggris. Menirukan pendeta
di daerahnya telah menjadi suatu hiburan yang dilakukannya setiap
malam sementara ia mengurus kedai itu untuk ibu dan ayah tirinya.
Bakat George Whitefield dalam hal menirukan dan bermain sandiwara
itu terkenal di daerahnya. Di sekolah, ia selalu disuruh mengucapkan
pidato apabila bapak walikota mengadakan kunjungan tahunannya.
Kadang-kadang ia membolos dari sekolah beberapa hari berturut-turut
untuk latihan sandiwara.
Ketika ia mencapai umur lima belas tahun, ia berhenti sekolah.
Ibunya mengatakan bahwa ia diperlukan untuk membantu di kedai
keluarganya itu. Demikianlah, pemuda yang kelak menjadi penginjil yang
terkenal di
dunia tersebut menghabiskan waktunya setiap sore dan malam dengan mengepel
lantai, menghidangkan bir, dan menirukan Bapak Cole, sang pendeta.
Pada suatu malam, George dan teman-temannya masuk serta mengganggu
kebaktian yang dipimpin oleh pendeta itu. Dengan berteriak-teriak,
"Bapak Cole Tua! Bapak Cole Tua!", anak-anak lelaki itu hampir
mengubah kebaktian itu menjadi kekacauan. Apa yang tidak diketahui
oleh teman-teman George dan langganan-langganan kedai itu ialah
bahwa di dalam hatinya, George sungguh-sungguh tertarik akan
khotbah-khotbah Bapak Cole. Sering kali setelah kedai minuman itu
ditutup, pemuda itu duduk sampai jauh malam membaca Alkitab.
Pada suatu hari, seorang temannya mampir ke kedai itu dan
menyarankan agar George memikirkan untuk pergi ke Oxford. "Kamu
dapat melanjutkan pendidikanmu dengan bekerja keras."
George berkonsultasi dengan ibunya, dan disetujui bahwa ia sebaiknya
kembali ke sekolah serta menyelesaikan pelajaran-pelajarannya agar
dapat memenuhi syarat untuk masuk ke universitas.
Ketika pelayan kedai yang masih muda itu akhirnya sampai di Oxford,
ia bertemu dengan John dan Charles Wesley. Kedua bersaudara itu
telah membentuk "Perkumpulan Suci" yang disebut oleh
mahasiswa-mahasiswa yang suka mengejek sebagai "Perkumpulan Orang
Saleh", "Kutu-kutu Alkitab", "Fanatik-fanatik Alkitab", dan paling
sering "Kaum Metodis", karena acara kebaktian rutin dan teratur yang
mereka ikuti. Meski demikian, George tertarik oleh
kebiasaan-kebiasaan agama yang sangat ketat dan ibadah yang
dipatuhi oleh kedua bersaudara Wesley. Dalam tahun kedua di Oxford,
ia menjadi anggota perkumpulan itu, serta bersumpah akan hidup
sesuai dengan peraturan yang ada.
Ia berpuasa serta berdoa sama salehnya seperti anggota-anggota
"Perkumpulan Suci" lainnya. Tetapi alangkah kecewanya, ia tidak
menemukan damai di dalam jiwanya.
Charles Wesley meminjamkan sebuah buku kepadanya, yang berjudul
"Kehidupan Tuhan di Dalam Jiwa Manusia". Ajaran-ajaran dalam buku
itu seolah-olah merupakan berkas-berkas cahaya yang menyinari hati
pemuda Whitefield. "Tuhan telah menunjukkan kepadaku bahwa agama
yang benar merupakan kesatuan jiwa dengan Tuhan, dan Kristus
menyatakan diri dalam hati kita," yang kemudian ditulis Whitefield.
Dalam mencari agama yang benar ini, George Whitefield membiasakan
dirinya berdoa dengan tekun. Setiap malam, ia mengeluh dan mengerang
di tempat tidurnya, sambil memerintahkan iblis agar pergi dari
padanya. Ia mencoba hidup dengan menahan lapar dan memberikan hampir
semua uangnya kepada orang miskin. Ia memakai sarung tangan wol yang
kasar, pakaian yang penuh tambalan, dan sepatu kotor. Akhirnya,
karena ia mencari kesatuan dengan Tuhan secara terburu-buru dan
dipaksakan, ia menjadi sakit. Kemudian pada suatu hari, ia ingat
bahwa pernyataan Yesus akan rasa haus-Nya terjadi pada saat Ia
tergantung di salib. Penderitaan-penderitaannya hampir berakhir,
tiba-tiba Whitefield yang masih muda itu menjatuhkan dirinya di
tempat tidur. "Aku haus! Aku haus!" teriaknya.
Kemudian ia bersaksi mengenai apa yang dialaminya. "Tidak lama
setelah itu, aku merasa dalam diriku bahwa aku dibebaskan dari
beban. Perasaan duka telah diangkat dari dalam diriku, dan aku tahu apa yang
menyebabkan aku sungguh-sungguh bersukacita di dalam Tuhan penebusku."
Baru setahun kemudian, Whitefield menyampaikan khotbahnya tentang
doktrin "kelahiran baru"-nya di gereja-gereja terbesar di kota
London. Seluruh Inggris segera menjadi gempar mendengar pengkhotbah
muda yang bersuara emas itu. Atas undangan Wesley bersaudara,
Whitefield pergi ke Amerika. Ia memimpin kebangunan rohani yang
dramatis di Georgia. Ketika kembali ke Inggris, ia mendapatkan
dirinya lebih terkenal daripada sebelumnya. Pada saat gereja negara
yang merasa dipermalukan itu menutup pintu baginya, Whitefield pindah ke
lapangan-
lapangan dan berkhotbah kepada orang banyak yang berjumlah tiga puluh ribu
atau
lebih. Banyak pendengarnya mengalami kelahiran baru.
Ia pergi kembali ke Amerika. Pelayanannya demikian berhasil, bahkan
Benyamin Franklin yang skeptis itu menyatakan, "Rupa-rupanya seluruh
dunia menjadi saleh." George Whitefield baru saja berumur dua puluh
enam tahun pada waktu itu. Whitefield berkhotbah selama tiga puluh
tahun lagi kepada kumpulan banyak orang. Ia bolak-balik menyeberangi
Atlantik. Ia
terus berdoa bagi mereka yang belum mau memedulikan panggilan Kristus.
Pada tahun 1770, ia meninggal dunia ketika sedang berkhotbah. Ia
sangat lelah dan tidak memedulikan dirinya lagi. Ketika sedang
berkhotbah, ia berbalik sambil mengangkat kedua tangannya dan
berkata, "Aku lelah, ya Tuhan!" kemudian Whitefield meninggal di
atas mimbar. Lord Bolingbroke, bangsawan yang skeptis itu, menyebut
dia sebagai "orang yang paling luar biasa pada zaman kita".
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs : Pemuda Kristen
Judul artikel: George Whitefield, Peniru Gerak-gerik Pendeta
Penulis : James C. Hefley
Alamat URL : http://www.pemudakristen.com/artikel/george_whitefield.php
Catatan: Artikel di atas dapat ditemukan dalam versi tercetak pada
buku "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus" karya
James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup.
______________________________________________________________________
"Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku
dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang
ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang
Injil kasih karunia Tuhan." (Kisah Para Rasul 20:24)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Kis+20:24 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Firman Tuhan sangat berkuasa untuk mengubah hidup seseorang.
Kiranya Tuhan mengurapi serta memberikan hikmat dan kebijaksanaan
kepada setiap hamba Tuhan yang dipakai-Nya untuk menjelaskan isi
hati-Nya kepada sidang jemaat. Sehingga sidang jemaat semakin
dikuatkan imannya dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
2. Biarlah setiap firman Tuhan yang disampaikan menggerakkan hati
mereka yang belum percaya sehingga mereka mau menerima Yesus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.
3. Para petobat baru perlu mendapatkan pengertian yang benar akan
firman Tuhan. Doakan supaya Tuhan memakai anak-anak-Nya untuk
menolong para petobat baru tersebut untuk semakin mengenal Tuhan
dan memiliki sikap hidup sesuai dengan kehendak-Nya.