From: [EMAIL PROTECTED]
I AM LEGEND
"Orang bebal berkata dalam hatinya "Tidak ada Tuhan." . TUHAN memandang ke
bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang
berakal budi dan yang mencari Tuhan." (Mazmur 14:1-2)
Bukan kebetulan kalau siang ini, minggu 3 Februari 2008, penulis memutar DVD
berjudul 'I Am Legend,' film yang menggugat Tuhan yang dimainkan aktor tenar
Will Smith sebagai ahli sains Robert Neville yang film layar lebarnya diputar
di Indonesia sekitar hari Natal yang lalu, sebab begitu selesai diputar
langsung diganti channelnya dan di layar TV berkotbah seorang pendeta 'ajaran
sukses' disebuah tempat mewah yang berapi-api mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa,
tidak ada yang mustahil baginya dan bila kita percaya semua masalah kita akan
diselesaikannya!
Kedua adegan itu kontras sekali dan menggambarkan kedua kutub dalam kehidupan
manusia, disatu sisi kutub yang menolak Tuhan (theophobia), di sisi yang lain
kutub yang sangat menyembah Tuhan (theomania) seakan-akan semua masalah dunia
selesai bila kita percaya Tuhan.
Film 'I Am Legend' menceritakan tentang penemuan sejenis virus yang telah
berubah sifat yang dikembangkan para ahli sains yang bisa digunakan sebagai
obat penawar penyakit kanker. Menarik memang, tetapi dalam tiga tahun
perkembangannya, virus itu mendatangkan malapetaka dimana 90% manusia dari
jumlah 6 milyar mati karenanya dan hanya 1% manusia yang kebal terhadapnya,
sedangkan 9% menjadi mahluk mengerikan yang hanya bisa tinggal ditempat gelap
yang cenderung memakan mereka yang selamat. Selama itu Neville berkali-kali
mengirimkan pesan melalui radio mencari orang yang masih hidup.
Jalan ceritanya menegangkan dimana dalam kesendiriannya di kota New York Robert
Neville yang kematian anak & isterinya dan kemudian juga anjingnya Sam,
menjalani jalan-jalan kota cosmopolitan itu yang semua penduduknya telah mati
dan banyak mahluk manusia mutan pemakan manusia siap menerkam dirinya.
Sekalipun pada awalnya digambarkan dalam kesendiriannya mengendarai mobil,
Neville melewati truk rongsokan yang bertuliskan 'God Still Loves You' rupanya
kalimat itu merupakan 'thesa' yang kemudian pada 10 menit terakhir dibawa
kepada 'antithesa' (tetapi tidak diteruskan ke sintesa) yang menghadirkan
pertemuannya yang tidak terduga dengan seorang wanita bernama Anna (dimainkan
oleh Alice Braga) dengan anaknya yang menolongnya ketika ia terluka karena
serangan manusia mutan. Percakapan keduanya menggambarkan misi film itu.
Anna menjelaskan kepada Neville bahwa ia mendengar suara Tuhan melalui radio
untuk menolongnya sehingga berhasil menyelamatkan Neville yang sekarat, Anna
berkata kepada Neville bahwa ia harus 'mendengarkan kehendak Tuhan yang telah
menyuruhnya menyelamatkan Neville.' Namun, dengan nada tinggi Neville menyuruh
Anna diam dan mempertanyakan: "Bagaimana ada Tuhan kalau ia membiarkan 90% dari
6 milyar manusia mati dan hanya 1 persen selamat, sedangkan sisanya yang 9
persen berubah bentuk dan memangsa yang masih hidup?' Neville kemudian dengan
keras berseru sampai dua kali: "There Is No God!"
Digambarkan bahwa akhirnya Neville dengan anti-virus yang ditemukannya berhasil
menyelamatkan mereka yang terinfeksi virus dan para manusia mutan , dan lebih
dari itu ia sendiri menjadi juru selamat yang mengorbankan diri dengan
meledakkan diri dengan granat ditengah-tengah manusia mutan yang menyerbu
mereka demi menyelamatkan Anna, anaknya dan anti-virusnya. Pada akhirnya
digambarkan banyak manusia diselamatkan dengan anti-virus penemuan Neville.
Neville menjadi 'legenda' yang disebut majalah Time sebagai 'humanity saviour.'
Inilah tema film itu dimana'Tuhan yang mencintai manusia' dan 'Kehendak Tuhan
dan Rencananya' dibungkam dan diganti dengan 'Manusia dengan kemampuan
intelegensianya menjadi juruselamat yang menyelamatkan umat manusia.'
Bila film 'I Am Legend' menolak kehendak dan rencana Tuhan sebaliknya 'pendeta
ajaran sukses' yang diceritakan diatas terlalu menekankan Tuhan, namun si
pendeta juga menyempitkan arti kehendak dan rencana Tuhan, seolah-olah kehendak
dan rencana Tuhan itu cuma membuat manusia bahagia dan mengabaikan peran Iblis
dengan perilaku 'Anti Tuhan'nya yang jelas mengacau ciptaan dan membuat manusia
menderita karenanya. Mengabarkan tentang Tuhan yang tidak lengkap dan hanya
menekankan sisi 'sukses' jelas bukan Injil kabar baik yang sebenarnya.
Sebenarnya Neville harus mendengarkan bagaimana kesaksian Anna dalam film itu
dimana ia mengaku 'mendengar kehendak dan rencana Tuhan agar menolong Neville'
(dan jelas ini menunjukkan bahwa 'God Still Loves Neville'), kabar baik yang
ditolak Neville, ahli sains yang menggambarkan sifat manusia sekuler yang
menolak kehadiran Tuhan di dunia ini (dan jelas tidak mau mendengar suara Tuhan
yang tidak dipercayanya). Padahal, justru karena Anna percaya dan mau
mendengarkan suara Tuhan dan kehendak-Nya itulah maka Neville bisa hidup dan
meneruskan program anti-virusnya yang menolong banyak korban virus.
Pendeta 'ajaran sukses' juga keliru karena ia menyempitkan kabar baik Yesus
hanya sekedar sebagai berita bahagia dimana mereka yang percaya akan bebas dari
penderitaan. Film 'I Am Legend' dengan kritiknya juga tertuju kepada banyak
pengkotbah Kristen yang terlalu terpaku pada slogan 'sukses,' tetapi tidak peka
terhadap kenyataan dunia dimana bibit lalang masih bertebaran dimana-mana.
Kotbah 'sukses' mungkin cocok bila dikotbahkan di gedung mewah ber'AC' dimana
hadirin adalah para pengusaha yang berkantong tebal, namun kotbah itu tidak ada
artinya bila dikotbahkan ditengah-tengah orang yang menderita kebanjiran di
kota Jakarta dan kota-kota lainnya. Kasih Tuhan yang jelas dan nyata adalah
Injil Kabar Baik sebenarnya dan itulah yang harus dikotbahkan dan dilaksanakan!
Tuhan tetap mengasihi kita, dan Tuhan menyuruh umatnya peka dan menjalankan
rencana dan kehendak Tuhan untuk menolong sesama manusia dan bukan hanya demi
sukses/kebahagiaan pribadi. Kalau Neville berseru 'There Is No God', Pemazmur
mengatakan:
"The Lord looks down from heaven on the sons of men to see if there are any who
understand, any who seek God." (NIV, Psalm 14:2)
Amin!
Salam kasih dari Herlianto www.yabina.org
==============================================
From: wilma lasut
MURID YANG SEJATI
( Lukas 9 : 57-62 )
Banyak orang kristen berpendapat bahwa semenjak kita mengikut Tuhan, segala
kesulitan itu pasti lenyap, betulkah demikian? Sejujurnya kalau kita perhatikan
tokoh-tokoh Alkitab, mereka yang disebut hamba-hamba pilihan Tuhan, justru
kesukaran itu seolah-olah selalu mengikuti mereka, di manapun mereka berada.
Sebut saja Ayub, harus kehilangan harta dan anak-anaknya, ditinggalkan istri
bahkan dirinya sendiri menderita penyakit.
Mungkin kita pernah bertanya-tanya, katanya orang Kristen ada Tuhan, lalu
mengapa kita masih harus menderita? Di manakah Tuhan saat kita menderita? Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu perlu kita memahami beberapa hal
berikut ini.
1) Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Kuasa
Sebagai manusia yang pengetahuannya terbatas, di dalam menjalani kehidupan ini,
mungkin banyak hal yang mengejutkan kita, baik itu sakit penyakit, masalah
ekonomi, masalah keluarga dan sebagainya. Namun sebenarnya Tuhan tidak pernah
panik dengan masalah kita. Dia tetap Tuhan yang maha Kuasa. Yang menguasai alam
semesta ini. Yang setia mendengar dan menjawab seruan doa kita. Dia Tuhan yang
tanganNya tidak kurang panjang untuk menjangkau setiap kita.
Dalam kotbahnya, seorang hamba Tuhan pernah mengatakan demikian: "Ada kalanya
kita perlu berdoa dengan suatu kesadaran bahwa mungkin Tuhan tidak berbuat
seperti yang kita pikirkan." Kalaupun itu yang terjadi, jangan kuatir, Dia
tetap Tuhan yang maha Kuasa yang berotoritas penuh atas hidup kita. Di saat
penderitaan menjadi kenyataan, hanya ada dua pilihan yang bisa kita lakukan;
yaitu tetap tinggal dalam suasana hati yang tidak senang, atau kita belajar
mengucap syukur dalam segala hal dengan satu kesadaran bahwa hidup ini adalah
pemberian Tuhan. Seperti dalam Ayub 1:21-22, katanya: "Dengan telanjang aku
keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke
dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Tuhan berbuat
yang kurang patut.
2) Iman adalah menerima apa yang Tuhan kehendaki, bukan apa yang kita
kehendaki.
Ada kalanya kita berdoa dan Tuhan menjawab secara ajaib, diluar kemampuan
pikiran kita. Tetapi yang sering dijumpai pada banyak orang Kristen adalah kita
berdoa kepada Tuhan yang Maha Ajaib, Tuhan yang tidak terbatas oleh nalar,
dengan menggunakan pikiran dan nalar kita yang sangat terbatas dan penuh
kekuatiran hingga akhirnya kita tidak memperoleh apapun dari d! oa kita. Karena
saat kita berdoa, iman percaya kitalah yang harusnya d ifungsikan.
Janganlah kita lupa bahwa jawaban Tuhan itu terjadi berdasarkan keputusan
tertinggi Tuhan, berdasarkan kasih karunia dan kebaikanNya pada kita, yang kita
tahu sering kali kita belum dapat menyelami dan memahami maksud pikiran Tuhan
sampai pada waktunya kita diijinkan Tuhan untuk mengerti mengapa seringkali
Tuhan seakan-akan tidak mendengar doa, belum menjawab atau tidak mempedulikan
kita. Seperti halnya jika anak kita yang masih balita tiba-tiba minta dibelikan
petasan lalu apakah kita menurutinya? Saya rasa tentu tidak. Karena kita tahu
hal itu tidak membawa kebaikan pada anak kita bahkan dapat membawa bahaya.
Mungkin kita akan menggantinya dengan membelikan dengan hal lain yang lebih
berguna atau mungkin menunda membelikan petasan hingga anak kita sudah cukup
umurnya. Begitu pula dengan Tuhan kita.
Maka perlu kita sadari bahwa Tuhan bekerja seturut cara dengan hasil terbaik
diluar nalar pikiran kita. Itulah iman, meskipun belum melihat, namun percaya
bahwa ! Tuhan sudah melakukan dan menyediakan yang terbaik seturut kasihNya,
KuasaNya, kekayaanNya dan kemulianNya. Oleh karena itu kita akan rugi besar
jika kita memaksakan sesuatu kepada Tuhan menurut ukuran manusia yang terbatas
sedangkan Tuhan sebetulnya ingin menyediakan yang lebih baik bahkan yang
terbaik menurut ukuran Tuhan yang tidak terbatas dengan apapun.
Ada satu pandangan di kalangan orang Kristen bahwa mengikut Tuhan pasti sehat,
kaya dan panjang umur. Faktanya tidak selalu demikian, tetapi bukan berarti
tidak boleh kaya, sehat dan panjang umur melainkan kasih karunia Tuhan cukup
bagi setiap kita. Jadi bukan berarti kalau ada orang Kristen kaya berarti
selalu susah masuk Sorga karena sombong, atau bukan berarti ada orang Kristen
kekurangan atau sakit itu berarti kurang doa atau berdosa. Tetapi Tuhan
memiliki bentuk rancangan yang berbeda bagi setiap kita, dan apabila jika kita
mau setia dalam kehendak dan rancanganNya, baik miskin dan kaya, sehat dan yang
sakit, akan memperoleh kesempatan dan hasil yang sama pada akhirnya, yaitu
mahkota dan upah dalam kerajaan Sorga selama-lamanya.
Jadi Alkitab tidak pernah menjanjikan bahwa kita selalu terbebas dari pencobaan
dan penderitaan, karena Yesus Kristus juga mengalami hal itu. Rasul Palus dalam
Filipi 3:10 berkata, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa
kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi
serupa dengan Dia dalam kematian-Nya." Hal ini adalah suatu prinsip hidup yang
luar biasa dari Paulus bahwa ada kalanya penderitaan itu justru membuat kita
semakin mengenal dan serupa dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah berjanji mencegah
kita dalam kesulitan, tetapi Tuhan berjanji akan selalu menjaga kita dalam
setiap kesulitan, dan melalui kesulitan atau ujian iman itu kita boleh
merasakan kasih dan kehadiranNya sehingga kita semakin mengenalNya lebih lagi.
Doa yang paling sukar bagi orang Kristen bukanlah "Ya Tuhan berkatilah hidupku
dan jauhkan dari pencobaan" atau "Ya Tuhan berkatilah usahaku agar aku sukses"
tetapi doa orang Kristen yang seringkali sukar dipanjatkan adalah dalam Matius
26:39, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari
pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang
Engkau kehendaki."Karena sejujurnya kita lebih sering sibuk mencari kebaikan
bagi diri sendiri, sehingga kita tidak pernah peduli untuk mencari kepentingan
dan kemuliaan Tuhan.
3) Iman pasti membawa kepada kemenangan akhir yang sejati.
Banyak dari kita selalu ingin memperoleh jawaban doa sekarang juga. Kita lupa
bahwa ada kairos yaitu waktu Tuhan. Yang kita tahu tidak terlalu cepat juga
pasti tidak akan terlambat, tetapi tepat pada waktunya. Tuhan jelas tidak ingin
umatNya hanya memperoleh kemenangan yang semu melainkan Dia mau kita menjadi
pemenang sejati bahkan lebih dari pemenang. Sering saya jumpai banyak orang
Kristen mendapat jawaban Tuhan yang dipaksakan karena kebodohan rohaninya dan
setia menunggu waktu Tuhan, hingga mendapatkan akhir yang tidak baik dan
meskipun ada pemulihan sekalipun akan ada harga yang mahal yang harus dibayar.
Sebagai orang Kristen kita adalah pemenang. Penderitaan Kristus di kayu salib
yang begitu mengerikan, langit menjadi gelap, alam seolah ikut berduka, Tuhan
Bapa pun meninggalkanNya. Sepintas sepertinya Tuhan kita tergantung sia-sia
tidak berdaya dan kalah. Namun kemudian kita tahu bahwa sesungguhnya itulah
saat puncak kemenangan Tuhan atas Iblis. Semua kesusahan dan penderitaan sudah
berakhir di kayu salib dan kemenangan menjadi milik Tuhan kita Yesus Kristus.
Maka sebagai anak Tuhan yang percaya kepadaNya itu berarti kita di pihak yang
menang, walaupun kita masih hidup dalam dunia yang berdosa dan menanggung
berbagai penderitaan, namun Tuhan di pihak kita, selalu menyertai dan
memampukan kita menghadapi segala hal. Seperti dalam Roma 8:32, "Ia, yang tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua,
bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita
bersama-sama dengan Dia?"
Mari kita belajar untuk tidak bertanya; Di manakah Tuhan ketika saya menderita?
Tetapi lebih baik bertanyalah pada dirimu sendiri; Di manakah saya, saat
penderitaan itu datang? Apakah kita tetap bersamaNya, sumber kekuatan dan
pengharapan kita? Karena kematangan seorang Kristen bukanlah karena ia bebas
dari penderitaan, tetapi bagaiman agar orang Kristen bisa tetap percaya dan
berserah sepenuhnya dalam kesetiaan di saat mengalami penderitaan ( Baca I
Petrus 1 : 3 - 9 ). Sikap ini sajalah yang memungkinkan kita untuk terus
bertumbuh dalam kasih dan kebenaran, kematangan inilah yang membuat kita untuk
tetap setia melayaniNya. Maka seperti dalam I Petrus 5:10, "Dan Tuhan, sumber
segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada
kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan
mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." Haleluya. Amin
=============================================
From: Tantono Subagyo
Mohon doa untuk Evangelis Luhut Hutagalung
Dear Teman Sejawat dalam Kristus,
Rekan sepelayanan saya di GKOI Pondok Pucung, Ev. Luhut Hutagalung sekarang
menderita sakit kanker usus stadium 4 dan tergeletak tak berdaya di RS Siloam
Gleneagle Lippo Karawaci. Ybs sudah menderita kanker berbulan-bulan, bahkan
sudah dioperasi usus besarnya. Namun sampai sekarang belum pulih juga, ybs
tidak dapat tidur karena kesakitan dan hanya tidur sebentar-sebentar saja,
makanpun tidak bisa
karena mual dan muntah lagi, tubuh yang semula beratnya 75an kg sekarang
tinggal tulang berpalut kulit. Pak Luhut ini seorang yang luar biasa dalam
melayani Tuhan, talentanya terutama adalah dalam dunia musik, ybs mengarang
beberapa lagu antara lain Mars GKOI, Tangan Kecil dls dan memimpin Keroncong
Danau Galilea GKOI Pondok Pucung sampai pernah berpentas diacara Batak
Bermazmur di tahun 2007. Pada waktu pertama kali di rawat pak Luhut masih
sempat menginjili dan menjadi berkat bagi seseorang yang dirawat satu kamar
dengannya. jadi memang pak Luhut hidup untuk Tuhan. Sekarang pak Luhut
terbaring lagi di RS Siloam, ada timbunan cairan diperutnya yang harus
dikeluarkan, akan tetapi karena kelemahan fisiknya pak Luhut harus terlebih
dahulu di infus dan ditingkatkan gizinya, infus melalui hidung dan ada selang
juga melalui leher/kerongkongan untuk memasukkan Entrasol (susu tinggi
kalori). Di samping itu masih ada masalah anak sebar (metastase) dari kanker
yang dideritanya. Keluarganya Ibu Lina Hutagalung boru Sinaga (ibu Rumah
Tangga) dan putri satu-satunya Andesita Hutagalung (masih di tingkat awal Univ
Moestopo) sangat bersedih dan perlu dukungan doa untuk dikuatkan juga. Mohon
doa dari rekan-rekan
sekalian untuk Ev. Luhut Hutagalung, Ibu Lina Hutagalung dan Andesita
Hutagalung. Tuhan Memberkati. Tantono Subagyo