From: mangucup88 

Sederhana itu apa ?

Ketika saya masih kecil saya merasa kagum dan salut dengan cara hidup orang 
Tionghoa pada masa tersebut. Mereka bekerja siang dan malam tanpa mengenal 
waktu, walaupun demikian mereka tetap mempraktekan pola hidup sederhana. 
Kemana-mana selalu naik sepeda butut, pakai piyama atau kalau sedang kepanasan 
dengan celana kolor dan kaos singlet mereka sudah merasa bahagia, tetapi 
sekarang ini hal tersebut hanya sekedar dongeng tempo doeloe atau mitos saja.

Kata sederhana pada jaman sekarang ini sudah hilang dari kamus kata kehidupan 
kita. Kita diajarkan bahkan dipaksakan agar mau menjalankan hidup dengan cara 
jor-joran alias tanpa limit. Dari pagi s/d malam dimedia elektronik maupun 
cetak selalu disajikan bagaimana caranya agar kita bisa melakukan pola hidup 
trendi yang serba lux. 

Masih teringat pada saat saya masih kecil, dibelikan celengen dari tanah liat 
dalam bentuk Ayam Jago. Orang tua saya ingin agar saya belajar menabung. Beda 
dengan anak-anak jaman sekarang dimana mereka sudah diajarkan sedini mungkin, 
bagaimana mana harus belajar ngutang. 

Kagak percaya lihat saja berapa banyak anak-anak kecil sudah memiliki kartu 
kredit, sehingga kapan saja dimana saja tinggal gesek, masalahnya orang yang 
masih mau nabung itu adalah orang kuno ! Bahkan anak-anak jaman sekarang ini 
sudah memiliki uang jajan dengan tanpa batasan limit lagi.

Kita merasa menjadi manusia kelas dua apabila dirumah belum memiliki TV Plasma 
(flat-screen). Pada saat ini sudah bukan merupakan satu kebutuhan luxus lagi 
dimana setiap keluarga memiliki dua atau tiga mobil. Sedang bagi mereka yang 
belum mampu beli dua sampai tiga mobil minimum sudah harus memiliki beberapa 
ponsel termasuk 
Blackberry.

Mulai dari odol, sabun s/d shampoo harus made in luar negeri, moso sih mau 
pakai shamphoo lidah buaya atau merang seperti wong deso dari Gombong. Begitu 
juga tas, sepatu maupun pakaian harus yang bermerek. Jangankan pakaian, 
sekolahan anakpun harus yang bergengsi dimana di TK saja sudah diajarkan lima 
macam bahasa asing. 

Begitu juga dengan rumah ibadah, kita baru termasuk orang yang ngetren, apabila 
anda berada di lingkungan orang-orang sukses, jadi rumah ibadahpun harus yang 
trendi dimana banyak pejabat atau pengusaha beribadah disana. Ingat Sang 
Pencipta lebih senang berkumpul dengan wong sugih daripada wong kere yang hanya 
merepotkan 
Tuhan saja.

Begitu juga kalau sakit, boro-boro berobat di kampung sendiri, berobat di 
negara sendiri pun sudah merupakan satu aib, kalau tidak mampu ke Mount 
Elisabeth di Singapore minimum ke Malaysia. 

Pola makan kitapun sudah tidak bisa dibilang sederhana lagi, kapan terakhir 
kali kita makan di warteg atau jajan di kaki lima ? Apa kata dunia kalau mereka 
melihat kita sedang jajan di warteg apakah ini tidak memalukan ? 

Cobalah renungkan, pernahkan kita mengajarkan ataupun memberikan teladan kepada 
anak-anak kita untuk belajar hidup sederhana ? Apakah anda masih tahu dan masih 
bisa hidup sederhana ? Hidup sederhana bukanlah hidup miskin, tetapi bisa hidup 
dengan cara yang tidak berlebihan.

Melalui pola hidup sederhana kita tidak akan tergoda untuk melakukan KKN, 
sehingga karakter kita pun akan menjadi sederhana dengan sendirinya. Pada saat 
kita mempraktekan pola hidup sederhana otomatis kita akan bisa menghilangkan 
sifat sombong maupun sifat pamer kita dan pada saat itu pulalah kita akan bisa 
bebas dan 
menghilangkan tekanan untuk diperbudak oleh duit. 

Percayalah orang hidup sederhana hidupnya tidak akan stress, sebab mereka tidak 
akan takut dicurigai, tidak takut kehilangan, tidak dikejar-kejar debt 
collector, tidak takut dicuri orang, sehingga dengan demikian hidup mereka bisa 
lebih jauh lebih sehat. Terlebih dari segalanya dengan kita mempraktekan pola 
hidup sederhana kita akan lebih bisa merasakan penderitaan sesama kita. Apakah 
rasa kopi di Starbuck jauh lebih enak daripada rasa kopi di rumah ?

Aliran hidup sederhana di Eropa maupun di Amerika sudah banyak dipraktekan. 
Aliran hidup sederhana ini lebih dikenal dengan sebutan LOVOS ("Lifestyle of 
Voluntary Simplicity"), bahkan kaum mudanya pun pernah mengalami masa trendinya 
hidup sederhana ialah pada jaman Hipies atau generasi bunga. Sedangkan di 
Amerika yang mempraktekan pola hidup sederhana adalah kaum Quaker, orang-orang 
Amish dimana 
mereka menolak dan menentang untuk hidup dengan cara yang berlebihan.

Apabila saya berada di Jkt, mang Ucup lebih mengutamakan naik angkot atau ojek 
daripada naik taksi, begitu juga saya lebih senang makan di kaki lima daripada 
di hotel bintang lima. Di Belanda pun demikian saya selalu naik kendaraan umum, 
maklum tidak memiliki mobil pribadi.

Yang menjadi pertanyaan apakah pola hidup sederhana itu; satu pola hidup yang 
memalukan ? Marilah kita budayakan kembali pola hidup sederhana.

Di dalam Alkitab pun kita diajarkan untuk menjalankan pola hidup sederhana 
seperti yang tercantum dalam Matius 6:28-33 Dan mengapa kamu kuatir akan 
pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan 
tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun 
tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Tuhan 
mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, 
tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? 
Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari 
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. 
Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan 
ditambahkan kepadamu.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org
==============================================
From: Lisa Surjadi 

SEEKOR SEMUT DAN SEBUAH SOFTLENS

Brenda adalah seorang gadis muda yang diajak mendaki tebing oleh 
teman-temannya. Walau sebenarnya ia takut melakukannya, ia memutuskan untuk 
tetap pergi bersama mereka mendaki sebuah tebing granit yang curam.

Di luar rasa takutnya itu, ia memasang perlengkapannya, berpegang pada tambang 
dan kemudian memulai pendakian. Akhirnya ia sampai pada suatu pijakan di mana 
ia bisa menarik nafas sejenak. Tetapi di saat ia tengah berhenti, secara tidak 
sengaja matanya terbentur tali pengaman yang terikat di tubuhnya sehingga 
membuat soft-lensnya terlepas. Ia tengah di suatu pijakan tebing yang berada 
ratusan meter di atas tanah dan ratusan meter pula tebing di atasnya yang masih 
harus didaki.

Ia melihat dan melihat sekelilingnya, sambil berharap dapat menemukan 
soft-lensnya yang terlepas itu, tapi ternyata ia tidak dapat menemukannya. Ia 
berada jauh dari rumah dan penglihatannya sekarang buram. Ia putus asa dan 
mulai merasa gelisah, kemudian ia mulai berdoa kapad Tuhan agar menolongnya 
menemukan soft-lens itu.

Ketika ia sampai di puncak tebing, temannya membantu mencari dengan memeriksa 
bajunya dengan harapan dapat menemukannya, tetapi soft-lens itu tetap tidak 
dapat ditemukan. Ia duduk dgn perasaan yang hilang pengharapan, beristirahat 
dengan sebagian rombongan sambil menunggu rombongan lainnya.

Sambil termenung, Brenda melihat gunung-gunung di sekitarnya, tiba-tiba 
teringat olehnya sepotong bagian dari ayat Alkitab yang tertulis, "mata Tuhan 
menjelajah seluruh bumi" (II Tawarikh 16:9). Ia kemudian berdoa di dalam 
hatinya, "Tuhan, Engkau dapat melihat semua gunung-gunung. 
Engkau juga mengetahui setiap daun dan batu yang ada di gunung ini, dan 
Engkaupun tahu dengan pasti di mana soft-lensku berada. Ya Tuhan, tolonglah 
aku."

Akhirnya mereka turun ke bawah melalui jalan yang kecil. Sesampainya di bawah, 
mereka bertemu dengan rombongan lain yang baru mau memulai pendakian. Tiba-tiba 
seorang dari mereka berteriak, "Halo teman, adakah di antara kalian yang 
kehilangan soft-lens?"

Tentu saja hal ini cukup mengejutkan, tetapi tahukah anda bagaimana pendaki itu 
menemukannya?

Pendaki itu melihat seekor semut kecil sedang bergerak secara perlahan di 
permukaan tebing sambil membawa sebuah soft-lens.

Brenda memberitahukan saya bahwa ayahnya adalah seorang kartunis.
Ketika bercerita kepada ayahnya mengenai kejadian luar biasa tentang seekor 
semut, doa dan soft-lensnya yang hilang, ayahnya kemudian menggambar sebuah 
kartun tentang seekor semut memikul sebuah soft-lens dengan tulisan, "Tuhan, 
aku tidak tahu mengapa Engkau menginginkan aku untuk membawa benda ini. Saya 
tidak dapat memakannnya dan benda ini sangatlah berat.
Tetapi bila itu memang kehendakMu, aku akan membawakannya untukMu."

Tuhan Yesus telah merendahkan diriNya dan rela menderita menanggung semua beban 
dosa kita. Biarlah kita juga belajar merendahkan diri, sehati sepikir, dalam 
satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Adakalanya dalam keadaan yang sukar, 
kita dapat belajar untuk berseru, "Tuhan, saya tidak mengerti mengapa Engkau 
menginginkan saya memikul beban ini. Saya tidak melihat ada hal yang berguna di 
dalamnya dan beban ini sangatlah berat. Tetapi kalau ini adalah kehendakMu, 
saya akan melakukannya."

Janganlah meminta pelayanan sesuai kekuatan kita, tetapi mintalah kekuatan 
sesuai dengan pelayanan kita.

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." 
Filipil 4:13.

* A true story by Josh & Karen Zarandona
===========================================
From: "Romo maryo" <[EMAIL PROTECTED]>

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem"
(Yer 18:18-20; Mat 20:17-28)
 
"Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya 
tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:"Sekarang kita pergi ke 
Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan 
ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan 
menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, supaya Ia 
diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan 
dibangkitkan." Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu 
kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata 
Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua 
anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah 
kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."Tetapi Yesus menjawab, 
kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, 
yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."Yesus berkata kepada 
mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku 
atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan 
kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." (Mat 20:17-23), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
·   Yerusalem adalah kota suci tiga agama besar di dunia:  Yahudi, Kristen dan 
Islam. Di  Yerusalem ada bait suci atau kenisah utama orang Yahudi, di 
Yerusalem Yesus disalibkan, menyempurnakan tugas perutusannya dan naik ke 
sorga, di Yerusalem nabi Muhamad s.a.w naik ke sorga. Sebagai kota suci sampai 
kini masih sarat dengan masalah dan permusuhan karena egoisme. Ketika Yesus 
mengajak para murid, mereka tahu bahwa Yesus akan menghadapi ancaman dari 
musuh-musuhNya, diancam untuk dibunuh. Di antara para muridNya ada yang 
mempermasalahkan siapa yang tertinggi di Yerusalem nanti. Dan Yesus sekali lagi 
mengingatkan bahwa yang terbesar atau tertinggi harus melayani. Yerusalem 
adalah kota suci dan idaman; yang menjadi tempat idaman kita adalah keluarga 
dan tempat kerja, apakah keluarga dan tempat kerja juga suci adanya? Marilah 
sekarang kita 'pergi ke keluarga dan tempat kerja' sambil bertanya, mawas diri 
apakah di dalam keluarga dan tempat kerja kita
 semakin menyerahkan diri bagi kebahagiaan sesama,  semakin suci, semakin 
dikasihi oleh Tuhan dan sesama, ataukah semakin egois dan banyak musuh? Kiranya 
kita semua berharap semakin menjadi suci dalam keluarga dan tempat kerja, maka 
marilah kita saling menyerahkan diri (hati, jiwa/semangat, akal budi/pikiran 
maupun tubuh) serta menjauhkan diri aneka macam bentuk egoisme yang 
memporak-porandakan tempat idaman, keluarga maupun tempat kerja. Hendaknya 
siapa dan apa saja yang ada di dalam keluarga maupun tempat kerja menjadi 
wahana dan sarana untuk semakin menyucikan diri, saling menyerahkan diri satu 
sama lain. Tidak rindu kembali ke keluarga atau tempat kerja, hemat saya 
berarti egois, tidak rela menyerahkan diri demi kebahagiaan dan keselamatan 
sesama. 

·   "Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak 
akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan 
nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya 
sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!"(Yer 18:18), demikian 
ejekan, olok-olokan orang-orang yang tidak senang terhadap nabi Yeremia. 
Menjadi nabi, pewarta kabar baik atau kebenaran memang tak akan terlepas dari 
ejekan atau olok-olokan, lebih-lebih dalam hidup bersama yang masih diwarnai 
oleh aneka bentuk kemerosotan moral pada masa kini. Berbuat benar, jujur, adil 
dan transparan di tempat kerja atau masyarakat pada masa kini sering menjadi 
bahan ejekan atau olok-olokan, maklum aneka macam bentuk korupsi masih marak di 
sana-sini, tidak terlibat dalam korupsi dinilai mau bunuh diri. "Orang jujur 
hancur, orang benar terkapar, orang adil terkucil" demikian rumor yang sering 
kita dengar. Setiap kata, tindakan atau gerak orang benar, jujur dan adil 
senantiasa menjadi perhatian semua orang, bahkan ada orang yang mengeluh ketika 
dirinya mengalami macam itu merasa diri berada di 'ujung tanduk' artinya dalam 
ancaman untuk disingkirkan. Berbahagialah anda sekalian yang tetap benar, jujur 
dan adil dalam hidup dan kerja meskipun untuk itu kemudian menjadi bahan 
'sorotan/perhatian' banyak orang, artinya anda sungguh diperhatikan. Perhatian 
mereka yang sering anda rasakan sebagai ancaman, terimalah dan syukurilah 
sebagai wahana dan dukungan untuk semakin bertindak benar, jujur dan adil.  
Bagaikan emas untuk mengusahakan emas murni harus dibakar, emas murni pasti tak 
akan terbakar. Percaya dan yakini dan hayatilah jika anda tetap setia dalam 
kebenaran, kejujuran dan keadilan, maka dalam keadaan atau kondisi apapun anda 
akan tetap benar, jujur dan adil, dan dengan demikian diperhatikan atau 
dikasihi oleh banyak orang. 
 
"Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, -- ada kegentaran dari segala 
pihak! -- mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud 
mencabut nyawaku.Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: 
"Engkaulah Tuhanku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari 
tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku "(Mzm 31:14-16)
 
Jakarta, 20 Februari 2008

Kirim email ke